
"Hai, Vin! Udah lama nungguin?" Jenny barusan saja tiba ke cafe tempat mereka janjian.
"Hai juga. Nggak kok, barusan aja juga sampenya. Silahkan duduk gih!" Marvin mempersilahkan Jenny duduk tepat di seberang kursinya.
"Kamu udah pesen?"
"Belum, sengaja nunggu barengan kamu aja."
"Oh ya udah, mbak sini!" Jenny memanggil salah seorang pelayan.
"Kamu pesan apa, Vin?" tanya Jenny pada Marvin.
"Aku Moccachino aja."
"Aku jus jambu aja sama kentang gorengnya ya mbak," pinta Jenny pada sang pelayan.
Sejenak suasana hening karena masing-masing merasa canggung untuk memulai obrolan hingga sampai pelayan yang mengantarkan pesanan menginterupsi keheningan di antara mereka.
"Oh ya, Vin, ada angin apa nih ngajak ketemuan?" Jenny mencoba memulai obrolan.
"Hmmm ... Sebenarnya aku cuma pingin curhat aja, tapi saat ketemu aku malah merasa malu sendiri, cowok kok cemen. Hahahaha ..." kekeh Marvin merasa miris pada diri sendiri.
"Kenapa harus ngerasa cemen? Toh, setiap orang itu nggak peduli cowok atau cewek pasti punya masalah. Dan sebaik-baiknya saat sedang mengalami masalah adalah membicarakannya dibanding memendamnya. Terkadang membicarakan suatu masalah dengan orang yang tepat dapat membuat hati kita lebih plong," tukas Jenny memberikan pendapatnya.
"Benarkah? Tapi jujur, baru kali ini aku mau membahas masalahku dengan orang lain. Biasanya aku selalu memendamnya sendiri. Dan setelah obrolan kita tempo hari, entah kenapa aku merasa nyaman. Oleh sebab itu, aku jadi pingin ketemu lagi dan berbincang denganmu," tutur Marvin jujur sambil tersenyum kikuk.
"By the way, mau ngobrolin apa nih? Kalo seorang cowok yang nggak biasa curhat tiba-tiba pingin curhat, biasanya masalahnya itu lumayan berat, bener nggak?"
"Bisa dibilang begitu sih, Jen. Semoga kamu nggak bosen dengerin keluh kesah aku."
"Tergantung sih!"
"Tergantung? Tergantung apa?"
"Tergantung seberapa sering kamu mau traktir aku makan enak sebagai gantinya. Haahaha ..." canda Jenny.
"Boleh, siapa takut. Atau kita pindah ke resto aja, kita cari yang paling mahal dan paling enak, gimana?" tawar Marvin.
"Hehehe ... Aku cuma bercanda kok. Kalo kita pindah, gimana nasib minuman kita dan kentang goreng ini nih! Mubazir tau kalo dianggurin. Tapi kalo lain kali kamu ngajak ke resto mahal, boleh juga. Hehehe ... Oh ya, balik ke pertanyaan aku tadi, emang ada masalah apa lagi? Atau masih ada hubungannya dengan mbak Zicka?"
__ADS_1
"Hmmm ... Kamu kayak cenayang ya bisa nebak pikiran seseorang."
"Ish, musyrik tau. Aku kan cuma nebak aja."
"Tapi emang bener sih tebakan kamu tadi. Aku masih kepikiran dimana Zicka dan Meyra berada. Sampai sekarang pun aku nggak bisa hubungin dia."
"Aku kemarin ketemu mereka dan alhamdulillah mereka baik-baik aja."
"Hah? Serius? Kamu nggak bohong kan?"
"Serius lha, buat apa juga bohong. Aku kemarin nggak sengaja ketemu mereka pas main ke mall sama kakak dan ponakanku."
"Terus kamu tanya nggak dimana mereka tinggal?"
"Sempat nanya, tapi mbak Zicka cuma bilang tinggal di jalan Merpati. Udah itu aja."
"Kamu punya nomor ponselnya nggak?"
"Punya," jawab Jenny singkat sambil menyesap jus jambu dan memakan kentang gorengnya.
"Boleh aku minta?"
"Wah, serius, Jen, kamu mau bantu aku?"
