
Marvin mendekap tubuh Zicka dan Meyra dengan erat, mencoba tuk menyalurkan ketenangan. Lalu Zicka mengangkat tangannya yang memegang ponsel dan mengulurkannya pada Marvin. Memintanya agar mengambil beberapa gambar kedua orang tersebut.
"Vin, bisa tolong ambil foto mereka berdua? Aku takut, bila nanti aku bertanya, dia tidak mau mengakuinya. Atau bahkan berkilah dan menuduhku memfitnahnya." Zicka berujar lirih dengan bibir bergetar dan wajah sendunya. Hati Marvin bagai ditikam sembilu. Perih melihat wajah Zicka yang begitu kentara terluka.
Marvin pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Marvin mengambil beberapa foto Marcel dan wanita itu secara diam-diam. Setelah itu, ia segera kembali menyerahkan ponsel Zicka dan memapah Zicka untuk berdiri dan menggendong Meyra yang tampak masih sangat sedih melihat papanya yang sedang berjalan-jalan dengan wanita lain. Ingin rasanya Zicka menemui mereka berdua dan melabraknya, tapi ia masih punya harga diri. Selain itu, ia tak mau membuat Meyra makin ketakutan. Biarlah mereka bersenang-senang dahulu. Akan ada masanya untuk bertindak.
Marvin pun segera mengajak Zicka dan Meyra menuju mobil dan mengendarainya pulang ke rumah. Di perjalanan masih nampak terlihat jelas Zicka yang sedang menahan tangis. Ia menahannya karena tak ingin dilihat Meyra karena hal itu justru akan membuat Meyra lebih shock. Saat tiba di rumah, Marvin melihat Meyra sudah tertidur di kursi belakang. Sepertinya Meyra sudah begitu kelelahan. Marvin pun berinisiatif untuk menggendong Meyra masuk ke dalam rumah.
"Kamu masuk aja duluan, Ka! Biar Meyra aku yang gendong ke kamarnya,"ucap Marvin menawarkan bantuan. Zicka pun mengangguk lemah.
Lalu Zicka pun bergegas setengah berlari menuju kamarnya. Setiba di kamar, Zicka langsung berhambur ke ranjangnya. Ia meringkuk sambil memeluk bantal. Ia mengeluarkan tangisnya yang sejak tadi ia tahan. Ia tak habis pikir mengapa Marcel begitu tega mengkhianatinya. Kemudian muncul begitu banyak pertanyaan di benaknya, siapa wanita itu? Anak siapa yang dikandungnya? Sejak kapan mereka bersama? Apakah wanita itu yang menjadi alasan Marcel tega mengkhianatinya? Apakah ia sudah tak mencintainya lagi? Apakah mereka sudah tak ada artinya lagi dalam hidup suaminya itu?
__ADS_1
Hati Zicka begitu sakit dan tertekan, tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Sungguh, Zicka sedang merasa lelah jiwa dan raganya.
Setelah menidurkan Meyra di kamarnya, dengan langkah panjang Marvin berjalan menuju kamar Zicka. Hatinya ikut pilu melihat Zicka menangis seperti itu.
'Kau sungguh tega kak. Kau lebih mementingkan wanita itu daripada istri dan anakmu sendiri. Istri yang selalu mendampingi mu dari 0. Istri yang selalu setia berdiri di sampingmu dari saat kau bukan siapa-siapa. Bahkan ia mengalah dan memilih resign dari pekerjaannya, semua demi dirimu. Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali tapi otakmu seakan sudah dicuci oleh wanita itu. Aku harap suatu saat nanti kau tak menyesal atas pilihanmu sebab setiap perbuatan, pasti ada hukum karmanya,' gumam Marvin membatin.
Biarpun Marcel adalah kakaknya sendiri, tapi Marvin tidak membenarkan perbuatan sang kakak. Perselingkuhan baginya adalah perbuatan paling hina. Apalagi yang diduakan merupakan istri yang baik, lembut, setia, dan Soleha. Zicka juga sudah menemani Marcel dari bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang sukses seperti saat ini. Memang benar kata orang, wanita diuji saat suami tidak memiliki apa-apa, sedangkan laki-laki diuji ketika ia memiliki segalanya seperti yang sedang Marcel alami saat ini.
