
Tampaknya Vivi telah merasakan sebuah sensasi yang luar biasa nikmat dan belum pernah dirasakan sebelumnya.
Karena itu perlahan tapi pasti, Vivi terus saja melakukan gerakan tersebut berulang kali hingga lama kelamaan sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Vivi kini sudah kecanduan dengan sensasi tersebut, rasa perih yang dialaminya kayaknya sudah tidak dirasakannya lagi karena kini yang tersisa hanyalah sensasi rasa nikmat luar biasa yang baru saja dirasakannya beberapa saat yang lalu.
Tanpa ada keraguan lagi, kini Vivi mulai menggerakkan bokongnya turun naik seperti sedang memompa bagaikan seorang wanita yang sudah piawai dan berpengalaman, sambil tetap bertumpu pada kedua tangannya yang menyatu dengan tangan si Boy.
Gerakan yang awalnya agak lambat, lama
kelamaan kian bertambah cepat hingga tak terkendali lagi serta diselingi oleh suara-suara rintihan dan erangan dari bibir Vivi yang sexy.
"Akhhh...Auowww...Akhhh...Auowww..."
Sehingga dalam beberapa menit kemudian tubuh Vivi tiba-tiba menjadi kaku lalu mengejang serta Vivi terus menekan bokongnya ke arah bawah sekuat tenaga sehingga senjata pusaka Boy benar-benar tenggelam tak tersisa bahkan sampai ke dua buah telornya pun nampak tak terlihat lagi karena ikut tertelan ke dalam liang surgawi Vivi.
Bersamaan dengan itu
'Auowww...Auowww...Akhhh........ "
Terdengar suara lengkingan keras yang keluar dari bibir manis Vivi yang sekaligus menandakan bahwa Vivi sudah mencapai puncak klimaksnya.
Perlahan tubuh Vivi terjatuh lalu terkulai lemas di atas tubuh Boy yang sedari tadi hanya bisa terdiam dan pasrah menerima setiap serangan Vivi yang membabi buta tanpa ampun.
Namun karena pengalaman serta keperkasaannya, Boy mampu mengatasi hal tersebut dengan mudah, namun justru sebaliknya Vivi yang baru pertama kali merasakan nikmatnya sensasi surga dunia tersebut harus bertekuk lutut di hadapan Boy.
Sementara senjata pusaka Boy tetap berdiri tegak dan kokoh serta masih menancap dalam di liang surgawi Vivi yang molek dan sangat nikmat rasanya.
__ADS_1
Karena Boy belum juga mencapai klimaksnya,maka Boy berpikir bahwa sudah tiba saatnya untuk dia melancarkan serangan balik untuk mewujutkan puncak Surgawi tersebut.
Untuk itu Boy segera bangkit dari posisinya yang sedang terbaring menumpuh tubuh Vivi yang sedang terkulai lemas tanpa tenaga.
Kemudian dengan lembutnya dia membaringkan tubuh Vivi di pinggir ranjang yang tingginya sejajar dengan pinggang.
Dengan posisi berdiri sambil mengangkat kedua kaki Vivi ke arah atas, Boy perlahan menyodok liang surgawi Vivi yang tampak berwarna merah segar dan di kelilingi oleh semak belukar berwarna hitam yang tertata rapi sehingga nampak terlihat sangat indah mempesona sehingga siapa saja lelaki yang menyaksikannya tidak akan sanggup menahan hasratnya untuk segera menikmatinya.
Seketika Vivi yang tadinya terkulai lemas kehilangan tenaga, langsung tersentak kaget akibat merasakan sensasi kenikmatan sodokan senjata pamungkas Boy yang sedang bergerak menyelinap memasuki liang Surgawinya yang agak lembab dan becek karena beberapa saat yang lalu telah memuntahkan lahar panasnya setelah mencapai orgasme.
Rupanya sensasi kenikmatan tersebut membuat kekuatan serta hasrat Vivi yang menggebu-gebu kembali timbul seketika.
Namun kali ini Vivi tidak melakukan perlawanan, tubuhnya hanya bisa pasrah terdiam menunggu setiap serangan yang dilancarkan oleh si Boy.
