
"Hei, Jen! Lagi liatin apa sih?"
"Ikh Kak Keenan, ngagetin aja. Ini nih, Kenny lagi liatin foto Jenny sama murid Jenny di sekolah," ujar Jenny pada sang kakak.
Tadi saat mengobrol dengan Meyra, Jenny menyempatkan diri berselfie ria dengan Meyra.
"Dia masih kecil banget, tapi lucu dan pinter banget. Tapi Jenny kasian sama nasibnya, kak," ucap Jenny dengan wajah murung.
"Kasian kenapa?"
"Orang tuanya udah pisah terus ayahnya udah nggak peduli lagi sama dia dan ibunya. Jadi ibunya mesti banting tulang untuk membiayai hidupnya," tutur Jenny.
"Coba kakak liat fotonya, Jen!" pinta Keenan ingin melihat foto Jenny dengan muridnya tersebut.
Tiba-tiba Keenan mengernyitkan dahinya merasa familiar dengan wajah gadis kecil yang ada di foto yang merupakan murid Jenny. Lalu ia mencoba mengingat-ingat kembali siapa gadis kecil itu.
"Kenapa dahi kakak sampai mengernyit begitu? Apa kakak kenal dengan murid Jenny?" tanya Jenny heran melihat ekspresi sang kakak yang seolah mengenal muridnya tersebut.
"Iya, kakak kayaknya pernah liat, tapi dimana ya?" gumam Keenan masih mencoba mengingat-ingat.
Tiba-tiba kejadian beberapa hari terlintas lagi dalan pikirannya. Kejadian saat ia sedang terburu-buru ingin pergi ke rumah sakit karena ada pasien yang butuh tindakan operasi secepatnya. Ia tak sengaja melintasi genangan air yang mengakibatkan percikannya mengenai pakaian seorang wanita yang sedang bersama anak perempuannya.
"Ahhh kakak ingat, ini Meyra Cantika kan!"
"Hah, Kakak mengenalnya? Kenal dimana? Apa kakak juga mengenal ibunya?" cecar Jenny penasaran.
"Iya, kakak mengenalnya tapi lebih tepatnya baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Kalau ibunya udah cukup lama sih kenalnya. Cuma baru berapa kali juga ketemu," tutur Keenan jujur.
"Ceritain dong kak gimana bisa kenal mamanya Meyra?"
"Kamu ingat kan dimana kakak melamar kakak ipar kamu, Diva?" yang hanya diangguki oleh Jenny.
"Nah, Zicka dulu kerja di hotel itu sebagai manager. Karena urusan melamar Diva lah, kakak mengenal Zicka. Dia yang membantu kakak mempersiapkan kejutan untuk acara lamaran Diva."
"Oh, gitu. Kirain ketemuannya dimana dengan suasana sedikit romantis, eh taunya malah di acara persiapan lamaran almarhumah kak Diva." cengir Jenny.
"Emang kamu berharap kakak kenalannya dimana?" tanya Keenan dengan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Ya, dimana gitu. Kalo mama Meyra jadi istri kakak, Jenny setuju pake banget. Jadi Kenny bisa langsung dapat 2 ponakan, satu ganteng dan satunya cantik." kekeh Jenny tersenyum menyeringai.
"Dari pada berharap dapat ponakan baru, kenapa nggak kamu aja yang nikah. Kalau kamu yang nikah, kamu bukan cuma punya ponakan, tapi juga bisa punya anak. Apalagi suami kamu udah punya anak, bisa dapet bonus plus-plus," ketus Keenan mendengar celetukan konyol adiknya lalu ia segera berdiri meninggalkan Jenny di ruang tamu sendiri.
"Ikh kakak, mulai deh ngambek. Jenny kan cuma bercanda. Tapi nggak ada salahnya juga kali Jenny berharap kakak jadiin mamanya Meyra istri. Mamanya kan baik, cantik lagi," teriak Jenny yang entah didengar atau tidak oleh Keenan.
Keenan hanya tersenyum mendengar teriakan adiknya. "Iya, emang nggak ada salahnya! Tapi semua tergantung jodoh. Kalau jodoh, aku pasti bertemu lagi dengannya. Tapi kalau nggak ya berarti nggak jodoh," gumam Keenan seraya masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu di kediaman mama Marcel dan Marvin.
"Vin, kamu nggak ke toko hari ini?"
"Nggak, Ma. Hari ini toko Marvin liburin, kan tanggal merah. Karyawanku juga pasti pingin menikmati waktu libur, Ma."
"Oh, terus kok tampang kamu kayak lagi galau gitu?"
"Ma, bisa ngomong sebentar nggak? Penting."
