
Setelah mendapat telfon dari pihak kepolisian bahwa Andin mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, Marcel pun bergegas menuju ke rumah sakit untuk mengecek kebenarannya. Sebelum pergi ia melihat ke sekeliling, ia baru tersadar ternyata semua orang sudah pergi meninggalkannya seorang diri. Ia merutuki kegagalannya hari ini untuk menikahi Zicka. Padahal sudah tinggal selangkah lagi ia akan berhasil.
"Brengsekkk! Kalau saja pria brengsekkkk itu tidak datang, pasti aku sudah menikahi Zicka," rutuknya geram atas kegagalannya hari ini.
Ia pun gegas masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya menuju rumah sakit. Tak butuh waktu lama, Marcel sudah tiba di rumah sakit. Ia menemui polisi yang nampak bertugas menunggu hasil visum.
"Selamat sore pak, perkenalkan saya Marcel. Apa saya bisa melihat jenazah istri saya terlebih dahulu untuk memastikan itu benar istri saya atau bukan?" tanya Marcel yang tak ingin basa-basi lagi.
"Oh Pak Marcel. Baik pak. Silahkan." Petugas polisi itu pun segera mengantar Marcel memeriksa jenazah itu benar Andin atau bukan.
Deg ...
Marcel membulatkan matanya saat melihat sosok yang terbaring di depannya. Meskipun wajahnya dipenuhi luka, tapi ia tetap masih bisa mengenali sosok itu.
"Bagaimana, pak? Apa benar itu istri bapak?" tanya pak polisi.
"I-iya benar, pak. Itu Andin, istri saya," jawab Marcel shock. Tapi dalam hati ia lega sebab ia tak perlu bersusah payah menyingkirkan atau menceraikan Andin. Jadi ia tak perlu repot-repot menggugat cerai apalagi memberikan harta gono gini.
"Kalau begitu, bisa ikut saya pak? Ada yang perlu saya jelaskan kronologisnya."
Marcel lantas mengikuti petugas polisi tersebut keluar dari ruang tempat jenazah Andin.
"Jadi bagaimana pak kronologisnya hingga istri saya bisa kecelakaan?" tanya Marcel to the point.
"Begini pak, menurut hasil investigasi, tadi siang sekitar pukul 11, ibu Andin baru saja bertemu dengan pembeli rumahnya untuk serah terima kunci dan pelunasan pembayaran rumahnya. Mereka keluar dari cafe sekitar pukul 12.13. Setelah keluar, tepat saat ingin masuk ke dalam mobil sepertinya sudah ada perampok yang mengintai bu Andin, jadi saat di lampu merah, perampok itu dengan segera memecah kaca jendela mobil dan merampas tas Ibu Andin yang berisi uang hasil penjualan rumah. Ibu Andin awalnya menolak, ia terus berusaha mempertahankan tasnya. Tapi ia kalah kuat sehingga tas tersebut berhasil direbut hingga terjadilah aksi kejar-kejaran antara bu Andin dengan sang perampok yang menggunakaan sepeda motor bersama seorang rekannya. Saat itulah, terjadilah kecelakaan yang tak dapat dielakkan. Saat bu Andin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dari arah yang berlawanan ada mobil pick up yang juga melaju kencang sehingga terjadilah kecelakaan maut tersebut. Karena posisi ibu Andin terjepit kemudi, ia tak dapat diselamatkan dan meninggal di tempat," papar polisi tersebut yang membuat Marcel membeliakkan matanya.
'Hah, penjualan rumah? Rumah yang mana? Tapi setahuku, Andin tidak memiliki rumah. Rumah yang dulu ditempatinya itu kan rumah kontrakan. Apa maksudnya rumah yang kami tempati sekarang? Ah, tidak-tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin Andin setega itu menjual rumah kami. Tapi kalau benar bagaimana? Aku harus tinggal dimana? Aku harus cepat memeriksanya,' gumam Marcel dalam hati.
Setelah ia mendengar penjelasan pihak kepolisian, ia buru-buru pulang ke rumahnya untuk memeriksa, berharap bukan rumah yang ia tempatilah yang dijual tersebut.
Setibanya ia di rumah, Marcel melihat barang-barangnya sudah tergeletak di luar rumah. Tampak ada beberapa orang yang sedang membereskan isi rumahnya.
"Maaf, kalian siapa? Dan kenapa barang-barang saya diletakkan di luar rumah semua?" tanya Marcel penasaran.
"Anda siapa ya?" tanya salah seorang pria yang berpakaian rapi.
"Perkenalkan, saya Marcel. Saya pemilik rumah ini," sapa Marcel sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Pemilik? Oh, Anda suami ibu Andin? Benarkah?" tanya pria itu dan Marcel mengangguk.
__ADS_1
"Iya, benar. Kalau boleh tahu, kalian siapa?"
