
Zicka dan Meyra telah tiba di toko pakaian milik Marvin. Tanpa mereka sadari, sedari di rumah tadi, ada sepasang mata yang terus mengawasi keberadaan mereka.
"Mengapa Zicka pergi ke toko itu pagi-pagi sekali? Apa yang dilakukannya? Owh, ternyata ia bekerja di toko itu. Siapa pria yang berbicara dengan Zicka itu? Dia nampak sangat akrab dengan Zicka dan Meyra." Marcel bergumam mengawasi gerak-gerik Zicka di dalam sebuah toko yang belum ia ketahui pemiliknya. Ia juga nampak penasaran dengan seorang pria yang sedang berbicara dengan Zicka dan Meyra. Mereka nampak sangat akrab. Wajah pria itu belum terlihat jelas karena posisinya menghadap Zicka sambil menggendong Meyra. Tiba-tiba saja matanya membulat.
"Marvin??? Mengapa dia ada di situ? Apakah ini salah satu cabang dari tokonya? Oh, jadi ia ingin menusukku dari belakang, hah! Dasar adik brengsek." Marcel menggeram kesal mengira Marvin ingin merebut Zicka dari dirinya.
Dengan langkah cepat, ia mendekati Zicka, Meyra, dan Marvin yang sedang berbincang sambil bersenda gurau.
"Oh, ternyata kau penyebab Zicka jadi berani menentang ku, hah, adik sialan!" tuding Marcel sinis saat sudah berdiri tepat di belakang Marvin. Sontak Marvin pun segera menoleh ke sumber suara.
"Kak Marcel?" Dahi Marvin mengerut saat melihat keberadaan Marcel di tokonya. "Apa maksud perkataanmu barusan?" Marvin segera menurunkan Meyra dan meminta salah satu pegawainya membawa Meyra ke ruang kerjanya.
"Tak usah berkelit, Vin, aku tahu kau kan yang telah mempengaruhi Zicka supaya bercerai denganku, bukan?" teriak Marcel sambil mencengkeram kerah baju Marvin.
"Aku tahu sudah lama kau menyimpan perasaan pada Zicka jadi kau memanfaatkan permasalahan kami untuk merebutnya dariku, bukankah begitu, brengsek! Brukkk ..." Marcel langsung memukul wajah Marvin. Tubuh Marvin sampai sampai menubruk meja kasir di belakangnya karena ulah Marcel tersebut.
"Berhenti, Mas, jangan menuduh sembarangan! Marvin tidak pernah mempengaruhiku sekalipun untuk meninggalkanmu. Justru sebaliknya, dia selalu menguatkan ku untuk bersabar denganmu," bela Zicka tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan Marcel padanya dan Marvin.
"Tidak usah membelanya, Zicka. Kalau memang begitu, mengapa kau tiba-tiba berubah dari yang selalu penurut menjadi menentang ku? Bahkan kau berani mengajukan gugatan cerai padaku, hah? Aku tahu si brengsek inilah yang telah mempengaruhi mu," seru Marcel yang masih menatap tajam pada Marvin.
"Kak, seharusnya kau instrospeksi diri bukannya menyalahkan orang lain atas kesalahanmu. Aku sudah berulang kali mengingatkanmu agar mengakhiri hubunganmu dengan wanita itu, tapi kau seakan tidak peduli. Wanita mana yang tahan bila melihat suaminya telah memiliki wanita lain apalagi sampai wanita itu hamil. Bahkan demi wanita itu kau tega menelantarkan anak dan istrimu berbulan-bulan, hah. Kau memang bodoh, kak. Kau lebih memilih sampah di banding permata. Aku menyesal memiliki kakak seperti mu," teriak Marvin emosi.
"Sekarang kau berani berteriak di hadapanku, hah!" Marcel kembali melayangkan tinjunya ke arah Marvin, namun ditangkis Marvin. Kemudian dengan gerakan cepat Marcel hendak menendang Marvin, tapi tiba-tiba Zicka menghalangi.
Brukkkk ...
"Aargh ... " Zicka meringis kesakitan sambil memerangi perutnya. Kemudian Zicka terjatuh tak sadarkan diri.
"Mamaaaaaa ..." teriak Meyra yang langsung berhambur memeluk Zicka yang sudah pingsan.
"Papa jahat, Meyra benci papa!" teriak Meyra sambil menangis kencang.
__ADS_1
"Mamaaaaa ... huaaaaaa ... Om tolong mama, Om! Mama kenapa, Om? Cepat tolong mama, Om! Hhuaaa ..." jerit Meyra menangis histeris.
Marvin pun segera bergerak mengangkat tubuh Zicka yang sudah terkulai tak berdaya dan membopongnya ke jok belakang mobil. Meyra ikut masuk, ia ingin bersama mamanya. Setelah menutup pintu mobil, Marvin langsung memutar tubuhnya masuk ke depan mobil bagian kemudi, lalu menjalankannya dengan cepat menuju rumah sakit. Sedangkan, Marcel hanya mematung shock melihat akibat perbuatannya. Ia mengusap kasar wajahnya merasa kesal sekaligus marah karena Zicka lebih memilih membela Marvin dibandingkan dirinya.
