
Tak terasa, petang mulai menjelang, sebelum benar-benar pulang, Marvin menyempatkan mengajak Meyra dan Zicka shopping ke supermarket yang masih berada di kawasan mall yang mereka datangi.
Marvin terkekeh melihat tingkah Meyra yang sibuk memborong berbagai macam snack dan permen. Zicka sudah melarang, tapi Marvin justru membela Meyra. Zicka merasa tak enak hati dengan Marvin. Ia terlalu banyak berhutang budi dengan Marvin. Bisa mewujudkan keinginan putrinya tercinta saja sudah cukup membahagiakan baginya. Di saat ayah kandungnya seakan tak peduli dengan putrinya, tapi Marvin justru bersikap layaknya seorang ayah yang ingin membahagiakan dan memanjakan Meyra. Zicka sampai tak habis pikir, mengapa Marvin begitu baik pada dirinya dan Meyra yang hanya sekedar keponakannya saja. Putri dari kakaknya.
"Ra, kok snacknya banyak banget? Liat tuh, trolly nya ampe penuh kayak gitu. Mama kurangin ya!"
Zicka pun mengeluarkan satu-persatu snack pilihan Meyra karena memang snack itu terlalu banyak. Ia takut uangnya tak cukup. Ia malu bila harus merepotkan Marvin lagi untuk membayari belanjaan Meyra yang sangat banyak itu.
Meyra seakan kalap saat melihat aneka snack, permen, dan camilan yang memenuhi rak di supermarket itu Hari ini saja pasti Marvin sudah menghabiskan banyak sekali uang, mulai dari bayar tiket berenang, bayar tiket main ice skating, jalan-jalan, dan makan. Zicka benar-benar merasa tak enak hati karena terlalu merepotkan Marvin hari ini. Belum lagi, demi mewujudkan keinginan Meyra, ia jadi tidak datang ke tokonya seperti biasa.
"Ma, jangan Ma, itu snack Meyra!" Meyra tampak memelas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Meyra sangat jarang jalan-jalan apalagi membeli jajanan di supermarket seperti saat ini. Melihat makanan yang sangat ingin ia cicipi dikembalikan ke tempatnya, sontak saja membuatnya sedih hingga ingin menangis.
"Tapi nanti uang mama nggak cukup, Sayang," bisik Zicka takut didengar Marvin. Ia sangat tahu sifat Marvin. Bila mendengar hal ini pasti dia akan menyuruhnya membiarkan Meyra membeli apapun sesuka hatinya. Bukannya tak boleh, hanya saja cukup sudah ia merepotkan adik iparnya itu.
Meyra hanya diam. Ia pasrah melihat Zicka mengembalikan snack-snack itu ke tempatnya semula. Mendadak Meyra kehilangan semangatnya. Ia berjalan gontai dengan wajah ditekuk.
Tiba-tiba Marvin memegang tangan Zicka, Zicka pun sontak menoleh ke arah Marvin.
"Biarin aja, Ka, kasian Meyra. Meyra kan jarang jalan-jalan dan jajan kayak gini. Aku nggak mau nanti Meyra sedih. Susah payah aku ingin membahagiakannya hari ini, masa' pulang-pulang wajahnya sedih," tukas Marvin mencoba memberikan pengertian pada Zicka. Ia paham maksud dan tujuan Zicka melakukan itu. Tapi, ia pun tak tega membuat keponakannya tersayang bersedih seperti itu.
"Aku juga nggak mau Vin buat Meyra sedih, tapi ... "
"Udahlah, nggak usah dipikirin. Biar aku yang bayar semua belanjaan kalian. Hari ini pokoknya kalian harus bahagia, nggak usah mikirin apapun. Kamu juga kalau ada yang kepingin dibeli, ambil aja. Pokoknya hari ini kalian bebas mau ambil apa aja. Asal jangan sesupermarket ini aja mau diborong," ucap Marvin sambil terkekeh kemudian segera berlalu mendorong belanjaan Meyra dan Zicka yang ada di dalam trolly. "Ayo Meymey yang cantik, kamu mau beli apa lagi? Ambil gih, biar Om yang bayar," tukas Marvin membuat Meyra membulatkan matanya.
__ADS_1
"Beneran Om?" seru Meyra girang.
