Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
28. Bertemu Andin


__ADS_3

"Kami juga cuma berdua. Tapi saya juga sudah buat janji dengan seseorang. Mungkin sebentar lagi datang. Nah, itu dia sudah datang." Keenan mengarahkan jari telunjuknya ke arah seorang wanita yang sangat cantik yang sedang berjalan ke arah mereka. Zicka memperhatikan dengan seksama wanita itu.


"Dia ... Dia bu guru Jenny kan!"


"Iya, dia Jenny," jawab Keenan santai.


"Oh kalian ada janji dengan Jenny. Dia guru Meyra di sekolah. Apakah dia kekasihmu?" tanya Zicka tak enak hati. Bagaimana kalau Jenny salah paham, pikirnya. Ia tak mau dianggap orang ketiga oleh orang lain apalagi menjadi penyebab kandasnya hubungan orang lain.


"Uhuk ... uhuk ... apa? Kekasih??? Hahahahha ... "


"Hei kakak, kenapa kau tertawa terbahak-bahak seperti itu? Tidak lihat di sekelilingmu, semua orang memperhatikan kakak," sergah Jenny yang belum sadar ada Zicka dan Meyra yang duduk di samping kakaknya.


"Oh, maaf ... maaf, kakak hanya terkejut ada yang bilang kau kekasih kakak. Hahahaha ... " Keenan masih asik tertawa terbahak-bahak.


"Apa? Hahahaha ... Ya, kita memang tidak mirip jadi wajar aja kalau ada yang bilang kita sepasang kekasih. Memang siapa yang bilang kayak gitu?" Jenny menoleh ke orang yang duduk dekat kakaknya kemudian matanya membulat.


"Ya Tuhan, mbak Zicka. Mbak kemana saja? Hah, ada Meyra juga. Ya ampun Meyra, ibu rindu banget tahu sama kamu. Kamu kenapa nggak sekolah-sekolah sih?" tanya Jenny bertubi-tubi.


"Kangen sih kangen, terkejut sih terkejut, Jen, tapi nanyanya nggak gitu juga. Mereka jadi bingung mau jawab pertanyaan kamu yang mana kalau terlalu banyak kayak gitu," sergah Keenan membuat Jenny tersenyum salah tingkah.


"Hehehe... Iya ... Iya ... Maaf, soalnya aku seneng banget kak bisa ketemu muridku yang paling cantik ini." Ekspresi kebahagiaan Jenny terpancar jelas saat menatap Meyra.


"Mbak, mbak Zicka kemana aja sih? Kenapa Meyra sampai nggak masuk sekolah sudah lebih dari seminggu ini? Aku sampai cariin mbak dan Meyra ke toko lho," ujar Jenny seraya mendudukkan bokongnya di kursi samping Zicka.


"Duh, maaf banget ya Bu guru Jenny, bukan maksud menghilang gitu aja. Cuma ... " Zicka berhenti bicara. Ia bingung harus menjelaskan apa sebab apa yang dialaminya merupakan masalah pribadi.


"Ya sudah kalau mbak nggak bisa jelasin. Jenny tahu, pasti mbak punya alasan sendiri kan." Jenny sadar Zicka bukan tipe orang yang suka sembarangan menceritakan masalah pribadinya dengan orang lain jadi ia tidak melanjutkan keingintahuannya.


"By the way, mbak dan Meyra gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kami baik, Bu Jen. Oh ya, tadi maaf saya pikir kalian sepasang kekasih," ujar Zicka seraya tersenyum geli karena salah paham. Setelah mendengar penuturan Jenny tadi, ia baru tahu kalau guru Meyra tersebut ternyata adik dari Keenan.


"Nggak papa mbak, udah biasa itu. Kami ini saudara kandung. Aku lebih mirip ke mama, sedangkan Kak Keenan lebih mirip papa karena itu kami nggak mirip sampai-sampai banyak yang mengira kami pasangan kekasih kalau lagi jalan bareng," kekeh Jenny. "Tapi omong-omong, jangan panggil Bu dong kalau di luar, panggil Jenny aja, biar lebih akrab gitu."