"Maafkan aku, Zick, aku tidak sengaja. Aku mohon maafkan aku," gumam Marcel merasa bersalah. "Kamu juga sih, kenapa lebih memilih membela adik sialan itu? Itu bukan sepenuhnya salahku kan sebab kau sendiri yang lebih memilih membela dirinya," imbuh Marcel tak ingin disesaki rasa bersalah.
Setiba di rumah sakit, Zicka langsung diperiksa oleh dokter.
"Dok, bagaimana keadaan Zicka?" tanya Marvin khawatir.
"Apa Anda suaminya?"
Belum sempat menjawab, dokter langsung menimpali lagi.
"Keadaanya sudah mulai membaik. Dia hanya shock dan ada memar di perut, mungkin itu akan terasa tidak nyaman padanya. Jadi harus sering-sering dioles salep. Nanti saya kasi resep obat dan salepnya untuk segera ditebus di apotek," jelas dokter yang baru saja memeriksa Zicka.
"Baik, dok, terima kasih banyak. Oh ya dok, saya juga minta sekalian buatkan surat visum ya dok!"
"Sekali lagi terima kasih."
Dokter pun berlalu dari hadapan Marvin dan segera kembali ke ruangannya.
"Yuk Mey, kita lihat mama!" ajak Marvin pada Meyra yang hanya diangguki oleh Meyra yang masih nampak terisak menangis.
"Ma, mama bangun, Ma! Perut mama sakit ya?" ucap Meyra sambil menggosok perut Zicka dengan telapak tangannya.
"Mama geli, sayang." Senyum merekah terbit di bibir Zicka membuat Meyra tersenyum lebar.
"Mama sudah bangun?"
"Gimana nggak bangun kalo anak kesayangan mama nangis kayak gini? Jangan nangis lagi ya, Sayang, nanti cantiknya hilang lho," bujuk Zicka sambil mengusap air mata di pipi gembul Meyra.
__ADS_1
"Kamu udah baikan, Ka?"
"Alhamdulillah udah, Vin. Maaf ya atas kelakuan Mas Marcel tadi." Sesal Zicka.
"Kamu nggak perlu minta maaf, itu bukan kesalahan kamu. Kak Marcel aja yang terlalu egois, nggak mau instrospeksi diri. Bisanya hanya menyalahkan orang lain. Kamu istirahat aja dulu ya, Ka. Meyra disini aja temenin mama, Om mau tebus obat mama dulu. Meyra ada yang mau dititip?"
"Meyra haus, Om. Meyra mau jus mangga, boleh?" ucap Meyra dengan wajah dibuat menggemaskan.
"Buat ponakan Om yang cantik apa sih yang nggak. cup ..." ucap Marvel sambil mencium pipi Meyra.
Marvin pun pergi keluar untuk menebus obat Zicka di apotek rumah sakit sambil membeli jus mangga pesanan Meyra dan beberapa cemilan di kantin rumah sakit.
Dddrrrttt ...
Ponsel Marvin bergetar, ternyata ada panggilan masuk
"Ya, halo, Ma!"
"Halo, Vin. Vin, apa bener yang kakak kamu katakan, kamu mempengaruhi Zicka untuk bercerai dengan kakakmu, hah?"
"Oh jadi kak Marcel ingin mempengaruhi mama! Apa mama percaya begitu saja? Ma, aku akui aku memiliki perasaan dengan Zicka, tapi aku tidak sekeji itu Ma. Apalagi sampai berusaha mempengaruhi Zicka untuk bercerai dengan Kak Marcel. Aku hanya membantunya dengan memberinya pekerjaan di tokoku sebagai kasir sebab sudah berbulan-bulan kak Marcel tidak menafkahinya. Ia hanya sibuk dengan jalaang simpanannya itu. Terserah mama mau percaya atau tidak. Tapi apa yang Marvin katakan itu benar adanya. Marvin tutup dulu telfonnya, Ma, Marvin harus segera kembali ke ruangan Zicka mengantarkan obat."
"Mengantarkan obat? Siapa yang sakit, Vin?"
"Zicka, Ma. Semua karena kak Marcel anak kesayangan mama itu. Dia ingin menendang ku, tapi dihalangi Zicka, akibatnya Zicka yang masuk rumah sakit. Kerjaannya hanya bisa menyakiti Zicka dan Meyra. Ya sudah, Marvin tutup telfonnya."
Marvin segera menutup telfonnya setelah mengucapkan salam dan bergegas kembali ke ruangan tempat Zicka dirawat setelah lebih dahulu membelikan jus mangga pesanan Meyra. Ia tak tega meninggalkan Meyra menjaga mamanya sendirian. Apalagi Meyra masih sangat kecil.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1