
POV Zicka
Malam makin larut dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 1.20 dan aku terbangun dari tidurku. Kini aku tak mampu memejamkan mataku lagi. Ku buka galeri foto di ponselku, ku pandangi dengan lekat foto-foto mas Marcel yang nampak begitu mesra dengan seorang wanita yang tengah berbadan dua. Lagi-lagi air mata ku menetes melihatnya. Sepertinya mereka sedang membeli mainan untuk calon bayi mereka. Sama seperti dulu, saat diriku sedang mengandung Meyra. Mas Marcel sangat antusias sehingga lebih banyak ia yang membeli perlengkapan bayi dibanding aku. Tapi kini, semua telah berubah, Mas Marcel yang dulu sangat mencintaiku, begitu mencintai putrinya perlahan berubah dan semakin hari semakin tak peduli pada kami, anak dan istrinya. Aku akan mencoba bersabar, menunggu penjelasanmu, menunggu kepastian mu, Mas. Entah sampai kapan aku sanggup bertahan dan bagaimana akhirnya nanti, apapun itu, semoga itu adalah yang terbaik bagi kita semua.
Namun sungguh tak pernah terbesit dalam benakku harus berpisah denganmu karena hati ini sungguh masih mencintaimu. Tapi aku juga hanya wanita biasa. Aku tak sanggup berbagi. Apalagi bila dikhianati. Aku lebih baik mengalah dari pada hatiku makin patah.
Mas Marcel ... apakah tak ada lagi cinta di hatimu untukku sehingga tanpa hati kau duakan aku, duakan cintaku, dan menjalin hubungan dengan wanita lain. Apakah aku memang tak menarik lagi bagimu sehingga kau dengan tega-teganya mengkhianati kesetiaanku? Bila memang iya, kenapa tidak kau katakan saja baik-baik? Aku ikhlas melepas mu asalkan kau bahagia, bukannya mendua seperti ini.
Mas Marcel, aku tunggu penjelasanmu. Lekaslah kembali, mas! Aku menunggumu.
POV Marvin
Hoaaammm ...
Aku telah bangun dari tidurku. Jam sudah menunjukkan pukul 7.05. Aku bergegas menuju kamar Zicka karena aku masih mengkhawatirkannya. Aku takut ia berbuat yang tidak-tidak. Ku buka pintunya perlahan, ah dia tidak ada. Ku periksa kamar mandinya, ia juga tidak ada. Apa dia di kamar Meyra? Aku pun bergegas menuju kamar Meyra, kemudian ku buka pintu kamar Meyra, ternyata Meyra masih tidur sendiri. Ku periksa di dapur, semoga saja ia sedang memasak, tapi duh ternyata ia juga tidak ada.
Aku makin panik, cemas, takut terjadi sesuatu padanya. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang sedang bersenandung di taman belakang rumah, suara siapa itu? Karena baru kali ini aku mendengar ada yang bernyanyi di rumah ini. Aku pun bergegas ke taman belakang melihat siapa yang sedang bernyanyi itu dan ternyata itu suara Zicka. Seketika hatiku merasa begitu lega bercampur bahagia mengetahuinya.
Jangan pernah katakan bahwa
Cintamu hanyalah untukku
Karna kini kau telah membaginya
Maafkan jika memang kini
Harus kutinggalkan dirimu
Karna hatiku selalu kau lukai
Tak ada lagi yang bisa ku
Lakukan tanpamu
Ku hanya bisa mengatakan
Apa yang kurasa
__ADS_1
Ku menangis membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya
Ku menangis melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku
Harus selalu kau tau
Akulah hati yang telah kau sakiti
Hatiku terenyuh mendengarkan Zicka bersenandung. Mungkin ia ingin menyuarakan hatinya, namun tak sanggup mengungkapkan pada orang lain jadi ia luapkan kesedihannya dengan bersenandung sembari menjemur pakaian yang baru saja dicucinya. Tapi setidaknya hatiku kini cukup tenang sebab aku melihat Zicka sudah tidak menangis lagi. Walau aku masih melihat matanya yang masih sembab, mungkin semalam saat aku sudah tertidur, ia bangun dan kembali menangis.
Sungguh hatiku ikut pilu mendengarkan curahan hatinya lewat senandung itu. Apalagi kini matanya kembali berkaca-kaca. Oh kak Marcel, betapa teganya kau menyakiti dan menduakan Zicka! Dimana hati dan perasaanmu sehingga tega-teganya melakukan itu. Pergi tanpa kata, tidak pulang-pulang tanpa berita, dan kini terkuak sebuah fakta, ternyata kau telah mendua. Mungkin kini kau tengah mereguk madu asmara dari wanita itu, namun aku yakin, suatu hari kau akan menangis, menyesali perbuatan bodoh mu yang menduakan wanita tulus seperti Zicka.
...❤️❤️❤️...
"Mama di taman belakang, Sayang," pekik Zicka tanpa menghentikan kegiatannya menjemur pakaian.