"Tinggal ngomong aja kok susah banget. Biasanya juga nggak pake izin lagi kalo mau ngomong."
"Mama duduk dulu gih, ini sangat-sangat penting," tukas Marvin mengajak sang ibu agar duduk bersama di ruang tamu.
"Ma, Marvin pingin nikah," ucap Marvin to the point.
"Hah, nikah? Kamu serius??? Wah, mama seneng banget dengernya, Vin. Kalau emang benar, siapa nama calonnya? Kenalin mama ya nanti! Ajak dia kesini ya biar mama bisa kenalan," cecar mama antusias.
"Mama udah kenal kok! Malah sangat kenal."
"Ah, yang bener? Tapi kan seumur-umur kamu belum pernah bawa cewek ke rumah apalagi kamu kenalin ke mama. Bisa kenal banget dari mana?" tanya mama penasaran bercampur bingung.
"Ma, Marvin pingin banget nikahin Zicka Ma!"
"Apaaaa??? Kamu nggak bercanda kan, Vin?"
"Marvin serius, Ma. Sangat-sangat serius malah."
"Nggak, nggak ... mama nggak setuju kamu nikahin Zicka." Mama Marvin menolak keras.
__ADS_1
"Kenapa, Ma? Emangnya kenapa? Apa salahnya? Jujur, Ma, Marvin sudah sejak lama mencintai Zicka. Malah jauh sebelum kak Marcel menikah dengan Zicka." ucap Marvin meyakinkan.
"Vin, bagaimana pun Zicka itu mantan istri kakak kamu jadi mama nggak setuju."
"Tapi kan udah mantan, Ma. Kakak aja sudah ada anak dan istri lain, jadi Marvin bebas mau nikahin Zicka."
"Vin, kamu nggak mikir apa, Zicka itu mantan istri kakak kamu, apa kata orang-orang kalau kamu menikahi mantan istri kakak kamu. Kamu itu masih muda, Vin, masa depan kamu masih panjang, kamu bisa dapetin cewek-cewek yang lebih dari Zicka, lebih cantik, baik, bahkan masih single, bukan janda seperti Zicka. Terlebih janda kakak sendiri. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan gunjingan orang-orang karena pernikahan turun ranjang," tolak ibunya keras.
"Ma, tapi Marvin mencintai Zicka, Ma! Sudah cukup Marvin menahan perasaan cinta ini. Sudah cukup Marvin mencintai Zicka dalam diam. Izinkan Marvin memperjuangkan cinta Marvin, Ma. Marvin mohon, Ma! " melas Marvin dengan wajah mengiba.
"Kalau mama katakan tidak, tetap tidak. Titik," ucap mama dengan emosi.
Tiba-tiba mata mama Marvin membulat melihat Zicka sudah berdiri di depan pintu.
"Zi-Zicka, sejak kapan kamu disitu?" tanya mama terkejut karena baru menyadari kehadiran Zicka dan cucunya Meyra.
Sontak ucapan mama, membuat Marvin terkejut lalu menghadapkan wajahnya ke belakang, tepat ke arah pintu tempat Zicka dan Meyra yang telah berdiri kaku.
"Zicka, Meyra, kalian kapan datangnya?" tanya Marvin gugup.
"Udah cukup lama, Ma. Maaf tadi Zicka udah ketuk pintu dan ucap salam tapi sepertinya karena mama dan Marvin sedang bicara jadi nggak mendengar kedatanganku," ucap Zicka dengan wajah memasang senyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kayaknya Zicka datang di waktu yang tak tepat, Ma. Maaf, Zicka dan Meyra mohon undur diri dulu kalau begitu."
Lalu Zicka mencium punggung tangan sang mantan mama mertua, begitu juga Meyra. Setelahnya, ia segera beranjak dari hadapan sang mantan mertua dan anaknya tersebut.
"Ka, jangan pergi dulu, ada yang harus aku jelasin ke kamu," mohon Marvin sambil meraih lengan Zicka.
"Nggak ada yang perlu dibicarain, Vin. Aku udah dengar semua."
Lalu Zicka menolehkan kepalanya ke arah sang mantan mertua.
"Ma, mama nggak perlu khawatir, apa yang mama inginkan akan Zicka wujudkan. Zicka juga nggak mungkin menikah dengan mantan adik ipar Zicka sendiri,"ucap Zicka sambil mengembangkan senyum.
"Dan buat kamu, Vin, tolong kubur dalam-dalam perasaanmu karena apa yang kamu harapkan nggak akan mungkin terjadi," tegas Zicka sebelum ia benar-benar berlalu dari hadapan sang mantan mertua dan anak bungsunya, Marvin.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...