Sang Pangeran Kampus

Sang Pangeran Kampus
Kemolekan Vivi


__ADS_3

Sebelum Boy mengiyakan, Lagi-lagi si empat sekawan Dilan, Dedy, Tony dan Adi saling berebutan menawarkan diri untuk mendampingi Vivi melihat kondisi dalam rumah kost mereka.


Namun kali ini mereka berempat harus menelan kekecewaan karena Vivi menolak mentah-mentah tawaran mereka. Kali ini Vivi cuma bersedia di dampingi oleh si Boy.


Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam waktu Indonesia bagian tengah, Boy segera berjalan masuk ke dalam rumah kost sambil mempersilahkan Vivi untuk mengikutinya.


Tanpa di beri aba-aba, Dilan, Dedy, Tony dan Adi serentak mengikuti langkah Boy dan Vivi dari belakang.


Keempat pemuda kocak ini masih tidak ingin melepaskan kesempatan langka yang mungkin tidak akan muncul lagi di lain waktu untuk bisa menyaksikan kemolekan tubuh Vivi dari dekat.


Lagi-lagi benda pusaka keempat pemuda ini kembali berontak dan mengeras takkala menyaksikan sensasi gerakan bokong Vivi yang sexy dan montok yang hanya terbalut oleh sebuah rok mini sehingga sesekali menampakkan ****** ***** tipis berenda dan transfaran.


Namun di tengah-tengah keasikan menikmati sensasi keindahahan tersebut, tiba-tiba Vivi berhenti melangkahkan kakinya dan langsung berbalik ke arah mereka.


Hal ini membuat Dilan, Dedy, serta Tony dan Adi terkejut bukan kepalang karena mereka tidak menyangka kalau Vivi akan berbalik ke arah belakang.


Perbuatan Vivi ini membuat mereka tidak sempat menutupi celana bagian ************ yang terlihat menonjol kedepan.


Sebenarnya hal ini sudah di rencanakan serta di perkirakan oleh Vivi.Dia kemudian berpura-pura terkejut sambil menjerit lalu membuang muka ke arah Boy sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Boy yang juga menyaksikan kejadian ini, segera memberi kode kepada ke empat rekannya agar segera membalikkan tubuh membelakangi Vivi.


Dengan muka bersemu merah karena menahan malu, mereka berempat segera mengikuti intruksi Boy sambil memperbaiki posisi benda pusaka mereka yang masih menegang.


Setelah itu mereka bergegas pergi meninggalkan Boy dan Vivi lalu masuk ke kamar kost mereka masing-masing.


Boy kemudian menghampiri Vivi yang masih menutup mukanya dengan kedua tangannya lalu bertanya.


"Kamu tidak apa-apa khan? Masih maukah kamu melihat-lihat kondisi kamar-kamar di rumah kost ini?".Ujar Boy lembut.

__ADS_1


Vivi cuma menganguk tanpa bersuara sambil tetap menutupi mukanya dengan kedua tangannya meskipun dia sudah mengetahui bahwa mereka berempat sudah pergi. Vivi cuma ingin melihat bagaimana reaksi Boy ketika melihat tingkahnya itu.


Dan benar saja, melihat hal tersebut, Boy segera bereaksi dengan memegang kedua tangan Vivi untuk membantu menurunkannya lalu berkata


"Mereka berempat sudah tidak ada, kamu tidak usah menutupi pandanganmu lagi".


Vivi hanya bisa tersenyum malu ketika pandangannya langsung tertuju ke wajah Boy yang tepat berada di depannya.


Keduanya kemudian melanjutkan kembali melihat-lihat kondisi kamar yang ada di dalam rumah kost.


Boy menjelaskan semua situasi serta pemilik setiap kamar yang dilaluinya, hingga akhirnya kini mereka berada di depan kamar kost terakhir yang merupakan kamar Boy sendiri.


"Dan ini kamar yang terakhir dan juga sebagai kamar saya".Jelas Boy


Tanpa Boy duga, Vivi kemudian berkata


"Bolehkah saya masuk ke dalam? pinta Vivi.


