Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
19. Awal Mula


__ADS_3

6 bulan telah berlalu dari hari perceraian Zicka. Ia sudah belajar ikhlas atas semua jalan hidupnya. Ia tak pernah menyesali baik pernikahan maupun perpisahannya dengan Marcel. Ia tak berfikir untuk segera mencari pengganti. Ia pikir toh jodoh sudah ada yang atur, jadi ia hanya akan fokus mengurus Meyra saja saat ini.


"Mey, Meyra mau sekolah nggak sayang?"


"Mau, mau, mau, Ma. Meyra pingin sekolah kayak mereka." Meyra sangat antusias sambil menunjuk anak-anak yang baru pulang sekolah dijemput orang tuanya


"Wah, anak mama pingin sekolah juga sebenarnya! Maaf ya sayang karena mama sibuk jadi mama nggak sadar kalo putri kecil mama udah pingin sekolah. Ya udah, besok mama daftarin Meyra di sekolah itu ya! " ujar Zicka sambil memperhatikan sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang tak jauh dari toko tempatnya bekerja.


"Yeay ... makasih mama! Emmmuach ..." Sebuah ciuman sayang Meyra mendarat di pipi Zicka.


"Mey, tapi Meyra janji ya kalau udah sekolah, nggak boleh nakal di sekolah. Baik sama teman terus patuh sama bu guru," peringat Zicka.


"Siap, Ma," sahut Meyra dengan wajah berbinar.


Sementara itu di kediaman Marcel,


"Ma, aku titip Mike ya!"


"Andin, jadi kamu telfon mama suruh kemari cuma untuk jagain anak kamu?" tanya mama Marcel kesal.


"Mike kan bukan cuma anak aku, Ma, tapi anak Mas Marcel juga, cucu mama sendiri," ketus Andin kesal dengan ucapan ibu mertuanya.


"Emang kamu mau kemana sampai Mike mau kamu tinggalin?"


"Biasa, Ma, aku udah janji mau ngumpul sama temen-temen. Masa' mau ajak Mike juga, yang ada malah ribet entar," jawab Andin santai lalu ia segera pergi meninggalkan mama mertuanya sendiri mengurus sang cucu, Mike.


"Cih, menyesal aku menerima wanita sepertimu sebagai menantu. Sukanya senang-senang, malas urus anak, beda sekali dengan Zicka dulu. Ia sekali pun tak pernah merepotkan orang tua," gumam mama Marcel membandingkan sifat Zicka dan Andin yang sangat bertolak-belakang.


Mama Marcel mengambil ponselnya dan menelfon Marcel.


"Halo, Cel."


"Iya, Ma, ada apa?"


"Ini nih, istri kamu, keterlaluan banget, telfon mama nyuruh mama ke rumah kamu cepat-cepat. Mama kira ada apa soalnya katanya penting, taunya mama malah disuruh jagain anak kalian, sedangkan dia malah jalan-jalan dan senang-senang sama teman-temannya. Kamu bilangin tuh istri kamu si Andin itu, jangan sukanya merepotkan orang tua aja. 4 tahun kamu nikah sama Zicka, nggak pernah tuh dia satu kali pun ngerepotin mama. Justru mama yang ngerepotin dia, lha kalo istri kamu si Andin ini, baru juga 1 tahun nikah, udah seenaknya aja sama mama. Emang mama babysitter anak kamu, huh ..." lapornya kesal dengan kelakuan Andin yang seenaknya.


tut tut tut telfon ditutup mama Marcel sepihak setelah memberikan laporan pada sang putra.


"Maaf, Ma, huh" desahnya kasar. "Makin hari makin menjadi aja kamu Andin. Aaargh ..." Marcel mengusap kasar wajahnya kesal.


Sebenarnya Marcel sudah mulai jengah melihat kelakuan Andin. Rasanya ingin sekali ia menceraikan Andin, tapi ia tidak tega dengan anaknya dan Andin yang masih bayi, Mike. Selama ini, ia telah benar-benar tertipu dengan segala ucapan dan kelakuannya. Kadang ia merasa menyesal telah menikahi Andin secara diam-diam tanpa sepengetahuan Zicka. Marcel juga menyesal telah tergoda rayuan Andin, mantan bawahannya di hotel tempatnya bekerja. Secara penampilan, proporsi tubuh Andin memang sangat menggoda. Body nya aduhai bak gitar Spanyol, bibir sedikit tebal sexy, bulu mata lentik, kulit putih mulus, nampak begitu sempurna di mata para pria.


Banyak sesama karyawan hotel yang tertarik padanya, tapi ia tak menggubris karena tipe pria idamannya adalah lelaki yang tampan dan mapan. Tak peduli tua atau muda, lajang atau sudah berkeluarga, dalam pikirannya yang penting hidupnya dapat terjamin karena itu ia berusaha mati-matian mendekati Marcel walaupun harus dengan cara licik.


