
Mila yang berpura-pura kaget kembali membuat
satu gerakan yang membuat kedua bola mata Boy seakan ingin meloncat keluar ketika Mila berjongkok.sambil menghadap kearahnya untuk mengambil handuk yang terjatuh di lantai.
Dari arah Boy nampak jelas kelihatan duren milik Mila yang sudah terbelah dan berwarna kemerahan serta dikelilingi oleh semak belukar lebat yang tertata rapi sehingga semakin indah
dipandang .
Ditambah oleh dua buah gunung kembar Mila yang menjulang seakan melambai-lambai memanggil Boy agar segera mendakinya hingga ke puncak.
Dalam keadaan yang sangat genting dan memuncak , Boy tetap berusaha tegar dan bertahan dari godaan setan-setan yang kini
merasuki pikirannya .
Mila yang kini bukanlah Mila yang dahulu ,
kini Mila tumbuh menjadi seorang gadis cantik
dan memiliki bentuk tubuh yang nyaris sempurna hingga membuat semua pria yang
melihatnya pasti akan terpikat .
Mila benar-benar membuat Boy semakin tak berkutik , tiba-tiba dia sudah mengangkang di
atas tubuh Boy yang masih dalam keadaan berbaring .
Tidak lama kemudian Mila langsung menindih tubuh Boy sambil mengulum bibirnya dengan lembut .
Perasaan Boy kini betul-betul di buat serba salah oleh Mila , Boy takut menolak
keinginan Mila karena pasti akan melukai
perasaannya .
Oleh karena itu Boy hanya bisa membiarkan
Mila terus beraksi di atas tubuhnya . Perlahan lahan Mila mulai melucuti pakaian boy satu persatu .
Mata Mila terbelalak ketika menemukan sebuah benda pusaka milik Boy yang berukuran
jumbo .
Tanpa pikir panjang lagi , Mila menggenggam benda tersebut dan mempermainkannya , meskipun ini adalah pengalaman pertamanya,
Mila dapat melakukan permainan dengan sangat baik hingga membuat Boy ikut
bergairah .
Tiba-tiba Mila memekik
" Akh ...."
Suara erangan Mila menandakan bahwa benda
pusaka Boy rupanya telah menembus benteng pertahanan Mila secara perlahan-lahan .
Pertarungan demi pertarungan terus terjadi ,
__ADS_1
Serangan demi serangan terus dilancarkan silih berganti .
Sudah beberapa kali terdengar Mila mengerang
dengan tubuh mengejang serta kedua bola matanya yang bergerak liar tak karuan menahan setiap hantaman benda pusaka Boy .
Setelah kurang lebih dua jam telah berlalu , akhirnya mereka mencapai puncaknya hingga keduanya terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang .
Mila menatap Boy dengan perasaan bahagia ,
" kamu memang pemuda yang luar biasa Boy " gumam Mila dalam hati sambil memeluk tubuh
Boy .Mereka pun akhirnya tertidur pulas hingga malam menjelang .
Boy terbangun dengan segera Ketika mendengar ponselnya yang sudah berdering
hingga beberapa kali .
Dengan agak malas dia meraih ponselnya yang terletak di atas meja , namun kemudian dia memukul jidatnya setelah melihat kontak yang sedang menghubunginya sekarang .
Dia segera mengangkat ponselnya
" Selamat malam Bu Rosa" sapa boy dengan sopan .
" Malam Boy " terdengar suara merdu Bu Rosa
" Maaf Bu , saya terlambat menjawab telepon
karena saya baru terbangun " . kata Boy meminta maaf .
" Tidak apa-apa Boy , cuma saya mau tahu apakah kamu bisa datang ke sini untuk membahas tugas yang saya berikan tadi siang ? " tanya Bu Rosa dari seberang sana .
Mila yang masih polos tanpa tertutup sehelai benang dan masih tertidur pulas .
" Bagaimana Boy ?, kenapa kamu diam saja ? "
tanya Bu Rosa lagi hingga membuat Boy tersadar dari lamunannya .
" Bisa... bisa Bu , jawab Boy dengan agak gugup.
