Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
12. Usaha Marcel Merubah Keputusan Zicka


__ADS_3

Sebelum pergi ke kantor, Marcel mampir ke salah satu pusat jajanan dan membeli sarapan pagi untuk Zicka dan Meyra. Dia berharap dengan sedikit melakukan ini pada mereka, Zicka akan membatalkan keputusannya yang ingin bercerai darinya. Tak pernah terpikirkan sedikit pun Zicka akan dengan lantang menyatakan ingin bercerai darinya. Ia benar-benar terkejut saat itu. Namun, ia akan berusaha kembali meluluhkan hati Zicka agar mau membatalkan keinginannya untuk bercerai, yaitu dengan memberikan perhatian kecil pada anak dan istrinya itu.


Namun setibanya di rumah Zicka, Marcel bingung melihat pagar rumah yang nampak terkunci dari luar. Ia segera mengeluarkan kunci cadangan dan masuk ke dalam rumah, namun ia tak melihat seorang pun di dalam rumah itu. Matanya mengerjap, pikirannya berkelana dan bertanya-tanya, kemana gerangan anak dan istrinya itu?


"Kemana perginya Zicka dan Meyra?" gumamnya sambil mengintip ke dalam rumah melalui jendela kaca yang sebenarnya tampak gelap dari luar. Jadi ia perlu menempelkan wajahnya agar bisa sedikit melihat keadaan di dalam rumah yang memang sepi, tanpa ada satu orang pun.


Marcel menghela nafasnya, kemudian melihat arloji yang melingkari tangannya.


"Ini baru jam 7.15, tapi kenapa mereka udah nggak ada di rumah?" gumamnya lagi.


30 menit telah berlalu, namun ia belum beranjak dari teras rumah, berharap kalau Zicka dan Meyra hanya pergi sebentar saja, namun hasilnya nihil. Mereka tak memunculkan batang hidung mereka sama sekali.


Karena sudah hampir pukul 8, ia pun segera beranjak dari sana dan melajukan mobilnya menuju kantor. Ia akan mencoba datang lagi sepulang kerja sore nanti.


Ya, sebenarnya jam pulang kerja Marcel sore, tapi karena ingin menghabiskan waktu bersama Andin, ia sering membuat alasan lembur atau sibuk bila pulang terlalu larut. Ia telah membohongi Zicka selama hampir 2 tahun. Namun, serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Begitu pula kecurangan yang dilakukan Marcel, sepandai apapun ia menyembunyikan perselingkuhannya, pasti cepat atau lambat akan ketahuan juga.


...***...


"Mbak, kok total belanjaan saya jadi segini? Saya kan nggak beli jaket? Saya hanya beli baju kaos dan topi yang total harganya hanya Rp 169.000,00 , tapi kenapa di struk belanjaan saya tertera jaket yang harganya Rp200.000,00. Mbak jangan korup ya! Mbak mau nipu pembeli?" ucap salah seorang wanita yang tiba-tiba datang dan melempar belanjaannya ke depan Zicka.


Zicka mengerutkan keningnya kemudian segera mengecek struk belanjaan itu.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Marvin yang tiba-tiba keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan di meja kasir.


"Anda pemilik toko ini ya! Tolong pecat saja karyawan korup ini! Lihat, saya belanja cuma baju kaos + topi, tapi di struk ada tambahan jaket padahal saya nggak merasa beli. Saya merasa benar-benar dirugikan!" ucap wanita itu dengan emosi.


"Tolong mbak sabar dulu, jangan asal tuduh karyawan kami! Kami akan memeriksanya, bila memang itu kesalahan karyawan kami, maka kami bersedia ganti rugi dengan menggratiskan belanjaan mbak dan mengembalikan uang sejumlah yang mbak belanjakan." ucap Marvin tegas.


"Oke! Aku harap cepat karena saya ada urusan," tukas perempuan itu angkuh.


"Gimana, Ka?" Marvin menanyakan hasil pemeriksaan data Zicka.

__ADS_1


Zicka pun lalu angkat bicara.


"Mbak, mbak belanja kemarin bukan? Mbak belanja pukul 11.46. Kalau memang itu kesalahan kami, kenapa mbak nggak segera balik lagi untuk membicarakannya?" tukas Zicka ramah namun terdapat ketegasan dalan nada bicaranya. Ini bukanlah kali pertamanya berhadapan dengan orang picik dan licik seperti perempuan itu. Ia pernah bekerja di hotel besar dan menjabat sebagai manajer hotel itu. Tentu berhadapan dengan orang-orang seperti pembeli ini bukan hal yang besar baginya.


Si wanita terdiam, lalu ia menjawab dengan nada gugup.


"Itu karena saya sibuk. Lagi pula saya baru memeriksanya pagi ini," ucapnya mencoba bersikap tenang.


"Mbak, setiap barang yang dibeli di toko kami tentu ada laporannya dan disini memang terlihat jelas kalau ada barang berupa jaket wanita yang mbak beli." Sambil menunjukkan file laporan penjualan di komputer ke hadapan Marvin dan wanita tersebut.