Flashback

__ADS_1


"Mas, pulang kerja nanti temenin aku makan malam ya!" Rayu Andin sambil merangkul mesra lengan Marcel.


"Maaf, Ndin tapi aku udah janji sama anakku untuk makan malam di rumah," sahut Marcel sambil melepas rangkulan Andin di lengannya dan pergi berlalu dari hadapan Andin.


"Aaaakhrggg ... sialan. Brengs*k kamu, mas! Oke, kali ini aku gagal, tapi besok aku akan terus berusaha. Seberapa kuat kau menahan godaanku, hah!" seringai licik menghiasi bibir Andin.


dddrtt ...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Marcel.


[Mas, udah tidur kah?] Andin.


[Belum.] Marcel.


[Kok belum?] Andin.


[Belum ngantuk.] Marcel.


[Mas mau aku temenin?]


[Maksudnya?]


[Ya ditemenin.]


[Iya, ditemenin kayak gimana?]


[Mau? Beneran mau?]


[Iya mas, mas nggak peka banget sih kalo aku itu udah lama suka sama mas.] pura-pura sedih


[Suka sama mas? Kamu serius Ndin?]


[Iya mas. Dari awal aku liat mas Marcel malah. Tapi Andin takut untuk bilang, takut mas malah marah sama Andin.]


[Masa' ada yang suka malah marah sih! Tapi mas itu udah ada anak dan istri, emang kamu masih mau?]


[Andin nggak masalah kok mas. Jadi yang kedua juga nggak papa, asalkan itu sama mas Marcel. I love you, mas.]


'Kamu pasti akan takluk padaku, mas. Biarin aku nampak murahan, yang penting aku bisa dapetin kamu. Nggak masalah jadi yang kedua, aku nggak bakal rugi kok karena kamu itu bener-bener tipe aku. Udah cakep, kaya, tajir, baik lagi. Akh ... idaman banget. Pokoknya besok aku harus dapetin kamu seutuhnya,' batin Andin bermonolog.


"Mas, kamu lagi chatan sama siapa kok senyum-senyum gitu?" tanya Zicka merasa aneh melihat suaminya yang tersenyum-senyum sendiri.


"Oh nggak kok. Cuma lagi chat sama temen sekolah! Kamu udah ngantuk ya? Klo gitu, kamu tidur aja dulu. Aku mau selesain pekerjaanku di ruang tamu aja. Cup ..." Marcel mencium dahi Zicka mesra dan mengusap rambutnya


"Selamat malam, sayang. Selamat istirahat."

__ADS_1


"Mas, jangan malam-malam, ya, tidurnya. Entar ngantuk di tempat kerja lho."


"Iya, sayang. Mas ke depan dulu ya!" Ujar Marcel sambil menenteng beberapa berkas yang sebenarnya tak ada yang perlu dikerjakan, hanya untuk kamuflase supaya Zicka tak curiga. Ia ingin melanjutkan chatnya dengan Andin.


Zicka pun perlahan memejamkan matanya menuju alam mimpi tanpa ia sadari suaminya sudah mulai tergoda oleh rayuan seorang wanita di tempatnya bekerja.


[Mas ...]


[Mas Marcel, kamu ketiduran ya!]


[Yah mas, Andin kan masih kangen nih!]


[Maaf ... maaf, tadi ada istri mas. Mas nggak mau istri mas curiga jadi mas urus istri mas dulu. Kamu marah ya?]


[Nggak kok nggak marah, cuma sedih aja.]


[Kok sedih?]


[Soalnya mas nggak respon pernyataan cintaku.]


[Heheheeh ...]


[Lho kok ketawa? Emang ada yang lucu?]


[Iya, ada. Kamu tuh lucu banget sih, baru juga nggak dibalas beberapa menit, udah ngambek.]


[Siapa yang nggak ngambek nyatain cinta malah nggak direspon.]


[Tapi mas belum cinta sama kamu, emang kamu masih mau sama mas?]


[Nanti juga perlahan-lahan mas pasti bakal cinta kok sama aku. Yang penting kita jalani aja dulu.]


[Kan banyak tuh karyawan lain yang tergila-gila sama kamu, banyak yang masih single juga, kok maunya sama mas?]


[Ya mau gimana lagi kalo cintanya sama mas. Masa' cintanya sama mas malah jadiannya sama orang lain. Mas, besok kita jalan berdua ya?]


[Besok?]


[Iya, besok. Mas mau kan! Pleaseeee!!!]


[Iya ... iya, nanti mas usahain. Dah kamu tidur ya! Uah malem. Entar kesiangan kerjanya, kamu mas hukum lho.]


[Nggak papa kalau yang kasi hukumnya mas Marcel! Dihukum disuruh ngapain aja aku rela kok. Hehehe ...Ya udah aku tidur dulu ya mas. Met malam, mimpiin aku yah. I love you]


"Yessss, akhirnya ....Siapa sih pria yang bisa nolak pesonaku. Hahaha ... Kamu pasti jatuh ke pelukanku mas.] seringai Andin licik.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2