
Namun apa yang dipikirkan Boy bertolak belakang dengan yang terjadi di hadapannya
saat ini. Gadis yang sedang berada di hadapannya saat ini benar-benar adalah Bu Rosa dosennya sendiri.
Bu Rosa yang melihat Boy hanya terdiam membisu sambil berdiri mematung langsung
menegur sembari meraih tangan Boy dan menggenggamnya dengan lembut.
Boy tersentak kaget setelah mendengar suara
merdu Bu Rosa serta belaian tangannya yang
begitu lembut.
Rupanya Boy baru saja terbangun dari lamunannya,dia terhipnotis oleh pesona kecantikan serta kemolekan tubuh Bu Rosa..
" Ada apa Boy " tanya Bu Rosa pura-pura tidak
tahu situasinya.
Boy yang baru saja tersadar, menjawab dengan agak gugup
" Tidak...tidak ... tidak apa-apa Bu ".
" Lho kok memanggil ibu sih !!! " Ujar Bu Rosa
pura-pura cemberut.
" Lalu saya harus memanggil ibu apa ? " tanya Boy bingung.
" Kamu. cukup memanggil saya Ros " ujar Bu Rosa sambil tersenyum.
" Baik Bu Ros , .eh....maaf ...salah lagi " kata Boy
sembari menepuk jidatnya.
" Tidak apa-apa , lama kelamaan pasti tidak akan salah lagi " celetuk Bu Rosa memberi
semangat.
" Sekarang apa yang akan kita lakukan Ros " tanya Boy.
Bu Rosa kemudian berjalan mendekati Boy, lalu mengandeng Boy masuk ke dalam ruangan yang menyerupai ruang kerja seorang presiden
direktur sebuah perusahaan besar.
Setelah berada di dalam ruangan tersebut, Bu Rosa segera mempersilahkan Boy untuk duduk.
Bu Rosa lalu berjalan berputar mengelilingi
Boy sambil melemparkan senyum.
Bu Rosa kemudian membahas tugas yang
telah diberikannya tadi siang di kampus.
dia menjelaskan semua cara serta teknik
dalam menggambar sebuah bangunan
bertingkat sehingga nantinya menghasilkan sebuah karya yang fantastis.
Sementara itu di rumah kost Boy, Mila yang
sedari tadi terbangun, awalnya kebingungan
mencari Boy namun akhirnya bisa bernafas lega setelah membaca sebuah pesan dari Boy yang tertulis di secarik kertas yang di letakkan
__ADS_1
di atas meja.
Sebenarnya dia sangat ingin menghubungi
Boy karena khawatir, namun ponselnya hilang
bersama tas dan dompetnya Ketika diculik oleh
dua pria besar yang nyaris merenggut kesuciannya.
Hingga Mila hanya bisa duduk di pinggir ranjang menunggu kepulanganBoy ke rumah kostnya.
Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul
sebelas malam, namun Boy dan Bu Rosa masih
membahas sesuatu yang sepertinya begitu penting.
Setelah Boy merasa semuanya sudah jelas, dia
kemudian pamit untuk pulang namun Bu Rosa
menahannya dan tidak membiarkan Boy untuk
pulang.
Justru Bu Rosa meminta untuk menemaninya
malam ini. Boy terus saja mencari-cari alasan
yang tepat agar dia bisa pulang ke rumah kostnya tanpa menyinggung perasaan Bu Rosa.
Akan tetapi Bu. Rosa tetap saja pada pendiriannya, justru dia balik mengancam tidak akan memberikan nilai pada mata kuliahnya jika Boy menolak menemaninya malam ini.
Kejadian seperti ini memang sering terjadi
Namun keadaan yang dialami oleh Boy kali ini
sedikit unik karena biasanya yang melakukan hal tersebut adalah seorang dosen pria kepada
mahasiswinya, tetapi yang terjadi pada dirinya
justru sebaliknya, seorang dosen wanita melakukan hal tersebut kepada mahasiswanya.
"Siapakah sebenarnya yang diuntungkan dalam
hal ini?" pikir Boy dalam hati sambil tertawa geli.
"Bagaimana mana Boy? apakah kamu bersedia?" tanya Bu Rosa lagi sambil menunggu jawaban Boy.