"Oh perkenalkan, saya pak Tio dan ini istri saya Mika. Kami pemilik rumah ini sekarang. Kami sudah membeli rumah ini dari ibu Andin. Siang tadi kami baru melakukan pelunasan jadi sore ini kami akan mulai berbenah."
"A-apa? Jadi benar rumah saya sudah dijual?"
"Benar pak, ini bukti serah terimanya!"
jedarrrr ...
Bagaikan tersambar petir di sore hari yang cerah, Marcel benar-benar shock atas segala yang menimpanya saat ini.
Kehilangan anak dan istri yang masih ia sayangi, walau memang itu karena ulahnya sendiri. Kepergian Andin untuk selamanya lalu kini rumahnya telah berpindah tangan kepada orang lain. Marcel bingung harus kemana. Ia tak punya tempat tinggal lain selain rumah sang mama. Ia tak menyangka Andin begitu tega padanya. Ia akui ia salah telah berbuat semaunya, tapi kenapa Andin sampai berbuat seperti itu. Kemudian ia ingat pada putranya, dimana ia sekarang berada? Ia segera mengambil ponsel dalam sakunya dan menekan nomor sang mama. Berharap putranya ada di rumah mamanya seperti biasanya.
"Halo, Ma."
"Iya, Cel, ada apa?"
"Ma, Mike ada sama mama kan?"
"Iya Cel, pagi tadi Andin titipin Mike mama, tapi kok belum diambil sampai sekarang ya padahal ini sudah hampir malam?" tanya ibu Marcel yang merasa heran.
"Apa? Apa maksud kamu, Cel? Kamu jangan bercanda sama mama itu nggak lucu."
"Marcel serius, Ma, Andin mengalami kecelakaan saat mengejar rampok yang mengambil uang hasil penjualan rumah kami."
"Penjualan rumah? Memangnya kalian jual rumah kalian?"
"Bukan aku, Ma, tapi Andin yang jual. Marcel minta tolong jagain Mike ya, Ma, Marcel harus mengurus jenazah Andin yang masih di rumah sakit."
"Jadi beneran Andin meninggal, Cel? "
"Iya, Ma," jawab Marcel lirih.
"Ya sudah, kamu yang tabah ya, Cel. Kalau kamu tak punya tempat pulang, pulang saja ke rumah mama. Kamar kamu kan masih kosong. Biar mama yang jaga Mike."
"Iya, Ma. Makasih, Ma," ucap Marcel lirih. Ia menghela nafas berat, semua terlampau menyesakkan dadanya.
Setelah menutup telfon, Marcel kembali ke rumah sakit untuk mengurus pemulasaraan jenazah Andin.
__ADS_1
*
*
*
"Ekhemmm ... Bangun ... bangun ... belum mahram, ayooo bangun," ucap Jenny saat masuk ke ruang rawat Keenan dan tiba-tiba membangunkan Zicka dan Keenan yang tertidur di brankar rumah sakit.
Dokter Alona ikut menyusul di belakang, memasang ekspresi masam melihat Keenan yang tertidur memeluk Zicka.
Keenan dan Zicka pun segera mengerjapkan matanya, terkejut saat Jenny tiba-tiba masuk membangunkan mereka. Sadar akan posisinya saat ini, Zicka segera turun dari brankar dengan wajah memerah menahan malu.
"Ah kamu Jen, gangguin aja," protes Keenan sambil berdecak kesal kesenangannya diganggu.
"Hahaha ... kak Keenan sih, nggak tahu tempat banget. Kalo mau boba alias bobok bareng itu nanti, halalin dulu dong, baru puas mau boba kapan aja, bebas. hehehe ..." kekeh Jenny sambil terus tergelak.
"Makanya kamu doain biar kakak bisa cepat halalin, soalnya ada yang masih ragu," ujar Keenan sambil melirik Zicka yang mulai salah tingkah.
"Ah, aku mau keluar lihat Meyra dulu ya, ,Keen," ucap Zicka mencoba menghindar.
"Kak, emang perasaan kakak gimana sama Mbak Zicka? Apa kakak udah mulai suka sama mbak Zicka?" tanya Jenny penuh selidik.
"Hmmm ... menurut kamu gimana?"
"Yah, kakak ditanya malah balik nanya," cebik Jenny.
Keenan tersenyum, matanya menerawang, "lebih dari suka, Jen," jawab Keenan singkat membuat Jenny tersenyum makin lebar.
"Wah, cepet halalin makanya kak entar keduluan orang lain lho, kakak pasti nyesel tuh. Kakak tahu sendiri kan yang udah jelas suka sama mbak Zicka itu siapa aja?" ucap Jenny meyakinkan Keenan.
"Kamu bener juga, Jen." Keenan nampak berpikir.
Mereka tak menyadari, sedari tadi dokter Alona berada di sana ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
'Jadi dia wanita yang berhasil merebut hati Keenan? Dia memang cantik. Tapi ... Apakah aku tak pernah ada kesempatan untuk menjadi pendamping mu, Keen?' gumam dokter Alona pilu dalam hati.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1