Sang Pangeran Kampus

Sang Pangeran Kampus
Vivi Sang Perawan


__ADS_3

"Maaf sebelumnya, minta tolong ambilkan handuk kamu. soalnya pakaian saya basah" sahut Vivi dari dalam kamar mandi.


Boy kemudian meraih handuk berwarna putuh yang terletak di atas meja kecil yang terletak tepat di sampingnya, lalu Boy mengetuk kembali pintu kamar mandi tanpa berkata sambil menunggu Vivi mengambil handuk.


Namun setelah beberapa menit menunggu, Vivi tidak juga membuka pintu kamar mandi lalu mengambil handuk yang di mintanya tadi.


Maka dari itu, Boy kembali mengetuk pintu kamar mandi sambil berkata


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Boy dengan perasaan sedikit cemas karena sudah beberapa menit berlalu Vivi tidak juga menjawab pertanyaan Boy dari dalam kamar mandi.


Sementara di dalam kamar mandi, Vivi yang seluruh tubuhnya sudah tanpa busana dan telah basah kuyup di bawah guyuran air dari shower cuma bisa tertawa tanpa mengeluarkan suara mendengar perkataan Boy.


Rupanya Vivi sengaja melakukan hal ini karena berharap agar Boy segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian, apa yang diinginkan oleh Vivi benar-benar terjadi. Boy yang khawatir terjadi sesuatu hal buruk terhadap Vivi, dengan sekuat tenaga segera mendobrak pintu kamar mandi.


Karena pintu kamar mandi yang ternyata sengaja tidak di kunci oleh Vivi, membuat tubuh Boy terhempas deras ke dalam kamar mandi karena kuatnya tenaga yang dipakai untuk mendobrak pintu.


Tubuh boy melayang di udara dan tepat terjatuh dengan posisi tertelungkup di bawah tubuh Vivi yang basah serta polos tanpa di dibalut oleh sehelai benang pun.


Vivi dengan sangat lihainya segera berpura-pura kaget sambil menupi kedua gunung kembarnya yang kenyal dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menutupi mahkotanya yang sangat indah sambil berkata...


"Ada apa Boy?"


Boy yang merasa bersalah segera menutup kedua matanya serta memalingkan mukanya agar tidak melihat tubuh molek Vivi lalu menjawab


"Maaf, tadi saya mendobrak pintu karena mengira terjadi sesuatu padamu sebab kamu lama tidak merespon perkataanku"

__ADS_1


ujar Boy yang juga sudah ikut basah kuyup oleh guyuran air karena tubuhnya tepat berada di bawah ************ Vivi.


Vivi yang mendengar jawaban Boy cuma bisa tersenyum kemudian berkata


"Terima kasih Boy atas kepedulianmu padaku, baru kali ini saya bertemu dengan seorang pria yang bertanggung jawab meskipun baru pertama kalinya bertemu".


Boy secepatnya menyerahkan handuk putih yang masih dipegangnya sedari tadi meskipun sudah ikut basah terkena guyuran air dari shower.


Vivi pun segera meraih handuk putih tersebut dari tangan Boy, lalu kembali mengucapkan terima kasih.


Akan tetapi setelah handuk itu berada di tangannya, bukannya Vivi pakai untuk menutupi tubuhnya justru dia melempar handuk berwarna putih tersebut ke atas bak mandi lalu berjongkok untuk membantu Boy berdiri.


Dalam posisi yang masih tertelungkup Boy dibuat kaget bukan kepalang karena tiba-tiba pandangannya terhalang oleh ************ Vivi yang di tengahnya nampak memperlihatkan liang surgawi yang dikelilingi oleh rambut-rambut halus yang tertata rapi sehingga terlihat sangat indah menawan serta sedap dipandang yang membuat pusaka Boy langsung bereaksi.


Namun Boy bukanlah tipe pria agresif yang mau memulai permainan panas terlebih dahulu, dia tetap bersikap tenang dan biasa-biasa saja sembari berdiri tegak di hadapan Vivi.


