Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
24. Memulai Lembaran Baru


__ADS_3

"Jen, kamu kok kayak uring-uringan gitu sih? Dari tadi kakak perhatikan, kamu kayak gelisah gitu. Nggak biasa-biasanya sampai guling-guling di sofa gitu," tanya Keenan heran melihat tingkah adiknya yang tampak begitu gusar.


"Huh ... " Jenny menghela nafas panjang lalu matanya beralih menatap wajah sang kakak dengan berkaca-kaca. "Kak, Meyra kak ... hiks ..." isak Kenny.


"Meyra?" alias Keenan mengerut. "Kenapa dengan Meyra? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Keenan penasaran.


"Nggak kak, aku nggak tahu, tapi udah seminggu ini Meyra nggak datang ke sekolah," adu Jenny.


"Kenapa dia nggak datang ke sekolah?"


"Aku nggak tau, Kak. Jenny udah coba datangin toko tempat mamanya bekerja, tapi karyawan toko itu bilang, mama Meyra juga udah seminggu ini nggak datang ke toko. Jenny cemas apa terjadi sesuatu pada mereka ya, Kak!"


"Hush, jangan berpikir macam-macam! Doakan saja mereka nggak apa-apa."


"Gimana nggak berpikir macam-macam, Kak, baru juga Jenny cerita panjang lebar tentang Meyra dan mamanya minggu lalu, eh besoknya sampai hari ini, Meyra dan mamanya malah menghilang."


"Apa kamu sudah mencoba menghubungi nomor telponnya?"


"Udah, tapi nomornya udah nggak aktif." Jenny tampak cemberut memikirkan dimana Meyra dan ibunya sekarang.


"Kamu kayaknya sayang banget ya sama anak itu?" Jenny mengangguk karena ia memang sangat menyayangi Meyra seperti anak sendiri walaupun Jenny sendiri belum memiliki anak dan suami.


"Jenny sayang banget sama Meyra, sama kayak Jenny sayang sama Deenan."


"Mungkin mereka ada urusan yang mendesak, Jen, jadi mereka tiba-tiba menghilang. Kamu doakan saja mereka baik-baik saja." yang kembali hanya diangguki oleh Jenny.


*


*


*


"Ya pak, iya, agak ke kanan sedikit, Pak. Nah, udah pas. Makasih ya pak! Sekarang tolong bawa etalase ini ke dalam ya, Pak. Yang ini letakkan di sudut kanan. Kalau yang ini di sebelahnya aja."


"Baik, Mbak."


"Mbak, perlengkapan untuk membuat kuenya udah disusun sesuai perintah Mbak. Ada lagi yang mesti kami lakukan?"


"Emmm ... kayaknya udah semua deh. Komputer kasir udah, perlengkapan dapur udah, meja dan kursi udah, etalase untuk display kue juga udah. Ah iya, tinggal tunggu tukang bunga yang bentar lagi datang untuk disusun di depan toko. Sementara menunggu tukang bunganya, kita makan aja dulu. Ajak yang lain istirahat dulu Mel, terus bantuin saya susun makanan untuk kita makan bersama."

__ADS_1


"Baik, Mbak."


Besok Zicka akan memulai lembaran baru dalam hidupnya. Untung saja kegemaran Zicka membuatkan Meyra kue memberinya inspirasi untuk membuka usaha sendiri. Jadi ia bisa tetap bekerja sembari menjaga Meyra. Setelah sempat frustasi karena semua lamaran pekerjaannya ditolak, Zicka jadi berpikir untuk berjualan kue saja. Pak Eric memang pernah berkata kalau Zicka ingin kembali bekerja di hotel, maka ia akan menerimanya dengan tangan terbuka. Tapi apa ia sanggup bekerja satu atap bersama Marcel, pikirnya. Bisa-bisa ia mati berdiri pikirnya karena sering berhadapan dengan Marcel.


"Mbak, Mbak Zicka ..." panggil seorang wanita.


"Eh iya, ada apa Mel?"


"Itu mbak, tukang bunganya udah datang,"


"Oh ya, nanti Mbak keluar."


Zicka pun menyusun bunga-bunganya dengan rapi sesuai jenis dan warnanya. Zicka menyusunnya seperti urutan warna pelangi, mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu membuat suasana toko cake and bakery nya tampak sangat indah mengundang antusias para pengunjung untuk datang ke acara soft opening, besok.


*


*


*


"Permisi ..."


"Emmm ... mbak Zicka nya ada nggak ya?"


"Maaf mbak, Mbak Zicka sudah lebih dari 1 minggu ini nggak masuk kerja. "


"Kalau boleh tahu, kenapa ya Mbak Zicka nya nggak masuk kerja?"