"Oh, baiklah, Jen," sahut Zicka seraya tersenyum.


"Meyra sekarang sekolah dimana sayang?"


"Meyra belum sekolah lagi Bu Jenny, kata mama nanti, belum ketemu sekolah yang cocok soalnya."


"Kenapa nggak balik ke sekolah ibu aja?"


"Kata mama jauh, bu!"

__ADS_1


"Emang mbak udah pindah rumah ya? Terus nggak kerja di toko baju itu lagi?"


"Iya, saya udah pindah rumah. Jaraknya lumayan jauh dari sekolah Meyra yang lama karena itu sekarang lagi cari-cari yang dekat aja."


"Emang sekarang mbak tinggal dimana?"


"Emmm ... Kami sekarang tinggal di jalan Merpati."


'What, jalan merpati. Lumayan dekat rumah kami tuh, tapi dimana nya ya? Mau banyak tanya tapi nggak enak. Lain kali aja ah tanya-tanya lagi.' batin Jenny


"Onty, dayi tadi kakak teyus nyang ditanya, Dii na dituekin," cebik Deenan membuat ketiga orang dewasa itu terkekeh.


"Ciee ... Dee ngambek nih ye! Emmm ... Gimana kalau Dee sama kakak Meyra nya ikut onty main ke sana. Banyak permainan di sana." Ajak Jenny sambil menunjuk arah ke arena bermain.


"Meyra mau? Oh ya, karena ini bukan di sekolah, Meyra jangan panggil ibu lagi ya, panggil onty aja sama kayak Deenan! Oke!"


"Oke Onty. Mmm ... Ma, Meyra boleh ikut Onty Jenny nggak?" Zicka tampak berpikir. Ia sebenarnya merasa tidak enak bila ditinggal berdua saja dengan Keenan.


"Boleh sayang, mama ikut kalian juga ya!"


Jenny memberi kode pada Meyra agar menolak mamanya yang ingin ikut.


"Nggak usah, Ma. Meyra mau main sama Onty dan adek Deenan aja, mama di sini saja temenin Om Keenan, kasian kalo Om Keenan nya ditinggal sendiri."


'Pintar sih pintar, Nak, tapi nggak bilang gitu juga,' gumam Zicka yang tentu saja hanya dalam hati. Ia jadi salah tingkah sendiri di depan Keenan, sedangkan Keenan hanya bersikap santai.


Akhirnya Meyra, Deenan, dan Jenny pergi bertiga ke arena bermain. Sementara itu, Zicka hanya duduk berdua dengan Keenan.


"Kamu nggak kerja hari ini?" tanya Zicka basa-basi dengan Keenan.


"Aku kan pemilik, jadi bebas mau datang kapan aja," ucap Keenan santai.


"Ikh sombong," cibir Zicka yang disambut kekehan Keenan.


"Ternyata kamu bisa ngatain orang juga yah!"


"Iyalah, cuma ya tergantung orangnya."


"Tapi serius, emang karena aku pemilik jadi jadwalku fleksibel, kecuali keadaan darurat baru aku akan turun tangan secara langsung. Bukannya mau sombong, cuma ya emang kenyataannya begitu," jelas Keenan.


"Bener juga sih. Soalnya saya juga begitu."


"Juga begitu? Maksudnya?"

__ADS_1


"Emmm ... Sekarang kan saya udah buka toko kue sendiri, jadi saya bebas mau kemana aja soalnya urusan dapur dan konsumen udah ada yang nge-handle, karyawanku," tutur Zicka.


"Wah, hebat dong! Tapi kenapa banting stir jadi buka toko kue, kan passion kamu ada di bidang perhotelan?" tanya Keenan heran.