"Ta ... tapi saya nggak menerimanya. Saya emang nggak merasa membeli jaket ini. Saya hanya membeli baju kaos dan topi seperti yang ada di dalam paper bag itu." Sang wanita kekeh berkilah.


"Oke, untuk jelasnya saya akan memutar rekaman CCTV kemarin pada pukul 11.46. Jadi kita bisa lihat, mbak membeli jaket atau tidak," jawab Zicka santai.


Kemudian ia pun segera mengotak-atik papan keyboard untuk mencari rekaman CCTV kemarin. Marvin telah memberinya akses penuh untuk mengotak-atik apa saja. Sepercaya itu Marvin dengan Zicka.


"Tidak ... tidak perlu!" sergahnya "Kalian hanya perlu mengganti senilai harga jaket saja, tidak perlu mengganti semuanya," jawab sang wanita gugup.


Zicka tersenyum lembut, "tidak bisa mbak. Mbak sudah menyebut saya korup di hadapan banyak orang. Saya tidak mau nama baik saya rusak karena kesalahpahaman ini, jadi saya harus membuktikan kalau saya tidak pernah korup. Sebab nanti bukan hanya nama baik saya saja yang jadi jelek, tapi toko ini. Kami tidak mau toko kami yang amanah disebut toko korup. Jadi saya harus membuktikan perkataan Anda itu benar atau salah," ucap Zicka tegas sambil terus mengecek rekaman CCTV.


"Ini lihat mbak. Mata mbak masih normal kan? Rekaman ini menunjukkan mbak masuk ke toko pukul 11.30, lalu mbak memilih pakaian, mbak mengambil sebuah jaket wanita warna soft blue, baju kaos warna putih, dan topi pria hitam. Dan mbak melakukan pembayaran tepat pukul 11.46. Ini rekaman saya sedang memasukkan belanjaan mbak berupa jaket, baju kaos, dan topi ke paper bag lalu mbak keluar dari toko pukul 11.50 setelah selesai melakukan pembayaran."


Deg ...


Sang wanita gemetar ketakutan.


"Jadi gimana, Mbak? Apakah saya korup? Mbak telah mencemarkan nama baik saya lho, jadi saya harus apa?" tanya Zicka tenang dan tegas. Marvin sampai tersenyum simpul melihat bagaimana cara Zicka menyelesaikan permasalahannya.


"Ka, kita laporkan saja kasus ini ke polisi!" saran Marvin.


Brukkk ...

__ADS_1


Si wanita tiba-tiba bersimpuh di kaki Marvin.


"Saya mohon, maafkan saya. Tolong jangan laporkan saya ke polisi, saya mohon! Mbak mohon maafkan saya! Tolong mbak, tolong jangan laporkan saya ke polisi, saya punya anak kecil berusia 2 tahun yang masih membutuhkan saya!" Wanita itu memelas sambil terisak di hadapan Zicka dan Marvin hingga memancing atensi beberapa pengunjung.


"Jangan gunakan nama anak untuk mencari simpati! Seharusnya sebelum melakukan suatu perbuatan, Mbak harus memikirkan konsekuensinya." tegas Zicka.


"Iya mbak saya memang salah, saya mohon maaf. Saya mohon maafkan saya Mbak, Pak, saya mohon maaf!" melasnya sambil terus bersimpuh dan menangis.


"Ya sudahlah, kali ini saya maafkan. Semoga tidak terulang lagi. Tapi Mbak harus ingat, tidak semua orang mudah memaafkan. Kalau memang Mbak menyayangi anak mbak, Mbak harus meninggalkan kebiasaan buruk ini sebelum semuanya terlambat." Nasihat Zicka. Ia pun seorang ibu, ada rasa tak tega bila membayangkan dirinya berada di posisi perempuan itu.


"Baik Mbak mbak, terima kasih sudah memaafkan dan melepaskan saya. Sekali lagi terima kasih, Mbak, Pak," ucap si wanita sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Setelah mendapatkan anggukan dari Zicka dan Marvin, ia pun segera berdiri dan beranjak ke luar dari toko.


Marvin memandangi Zicka dengan tersenyum.


"Apa sih senyum-senyum?" ketus Zicka.


"Aish, juteknya! Emang senyum dilarang apa?" goda Marvin.


"Iya dilarang apalagi senyum nggak jelas kayak gitu," cibir Zicka sambil melanjutkan kegiatannya.


"Emang diatur dalam undang-undang pasal berapa ayat berapa?" lanjut Marvin yang tak bosan-bosannya menggoda Zicka .


"Undang-undang pasal 3 ayat 7 butir ke 40 alinea ke 100," celetuk Zicka.


"Ikh serem. Kayak orang meninggal aja takziah 3 hari, 7 hari, 40 hari, kemudian 100 hari," seloroh Marvin sambil terkekeh geli.


"Sana-sana, hush ... ganggu orang aja. Tuh liat antrian yang mau bayar udah kayak rel kereta api," usir Zicka pada Marvin yang padahal bos nya sendiri. Karyawan yang lain sampai terkekeh melihatnya. Baru kali ini ada anak buah berani dengan atasannya pikir mereka.


"Siap bos!" seru Marvin kemudian ia pun segera kembali ke ruangannya sambil tertawa.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2