
Masih Flashback ya!
"Pagi Mas Marcel, Sayang," sapa Andin dengan senyum sumringah nan manja.
Tiba-tiba Marcel menggeret paksa lengan Andin menuju salah satu sudut ruangan yang sepi.
"Mas kok narik tangan aku kayak gitu sih? Sakit tau," protes Andin sambil mengusap-usap lengannya yang memerah karena dicengkram Marcel.
"Andin, tolong jaga sikapmu di tempat kerja! Jangan bawa-bawa perasaanmu ke tempat kerja! Kita harus profesional, kamu mengerti nggak? Kalau di luar kamu bebas panggil aku apa, tapi kalau di sini kamu harus tetap menghormati ku sebagai atasan. Jangan panggil mas lagi apalagi ada embel-embel sayang!" tekan Marcel.
"Iya Mas, maaf. Abisnya aku seneng banget bisa liat wajah kamu pagi-pagi gini. Keliatan makin tampan, fresh, keren, dan hmmm ... wangi juga ... jadi pingin ..." Andin tak melanjutkan ucapannya karena wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Pingin apa, hem?" tanya Marcel terpancing.
Perlahan Andin mendekati telinga Marcel dan berbisik lembut seperti *******.
"Pingin peluk dan cium Mas Marcel," ucapnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Marcel cukup terkejut dengan ucapan Andin yang cukup berani. Darahnya sampai berdesir dan merinding karena nafas Andin yang berhembus di telinganya. Ia jadi salah tingkah sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
"Mas jadi kan entar sore kita jalan-jalan?" rayu Andin sambil bergelayut manja di lengan Marcel. Andin juga mengerlingkan sebelah matanya menggoda pada Marcel yang membuatnya menelan ludah.
"Nanti aku telfon aja ya jadi nggak nya. Aku nggak bisa janji."
"Huft ... Tapi usahain Mas ya! Please ..."
Marcel hanya mengangguk seraya tersenyum ke arah Andin. Lalu tanpa aba-aba, "emmuach ..." Andin mengecup bibir Marcel yang spontan membuat Marcel mematung merasakan lembutnya bibir Andin yang menyentuh bibirnya. Setelah melakukan serangan mendadak, Andin segera berlalu sambil tersenyum dan mengerlingkan sebelah mata ke arah Marcel.
"Gadis itu sungguh berani. Sudah lama aku tak merasakan darahku yang berdesir hebat bahkan jantungku saja rasanya mau copot. Dia sangat berbeda dari Zicka yang cenderung pemalu. Sudah menikah 4 tahun pun Zicka masih malu-malu. Aku suka keagresifannya," gumam Marcel sambil tersenyum smirk, sedangkan sebelah tangannya berada di atas dada, merasai debaran tak biasa di sana.
Pagi telah berganti sore. Senja pun sudah hendak berganti malam. Waktunya Andin melancarkan serangan agar tak ada celah bagi Marcel untuk menolak kehadirannya.
__ADS_1
"Mas, jadi nggak?"
"Jadi, kamu tunggu aku di parkiran. Sebentar lagi aku menyusul ke sana."
Setelah mereka sama-sama berada di parkiran, Marcel mempersilakan Andin duduk di samping kemudi mobilnya. Mereka pun pergi jalan-jalan sesuai kemauan Andin. Setelah jalan-jalan, mereka menikmati makan malam di resto yang cukup mewah membuat Andin jadi semakin lengket dengan Marcel. Marcel pun merespon setiap perlakuan Andin padanya.
Awalnya Andin duduk berhadap-hadapan dengan Marcel, namun akhirnya Andin malah duduk di samping Marcel sambil bergelayut manja layaknya pasangan kekasih. Bahkan Marcel sempat bertemu teman masa kecilnya dulu di resto itu. Teman Marcel yang tak tahu kalau sebenarnya Marcel telah menikah, memuji Marcel dan Andin sebagai pasangan serasi karena mereka tampak sangat romantis, tampan, dan cantik, sebuah paduan yang sempurna di mata orang yang melihat.
"Eh, kamu Marcel kan?" sapa seorang pria.
"Iya, kamu??" mencoba mengingat-ingat.
"Kamu Angga kan?"
"Iya benar, Cel."
"Maaf, aku tadi agak lupa," kekeh Marcel.