"Serius, Vin. Tapi nggak bisa mendadak. Aku kan mesti cari alasan dulu kalau mau ketemu mbak Zicka. Aku nggak mau dia marah terus nggak mau ketemu aku lagi. Baru aja kemarin akhirnya aku bisa ketemu lagi sama mbak Zicka dan Meyra, masa' harus buat dia menjauh lagi."
"Iya juga sih, Jen. Nggak papa. Kamu kabarin aku aja kalau Zicka mau ketemu."
"Aku harap, saat kalian ketemu, kalian bisa menyelesaikan masalah kalian baik-baik."
"Makasih banyak ya, Jen. Berkat kamu, bebanku jadi terasa lebih ringan."
...***...
"Jen, kamu chat siapa sih kok senyum-senyum gitu?"
"Mbak Zicka sama Marvin," jawab Jenny singkat.
"Zicka dan Marvin, siapa itu Marvin?"
__ADS_1
"Marvin itu adiknya mantan suami mbak Zicka kak."
"Kok kamu bisa chattan sama dia?"
"Hmmm ... dia lagi minta bantu supaya dipertemukan dengan mbak Zicka. Kakak tau nggak, dia ternyata juga suka sama mbak Zicka lho."
"Apa? Kok bisa? Terus kenapa minta tolongnya sama kamu ? Kamu bisa kenal dia dimana, Jen?"
"Waduh, waduh, waduh, kok nanyanya ngegas gitu kak! Kakak kesambet ya?"
"Ikh orang nanya serius juga."
"Huh, Marvin itu yang punya toko tempat Zicka bekerja dulu. Jadi karena tempo hari Meyra nggak ada kabar, aku cariin di toko itu nah dari sana aku jadi kenal sama Marvin."
"Terus ...??"
"Terus apa?"
"Ya terus, kenapa dia minta tolongnya sama kamu buat mempertemukan mereka?"
"Karena aku cerita aku udah ketemu sama mbak Zicka. Dia mau minta nomor ponsel tapi nggak Jenny kasi, jadi Jenny bantuin supaya mereka ketemuan aja. Soalnya kasian, kayaknya dia lagi frustasi banget nggak bisa nemuin mbak Zicka, Kak."
"Terus kamu bisa tau dia juga suka Zicka dari mana?"
"Ya dia cerita sendiri lah. Mbak Zicka ngilang tempo hari juga ternyata buat hindarin dia. Marvin minta restu mamanya buat izinin dia nikahin Zicka, terus mamanya marah, nggak kasih izin, nggak taunya Mbak Zicka mendengar pembicaraan mereka jadi semenjak itu mbak Zicka ngilang sampai Meyra pun nggak sekolah lagi di sekolah Jenny."
"Kalau emang Zicka sengaja menghindari si Marvin-Marvin itu, kenapa kamu malah ikut campur buat temuin mereka? Apa nggak mikir bagaimana perasaan Zicka nanti? Apa kamu pingin Zicka juga menghindari kamu karena udah ikut campur masalah dia, Jen? Kita menolong orang boleh, tapi kita harus mengerti posisi dia dulu. Apalagi kakak yakin pasti kamu nggak cerita kan kamu ngajak ketemuan buat mempertemukan mereka?" cecar Keenan membuat Jenny menghela nafasnya.
"Iya kak, Jenny nggak bilang. Gimana ya kak, Jenny nggak mikir kesana. Jenny cuma mikir mau bantu Marvin biar bisa selesaikan masalah mereka." Jenny merasa bingung.
"Hhmmm ... kakak cuma berharap Zicka nggak marah sama kamu karena sudah buat keputusan sebelah pihak." Keenan pun meninggalkan Jenny merenung sendirian di ruang tamu menuju kamarnya.
"Kenapa aku jadi emosi ya mendengar Jenny mau mempertemukan Zicka dan adik mantan suaminya itu, Marvin? Apalagi setelah tau dia juga suka Zicka. Emang apa urusanku? Kenapa aku jadi ikutan galau kayak gini sih? Aaaarrrgh ...." Keenan mengacak rambutnya frustasi.
"Oh ya, tempo hari Deenan minta temenin beli cake coklat kesukaannya! Mending aku keluar ajak Deenan aja, dari pada pusing mikirin mereka yang ada aku ikutan stres," gumam Keenan lalu ia segera meraih kunci mobil di atas nakas dan bergegas mengajak Deenan jalan sekaligus beli cake coklat kesukaannya.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1