"Iya sih, sebelum buka toko saya udah coba masukkin lamaran pekerjaan ke beberapa hotel, tapi mereka menolak karena faktor usia sih kata mereka dan juga karena saya udah terlalu lama vakum, takutnya saya udah nggak nguasain pekerjaan itu lagi," tutur Zicka yang mulai santai.


"Faktor usia? Kamu kan nggak tua-tua amat, kok ditolak? Kalau faktor lama nggak terjun ke dunia kerja itu ya mungkin bisa jadi juga sih."


"Iya nggak tua, tapi kan mau kerja kayak gitu ada batas usia. Mereka lebih memilih fresh graduate. Karena saya emang doyan buat cake, jadi saya coba peruntungan buka toko kue."


"Zick, bisa nggak bicaranya nggak usah terlalu formal gitu!"


"Terlalu formal, maksudnya?"


"Saya ... Bagiku itu terlalu formal. Mending pakai aku-kamu aja deh jadi lebih enak di denger, iya kan!"


"Mmm ... ya juga sih. Baiklah," jawab Zicka dengan menyunggingkan senyum yang sangat manis sampai-sampai Keenan kembali terpaku dengan senyum Zicka.


"Hai Zicka ..." sapa seorang wanita. Zicka pun menoleh ke arah orang yang menyapanya itu.


"Kamu ..." Zicka memutar bola matanya malas saat sosok itu berdiri di hadapannya.


"Nggak nyangka ya ketemu kamu di sini, mantan istri tua suamiku," ujar sosok itu seraya mencibir.


Zicka berusaha tidak menghiraukan Andin, tapi Andin tetap saja sok akrab dengan Zicka.


"Oh, rupanya kau sudah punya kekasih ya? Baguslah jadi Mas Marcel nggak akan ada kesempatan balik lagi ke kamu."


"Siapa juga mau balik sama dia? Aku juga nggak minat kok jadi kamu tenang aja," jawab Zicka acuh tak acuh.


"Tapi apa kamu nggak kapok? Cantik sih cantik, tapi kata Mas Marcel kamu itu nggak sexy dan nggak hot di atas ranjang karena itu dia lebih milih aku. Apalagi semenjak punya anak, kamu makin nggak keurus, kucel, bau dapur, mana tahan mas Marcel sama wanita kayak gitu. Wah, kayaknya kamu juga makin susah ya, kantung mata aja udah kayak panda gitu. Hahahah ... Kamu tahu nggak, saking mas Marcel tergila-gila sama aku, dia hampir tiap malam minta jatah. Kamu lihat, walau aku udah lahiran, tubuhku masih sexy, sedangkan kamu? Hahahaaa ..."


"Ayo Keen, kita cari anak-anak saja." Zicka meraih tangan Keenan dan mengajaknya pergi. Ia malas berurusan dengan mantan madunya itu.


"Hei kamu, kamu yakin mau sama wanita kayak gitu? Penampilannya aja nggak banget. Kalau kamu mau, aku mau kok temenin kamu!" Andin mencoba menggoda Keenan dengan gaya manjanya yang sok sexy.


"Maaf, saya nggak minat sama pelakor apalagi wanita itu nggak punya harga diri alias ganjen," cibir Keenan tekak.


Lalu Keenan membalik pegangan tangan Zicka dengan menggenggam jemari Zicka dan menariknya pergi dari tempat mereka duduk tadi.


"Sialan. Padahal lelaki itu jauh lebih tampan dari Mas Marcel. Siapa ya dia? Aku jadi penasaran. Sepertinya juga dia orang kaya, terlihat jelas dari semua yang dipakainya, semuanya barang branded. Saat ini kau memang menolakku karena sedang bersama dia. Aku yakin kalau kau bertemu denganku lagi, pasti kau akan bertekuk lutut padaku sama seperti Mas Marcel. Aku sudah tak sabar berjumpa lagi denganmu, tampan." Andin tersenyum licik.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2