Bahkan kini Vivi membantu Boy menghujamkan senjata pamungkasnya ke liang Surgawi miliknya sedalam mungkin dengan cara memegang batang senjata pamungkas Boy yang cukup gede dengan ke dua tangannya lalu menariknya ke dalam.
"Cluppp... "
Bersamaan dengan itu terdengar kembali pekikan melengking dari bibir sexy si Vivi untuk yang ke sekian kalinya.
"Akh....Akh....Akh....Auowwwww....."
Sontak mata hitam Vivi naik ke atas seperti orang yang mengalami step akibat dari sensasi sodokan senjata pamungkas Boy yang nikmatnya tak terkira.
Sambil mendesah,Vivi mengangkankan selangkangannya lebih lebar lagi dengan cara menarik kedua kakinya ke samping menggunakan kedua tangannya kemudian berkata
"Oh... Boy, kamu memang sungguh perkasa dan sangat luar biasa, wajar saja semua wanita tergila-gila ke padamu"
__ADS_1
"Ayo terus Boy, jangan berhenti"
Ujar Vivi lagi sambil mendesah serta mendesis-desis tak karuan kayak ular yang sedang mabuk akibat menikmati sensasi setiap hentakan senjata pamungkas si Boy yang luar biasa nikmat tak terhingga tiada tara.
Mendengar ******* serta desisan Vivi yang terus membahana di setiap gerakan senjata pamungkasnya yang sedari tadi keluar masuk liang Surgawi Vivi, membuat Boy semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan permainan birahinya yang sedari tadi belum mencapai puncaknya.
Detik demi detik terus berlalu, berganti menit demi menit bahkan hingga jam demi jam pun telah dilalui namun Boy tak kunjung mencapai puncak klimaksnya.
Entah sudah berapa banyak jurus serta posisi bertempur yang diperagakan namun Boy belum juga merasa puas. Namun justru sebaliknya Vivi yang telah berkali-kali mencapai puncak kenikmatannya harus berkali-kali pula menyemburkan layar panas dari liang Surgawinya sehingga membuat tenaganya terkuras habis.
Meskipun demikian Vivi tetap bertahan agar Boy tidak kecewa meski dia sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan pertarungan tersebut.
Boy sendiri sebenarnya terheran-heran karena baru kali ini dia belum berhasil mencapai orgasme meskipun sudah bermain hingga kurang lebih empat jam lamanya sehingga membuat cukup banyak menguras tenaganya.
Boy mencoba menfokuskan pandangan serta pikirannya ke sosok tubuh Vivi yang montok dan bohai sambil terus mendayung perahunya tanpa berhenti sesaat pun.
Hingga beberapa menit kemudian, senjata pamungkas Boy akhirnya berhasil memuntahkan lahar panas yang telah lama terpendam.
"Akhhh......" desah Boy sambil memeluk erat tubuh Vivi lalu kemudian ikut terkulai lemas di samping tubuh Vivi yang juga dalam keadaan lemas tak berdaya.
Rupanya pertempuran mereka berjalan alot dan cukup lama serta sangat melelahkan karena tanpa mereka sadari jarum jam kini sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Berarti total waktu yang mereka gunakan dalam pertempuran birahi tersebut selama lima jam sebab dimulai dari pukul sembilan malam hingga berakhir pada pukul dua dini hari.
Sebenarnya Vivi ingin langsung kembali ke rumah tante Mia karena dia tidak ingin sampai ketahuan bahwa dia telah bertemu langsung dengan Boy bahkan telah melakukan hubungan badan.
Namun Boy menyarankan agar Vivi sebaiknya beristirahat saja dulu di kamarnya lalu kembali kerumah tante Mia yang terletak di sebelah sebelum matahari terbit.
__ADS_1
Dengan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan, Vivi yang kondisi tubuhnya masih dalam keadaan polos tanpa di balut oleh sehelai benang pun kembali merangkul tubuh Boy yang sedang berdiri tegak dan tepat berada di hadapannya yang kondisi tubuhnya pun masih dalam keadaan polos tanpa busana