Sang Pangeran Kampus

Sang Pangeran Kampus
Villa mewah di atas bukit


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian, ketika Boy sedang asyik menikmati segelas kopi di sebuah kopi shop, tiba-tiba suara notifikasi pesan terdengar dari ponselnya.


Boy segera melihatnya, Rupanya sebuah share lokasi dari kapten Saras. Ini pertama kalinya Boy menerima pesan sebuah lokasi dari kapten


Saras tanpa penjelasan sehingga Boy agak heran.


Lokasi yang dikirim kapten Saras tersebut terletak di sebuah daerah pegunungan yang


sangat jauh dan berada di kabupaten gowa yang memerlukan waktu sekitar tiga jam lamanya untuk tiba di lokasi tersebut.


Boy merasa sesuatu yang telah terjadi sesuatu kepada kapten Saras karena sejak terakhir kali mereka bertemu, kapten Saras tidak pernah lagi


berhubungan dengannya baik itu bertemu langsung maupun berkomunikasi lewat telepon.


Boy bergegas meninggalkan kopi shop tersebut menuju kantor polisi tempat kapten Saras bertugas untuk mencari keberadaannya.


Namun setibanya di kantor polisi tersebut, kapten Saras sedang tidak berada di tempat karena menurut salah satu anak buahnya yang sedang bertugas piket mengatakan bahwa kapten Saras sedang bertugas menjalankan sebuah misi yang sangat rahasia sehingga dia yang terjun langsung untuk menanganinya.


"Dengan siapa kapten Saras menjalankan misi


tersebut?" tanya Boy ke anak buah kapten Saras yang bertugas piket tersebut.


"Saya juga kurang tahu karena dia berangkat tanpa sepengetahuan kami" jawab petugas piket tersebut.


"Berarti kapten Saras sekarang berada di lokasi


yang dia share ke saya" Gumam Boy dalam hati.


"Apakah anda atau yang lainnya sudah mendapat kabar dari kapten Saras?" tanya Boy kemudian.


Kedua anak buah kapten Saras yang bertugas piket saat itu saling pandang kemudian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang menandakan bahwa mereka belum mendapat


kabar dari atasan mereka.


"Berarti kapten Saras cuma memberi kabar ke saya seorang, kalau begitu dia hanya membutuhkan saya?" tanya Boy dalam hati.


Tanpa pikir panjang lagi, Boy segera meninggalkan kantor polisi tersebut dan langsung memacu motornya menuju ke lokasi


yang telah di share oleh kapten Saras ke ponselnya.


Sambil mengikuti panduan dari ponselnya, Boy terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di lokasi.


Kondisi jalan yang sempit serta di sebelah kanan dan kiri jalan hanya ada jurang yang sangat dalam membuat perjalanan Boy semakin menantang.


Setelah memacu motornya kurang lebih dua jam tiga puluh menit, akhirnya Boy tiba di sekitar lokasi yang ada di ponselnya.

__ADS_1


Ketika sudah berjarak sekitar seratus meter, Boy menghentikan motornya lalu bersembunyi di balik semak-semak bersama motornya ketika


melihat diatas bukit terlihat sebuah bangunan


Villa yang cukup besar dan mewah.


Dan terlihat beberapa mobil mewah dan motor terparkir di halaman Villa tersebut, dan beberapa orang pria berpakaian hitam berjaga-jaga di pintu masuk Villa tersebut.


Hari sudah mulai gelap, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Boy mencoba menghubungi ponsel kapten Saras namun tidak aktif.


Boy kemudian menyembunyikan motornya di balik semak-semak yang berada di pinggir jurang, lalu memutuskan berjalan kaki untuk mencapai titik lokasi yang tepat berada di dalam Villa tersebut.


Sedikit demi sedikit Boy menyusuri sebuah jalan setapak menuju Villa yang berada diatas


bukit dengan cara mengendap-ngendap agar tidak di ketahui oleh beberapa pria berpakaian hitam yang berjaga-jaga di pintu masuk Villa tersebut.


