
"Mas, aku mohon padamu, lepaskan Meyra. Kau sudah menikahi Andin, Mas. Jangan ulangi kesalahanmu padaku dahulu."
"Aku tak peduli, yang saat ini aku inginkan hanya kau kembali padaku. Pilihanmu hanya 2, kembali padaku lalu kau bisa berkumpul kembali bersama Meyra atau lepaskan Meyra padaku. Tapi setelah itu, aku memastikan kau takkan pernah lagi melihat Meyra," ancam Marcel.
"Mas ..." teriak Zicka yang mulai tersulut emosinya
"Tak bisakah sekali saja kau memikirkan perasaanku. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Mengapa kau begitu terobsesi aku kembali padamu, hah?" teriak Zicka yang mulai tersulut emosi.
"Ini bukan obsesi, Zicka. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu. Aku baru sadar setelah kita berpisah. Karena itu aku ingin kembali padamu. Cepat kau putuskan sekarang kembali padaku atau kau serahkan Meyra dan jangan temui ia selamanya!" tegas Marcel.
'Aku harus bagaimana? Aku tak mungkin kembali padanya. Ya Tuhan, aku mohon segera berikan pertolonganmu!' batin Zicka.
Dalam keadaan gundah, Zicka pasrahkan semuanya pada yang maha Kuasa. Zicka mencoba melangkahkan kakinya mendekati Marcel. Mungkin ini yang terbaik pikirnya. Namun, dalam hati, ia tetap berharap akan ada pertolongan yang dapat menghentikan kegilaan Marcel itu. Pertolongan yang dapat menyelamatkannya dari pernikahan paksa sang mantan suami.
Marcel menyeringai melihat Zicka mencoba melangkahkan kakinya mendekatinya.
'Akhirnya kau menyerah juga. Aku akan memilikimu lagi, Zicka. Kau memang ditakdirkan hanya untukku,' batin Marcel.
"Jangan lakukan itu, Zee!" tiba-tiba sebuah lengan kokoh menggenggam erat lengan Zicka yang sontak membuat Zicka menghentikan langkahnya. Zicka membalikkan badannya dan menatap lekat sosok itu yang ternyata Keenan.
"Tapi Keen, Meyra ..." mata Zicka memandang nanar Meyra yang masih ditahan oleh Marcel.
"Mama ... " lirih Meyra yang sudah berurai air mata.
"Aku akan membereskannya. Kau tetap di sini, aku akan mengembalikan Meyra padamu, aku janji," ucap Keenan sendu lalu ia membalik badan dan menatap tajam Marcel.
"Lepaskan Meyra sekarang juga!" tegas Keenan dengan sorot mata tajam dan dingin.
"Cih, apa hakmu memerintahku, hah? Meyra bukan siapa-siapa dirimu. Aku papanya aku berhak melakukan apapun pada putriku."
"Papa? Di mana kau saat mereka membutuhkanmu? Bukankah kau telah membuang mereka demi jalaangmu itu, hah?" sinis Keenan dengan ekspresi jijik.
"Itu bukan urusanmu. Pergi kau dari sini sebelum aku menghabisimu!" ancam Marcel.
"What? Kau ingin menghabisiku? Hahaha ... Lakukan saja kalau kau bisa," ejek Keenan sambil menampilkan smirknya.
"Dasar kurang ajar. Mengapa kau selalu saja ikut campur urusanku, hah?" teriak Marcel emosi.
__ADS_1
"Karena aku mencintai Zicka, puas!"
"Dasar, bedebaah sialan," umpat Marcel lalu dengan emosi yang meluap. Ia pun melepaskan cengkraman tangannya dari Meyra dan berlari menuju Keenan. Kemudian ia mencoba untuk melayangkan tinjunya, namun dengan sigap Keenan menangkis setiap serangan yang dilancarkan Marcel. Tanpa putus asa, Marcel tetap mencoba menghantamkan setiap tinju maupun terjangan ke arah Keenan. Lalu dengan sekali pukulan dari Keenan, Marcel pun terjerembab ke tanah. Tak terima ia mendapatkan pukulan dari Keenan, Marcel mengambil sebuah batu besar yang terletak di dekat tangannya lalu melemparkannya ke arah Keenan. Karena Keenan sedang dalam keadaan tidak siap, batu tersebut sukses mengenai pelipis Keenan hingga membuat darah segar mengalir deras dan membuatnya hampir sempoyongan.
Zicka yang melihat Keenan berdarah hebat di pelipisnya, menjadi begitu panik. Ia meminta Meyra yang kini bersamanya segera menelpon Marvin menggunakan ponselnya. Lalu ia berlari mendekati Keenan.
"Keen, kau tidak apa-apa? " tanya Zicka panik hingga terlihat air mata mengalir melalui ekor matanya.
"Aku tak apa," jawab Keenan sambil menyeka air mata Zicka.
"Mama .... Tolong Meyra, Ma," pekik Meyra karena Marcel kembali menarik paksa tangan Meyra.
"Mas, tolong hentikan kegilaanmu ini! Atau aku akan berteriak sehingga semua warga datang dan memukuli mu!" ancam Zicka.
