
Kedua pasangan itu kini baru saja menyelesaikan makan malam mereka, tapi nampaknya mereka masih betah bersenda gurau hingga tiba-tiba Keenan berdiri sambil merogoh sesuatu di balik jaz berwarna navy yang dikenakannya.
Setelah ia merasa telah menggenggam apa yang ingin ia ambil, ia lantas berjongkok di depan Zicka sambil menekuk lutut kaki kirinya merapat ke lantai dan mengeluarkan apa yang hendak diambilnya tadi yang ternyata sebuah kotak beludru berwarna merah. Dengan perlahan, ia membuka kotak beludru tersebut di depan Zicka. Jelas saja Zicka sontak terperangah melihat aksi Keenan yang sudah berlutut di hadapannya.
"Zee, aku tahu aku bukanlah pria yang sempurna. Diriku banyak kekurangan, tapi hadirmu sungguh telah menyempurnakan seluruh hidupku. Zee, aku tulus menyayangi dan mencintaimu. Begitu pula dengan putri kesayanganmu. Oleh karena itu, izinkan aku menjadi pelindungmu, pendamping hidupmu, menjadi ayah bagi anak-anakmu, Will you marry me, Zee?" Keenan menyodorkan kotak beludru yang ia buka tadi ke hadapan Zicka. Di dalamnya melingkar sebuah cincin berwarna silver bertahtakan berlian kecil yang nampak sangat indah.
Sungguh, apa yang dilakukan Keenan saat ini cukup membuat Zicka shock. Bukan hanya Zicka, Jenny, dan Marvin yang tidak tahu rencana Keenan ini pun ikut melongo. Resto hotel yang awalnya terlihat tenang, kini terdengar sedikit riuh karena apa yang Keenan lakukan saat ini cukup menarik atensi pengunjung resto.
"Terima ... terima ... terima..."
Itulah teriakan yang terdengar dari beberapa pengunjung sambil bersorak karena kagum atas lamaran yang terkesan romantis yang dilakukan Keenan.
"Ayo mbak, terima dong, kok bengong aja. Nervous nih yeee!" goda Jenny.
"Ayo Ka, nunggu apa lagi, keburu kesemutan tuh kaki bang Keenan, nggak kasihan apa?" Imbuh Marvin sambil terkekeh.
Zicka menatap Jenny dan Marvin tajam, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Keenan. Dengan malu-malu, ia menganggukkan kepalanya.
"Ayo Zee, jangan gunakan bahasa isyarat, please!" rajuk Keenan dengan menaik-turunkan alisnya membuat Zicka terkekeh geli.
"Iya, my lovely doctor, aku terima lamaranmu," ucap Zicka mantap dengan senyum manis yang terus mengembang.
"Yeay ..."
prokkk ... prokkk ... prokkk ...
Sorak sorai dan tepuk tangan pengunjung resto menyoraki tanda ikut berbahagia atas diterimanya lamaran Keenan.
Setelah mendengar secara langsung pernyataan Zicka yang menerima lamarannya, Keenan pun segera mengeluarkan cincin dari dalam kotaknya dan memasangkannya di jari manis Zicka.
__ADS_1
"Cantik," gumam Keenan lalu tanpa rasa malu apalagi ragu ia mengecup jari manis itu dengan penuh rasa cinta.
Setelahnya ia pun berdiri dan membawa Zicka ke dalam pelukannya, "terima kasih, Sayang, sudah menerimaku untuk menjadi pelindung, pendamping, dan calon ayah dari anak-anakmu. Aku berjanji, akan selalu berusaha membahagiakanmu hingga ajal memisahkan kita. I Love You, Honey. cup ..."
Keenan mengecup sekilas bibir Zicka yang membuat wajahnya benar-benar merona merah karena menahan malu sebab ditonton oleh banyak orang.
"Seharusnya aku yang berada di sisimu, Zick. Kini aku baru menyadari, aku benar-benar masih mencintaimu, tapi sayang semua telah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Kau yang telah ku sakiti, kau yang telah ku khianati, kau yang telah ku sia-siakan, dan kau yang tak mungkin ku gapai lagi. Semoga kau bahagia, Zicka. Cintaku, mantan istriku, belahan jiwaku, I Love You," gumam Marcel yang ternyata masih memperhatikan dari balik dinding kaca yang terhalang pengunjung lain dari posisi Zicka, namun jelas bagi posisi Marcel.
"Ehemmm ... Artinya sebentar lagi ada pesta pernikahan nih!" goda Jenny.
