
"Dokter Keenan, bisa saya bicara sebentar?" Dokter Alona menemui Keenan dengan tujuan menyatakan perasaannya yang selama ini terpendam. Sebenarnya ia pesimis perasaannya akan berbalas, tapi tak salahnya untuk mencoba bukan. Sebelum janur kuning melengkung, bukankah ia juga berhak memiliki kesempatan yang sama.
"Iya, silahkan dok!" Keenan mempersilakan dokter Alona untuk berbicara.
"Dok, maaf jika saya sedikit lancang. Emmm ... Sebenarnya saya ..." dokter Alona tiba-tiba diliputi rasa ragu sekaligus takut dan malu untuk menyatakan perasaannya. Lidahnya terasa kelu, bingung sendiri bagaimana cara mengungkapkan perasaannya.
"Sebenarnya apa, dok?" tanya Keenan penasaran dengan dahi yang berkerut.
"Sebenarnya saya sudah sejak lama menyukai Anda, dok," tutur dokter Alona spontan.
Keenan cukup terkejut dengan apa yang didengarnya saat ini. Keenan sampai mengerjapkan matanya, merasa tak percaya dengan apa yang barusan dokter Alona sampaikan.
"Hahaha ... bikin tegang aja kamu, dok. Ternyata dokter Alona juga pandai bercanda, kirain cuma pinter berkutat dengan pasien aja." Keenan tergelak mengira apa yang dokter Alona sampaikan itu hanyalah sebuah candaan. Ia tak mau ambil pusing atas apa yang diucapkan dokter wanita itu barusan.
"Tapi saya serius, Dok. Nggak sedang bercanda," ujar dokter Alona lirih.
Seketika Keenan terdiam, lalu ia menatap dokter Alona sendu, "maaf," jawab Keenan singkat.
"Maaf untuk?"
"Maaf karena aku tak bisa, maaf karena aku hanya menganggap mu sebagai teman dan partner kerja, tak lebih," tukas Keenan lembut. Ia tak mau menyakiti hati dokter Alona. Selagi dokter Alona menyatakannya dengan baik-baik, ia tak masalah.
"Apakah ini karena wanita itu?" tanya dokter Alona lagi lirih.
"Sebagian iya."
"Apa dokter benar-benar menyukainya?"
__ADS_1
"Lebih dari itu. Aku mencintainya," ucap Keenan tegas tanpa keraguan.
"Apa lebihnya dia dari aku sehingga kau lebih menyukainya? Bukankah aku lebih baik dari dirinya? Pekerjaan ku jelas. Aku belum pernah menikah. Dari segi fisik, aku tak memiliki kekurangan jadi mengapa kau lebih memilih dia?" cecar dokter Alona belum mau mengalah apalagi menyerah.
"Dok, setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Begitupun Zicka dan Anda. Kalian dua orang yang berbeda jadi jangan pernah membandingkan sesuatu yang tak layak untuk dibandingkan. Memang kenapa Zicka pernah menikah, toh aku juga pernah dan kami masing-masing telah memiliki anak, itu sangat adil bukan. Dan satu hal yang paling penting, aku mencintainya dengan tulus. Cinta tak dapat memilih akan berlabuh dimana dan dengan siapa seperti aku yang tak dapat menjelaskan mengapa aku bisa mencintainya karena ini tentang hati," jelas Keenan panjang lebar berharap dokter Alona dapat mengerti kalau ia memang benar mencintai Zicka tulus adanya. Dan cinta itu tidaklah bisa dipaksakan untuk berlabuh dengan siapa sebab cinta bisa hadir kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja tanpa bisa dicegah.
Tanpa mereka sadari ada sesosok yang tengah mendengarkan pembicaraan mereka. Bukannya sengaja untuk memasang telinga, tapi ketika ia datang dan hendak mengetuk pintu, di saat itulah ia mendengarkan semua pembicaraan Keenan dan dokter Alona. Segaris senyum terukir indah di wajah sosok itu. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang diucapkan pria itu padanya tempo hari memang benar adanya. Tak ada kebohongan. Yang ada hanya kejujuran. Keraguannya perlahan tertepis. Yang ada hanya keyakinan, keyakinan perasaan pria itu yang memang tulus apa adanya.
*
*
*
Senja menjelang, mentari pun mulai hilang di peraduan. Tampak Zicka dan Meyra sedang bersantai berdua di bawah payung taman depan toko.
