Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
18. Mengambil Akta Cerai


__ADS_3

"Maaf, maafkan saya, tadi saya nggak lihat lagi kalo jalanannya tergenang air. Kalian nggak papa kan?" ucap seseorang yang dengan suara ngos-ngosan karena turun dari mobil tergesa-gesa


"Hanya sedikit basah sih, tapi nggak ... Kamu ... " ucap Zicka terpotong setelah menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu Nona Zicka kan! Manager hotel X?" terka orang itu.


"Udah mantan, pak, bukan manager lagi," kekeh Zicka.


"Oh, kamu udah resign ya? Tapi ngomong-ngomong masih ingat saya kan?"


"In-syaAllah masih. Dr. Keenan kan yang buat pesta lamaran romantis di hotel 5 tahun lalu," ujar Zicka sumringah.


"Wah, kamu masih ingat juga ya! Gadis kecil ini putri kamu ya? Ukh cantiknya ... Nama kamu siapa cantik?" tanya laki-laki yang bernama Keenan itu.


"Kenalin Om, nama aku Meyra Cantika," ujar Meyra sambil mengulurkan tangannya kemudian mencium punggung tangan Keenan.


"Wah, namanya juga cantik secantik orangnya! Salam kenal ya cantik," ucap Keenan membuat wajah Meyra tersipu. "Pinginnya sih ngobrol lama, tapi sayang saya sedang terburu-buru. Oh gini saja, ini kartu nama saya, hubungi saya kesitu aja untuk biaya laundry bajunya ya! Sekali lagi saya mohon maaf ya Mbak Zicka," ujar Keenan seraya menyerahkan kartu namanya.


"Ah, tidak perlu repot-repot pak dokter. Bajunya bisa saya cuci sendiri kok pak," ucap Zicka sambil mendorong tangan dr. Keenan yang hendak menyerahkan kartu namanya.


"Terima aja, siapa tahu kamu butuh konsultasi kesehatan jadi bisa hubungi saya. Saya pamit dulu ya! Bye Meyra cantik ..." Dr.Keenan pun bergegas berlalu dari hadapan Zicka sambil melambaikan tangan ke arah Zicka dan Meyra. "Sekali lagi, maafin saya ya!" pekiknya setelah masuk ke dalam mobil kemudian Keenan pun segera melajukan mobilnya menjauh dari hadapan Zicka dan Meyra.


"Ma, Om dokter itu teman mama ya?" tanya Meyra penasaran.


"Belum jadi teman, Sayang. Mama cuma kenal sama om dokter saat mama masih kerja di hotel dulu."


"Kayaknya om itu baik ya, Mah," puji Meyra yang hanya direspon Zicka dengan senyuman. Mereka saja baru bertemu beberapa kali jadi mana dia tahu Keenan benar-benar baik atau tidak. Rambut boleh sama hitam, hati orang siapa yang tahu, iya kan!


Tak lama kemudian mereka berhasil mendapatkan taksi untuk pulang ke rumah. Mereka pun pulang dengan perasaan bahagia.


...***...


Hari ini adalah jadwal Zicka mengambil akta cerainya di pengadilan agama. Seperti biasa, Zicka tidak mengajak Meyra. Meyra ia titipkan di toko. Ia sudah meminta tolong Nina menjaganya selama ia pergi. Hari ini juga untuk pertama kalinya Marvin menemani Zicka. Zicka sudah menolak, tapi Marvin berkeras ingin menemani. Jadi ia pun terpaksa meng'iyakan saja.


Tak butuh waktu lama, akta cerai Zicka telah berada di tangannya. Sedangkan milik Marcel terserahlah. Ia bisa ambil sendiri nanti. Kini akhirnya Zicka dan Marcel telah benar-benar resmi bercerai.


Tampak senyum lega dan bahagia menghiasi bibir Zicka. Tapi ternyata bukan hanya ia yang tersenyum lega di ruangan itu. Ada sosok lain yang ikut tersenyum di ruangan itu. Sosok tak diundang yang ikut berbahagia.


Ia pun berjalan mendekati Zicka dan Marvin yang sedang bersiap akan pulang.


"Halo, Zicka! Selamat ya atas perceraianmu. Akhirnya Mas Marcel bisa jadi milikku seutuhnya," ucap seseorang itu seraya tersenyum bangga.

__ADS_1


"Kau ..." Zicka terkejut karena yang berdiri di hadapannya kini adalah Andin, istri muda Marcel.


Zicka awalnya merasa geram, tapi ia melepaskan semua rasa kesalnya dengan satu tarikan nafas.


"Hufh ... Halo juga. Terima kasih atas kehadiran dan dukungannya. Aku juga senang akhirnya bisa melepaskan diri dari laki-laki yang tak setia itu. Dia memang sudah meminta maaf agar aku kembali lagi, tapi aku menolaknya. Kau tahu mengapa??? Itu karena lelaki yang pernah berselingkuh ucapannya takkan pernah bisa dipercaya. Bisa saja ia akan mengulanginya lagi, lagi, dan lagi. Tapi terima kasih karena kau mau menampung laki-laki seperti Mas Marcel. Aku doakan semoga ia tak mengulanginya lagi," tutur Zicka dengan senyum penuh kemenangan. Tidak sedikitpun tersirat kesedihan di netranya membuat Andin menggeram kesal.


