Sang Pangeran Kampus

Sang Pangeran Kampus
Viona gadis yang malang


__ADS_3

Di pagi-pagi buta, Boy yang terbangun lebih dahulu segera kembali ke kamarnya tanpa membangunkan kombes Lestari dan kapten Saras.


Setelah berada di dalam kamarnya dia langsung masuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian Boy keluar dari kamar mandi lalu memesan sarapan pagi melalui alat komunikasi yang di sediakan oleh pihak hotel.


Tidak lama kemudian pintu kamar Boy di ketuk oleh seseorang, lalu terdengar suara petugas hotel yang mengatakan bahwa sarapan paginya


sudah siap.


Boy dengan segera membuka pintu kamar karena perutnya sudah sangat keroncongan menahan lapar.


Sejenak Boy terkesima menatap kecantikan seorang gadis yang kini tepat berada dihadapannya. dia segera mempersilahkan gadis cantik tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kemudian gadis cantik tersebut melangkah masuk sambil mendorong sebuah troli makanan mengikuti perintah Boy.


Gadis cantik ini tertunduk malu, setelah mengetahui bahwa Boy memperhatikan dirinya sedari tadi, dia kemudian buru-buru meletakkan sarapan pagi yang di pesan Boy di atas sebuah meja kecil yang terletak di sebelah ranjang lalu bergegas melangkah keluar kamar.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang telah menghalangi jalannya. Perlahan dia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang telah menghalangi jalannya.


Dia kemudian kembali menundukkan wajahnya dalam-dalam setelah mengetahui bahwa orang yang menghalangi jalannya tersebut adalah Boy.


Selanjutnya dia tetap berusaha keluar dari kamar tersebut dengan menghindari halangan Boy, namun tiba-tiba dia tersentak kaget ketika Boy meraih tangannya sembari bertanya


"Bukankah kamu Viona? anak dari bapak Abdullah, mantan gubernur sulawesi-selatan. Kenapa kamu bisa ada disini? apa yang sebenarnya telah terjadi?".


Gadis cantik bernama Viona yang ternyata kenal dengan Boy hanya bisa mengangguk sambil tertunduk malu.


"Jangan malu, sekarang coba katakan apa yang telah terjadi pada dirimu dan keluargamu?" tanya Boy lagi sambil menuntun Viona duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Sambil terisak-isak, Viona menceritakan bahwa semenjak Ayahnya yaitu pak Abdullah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur sulawesi-selatan, Ayahnya dijebak oleh seseorang yang ingin menghancurkannya sehingga mengakibatkan dirinya terlibat oleh sebuah kasus korupsi.


Selain Ayahnya dijebloskan ke dalam penjara, seluruh harta kekayaan keluarganya di sita oleh negara.


Akibat kejadian tersebut, ibunya jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia. Kini dirinya hidup sebatang kara dan bekerja sebagai pelayan hotel untuk melanjutkan hidupnya.


Dia memilih untuk tinggal dan menetap di jakarta agar mudah untuk menjenguk Ayahnya yang ditahan di dalam rumah tahanan kelas satu.


"Sekarang kamu tinggal dimana? dan bagaimana dengan kuliahmu?". Tanya Boy lagi dengan perasaan iba.


"Saya tinggal di rumah kost dekat hotel ini untuk menghemat biaya transportasi, sedangkan saya terpaksa harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya". Jelas Viona dengan berlinang air mata.


Boy yang mendengar cerita Viona sangat tersentuh dan berniat untuk membantunya meskipun tidak banyak. Boy kemudian memberikan uang lima ratus ribu rupiah kepada Viona.


Namun Viona tidak mau menerimanya karena merasa dirinya tidak layak menerima uang tersebut tanpa ada keringat yang dikeluarkannya.


Diam-diam Boy kagum akan kepribadian gadis cantik tersebut, tidak banyak orang yang mau menjalani kehidupan moderen ini dengan masih memegang prinsip tersebut.


Setelah selesai memberi nomor ponselnya, Viona segera meminta pamit ke Boy untuk kembali bekerja. Sementara Boy yang masih terkagum-kagum segera memberi jalan agar Viona bisa keluar kamar hotel tersebut dan melakukan tugasnya yang lain.


Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi waktu Indonesia barat. Kapten Saras dan Kombes Lestari sudah tampil cantik dan elegan dengan pakaian seragam kepolisian mereka dan kini sudah berada dilobi hotel menunggu jemputan.


Karena kecantikan dan keanggunan mereka, para tamu hotel serta petugas dan pelayan hotel di buat terpesona.


Sementara Boy yang baru saja selesai berdandan rapi dengan memakai sebuah setelan jas berwarna hitam segera masuk ke lift untuk turun ke loby hotel dan membuat bersama kapten Saras serta kombes Lestari.


Tampak terlihat kapten Saras dan kombes Lestari mondar-mandir di loby hotel karena gelisah menunggu sosok Boy yang belum ada bersama mereka.


Sementara dari kejauhan sudah terdengar suara sirine kepolisian yang semakin lama semakin mendekati ke hotel tersebut yang menandakan bahwa sebentar lagi mereka akan berangkat.

__ADS_1


Namun akhirnya kegelisahan mereka berdua terbayarkan setelah melihat sesosok pria tampan yang mempesona keluar dari sebuah lift hotel.


Tanpa sengaja, dengan kompaknya mereka berseru memanggil


"Boy..."


Mereka berdua saling berpandangan sejenak lalu kemudian kembali menatap Boy yang terlihat sedang melangkah menghampiri mereka.


Kapten Saras dan kombes Lestari terperangah dan takjub melihat penampilan Boy yang sangat berbeda dari biasanya.


Kini penampilan Boy sangat eksklusif, dia terlihat bagaikan seorang pengusaha muda yang sangat tampan dan mempesona yang bisa membuat setiap wanita yang melihatnya akan langsung jatuh hati.


Dan rupanya hal itu memang benar-benar terjadi karena bukan cuma kapten Saras dan kombes Lestari yang terpukau akan penampilan Boy kali ini, akan tetapi nampak pula seorang gadis cantik yang berseragam pelayan hotel terbelalak matanya sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya seakan-akan menahan teriakannya agar tidak terdengar oleh orang lain.


Gadis ini bukan lain adalah si Viona, gadis malang yang baru saja bertemu dengan Boy beberapa menit yang lalu.


Bersamaan dengan itu, suara sirine mobil polisi


memasuki pelataran hotel dan tidak lama kemudian suara itu berhenti ketika sudah tepat berada di depan pintu utama hotel bintang lima tersebut.


Nampak di bagian depan dua buah motor patroli mengawal tiga mobil mewah yang berplat nomor kepolisian.


Dari masing-masing mobil tersebut, nampak turun dari mobil tiga orang perwira polisi dan langsung masuk ke hotel untuk menjemput kapten Saras, kombes Lestari serta si Boy.


Dua diantara perwira tersebut adalah perwira yang telah mereka temui sebelumnya dan menganggap bahwa salah satu di antara perwira tersebut adalah orang yang ingin menjebak mereka tadi malam.


Sementara perwira yang satunya belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Ketika saling berhadapan, mereka pun saling membalas hormat kemudian perwira yang mereka curigai meminta mereka untuk segera naik ke mobil karena acara pemberian penghargaan kepada para petugas kepolisian maupun warga sipil yang telah berjasa dalam pengungkapan kejahatan akan segera dimulai.

__ADS_1


Selanjutnya mereka ber enam naik ke mobil mewah tersebut dan kemudian meluncur menuju lokasi acara tersebut.


__ADS_2