"Ya bener dong, masa' bohong. Entar hidung Om malah panjang kayak Pinokio kalau bohong," ujar Marvin membuat Zicka diam-diam mengulum senyum.
"Yes, asiiiikkk! Makasih Om ganteng. Om baik deh," seru Meyra begitu girang.
Lantas ia pun segera mengambil kembali snack-snack pilihannya tadi yang sudah dikembalikan Zicka ke tempatnya kemudian memasukkannya ke dalam trolly. Zicka hanya bisa menghela nafasnya. Nggak papa lah sekali-sekali pikirnya.
Saat sibuk berkeliling melihat bermacam-macam mainan masakan dan boneka yang lucu-lucu, tiba-tiba mata Meyra membulat. Ia nampak shock melihat sosok yang akhir-akhir ini dirindukannya namun tak kunjung datang apalagi menemuinya. Sosok yang dulu kerap menggendongnya saat ia menangis. Sosok yang dulu kerap membacakannya dongeng sebelum tidur. Sosok yang kerap menggendongnya saat ia sakit dan susah tidur.
Dengan mata berkaca-kaca, Meyra mendekati Zicka.
"Ma ... Mama ... " Meyra menarik-narik ujung baju Zicka. Melihat mata Meyra yang berkaca-kaca, sontak saja membuat Zicka bingung dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya? Mengapa wajah Meyra yang sedari tadi sangat bahagia tiba-tiba dan hampir menangis.
Meyra lalu menarik lengan Zicka menuju tempat ia berdiri sebelumnya. Lalu jari telunjuk Meyra ia arahkan ke salah satu pojok tempat mainan bayi yang dipajang. Zicka pikir Meyra menginginkan salah satu mainan yang ada di sana, namun ternyata ...
Mata Zicka ikut membola.
Ia shock.
Jantungnya tiba-tiba berdebar hebat.
Wajahnya seketika pias.
__ADS_1
Tubuhnya pun tiba-tiba berkeringat dingin padahal ia sedang berada di ruangan ber'AC.
Tungkainya mendadak lemas, rasanya ia tak mampu lagi tuk berpijak di bumi. Lalu Zicka pun terkulai di lantai dengan nafas tercekat.
Marvin yang melihat Zicka yang tiba-tiba terkulai lemah di lantai pun sontak berlari menghampiri. Takut telah terjadi sesuatu pada Zicka.
"Ka, kamu kenapa?" Marvel merangkum wajah Zicka. Ia terkejut melihat wajah Zicka yang tampak mendung.
Zicka pun menatap Marvin dengan mata yang telah berkaca-kaca dan bibir bergetar.
"Ka, kamu kenapa ? Kenapa kamu tiba-tiba menangis, hem? Ayo, ngomong! Jangan buat aku panik gini!" cecar Marvin. Lalu ia menoleh pada Meyra yang ternyata matanya juga telah berkaca-kaca membuatnya kian penasaran sekaligus cemas.
Ia bingung, apa yang telah terjadi pada Zicka dan Meyra? Kenapa tiba-tiba senyum mereka yang sedari pagi mengembang tiba-tiba pudar dalam sekejap. Sampai ia melihat gerakan tangan Zicka yang menunjuk ke satu arah yang tak jauh dari posisi mereka sekarang. Kemudian dengan bibir bergetar dan nafas tercekat, Zicka pun mengeluarkan suaranya.
"Mas Marcel, Vin! Itu ... Mas Marcel. Mas Marcel ... dia ... dia ada di sana. Dia ... bersama wanita lain yang tengah hamil besar," lirih Zicka dengan bibir bergetar menahan tangis yang hampir pecah.
Merasa penasaran, Marvin pun segera beranjak menoleh ke arah yang ditunjuk Zicka tadi.
Sama seperti Zicka dan Meyra, Marvin pun ikut terkejut. Ia membulatkan matanya. Apakah ini alasan kakaknya itu berubah pada anak dan istrinya? Apakah ini alasan sikapnya berubah pada keluarga kecilnya ini? Inikah alasan, mengapa ia seakan tidak mempedulikan anak dan istrinya lagi? Bahkan Marcel sampai tidak pulang-pulang ke rumahnya, apakah itu karena kakaknya itu tinggal bersama perempuan hamil itu?
Marvin mengepalkan tangannya erat, ia benar-benar tak menyangka kakaknya bisa berbuat setega itu dengan anak dan istrinya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...