Sebenarnya Boy pun sudah mengetahui maksud Vivi sejak dia meminta masuk melihat-lihat bagian dalam kamarnya, namun Boy tetap bersikap dingin serta berpura-pura tidak mengerti keinginan Vivi.


Hingga setelah lama menunggu reaksi Boy yang tidak kunjung datang, pada akhirnya Vivi berinisiatif untuk menerkam Boy terlebih dahulu berhubung sudah kepalang basah Boy telah melihat setiap inchi lekuk tubuhnya yang molek.


Bukannya Boy yang terjebak dalam perangkap Vivi, namun justru Vivilah yang terjebak dalam perangkapnya sendiri, inilah yang dinamakan senjata makan tuan.


Vivi langsung menarik tubuh boy kebawah guyuran air dari shower yang berada di bagian atas sambil memeluk tubuh Boy dengan erat lalu kemudian langsung mengulum bibir Boy dengan penuh gairah.


Boy hanya membiarkan Vivi beraksi sesuka hatinya hingga membuat Vivi semakin menggila seperti kuda betina yang sedang dipacu sekencang-kencangnya.


Hanya dengan hitungan detik saja, Vivi sudah berhasil melucuti seluruh pakaian yang di kenakan oleh Boy.

__ADS_1


Dan tiba-tiba tanpa disadarinya, Vivi berteriak histeris lalu menutupi mulutnya yang menganga lebar dengan kedua tangannya ketika menyaksikan dengan jelas di depan matanya benda pusaka milik Boy yang berukuran besar dan panjang.


Dengan tersenyum penuh kebahagiaan, secara reflex Vivi bergegas berlutut sambil langsung meraih benda pusaka Boy dengan kedua tangannya.


"Pantas saja para wanita yang mengenalnya begitu tergila-gila dan ingin selalu dekat dengan Boy, ternyata ini toh rahasianya".Pikir Vivi dalam hati.


"Dan sepertinya kak Mia juga sangat tergila-gila dengan Boy, sampai-sampai dia tidak ingin saya berkenalan langsung dengan Boy sewaktu kedatangannya tadi pagi dari Jakarta". Dasar kak Mia pelit ngak mau berbagi, gumam Vivi lagi.


Lamunan Vivi buyar seketika takkala benda pusaka milik Boy yang dipegangnya terasa mulai menyusut ukurannya.


Karena Vivi tidak ingin kehilangan kesempatan tersebut maka dengan segera Vivi melancarkan kembali aksinya dengan mengulum kepala benda pusaka milik Boy tersebut lalu selanjutnya menjilati setiap inchi mulai dari ujung kepala hingga berpindah ke area batang dan terakhir ke bagian buahnya yang terletak di bagian paling bawah.Otomatis karena hal ini membuat benda pusaka milik Boy kembali mengeras dan membesar.


Vivi terus saja mempertahankan permainannya tersebut hingga mencapai lima belas menit lamanya. Karena sudah tidak tahan lagi membendung gejolak hasratnya maka Vivi kemudian duduk di atas bak mandi yang tingginya sejajar dengan pinggang, lalu punggungnya bersandar di tembok sambil membuka lebar-lebar kedua kakinya sambil meminta kepada Boy untuk segera mendekat.


Boy yang tadinya cuma bisa terdiam dengan pasrah menerima setiap serangan Vivi akhirnya kini mau meladeni setiap permainan Vivi.


Boy yang sudah paham maksud Vivi dengan posisi yang eksotis seperti itu secara perlahan mengarahkan kepala benda pusakanya yang besar ke benda surgawi milik Vivi yang sedari tadi sudah


terlihat kembang-kempis menunggu serangan.


Dan


"Akhrrr... ".Pekik Vivi kesakitan.


Boy tersentak kaget bukan kepalang, Rupanya benda surgawi milik Vivi belum pernah tersentuh sekalipun oleh benda pusaka milik pria manapun.


Padahal jika dilihat dari cara memperlakukan dan cara mempermainkan benda pusaka milik Boy,maka bisa dipastikan bahwa Vivi sudah profesional di bidang ini.

__ADS_1


Namun kenyataannya sangatlah berbeda, Vivi ternyata masih merupakan seorang gadis perawan.


__ADS_2