"Eh Marvin, udah lama berdiri disitu?" Kaget Zicka bertanya karena melihat Marvin sedang berdiri di depan pintu belakang rumah itu.
"Belum lama kok. Suara kamu bagus juga ternyata. Ada bakat jadi penyanyi tuh," puji Marvin sambil tersenyum menggoda.
"Bagus? Muji apa ngatain tuh?" jawab Zicka sambil mencebik Kemudian ia memutar tubuhnya mengambil pakaian yang masih berada di dalam ember dan menjemurnya.
"Aku jujur lho, malah dikira ngatain. Emang kapan aku pernah ngatain kamu?" delik Marvin sambil memutar bola matanya malas.
"Kan mungkin aja itu cuma sarkas," jawab Zicka seraya terkekeh.
"Mama," panggil Meyra lagi sambil berjalan mendekati Zicka.
"Eh anak Mama udah bangun, sini sayang, peluk mama!" ujar Zicka sembari berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Meyra pun segera berhambur ke pelukan sang mama dan menempelkan wajahnya di dada Zicka membuat Zicka tersenyum dan mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"Peluk Om Marvin juga donk!" ucap Marvin pura-pura merajuk.
"Berpelukaaannn," seru Meyra girang sambil berhambur memeluk sang paman.
"Ma, Meyra laper!" Meyra berujar sambil mengusap perut kecilnya.
"Kita sarapan dulu yuk! Mama udah buat nasi goreng buat kita. Tapi cuci muka dulu ya!"
"Siap," koor Marvin dan Meyra kompak lalu mereka pun tertawa, melupakan sejenak masalah kemarin.
Di meja makan
"Vin, aku pingin kerja lagi nih! Tapi dimana ya? Kalo balik kayak dulu lagi bekerja di bidang perhotelan, pasti waktuku akan banyak tersita. Aku juga nggak bisa tinggalin Meyra, kan nggak mungkin aku sewa pengasuh, penghasilan aja belum punya," ucap Zicka sambil menyantap nasi gorengnya.
Otaknya tengah berpikir, pekerjaan apa sekiranya yang bisa ia geluti. Keuangannya kian menipis. Sedangkan Marcel belum juga mengiriminya jatah bulanan.
"Kalo kamu jaga toko bajuku, gimana? Kan disini ada beberapa cabang, kamu bisa handle yang terdekat aja jadi kamu bisa sambil ajak Meyra juga, gimana? Kamu mau?" tawar Marvin setelah menelan nasi goreng dalam mulutnya.
"Beneran, Vin? Aku boleh kerja di toko kamu?" tanya Zicka mencoba meyakinkan.
"Bener donk! Gimana kalau nanti aku ajak kamu ke tokoku yang nggak jauh dari sini! Kalo kamu rasa cocok, kamu bisa langsung kerja besok," ujar Marvin lagi. Ia memiliki beberapa cabang toko pakaian. Tentu ia bisa memasukkan siapa saja untuk bekerja di sana sesuai keinginannya.
"Wah, boleh juga tuh! Meyra cepet habisin sarapannya ya! Setelah ini, mama mandiin, kamu mau kan ikut mama ke toko baju Om Marvin?" tanya Zicka pada Meyra.
"Mau, Ma. Tunggu, Ma, sebentar lagi habis kok nasinya," seru Meyra sambil cepat-cepat menghabiskan nasi goreng miliknya.
Tak beberapa lama kemudian Meyra telah menyelesaikan sarapannya. Setelah sarapan, Zicka memandikan Meyra dan memakaikannya pakaian yang bagus. Tak lupa Zicka mengikat kuda rambut panjang Meyra dan memasangkannya pita membuat gadis kecil itu terlihat lucu dan cantik. Sedangkan Marvin, ia mandi di kamar mandi dapur. Untung saja ia selalu sedia pakaian ganti di mobil jadi ia bisa mandi dan berganti pakaian dimana saja.
"Nah, anak Mama sekarang udah cantik. Giliran Mama yang siap-siap! Kamu tunggu di depan ya Sayang sama Om Marvin!" titah Zicka yang diangguki Meyra.
"Baik, Ma."
Setelah semua telah siap, Zicka dan Meyra pun ikut Marvin ke toko bajunya yang tak jauh dari rumah Zicka.
Zicka melihat-lihat ke sekeliling, lokasinya memang cukup bagus dan aman. Tak jauh dari toko, ia melihat sebuah PAUD jadi ia nanti bisa menyekolahkan Meyra di sana. Apalagi di toko itu juga ada ruangan yang biasa dijadikan Marvin kamar kalau ia sedang ingin beristirahat di toko yang bisa dimanfaatkan Zicka untuk Meyra beristirahat dan bermain sambil menunggu ia pulang bekerja. Setelah melihat-lihat dan mempelajari perihal toko tersebut, Zicka pun setuju untuk bekerja di toko tersebut. Marvin menempatkannya sebagai kasir supaya Zicka tidak perlu mondar-mandir dan kelelahan.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...