Melihat sosok itu, Meyra spontan membelalakkan matanya lalu bersembunyi di balik tubuh sang mama dengan wajah pias.
"Pa .. pa ..." cicit Meyra ketakutan. Sepertinya masalah beberapa hari yang lalu memberikan dampak besar bagi gadis kecil itu. Ia seakan trauma melihat sang ayah.
"Meyra, papa mohon jangan takut pada papa. Papa mohon maaf atas perbuatan papa tempo hari," ucap Marcel sendu. Ia merasa sedih sekaligus menyesal karena membuat putrinya ketakutan melihat dirinya.
"Zick, boleh aku duduk di sini?" Marcel meminta izin untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Meyra dan Zicka.
"Iya, Mas, silahkan duduk!" Zicka sebenarnya cukup was-was, tapi ia tetap berusaha untuk bersikap tenang.
Marcel pun menghempaskan bokongnya di kursi yang berseberangan dengan Zicka.
__ADS_1
"Ada urusan apa lagi Mas datang kemari? Aku harap mas tidak macam-macam lagi sebab bila kali ini Mas sampai macam-macam lagi, aku takkan segan-segan untuk melaporkan Mas ke polisi," ucap Zicka tegas.
"Tidak Zick, aku tidak akan macam-macam. Aku kesini hanya ingin memohon maaf atas segala perbuatan burukku di masa lalu. Aku tahu aku salah. Aku juga lalai, baik sebagai seorang ayah maupun sebagai seorang suami," ucap Marcel sendu dan penuh penyesalan.
"Ck ... haruskah aku percaya permohonan maafmu itu, Mas?" sarkas Zicka.
"Aku tulus menyesal, Zick. Aku benar-benar memohon maaf. Aku sudah mendapatkan ganjaran atas semua perbuatan burukku, Zick. Andin ... Andin sudah meninggal, Zick. Tepat di hari aku memaksamu menikah dengan ku lagi. Ia mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Rumahku dengannya juga sudah tak ada lagi. Andin telah menjualnya tepat di hari kematiannya. Aku juga bukan lagi manager hotel XX. Aku telah turun jabatan, aku kini hanya staf biasa," tutur Marcel bercerita dengan wajah tertunduk lesu.
"Sekali lagi aku mohon, maafkanlah semua kesalahanku, Zick!" ucapnya memelas.
"Sudahlah, Mas, yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah memaafkanmu. Kini saatnya kau introspeksi diri . Memohon ampunlah pada yang kuasa dan bertobat. Mohonlah ketenangan dan jangan ulangi kesalahan di masa depan," nasihat Zicka yang didengarkan Marcel dengan seksama.
"Zick, apakah benar-benar tak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki hubungan kita?"
"Maaf, Mas, aku memang memaafkan mu, tapi bukan berarti kamu dapat kembali padaku. Perlakuan dan pengkhianatan mu telah menggores luka di hati, sangat dalam. Ibarat sebuah gelas yang telah pecah, apa mungkin bisa kau rekatkan menjadi utuh kembali? Tidak ... karena itu, aku takkan mungkin bisa kembali lagi padamu."
Marcel termenung. Ia menyadari betapa besar luka yang telah ia gores pada wanita di depannya ini. Wanita yang sesungguhnya masih ia cintai. Andai ia dulu dapat menahan nafsu setannya, pasti kejadian ini takkan pernah terjadi. Pasti keluarganya akan tetap utuh dan bahagia. Mungkin inilah hukuman yang harus ia terima. Kesalahannya terlalu fatal dan ia ikhlas menerima konsekuensinya.
"Terima kasih, Zick karena kau masih mau memaafkanku. Meyra, papa mohon maafkan papa, Nak!" ucap Marcel memelas hingga tanpa sadar kristal bening mengalir dari ekor matanya.
Zicka membimbing Meyra agar mendekati sang papa. Meyra melirik Zicka sepintas, setelah mendapat kode berupa anggukan dari Zicka, Meyra pun segera berhambur ke tubuh Marcel. Mereka menangis bersama. Suasana haru itu pun tak luput dari mata Keenan yang sejak tadi telah memperhatikan mereka dari kursi di sudut toko.
"Wanita yang sangat baik, tegas, tegar, mandiri, dan pemaaf. Kau memang pantas tuk aku perjuangan, Zee!" gumam Keenan dengan seulas senyum yang merekah di bibirnya.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1