Saat Suamiku Berubah

Saat Suamiku Berubah
27. Bertemu


__ADS_3

"Om, bagaimana keadaan mama saya?" tanya Marcel cemas.


"Keadaan mama kamu baik, cuma dia sedikit shock saja. Memang apa yang terjadi sama mama kalian sampai shock begitu?" tanya dokter Bram penuh selidik sambil memperhatikan wajah Marcel dan Marvin yang babak belur.


"Apa karena melihat kalian bertengkar?" tanyanya lagi.


Marcel dan Marvin hanya mengangguk pasrah.


"Kalian ini, dari kecil sampai sebesar ini masih aja doyan berantem, apa nggak capek? Cel, Vin, mama kalian itu jantungnya lemah jadi jangan berbuat sesuatu yang bisa membuatnya shock. Harusnya kalian bisa membuatnya bahagia di sisa umurnya, bukan malah berantem nggak jelas mulu," rutuk dokter Bram.


"Saya tak mau terlalu ikut campur urusan kalian, saya hanya bisa menasihati kalian saja. Kalau kalian ada masalah, harusnya kalian selesaikan secara baik-baik agar tidak terjadi hal yang lebih buruk dari ini. Ingat, seiring bertambahnya usia mama kalian, maka kinerja jantungnya pun makin lemah jadi kalian harus hati-hati dalam bertindak dan berbuat. Ya sudah, kalau ada apa-apa dengan ibu kalian, hubungi Om lagi." Dokter Bram pun segera pergi dari kediaman mama Marcel dan Marvin.


Hening ...


Sejenak suasana rumah itu hening semenjak sang mama jatuh pingsan tadi. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya suara Marvin kembali memecah suasana.


"Ehemmm ... Kak Marcel."


"Ya ..."


"Sebenarnya apa tujuan kakak mencari ku sepagi ini? Tidak biasanya." Marvin penasaran.


"Aku sedang mencari Zicka, kau tahu kemana mereka pergi?"


"Ck ... sudah kuduga. Aku tak tahu dimana mereka. Kalau pun aku tahu, aku takkan memberitahukannya padamu," jawab Marvin tak acuh.


"Vin, jangan memulai lagi! Cepat katakan saja dimana mereka!" paksa Marcel.


"Sudah aku katakan tidak tahu. Aku pun mencari mereka hingga sekarang, tapi tetap aku tidak menemukan mereka. Bahkan Zicka sudah tak bekerja lagi denganku," jawab Marvin frustasi. Ia meraup wajahnya kasar karena merasa bingung.


"Ini semua salahmu. Andai kau tidak menyatakan pada mama bahwa kau akan menikahi Zicka hingga ia mendengarnya, pasti saat ini mereka masih ada di sini," teriak Marcel emosi menyalahkan Marvin.


"Tidak perlu berteriak emosi seperti itu padaku. Harusnya kakak instrospeksi diri, akar semua permasalahan ini adalah kakak. Andai kakak tidak pernah menduakan Zicka, semua masalah ini takkan pernah terjadi dan aku pun takkan pernah berani mengakui perasaanku pada Zicka," ucap Marvin menggebu dengan nada mengejek. Marcel bungkam sebab apa yang dikatakan Marvin itu sebenarnya ada benarnya juga.


*


*

__ADS_1


*


"Mama, kapan Meyra bisa sekolah lagi?" tanya Meyra dengan wajah memelas.


"Nanti ya, Sayang, mama belum menemukan sekolah yang cocok untukmu yang ada di sekitar sini," ujar Zicka seraya mengusap surai panjang Meyra dengan sayang.


"Tapi kapan, Ma? Meyra udah kangen sekolah. Meyra juga bosan, Meyra nggak punya temen di sini." Meyra mencebikkan bibirnya dengan wajah mendung.


"Maafin mama ya, Sayang, mama janji akan secepatnya mencari sekolah untuk Meyra. Meyra yang sabar ya!"


"Maaf mbak, mengganggu."


Zicka pun menoleh ke arah sumber suara


"Iya, ada apa Mel?"


"Mbak, sepertinya stok tepung dan telur sudah menipis, takutnya tidak cukup, apalagi pesanan sangat membeludak," jelas Mela.


"Oh ya? Hmmm ...Ya sudah, saya akan pergi membelinya. Sekalian saya akan cari supplier jadi nggak perlu susah-susah membeli sendiri di lain waktu. Emm ... Meyra mau ikut mama? Kita bisa sekalian jalan-jalan." Zicka berupaya membujuk agar sang Putri tidak sedih lagi.


"Mau, Ma ... Meyra mau. Meyra siap-siap ya, Ma." Zicka pun melemparkan senyum sebagai jawabannya.


"Meyra mau beli apa lagi sayang? Buah udah, perlengkapan menggambar udah, susu udah, atau Meyra mau makan es krim?" tawar Zicka.