Sebenarnya Boy tidak takut dengan ancaman
Bu Rosa, namun dia tidak ingin jika nantinya akan terjadi lagi hal-hal yang diluar kendalinya seperti yang telah terjadi di hari-hari sebelumnya.
Dengan menghela nafas Boy menjawab
"Baik Ros, saya bersedia menemani anda"
Bu Rosa sangat bahagia mendengar jawaban
Boy, spontan dengan refleks Bu Rosa mengecup bibir Boy dengan lembut lalu berkata
" Tunggu sebentar disini, saya akan kembali secepatnya" kemudian berlari keluar ruangan.
Sementara Boy hanya terdiam mematung
karena tidak menyangka kalau Ros akan mengecup bibirnya.
__ADS_1
Belum lagi Boy terbangun dari keterkejutannya,
kini Bu Rosa telah kembali dan langsung membimbing Boy ke sebuah kamar yang sangat besar dan mewah.
"Saya tidur di sofa itu saja, sedangkan Bu Rosa
tidur di atas ranjang" kata Boy sambil berjalan kearah sebuah sofa mewah berwarna putih gading.
Sedangkan Bu Rosa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar yang mewah dan sangat empuk.
Boy sendiri segera membaringkan tubuhnya ke
sofa yang sangat nyaman tersebut. Dan tak lama kemudian Boy pun terlelap karena sudah
terlalu ngantuk.
Sementara Bu Rosa terlihat sangat gelisah dan
tidak bisa memejamkan matanya. Bu Rosa juga tidak tahu apa yang membuatnya tidak bisa tertidur, dia kemudian bangkit lalu berjalan ke arah Boy yang telah tertidur lelap di atas sofa yang terletak di sudut kamar.
Bu Rosa tiba-tiba berhenti tepat di depan sofa
sambil memandangi wajah Boy yang begitu
tampan dan daya pikat yang kuat.
Sebenarnya banyak pria yang memiliki wajah yang tampan,namun belum tentu memiliki daya pikat,Sementara Boy sangat berbeda.
"Semenjak melihat Boy untuk pertama kalinya Ketika saya baru saja ditempatkan di universitas ini, hati saya langsung kepincut oleh pesonanya namun barulah hari ini saya bisa begitu dekat dengannya" Ujar Bu Rosa dalam hati.
"Apakah wanita yang lain mengalami hal ini juga ketika berada di dekat si Boy?" tanya Bu Rosa dalam hatinya.
Perlahan-lahan Bu Rosa duduk di sofa sambil
membelai rambut Boy yang menutupi sebagian
wajahnya.
Sebenarnya dia sangat malu karena telah mengancam Boy tadi, akan tetapi itu dilakukannya karena dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini.
Sejurus kemudian Bu Rosa menanggalkan seluruh pakaiannya hingga tubuh moleknya
sudah polos tanpa sehelai benangpun, lalu
giliran pakaian Boy yang dilucutinya.
Boy tetap tertidur pulas tanpa menyadari bahwa kini tubuhnya juga sudah setengah telanjang, tersisa ****** ******** saja yang
masih menutupi benda keramatnya.
Tiba-tiba Boy langsung terbangun karena terkejut mendengar Bu Rosa berteriak.namun
Boy lebih terkejut lagi ketika mendapati tubuhnya serta tubuh Bu Rosa sudah dalam keadaan polos tanpa dibalut oleh sehelai benangpun.
Sementara itu Bu Rosa yang menyadari bahwa Boy terbangun akibat ulahnya sendiri setelah berteriak histeris karena kaget melihat senjata Boy yang luar biasa, segera mendekap tubuh Boy sambil ******* habis bibir boy.
Boy yang mendapat serangan secara mendadak seperti itu tidak sempat lagi untuk menghindarinya.
Bu Rosa terus saja melancarkan serangannya
dengan membabi buta, lama kelamaan Boy terbawa permainan Bu Rosa.
Apa yang dia takutkan Boy akhirnya terjadi juga,
kini Boy tidak lagi bertahan akan tetapi balik melakukan serangan demi serangan dengan
gencarnya hingga membuat Bu Rosa kewalahan menghadapinya.
__ADS_1