"Secepatnya, itu pasti," ucap Keenan dengan netra masih fokus ke Zicka.
...***...
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu hari pernikahan antara Keenan dan Zicka. Pesta pernikahan dilakukan secara sederhana di kediaman Keenan. Keenan sudah menawarkan Zicka untuk mengadakan pesta yang cukup megah di hotel tempat ia pernah bekerja dulu, tapi Zicka menolaknya secara halus. Bagi Zicka tak penting sebuah pesta pernikahan yang nampak megah dan mewah, tapi yang terpenting adalah keberkahan dan kesakralannya.
Para tamu yang terdiri atas sanak saudara dan rekan terdekat telah mulai berdatangan. Ijab qabul dilaksanakan pukul 10 pagi setelahnya akan dilanjutkan resepsi. Karena ayah Zicka telah tiada, jadi pihak Zicka diwakilkan kepada wali hakim.
"SAHHH ... " jawab para saksi dan tamu undangan serentak. Lalu mereka pun dituntun untuk menduduki singgasana mereka. Kini mereka sedang menjadi raja dan ratu sehari untuk kedua kali dengan pasangan berbeda.
Perasaan haru menyelimuti hati mereka berdua. Bukan hanya mereka, tapi keluarga dan orang terdekat mereka pun ikut berbahagia, pun Meyra dan Deenan. Bahkan mereka dengan kompak mengubah panggilan kepada Zicka dan Keenan. Interaksi Meyra dan Deenan sudah seperti kakak dan adik kandung, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
"Ma ..." panggil Meyra yang sedang duduk di pangkuan Keenan yang masih berada di singgasana pernikahan mereka.
"Meyra sama Deenan punya panggilan baru buat mama sama papi Keen, ya kan Dee?" tanya Meyra pada Deenan yang duduk di pangkuan Zicka.
"Iya mi, Dii dan akak udah punya panggilan adus bial ompak," sahut Deenan dengan gaya bicara cadelnya.
"Panggilan khusus? Apa itu Sayang?" Keenan menimpali pernyataan mereka dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Mimi dan Pipi," ucap Meyra santai dengan senyum merekah.
Zicka dan Keenan saling berpandangan dengan alis yang sama-sama menyatu, heran.
"Mimi dan Pipi? Emang kenapa diganti, Sayang?"tanya Zicka penasaran.
"Soalnya kan adek Dee udah punya mami, jadi nggak enak panggil mami. Kalau panggil mama, masa' satu papi satu mama, kan nggak kompak ma, jadi kami ganti aja jadi mimi pipi, boleh kan Ma?" bujuk Meyra yang diikuti Deenan dengan wajah memelas lucu khas anak-anak.
"Emmm ... bagaimana ya? Bagaimana Pi? Pipi setuju?" Zicka pura-pura berpikir lalu bertanya pada Keenan.
"Emmm ... mimi pipi? No no no ..." saut Keenan setelah berpura-pura berpikir.
"Akhhh ... dek, papi Keen nggak setuju. Hiks ... hiks ..."
Meyra mulai bersedih, Deenan yang melihat Meyra sudah mau menangis ikut mencebikkan bibirnya ingin ikut menangis.
"Hei anak Pipi, kok nangis?"
"Kan tadi kata Papi Keen no, no, no, kan itu artinya nggak setuju," sahut Meyra dengan mata yang sudah memerah ingin menangis.
"Papi ja'at. Hua ... hua ... " tangis Deenan.
"Eh kok anak mimi malah nangis? Makanya kalau pipi mau ngomong didengerin dulu. Maksud pipi tadi itu, no, no, no problem, Sayang, artinya nggak masalah, benar kan Pii?" tanya Zicka mencoba meyakinkan Meyra dan Deenan.
"Iya Sayang, pipi tadi cuma bercanda. Jangan nangis ya, Sayang!" bujuk Keenan sambil memeluk Meyra dan Keenan karena keduanya kini tengah berada di pangkuan Keenan.
"Jadi kami boleh panggil mimi dan pipi ya?" tanya Meyra dan Deenan kompak.
"Iya sayangku ... Sekarang Meyra dan Deenan boleh panggil mimi dan pipi," ucap Zicka dan Keenan bersamaan membuat senyum merekah sempurna di bibir Meyra dan Deenan. Mereka merasa sangat bahagia akhirnya bisa kembali memiliki keluarga yang lengkap.
__ADS_1
...***...
......HAPPY READING ❤️❤️❤️......