Sang Pangeran Kampus

Sang Pangeran Kampus
Amplop berwarna coklat


__ADS_3

Selama ini memang banyak pria yang ingin dekat dengannya namun hanya untuk sekedar mengambil keuntungan dan mempermainkan dirinya sehingga kini Viona sangat berhati-hati dalam bergaul apalagi dengan seorang pria.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga di depan pintu kamar kost Viona. Tanpa basa-basi, Viona segera mempersilahkan Boy untuk masuk ke dalam sambil berkata


"Jangan dicela ya kak, soalnya rumah kost saya ini sempit dan panas karena tanpa pendingin ruangan".


Boy hanya bisa tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam kamar kost Viona. Dan setelah Boy berada di dalam kamar yang hanya berukuran sekitar tiga kali empat meter tersebut, kembali Boy merasa sangat iba sekaligus kagum kepada sosok Viona karena gadis tersebut masih mampu bertahan hidup dengan serba kekurangan meskipun dahulu dia merupakan seorang gadis yang sangat berkecukupan dan kaya raya.


Viona kemudian mempersilahkan Boy untuk duduk di atas kasur kecil yang hanya berukuran satu kali satu setengah meter yang terletak di atas lantai kamar.


Sementara Viona tampak sedang menyeduh secangkir kopi untuk di sajikan ke Boy, pada saat itulah, diam-diam Boy menyelipkan sesuatu yang berwarna coklat ke bawah bantal yang tersusun rapi di atas kasur.


Viona kemudian meletakkan secangkir kopi yang masih panas tepat di depan Boy yang tengah duduk bersila di atas kasur.


Setelah itu dia pun segera duduk juga tepat berada di hadapan Boy sambil tersenyum manis sambil mempersilahkan Boy untuk meminum kopi yang sudah diracik olehnya.


Mereka kemudian terlibat perbincangan yang hangat dan sangat menyenangkan, sampai-sampai lupa bahwa kini jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Boy pun pamit untuk pulang setelah meneguk habis kopi buatan Viona. Dia pun bergegas berjalan keluar kamar Viona lalu melangkah pergi.


Viona kemudian menutup pintu kamar kostnya lalu membenahi kamarnya serta mencuci gelas kopi yang dipakai oleh Boy tadi setelah itu dia mengganti pakaiannya dengan sepasang pakaian tidur.


Rasanya dia tidak dapat lagi menahan rasa kantuknya dan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur mungilnya, karena merasa kurang nyaman, dia kemudian membenahi posisi bantal yang ada di kepalanya.


Namun tiba-tiba Viona tersentak kaget ketika tangannya menyentuh sebuah benda asing di bawah bantalnya, selanjutnya dia buru-buru membangunkan tubuhnya lalu duduk di atas kasur sambil memindahkan Bantal kepalanya agar dia dapat melihat benda asing tersebut.


Nampak sebuah amplop berwarna coklat yang biasa di gunakan oleh pihak bank untuk di berikan kepada para nasabah ketika menarik uang.

__ADS_1


Dia segera mengambil amplop tersebut yang tampaknya berisi dengan sejumlah uang yang cukup banyak.


Viona langsung bisa menebak bahwa amplop tersebut adalah milik Boy yang tertinggal karna tidak ada orang lain yang masuk ke kamarnya selain Boy seorang.


Dia segera menghubungi Boy lewat ponselnya agar bisa kembali datang mengambil amplop tersebut sebelum Boy tiba di hotel.


Tidak lama kemudian terdengar suara Boy dari speaker ponsel Viona


"Ya...ada apa Viona?" tanya Boy singkat.


Viona tidak langsung menjawab pertanyaan Boy, tetapi justru balik bertanya


"Kamu berada di mana sekarang?Apakah kakak tidak melupakan sesuatu di rumah kostku tadi? tanya Viona menyelidik.