Dalam kondisi malam yang gelap gulita serta jalan yang terjal dan sangat licin tidak membuat Boy kesulitan karena dengan menggunakan penglihatan bathin serta ilmu meringankan tubuhnya, dia dapat melalui semua rintangan tersebut dengan sangat mudah.


Boy sengaja mencari jalan lain agar bisa masuk


ke dalam Villa tersebut tanpa melalui pintu gerbang agar para pria berbaju hitam yang berjaga-jaga tidak mengetahui kedatangannya.


Untuk itulah Boy memilih untuk berjalan memutar dan masuk melalui halaman belakang


Villa yang luput dari pengawasan.


sekelilingnya.


Sementara itu di dalam ruang tamu Villa tersebut, tampak dua orang pria sedang tergeletak tidak berdaya. Dan seorang wanita


cantik yang sedang terikat kaki dan tangannya


yang di letakkan di atas sebuah meja besar yang dikelilingi oleh lima orang pria berdasi yang duduk di sopa sambil tertawa terkekeh-kekeh, terus meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan.


Wanita tersebut tidak lain adalah kapten Saras


dan kedua anak buahnya yang tertangkap karena ketahuan bahwa mereka adalah polisi


yang menyamar sebagai pembeli obat-obat terlarang.


"Bagaimana sekarang dengan nasib polisi cantik yang ada di hadapan kita saat ini?" tanya


seorang pria berdasi yang bertubuh gempal.


"Pak Seto, bagaimana kalau kita jadikan dia jamuan makan malam hari ini" jawab seorang pria berdasi yang bertubuh kurus.

__ADS_1


"Boleh saja pak Dani, tetapi saya duluan yang


mencicipinya" kata seorang pria berdasi lagi yang bertubuh pendek.


"Begini saja bapak-bapak sekalian, saya sebagai tuan rumah dan yang menangkap polisi cantik ini, berhak menentukan siapa diantara bapak-bapak yang bisa menikmati


tubuhnya lebih dahulu setelah memenangkan proses lelang yang akan saya adakan sekarang


juga." kata pria berdasi yang kelima yang merupakan pemilik Villa dan juga sebagai pemilik obat-obat terlarang.


"Katakan saja pak Rony, berapa harga penawaran pertamanya" kata pria berdasi yang bernama pak Seto.


"Baiklah kalau begitu, saya tetapkan harga awalnya sebesar lima puluh juta rupiah. Jika tidak ada yang mau maka saya yang akan mencicipinya sendiri" kata pak Rony sebagai tuan rumah.


"Enam puluh juta" kata pak Dani.


"Tujuh puluh juta" kata pria yang bertubuh pendek yang bernama pak Bowo.


"Seratus juta rupiah" kata pak Seto mengagetkan mereka.


Mendengar perkataan pak Seto, pak Dani dan pak Bowo akhirnya terdiam. Melihat keadaan ini, pak Rony segera berkata


"Jika tidak ada lagi yang menawar maka pak Seto berhak menikmati tubuh polisi cantik ini".


Sementara pria berdasi lainnya yang sedari tadi


hanya terdiam dan melihat rekan-rekannya memperebutkan sosok polisi wanita cantik tersebut berkata


"Dua ratus juta rupiah"


Keempat rekan-rekannya terkejut mendengar


perkataan pria berdasi yang bernama pak Mardy.


Setelah beberapa saat suasana menjadi hening, hingga akhirnya pak Rony memutuskan


bahwa pak Mardy sebagai pemenangnya setelah tidak ada lagi berani menaikkan harga.


Pak Mardy kemudian membawa tubuh kapten Saras menuju kamar mewah yang berada di lantai dua Villa tersebut.


Sementara kapten Saras terus saja meronta-ronta setelah tubuhnya diletakkan


di atas ranjang empuk dan sangat mewah.


Melihat kapten Saras yang terus saja bergerak

__ADS_1


tak karuan, membuat hasrat pak Mardy semakin membara untuk segera membakar tubuh kapten Saras.


__ADS_2