"Ini sudah tengah malam, tidak baik seorang wanita masuk ke dalam kamar pria yang belum di kenalnya dengan baik. Takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan". Tolak Boy secara halus agar Vivi tidak tersinggung.


"Tidak apa-apa Boy, meskipun saya baru mengenal kamu namun saya percaya bahwa kamu orang baik dan tidak akan mencelakakan saya".tutur Vivi sambil tersenyum manis.


Boy pun merogoh saku celananya untuk mengambil kunci kemudian langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar lalu mempersilahkan Vivi untuk masuk ke dalam.


Tanpa di suruh untuk kedua kalinya, Vivi segera melangkah masuk ke dalam kamar Boy sambil menyenandungkan sebuah lagu yang lagi hits saat ini.


Sementara Boy tetap tinggal berdiri di depan pintu kamarnya dan membiarkan Vivi untuk melihat-lihat seluruh isi kamarnya yang masih berantakan tanpa memandang ke dalam.


Namun tiba-tiba sepasang tangan menariknya masuk ke dalam kamar lalu kemudian menutup pintu kamar yang membuat Boy sedikit terkejut.

__ADS_1


Sepasang tangan tersebut tidak lain adalah milik Vivi yang kini sedang terlihat memperhatikan setiap sudut kamar Boy.


Entah di sengaja atau tidak, tiba-tiba Vivi membungkuk untuk mengambil sesuatu yang tergeletak di lantai dengan posisi membelakangi Boy sehingga bokong Vivi yang mulus dan montok menyembul keluar dari rok mini yang di pakainya Sehingga nampak jelas terlihat oleh boy karena tepat berada di depan matanya.


Kondisi tersebut membuat Boy harus menelan ludah karena menahan hasrat kelelakiannya yang tiba-tiba muncul akibat menyaksikan sebuah pemandangan indah yang kini sedang terpampang di hadapannya.


Terlebih ****** ***** putih transparan berenda yang di kenakan oleh Vivi membuat mahkota atau lubang surgawinya yang di tumbuhi rambut-rambut halus di sekelilingnya tampak jelas terlihat begitu menggoda.


Menyadari hal tersebut, Vivi bukannya segera berhenti membungkuk namun justru menambah sensasi dengan sengaja memggerak-gerakkan bokongnya yang indah dan kenyal.


Sepertinya Vivi terus berusaha untuk menjebak Boy dengan cara memancing nafsu birahi Boy agar terus memuncak hingga apa yang di inginkannya dapat cepat berjalan dengan mulus tanpa hambatan sedikit pun.


Sambil berharap agar Boy segera menerkam dan menyantapnya, Vivi terus saja mempertahankan posisinya dengan cara memunguti barang-barang Boy yang memang banyak berserakan di lantai.


Namun setelah sekian lama menunggu apa yang di harapkan Vivi tersebut tak kunjung terwujud, Dia kemudian merencanakan strategi yang lain untuk menaklukkan hasrat si Boy.


Dalam hatinya, Vivi mengagumi keteguhan hati pemuda yang bernama Boy ini.Pantas saja dia menjadi idola setiap wanita tanpa kecuali termasuk wanita yang seumuran kak Mia.


Seandainya hal ini terjadi pada pria lain, bukan tidak mungkin sedari tadi Vivi sudah di senggol dan dinikmati kemolekan tubuhnya oleh pria tersebut.


Selanjutnya Vivi melangkah menghampiri dapur dan kamar mandi, seketika sebuah ide brilian melintas di pikiran Vivi.


Kini Vivi berpura-pura meringis kesakitan karena sakit perut, lalu meminta izin kepada Boy untuk memakai kamar mandi.


Boy yang agak cemas melihat Vivi kesakitan langsung mengizinkan Vivi untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama kemudian terdengar suara guyuran air dari shower di dalam kamar mandi, setelah beberapa waktu kemudian terdengar suara lembut Vivi memanggil-manggil Boy.


"Boy... Boy"

__ADS_1


Boy yang mendengar Vivi memanggil namanya segera mendekati pintu kamar mandi, lalu berkata


"Adakah yang bisa saya bantu".Sahut Boy dari luar kamar mandi.


__ADS_2