Perlahan Marvin membuka pintu kamar Zicka dan masuk ke dalamnya. Dapat ia lihat, Zicka sedang terisak sambil memeluk bantal untuk meredam suaranya. Ia lantas mendekati Zicka. Zicka menoleh dan langsung berhambur ke pelukan Marvin. Marvin memeluknya dengan erat, berharap pelukannya dapat sedikit menenangkan Zicka. Hati Marvin sakit bahkan sangat sakit mendengar setiap isak tangis Zicka.
"Vin, Mas Marcel, Vin! Vin, kenapa mas Marcel tega? Kenapa dia menduakan ku seperti itu, Vin? Vin apa kau tahu sesuatu? Jawab, Vin! Jangan diam aja!" Raung Zicka sambil mengguncang pundak Marvin.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu, Ka. Aku nggak tahu apa-apa tentang mereka. Bahkan melihat perempuan itupun baru kali ini. Aku nggak bohong, Ka. Aku benar-benar nggak tahu," aku Marvin jujur.
"Kenapa mas Marcel jahat banget sama aku, Vin? Pantas aja dia nggak pulang-pulang, ternyata ... dia telah memiliki rumah yang lain. Kau lihat tadi, Vin, perempuan itu ... dia ... dia hamil. Pasti itu anak mas Marcel. Mas Marcel jahat. Aku ... aku nggak terima dikayak giniin. Aku benci mas Marcel," lirih Zicka dengan hati yang terluka.
Zicka tergugu di pelukan Marvin Lambat lain, isak tangis Zicka pun mulai mereda, ada rasa lega di dada Marvin mendengarnya. Ia harap Zicka tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan. Dengan perlahan, Marvin menarik tubuh Zicka dan diliriknya wajah perempuan itu, ternyata Zicka telah tertidur lelap. Mungkin ia sudah sangat lelah . Bukan hanya lelah fisik, tapi juga batin. Marvin berencana tidak pulang malam ini. Ia ingin menemani Zicka dan Meyra. Ia takut Zicka masih shock. Bagaimana dengan Meyra bila Zicka masih terus larut dalam kesedihan. Dengan perlahan, Marvin membaringkan tubuh Zicka di kasurnya. Tangannya terulur dan mengusap bulir-bulir bening yang membasahi pipi Zicka dengan ibu jarinya. Kemudian merapikan rambutnya yang berhamburan di wajah Zicka. Dipandanginya wajah cantik itu dengan tatapan sendu, kemudian ia menarik selimut menutupi tubuh Zicka hingga bagian leher.
Setelah dirasanya Zicka sudah terlelap dalam tidurnya, Marvin pun segera beranjak dari pinggir ranjang. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, mencari tempat yang mungkin bisa ia gunakan untuk tidur malam ini. Namun ia tak menemukan apapun seperti sofa atau sesuatu yang bisa ia jadikan alas. Tidak mungkin bukan ia membaringkan diri di samping Zicka. Lalu Marvin berjalan keluar dari kamar Zicka. Ia pun menuju sofa di ruang tamu yang letaknya tak jauh dari kamar Zicka.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa ini saja malam ini." Marvin menggumam sambil merebahkan tubuhnya di sofa yang paling panjang. Meskipun cukup panjang, tapi ternyata panjangnya belum bisa mencukupi panjang tubuhnya. Alhasil, Marvin membaringkan tubuhnya dengan kaki yang menggantung. Meskipun tidak nyaman, tapi tak masalah. Daripada ia meninggalkan Zicka berdua saja dengan Meyra.
Malam telah makin larut, Marvin pun perlahan ikut tertidur di sofa ruang tamu itu. Ia juga merasa sudah sangat lelah karena seharian ini telah menemani Zicka dan Meyra untuk bersenang-senang walaupun akhirnya, bukan kesenangan didapat, justru kesedihan dan hati yang terluka. Tapi setidaknya, hari ini satu kebenaran telah tersingkap. Tabir rahasia sang suami, akhirnya terkuak walaupun belum benar-benar terungkap.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...