'Kau ingin menjatuhkan ku, hah? Ingin merendahkan ku? Takkan semudah itu. Sungguh bodoh kau malah berbangga diri dan merasa menang dengan prestasimu yang berhasil merebut pria seperti mas Marcel,' batin Zicka sambil tersenyum lebar.


Raut wajah Andin sudah berubah menjadi merah padam karena ucapan Zicka yang telah menyindirnya telak. Andin pun membalikkan badan dan pergi dari hadapan Zicka sambil mengepalkan tangan karena kesal.


"Kurang ajar wanita itu. Sudah jadi janda masih aja belagu," gumam Andin pelan.


"Ka, kita segera ke toko aja yuk! Kasihan Meyra pasti nungguin kita," ajak Marvin yang diangguki Zicka.


di kediaman Marcel dan Andin,


"Mas, kenapa baru pulang jam segini sih? Biasanya kan jam 6 atau jam 7 Mas udah tiba di rumah," tanya Andin penuh selidik.


"Dari rumah mama," jawab Marcel singkat.


"Kok nggak ngabarin dulu?"


"Memangnya kenapa aku harus bilang? Toh kamu juga pasti nggak mau diajak ke rumah mama," jawab Marcel datar lalu ia beranjak ke dapur mengambil minum.


Marcel sontak menoleh ke arah Andin.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya penasaran.


"Aku hanya melihat jalannya persidangan sih awalnya. Tapi ternyata, sidang udah selesai Minggu lalu. Jadi tadi hanya jadwal mengambil akta cerai aja. Tuh, akta ceraimu udah aku ambilin," tunjuk Andin pada amplop coklat di atas meja. "Wanita itu di sana ditemani adikmu."


"Apa?"


"Iya, mereka tampak bahagia sekali setelah akta cerai itu diberikan. Bahkan aku memberinya selamat dan mereka berterima kasih," ucap Andin seraya tersenyum licik.


Marcel menggeram kesal. Ia makin yakin, Zicka mendapat keberanian mengajukan gugatan cerai itu pasti karena Marvin.


Marcel pun segera berlalu meninggalkan Andin dengan menahan emosi. Sedangkan Andin hanya tersenyum menampilkan smirknya.


di rumah sakit,


"Selamat siang, dok." sapa perawat saat melihat dr. Keenan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Selamat siang juga. Bagaimana kondisi pasien?"


"Sudah lumayan baikan, dok. Sepertinya takkan ada masalah lain."


"Baik, terus pantau tekanan darahnya. Cairan infusnya sebentar lagi habis, jangan sampai lupa menggantinya dengan yang baru."


"Baik, dok."


Dr. Keenan pun berlalu dari hadapan para perawat dan kembali ke ruangannya.


tok tok tok ...


"Ya, masuk!"


"Dok, ada ibu dokter menunggu di depan."


"Minta ibu langsung masuk saja!"


Tak lama kemudian, masuklah seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik di usia senjanya.


Keenan segera berdiri menghampiri ibunya dan menyalami kemudian mencium pipi kiri dan kanannya.


"Apa yang membawa mommy mau datang ke rumah sakit? Biasanya mommy paling ogah menemui ku di rumah sakit," tanya Keenan penuh selidik sambil mengajak ibunya duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Apa Mommy harus memiliki alasan dulu baru boleh menemui mu?" sinis sang ibu.


"Bukan begitu mom, hanya aneh saja. Biasanya juga kalau ada perlu, mommy mengajakku bertemu di luar," sergah Keenan tak mau membuat ibunya berpikir macam-macam.


"Huh ... Anak ini, selalu saja tahu kalau mommynya punya maksud." Ibu dokter Keenan berdecak kesal.


"Hahaha ... Tak usah kesal mom, aku kan hanya bertanya."


"Ken, sampai kapan kau akan menjadi single parent seperti ini? Sudah 2 tahun semenjak kepergian Risya. Apa kau tak kasihan pada Deenan yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu." Akhirnya ibu Keenan mengungkapkan alasan kedatangannya.


"Huh," desah Keenan. "Aku tahu Mom, aku sangat paham hal itu. Tapi aku kan tidak mungkin asal menjadikan seorang wanita sebagai istriku. Aku ingin seorang wanita yang bukan hanya menginginkanku, tapi juga anakku. Aku ingin seseorang wanita yang benar-benar bisa menerima dan mencintaiku dan anakku dengan tulus," tutur Keenan sedih.


"Tolong mommy jangan terus memaksaku untuk segera menikah. Doakan saja supaya aku bisa menemukan wanita itu. Bila aku sudah menemukannya, aku pasti akan langsung menikahinya," ucap Keenan sambil menggenggam tangan sang ibu.


Ibu Keenan tersenyum sendu, "Baiklah,semoga kau segera menemukan tambatan hatimu, Nak. Mommy hanya berharap kau dan Deenan bisa menemukan kebahagiaan kalian. Asal ia wanita yang baik, mommy pasti akan setuju. Mommy pulang dulu," pungkas ibu Keenan seraya berdiri.


"Hati-hati di jalan, Mom." Keenan mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu, ibu Keenan pun segera berlalu dari ruangan itu meninggalkan Keenan dengan pikiran yang berkecamuk.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2