"Emmm ..." Marcel bingung mau bicara apa.
"Aku calon istrinya mas Marcel. Kenalin, namaku Andin," potong Andin, membuat Marcel cukup shock atas pengakuan dadakan Andin.
"Wah, yang bener Cel? Wah, wah, wah, hebat banget kamu, Cel, bisa dapetin gadis secantik ini. Kalian emang bener-bener pasangan serasi tahu nggak," puji laki-laki bernama Angga itu sambil menarik bangku di samping Marcel.
Wajah Marcel yang tadi kikuk, kini berganti penuh kebanggaan. Apalagi ia sangat tahu siapa Angga, semua mantannya pun cantik-cantik. Malah kalau di sekolah setiap ada gadis paling cantik, pasti gadis itu akan jadi pacarnya. Angga memang hebat dalam memilih wanita dalam segi fisik. Mendengar Angga memuji Andin sebagai gadis cantik dan pasangan serasi untuknya, memunculkan rasa bangga. Akhirnya ia tak malu-malu lagi mengumbar kemesraannya dengan Andin di muka umum.
Setelah Angga pamit dan berlalu dari hadapan mereka, Andin merayu Marcel agar mau mengantarnya pulang ke kontrakan dengan alasan hari sudah malam dan ia takut jalan sendirian. Akhirnya, Marcel pun bersedia mengantarkannya ke rumah.
"Mas, nanti mampir sebentar ke kontrakanku ya!"
"Nggak usah. Nggak enak kan udah malam, nanti ada yang lihat disangka orang kita berbuat yang tidak-tidak terus kamu diusir dari kontrakan, gimana?" tolak Marcel halus.
__ADS_1
"Kontrakanku sepi kok. Apalagi kalo udah jam segini, mana ada lagi orang yang lewat. Apalagi emang daerah kontrakan aku tuh sepi banget malah, Mas." Andin tetap berusaha membujuk Marcel agar mau mampir ke kontrakannya
"Tapi sebentar aja yah!"
"Iya, Mas," jawab Andin penuh semangat.
'Yuhuuu ... Jangan panggil aku Andin kalo aku nggak bisa menakhlukanmu,' batin Andin bermonolog.
Marcel telah tiba di kontrakan Andin. Setelah melihat-lihat, Marcel baru percaya kalau memang daerah tempat tinggal Andin itu sangat sepi.
"Silahkan masuk, Mas!" Andin mempersilakan Marcel masuk.
"Maaf, Mas, kontrakanku kecil. Maklum, sesuai budget. Hehehe ... Yuk, mas duduk!" sambil merangkul pinggang Marcel mengajaknya duduk di salah satu sofa di kontrakannya itu.
"Mas aku ganti baju dulu ya! Mas duduk aja di sini."
Andin pun segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah selesai ia keluar dari kamarnya.
"Glekkk ..." Marcel meneguk salivanya sendiri saat melihat penampilan Andin setelah keluar dari kamar.
Ia memakai mini dress warna putih yang sangat sexy. Kerahnya yang lebar memperlihatkan bahunya yang putih mulus bahkan panjangnya pun jauh di atas lutut. Bahkan bukit kembarnya terlihat cukup jelas walau masih dibalut bra. Marcel tak dapat mengalihkan pandangannya. Pemandangan seperti ini pertama kali ia lihat. Karena Zicka tak pernah memakai pakaian seperti itu. Zicka selalu memakai pakaian sederhana dan sopan. Sungguh pemandangan yang sangat indah, batinnya.
"Mas, kok bengong? Mas mau kopi?"
Marcel hanya mengangguk.
Lalu Andin berjalan ke dapur yang letaknya masih sangat terlihat jelas dari tempat Marcel duduk. Setelah membuat kopi, Andin segera menyerahkan kopi itu ke Marcel. Marcel meminum kopi itu dengan tergesa karena gugup lalu, "bbuih ... Awhhh ... panas." Marcel menyemburkan kopi itu tiba-tiba karena kepanasan.
"Mas Marcel nggak papa?" ucap Andin sambil berpura-pura khawatir sambil mengusap bibir Marcel lembut. Sontak tindakan Andin membuat Marcel menoleh, tatapan mereka pun beradu. Tiba-tiba darah Marcel kembali berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang, membuat gairah Marcel bangkit seketika.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...