" Baik kalau begitu , saya tunggu kedatangannya " ujar Bu Rosa sambil menutup
telponnya
Tut...Tut..Tut...
Boy segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, beberapa menit kemudian dia keluar lalu memakai pakaian yang baru dari dalam lemari .
Sebenarnya Boy ingin membangunkan Mila namun dia tidak tega melihatnya masih tertidur
pulas karena kelelahan akibat pertarungan tadi sore .
Boy hanya menutupi tubuh Mila dengan selimut bed cover miliknya lalu melangkah keluar kamar kost.
Beberapa detik kemudian Boy sudah berangkat
ke rumah Bu Rosa dengan mengendarai sepeda motor yang selalu setia menemani untuk melakukan setiap aktivitasnya .
__ADS_1
Dalam perjalanan Boy sempat berpikir dan heran melihat tingkah laku semua wanita ataupun gadis yang mengenalnya begitu terobsesi kepada dirinya dan kenapa begitu mudahnya mereka semua rela menyerahkan segalanya kepada dirinya tanpa mempertimbangkan dampaknya di kemudian hari nanti .
Boy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terus melaju mengendarai
motornya di malam yang dingin .
Beberapa menit kemudian , akhirnya Boy tiba di depan rumah Bu Rosa yang berada di kawasan perumahan elite kota Makassar .
Kondisi rumah Bu Rosa yang cukup besar serta
halaman rumah yang luas membuat suasana terasa agak sepi.
Boy segera mengarahkan motornya ke depan pos keamanan , lalu mengatakan bahwa dia ada janji dengan Bu Rosa .
Petugas keamanan yang ada menyuruh Boy untuk menunggu sejenak , setelah itu petugas
tersebut segera menghubungi seseorang lewat
alat komunikasi yang ada dalam genggamannya .
Tidak menunggu lama pintu pagar yang mewah
tersebut terbuka perlahan secara otomatis , kemudian petugas tersebut segera mempersilahkan Boy untuk masuk .
Tanpa pikir panjang lagi Boy segera mengendarai motornya masuk ke pekarangan rumah mewah tersebut . Boy segera memarkir motornya di tempat parkir yang telah tersedia .
Saat sudah berada di depan pintu rumah mewah yang besar tersebut , Boy akan segera menekan tombol bel yang terletak di sebelah pintu masuk , namun sebelum dia menekannya
tiba-tiba pintu rumah mewah tersebut terbuka dengan sendirinya lalu terdengar suara yang merdu seorang wanita dari sebuah speaker kecil yang terletak di belakang pintu .
" Silahkan masuk Boy " perintah suara tersebut yang tidak lain adalah suara milik Bu Rosa atau
non Rosa .
Boy kemudian melempar senyum ke arah kamera CCTV sembari melangkah masuk ke dalam rumah .
Setelah berada di tengah ruang tamu yang sangat luas , kembali suara Bu Rosa mengarahkan Boy untuk naik ke lantai dua menggunakan sebuah tangga kayu yang sangat mewah di tambah dengan nilai artistik
yang terkandung di setiap detail pahatan serta ukiran tangga tersebut .
Boy menyusuri setiap anak tangga selangkah demi selangkah sambil mencoba memahami
arti setiap ukiran yang terdapat di sepanjang
tangga tersebut .
Sesampainya di lantai dua , Boy tersentak kaget ketika seorang gadis keluar dari sebuah ruangan yang mirip seperti sebuah ruang kerja
bagi para pemimpin sebuah perusahaan besar .
Gadis ini hanya mengenakan sebuah piyama
tipis yang menampakkan setiap lekuk tubuhnya. Namun Boy tidak dapat melihat dengan jelas wajah gadis tersebut karena pandangannya agak silau akibat cahaya lampu yang tepat berada di belakangnya .
Awalnya Boy mengira bahwa gadis tersebut
adalah saudara atau keluarga dari Bu Rosa,
__ADS_1
karena dia yakin bahwa tidak mungkin seorang
dosen sekelas Bu Rosa menampakkan privasinya ke orang lain , apalagi hanya ke seorang muridnya seperti si Boy .