"Teriak saja. Kau lihat, rumah ini jauh dari penduduk yang lain karena itu aku menyewanya untuk pernikahan kita agar tak ada yang mengganggu kita."
"Kau gila mas, kau sudah gila."
"Ya, memang aku sudah gila. Aku gila karena kehilanganmu. Aku gila karena kau meninggalkanku. Aku gila karena kau menggugat ceraiku. Aku gila karena kau tak mau menerima kehadiranku lagi. Puas kau sekarang!" teriak Marcel mengeluarkan semua kekesalannya.
"Lupakan semua, Mas. Mari kita jalani hidup kita masing-masing. Aku takkan melarang mu menemui Meyra. Aku akan memaafkan mu, tapi tolong lepaskan Meyra. Biarkan aku dan Meyra hidup bahagia, Mas. Aku mohon." Zicka terkulai lemas di tanah sambil terus memohon agar Marcel melepaskan Meyra. Ia tergugu dengan air mata berderai di pipi.
Ponsel Marcel terus berdering. Marcel melihat pada ponselnya karena tak mengenal nomor itu, ia pun mengabaikannya. Tapi karena sudah 5 kali berdering, akhirnya ia mengangkatnya.
"Akhh ... mengganggu saja," omel Marcel kesal "Halo ... Siapa ini?" ketusnya saat panggilan itu telah ia angkat.
"Halo, selamat siang. Benar saya bicara dengan bapak Marcel?" ucap seseorang dari seberang telepon.
"Ya, benar. Ini siapa?"
"Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa istri Anda atas nama Andin, baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Karena posisinya terjepit diantara kemudi, mengakibatkan ia meninggal di tempat. Jenazah sudah kami bawa ke rumah sakit XX untuk melakukan visum."
"Apa? Andin kecelakaan dan ia meninggal di tempat?" Marcel terkejut atas berita yang barusan ia terima dari pihak kepolisian hingga tubuhnya terhuyung dan tanpa sadar ponselnya jatuh ke tanah.
Melihat Marcel yang sedang lengah dengan sigap Zicka mengambil Meyra dari Marcel dan membawanya menjauh.
Tak lama kemudian, Marvin datang ditemani Jenny.
__ADS_1
"Kakak ..." Jenny nampak panik melihat kondisi sang kakak yang terluka di bagian pelipis dan mengeluarkan banyak darah. Bahkan wajah Keenan kini mulai memucat.
"Kakak, apa yang terjadi?"
"Nanti saja aku jelaskan, Jen. Yang penting cepat kita bawa Keenan ke rumah sakit," ucap Zicka.
Lalu dengan bantuan Marvin, Keenan dipapah ke mobilnya. Jenny yang membantu mengemudikan mobil Keenan. Sedangkan Marvin, mengemudikan mobilnya sendiri. Zicka memangku kepala Keenan. Melihat Zicka yang begitu perhatian pada Keenan, menerbitkan senyuman di bibir Jenny.
Setibanya di rumah sakit, Keenan segera diperiksa oleh dokter Alona. Awalnya ia terkejut melihat Keenan yang terluka dan mengeluarkan banyak darah di bagian pelipisnya. Tapi melihat kondisi Keenan yang seperti itu, ia menunda rasa keingintahuannya. Ia harus mengobati Keenan terlebih dahulu pikirnya.
Setelah selesai mengobati Keenan, dokter Alona keluar dari ruang rawat Keenan. Tanpa basa-basi, ia melontarkan pertanyaan kepada Zicka, Marvin, dan Jenny. Dokter itu belum tahu Jenny adalah adik Keenan jadi ia menatap sinis mereka bertiga.
"Apa yang terjadi dengan dokter Keenan?"
"Oh, apakah kau teman kakakku?" tanya Jenny tanpa menghiraukan pertanyaan dokter Alona tadi.
"Kakak?"
"Iya, kak Keenan adalah kakakku. Perkenalkan, namaku Jenny."
"Oh maafkan aku, Jenny. Aku tidak mengenalimu. Perkenalkan, aku dokter Alona, teman dekat dokter Keenan," ucap dokter Alona dengan mimik wajah dibuat semanis mungkin.
'Teman dekat?' batin Zicka.
Entah setelah mendengar kalimat itu dari dokter Alona, tubuh Zicka jadi melemas. Ia yang tadi berdiri karena cemas dengan Keenan, malah jadi tak bersemangat.
"Oh ya dok, jadi gimana keadaan kakak saya? Baik-baik aja kan?" tanya Jenny lagi karena pertanyaannya tadi belum dijawab dokter Alona.
"Keadaan dokter Keenan baik, cuma luka biasa saja. Tadi sudah saya bersihkan dan jahit bagian yang perlu."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ma, mama kenapa? Mama sakit ya?" tanya Meyra.
"Ehmmm ... enggak kok sayang. Mama cuma lelah aja," jawab Zicka.
Tingkah Zicka yang mendadak berubah pun tak luput dari pandangan Marvin dan Jenny. Marvin yang menatap nanar Zicka seperti sudah kehilangan harapan. Sedangkan, Jenny menatap dengan bahagia sehingga mengabaikan cerita dokter Alona tentang kedekatannya dengan Keenan. Merasa diabaikan, dokter Alona pun meninggalkan Jenny dengan perasaan kesal.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...