Boy tersenyum setelah mendengar pertanyaan Viona, yang menandakan bahwa dia telah menemukan benda yang sengaja di taruhnya tadi di bawah bantal tidur Viona. Kemudian Boy menjawab


"Ah... Kakak jangan main-main dong, Ini saya menemukan sebuah amplop berwarna coklat di bawah bantal yang sepertinya berisi sejumlah uang yang cukup banyak namun saya tidak bisa memastikan berapa banyak karena saya tidak berani membukanya karena bukan milik saya". Tutur Viona menjelaskan.


Seketika Boy merasa sangat kagum sekaligus sangat bahagia setelah mendengar penuturan Viona tentang amplop yang di temukannya tersebut.


Di masa sekarang ini sangat jarang sekali kita bisa menemukan seseorang yang memiliki kepribadian seperti yang dimiliki oleh Viona.


Jika amplop itu di temukan oleh orang lain, belum tentu ada pengakuan dari orang tersebut bahwa dia telah menemukan sebuah amplop dan menyampaikannya kepada pemiliknya.


Sepertinya hati Boy mulai terbuka setelah bertemu dengan sosok Viona, Apalagi setelah mengetahui kepribadian gadis tersebut yang begitu polos, jujur dan bertanggung jawab.


Meskipun belum pasti namun Viona bisa menjadi salah satu kandidat yang cocok untuk menjadi calon pendamping hidup Boy seumur hidup.

__ADS_1


Setelah beberapa saat suara merdu Viona terdengar lagi dari speaker ponsel Boy


"Jadi amplop ini bukan kepunyaan kakak? kalau memang benar begitu, saya harus menyerahkannya kepada pihak yang berwajib karena takutnya ini adalah uang dari hasil kejahatan yang nantinya akan menyebabkan masalah besar bagiku". Jelas Viona.


Sebenarnya Boy tidak ingin mengakui bahwa amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang tersebut adalah miliknya, namun setelah mendengar rencana Viona untuk menyerahkan amplop yang berisi uang tersebut ke pihak berwajib, maka dengan terpaksa Boy berkata


"Tunggu dulu Viona, sebaiknya kamu jangan menyerahkan amplop yang berisi uang tersebut ke pihak yang berwajib karena uang itu bukanlah hasil kejahatan".


"Bagaimana kakak bisa tahu kalau uang itu bukan dari hasil kejahatan?". tanya Viona lagi.


Beberapa saat Boy agak bimbang untuk memgatakanmya namun kemudian dia berkata


"Saya mengetahuinya karena amplop yamg berisi uang itu adalah milikku". Jawab Boy sambil menghela nafas panjang.


"Mohon maaf sebelumnya kak kalau saya berkata lancang. Kenapa tiba-tiba kakak mengakui bahwa amplop yang berisi uang tersebut adalah milik kakak? padahal sebelumnya kakak tidak mengakuinya". Kata Viona datar.


Dengan perasaan yang campur aduk, Boy mengatakan bahwa sebenarnya dia ingin secara langsung menyerahkan amplop tersebut tetapi dia tahu kalau Viona pasti menolaknya, makanya dengan cara diam-diam dia meletakkan amplop yang berisi uang tersebut di bawah bantal agar Viona tidak mengetahuinya.


Kemudian Boy berkata lagi


"Jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut sebesar tiga puluh juta rupiah. Kalau kamu tidak percaya, silahkan buka dan hitung jumlah uang yang ada dalam amplop coklat tersebut sekarang juga". Jelas Boy.


Viona tidak melakukan apa yang di sarankan Boy, tetapi kemudian dia bertamya lagi


"Untuk apa kakak memberi saya uang sebanyak itu?". Tanya Viona lagi.


Boy kemudian menjelaskan tujuannya memberikan uang tersebut kepada Viona dan menyarankan agar Viona membuka usaha sambil bekerja serta melanjutkan kuliahnya.

__ADS_1


Setelah mendengar semuanya dengan jelas dari Boy, Viona baru dapat menerima uang tersebut dan berjanji akan mengunakannya dengan sebaik-baiknya agar bisa bermamfaat bagi dirinya maupun orang lain.


__ADS_2