"Iya, Ma, Meyra mau es krim rasa durian."


"Ayoook ... !" ajak Zicka sambil menggandeng lengan Meyra dengan senyum merekah.


Kini Zicka dan Meyra sedang duduk di stand makanan. Mereka memesan es krim dengan cup cukup besar agar bisa mereka makan bersama. Zicka makan es krim sambil mendengarkan celotehan Meyra yang tiada habisnya. Hingga tiba-tiba obrolan mereka terinterupsi oleh sapaan seseorang.


"Nona Zicka, Meyra ... Kalian juga ada disini?" sontak pertanyaan itu membuat mereka berdua menoleh ke asal suara.


"Om dokter kan!" tanya Meyra meyakinkan.


"Dokter Keenan ..." sapa Zicka dengan ekspresi agak terkejut, namun langsung ia ganti ekspresi tersebut dengan sebuah senyuman yang begitu manis yang tanpa ia sadari senyum itu cukup mencuri perhatian Keenan hingga jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Lalu pandangan Zicka dan Meyra beralih ke seorang anak kecil yang berada dalam gendongan Keenan.


Menyadari arah pandangan itu, Keenan pun langsung memperkenalkan siapa yang ia gendong.

__ADS_1


"Ah ... Iya, halo nona Zicka, Meyra cantik ... perkenalkan ini anak Om, namanya Deenan. Ayo sayang perkenalkan diri kamu." Bimbing Keenan pada putranya.


"Alooo ante, pelkenalkan namaku Dii-nan, tapi papi suka panggil aku Dii." seraya mengulurkan tangan.


"Halo Deenan, nama tante Zicka, kalau ini anak tante, Meyra, salam kenal ya!" Zicka dan Meyra mengulurkan tangan bergantian pada Deenan.


"Emmm ... Boleh saya ikut gabung di sini? Deenan juga pingin makan es krim soalnya," ujar Keenan.


"Oh silahkan, Dok, silahkan duduk." Zicka mempersilakan Keenan dan putranya duduk di dekat mereka. Keenan duduk di kursi tepat di sebelah Zicka dan Deenan duduk di kursi khusus balita tepat di samping Meyra.


"Adek mau makan es krim? Kakak punya es krim rasa durian, adek mau?" tawar Meyra sambil menyendokkan 1 sendok es krim ke dekat mulut Deenan.


Yang dijawab anggukan antusias oleh Deenan membuat Keenan dan Zicka tersenyum sumringah.


"Deenan beli sendiri aja, nanti es krim kakak cantik cepat habis," tawar Keenan merasa tak enak bila Zicka dan Meyra harus berbagi es krim dengan putranya.


"Nggak papa, Om, Mey seneng kok kasi adek Dii," jawab Meyra lugas tanpa mereka sadari es krim yang ada di sendok Meyra telah berpindah ke mulut Deenan yang cukup membuat mereka tergelak dan tertawa bersama. Dapat Zicka dan Keenan lihat interaksi Meyra dan Deenan sangat baik, bahkan mereka sudah seperti adik kakak membuat Zicka dan Keenan terus tersenyum memperhatikan mereka.


"Oh ya, dok, ibu Deenan dimana? Apa tidak ikut kemari?"


Wajah Keenan tiba-tiba berubah murung, membuat Zicka penasaran.


"Istri saya telah lama meninggal, tepatnya setelah melahirkan Deenan," tutur Keenan dengan senyum sedikit dipaksakan membuat Zicka merasa bersalah.


"Oh maaf, Dok, saya tidak bermaksud ..."


" Tidak apa-apa. Oh ya, tolong tidak usah panggil saya dokter, kita bukan di rumah sakit dan kamu bukan pasien saya, panggil saja nama saya, Keenan. Apa boleh saya memanggilmu dengan nama saja, Zicka?"


"Emmm ... baiklah kalau begitu, boleh kok dok eh Kee-nan." Zicka terkekeh sendiri karena hampir salah lagi.


"Nah, itu lebih enak didengar. Cukup di rumah sakit saja aku di panggil dokter, aku tidak suka bila di luar juga dipanggil dengan panggilan yang sama. Oh ya, kalian hanya berdua saja kemari?"


"Iya, aku sedang mencari supplier untuk kebutuhan toko kueku jadi sekalian saja ajak Meyra jalan. Dia sudah bosan katanya dikurung di dalam toko terus," ujar Zicka seraya terkekeh. "Kalau kalian?"


"Kami juga cuma berdua. Tapi saya juga sudah buat janji dengan seseorang. Mungkin sebentar lagi datang. Nah, itu dia sudah datang." Keenan mengarahkan telunjuknya ke arah seorang wanita yang sangat cantik yang sedang berjalan ke arah mereka. Zicka memperhatikan dengan seksama wanita itu.


"Dia ..."

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2