"Sekali lagi maaf Mbak, kami juga nggak tau," ucap karyawan toko jujur.


"Oh kalau begitu, terima kasih ya!" Jenny pun berbalik keluar dari toko tempat Zicka bekerja dengan wajah murung


"Tunggu, Nona," panggil Marvin.


"Ya, ada apa?" tanya Jenny saat telah berbalik ke arah seseorang yang memanggilnya.


"Kalau boleh tahu, kenapa Anda menanyakan Zicka? Apa Nona mengenalnya? Oh iya, maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Marvin, pemilik toko ini," ucap Marvin sambil mempersilakan Jenny duduk di bangku depan toko.


"Oh, perkenalkan saya Jenny. Emmm ... Begini, saya ini sebenarnya guru Meyra di PAUD ujung sana. Sudah lebih dari seminggu Meyra tidak masuk sekolah tanpa kabar jadi saya mengkhawatirkannya. Apa Anda tahu kemana mereka atau terjadi sesuatu kah pada mereka?" tanya Jenny dengan wajah murung bercampur khawatir.

__ADS_1


"Terima kasih Nona sudah mengkhawatirkan mereka. Sama seperti Anda, saya pun sangat mengkhawatirkan mereka. Saya sudah mencoba mencari ke rumah mereka, tapi sayang rumah mereka ternyata telah dijual," tutur Marvin dengan wajah sendu. Terlihat sekali, ia pun begitu mengkhawatirkan Zicka.


"Sepertinya Anda cukup dekat dengan mbak Zicka dan Meyra ya! Saya sering melihat Anda mengantar jemput mereka dulu."


"Hmmm ... iya, saya cukup dekat. Sebab saya adik mantan suaminya," ucap Marvin dengan tersenyum miris.


"Ah, jadi begitu. Pantas saja."


"Sebenarnya ini juga salahku yang membuatnya pergi. Mungkin ia ingin menghindari ku." Entah mengapa, tiba-tiba saja Marvin tanpa sadar membuka ceritanya.


"Menghindari? Mengapa? " tanya Jenny penuh selidik.


"Sebenarnya sejak lama saya mencintai Zicka. Karena itu, tempo hari saya meminta restu mama agar memperbolehkan aku menikahinya. Oh, maaf saya kok jadi curhat pada Nona," ucap Marvin merasa salah tingkah karena tak sengaja mengungkapkan rahasianya.


"Tak usah sungkan, aku pendengar yang baik lho. Oh ya, panggil Jenny saja. Tak usah nona-nona. Kalau boleh saya juga akan memanggil Anda dengan nama Anda, Marvin," tutur Jenny yang hanya diangguki Marvin.


"Jadi, bagaimana selanjutnya? Maaf, kalau saya jadi agak kepo." cengir Jenny Kenny.


"Hmmm ... ternyata mama tidak setuju. Mama marah dan menolak keinginanku. Mama menentang niatku untuk menikahi Zicka dengan alasan Zicka itu mantan istri kak Marcel. Mama lebih mementingkan apa kata orang dibanding perasaan anaknya sendiri. Tanpa kami sadari, semua pembicaraan kami didengar Zicka yang baru saja datang ke rumah. Zicka sangat menghormati orang tua, tentu ia akan menghormati keputusan mama yang menentang aku menikahi Zicka."


"Apakah mbak Zicka mempunyai perasaan yang sama denganmu?" tanya Jenny makin penasaran.


"Entahlah, aku tak tahu. Aku juga ingin sekali menanyakannya, tapi sayang, dia telah pergi terlebih dahulu sebelum aku sempat berbicara banyak padanya."


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kau harus tetap semangat, bila memang Zicka jodohmu, ia pasti akan kembali padamu. Tapi bila bukan, kau harus mengikhlaskan. Tidak semua apa yang kita katakan baik untuk kita memang baik untuk kita sebab Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi hambanya," ucap Jenny bijak sambil menepuk bahu Marvin membuat pemuda itu terperangah.


"Terima kasih kau mau mendengarkan keluh kesahku, nona eh Jenny maksudku. Padahal kita baru saja kenal, tapi aku sudah bicara banyak padamu. Aku pun heran, tidak biasanya aku begini," tutur Marvin jujur.


"Oh ya, saya minta nomor ponselmu, Jen! Nanti kalau aku sudah berhasil menemukan Zicka dan Meyra, aku akan menghubungimu."


"Oh iya, ide yang bagus," tutur Jenny setuju.


Lalu mereka pun saling bertukar nomor ponsel.


"Aku pulang dulu ya, Vin. Jangan lupa kabarin aku kalau kamu sudah tahu keberadaan Zicka dan Meyra."


"Baiklah," jawab Marvin singkat.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2