SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 22


__ADS_3

"Oh.. jadi ibumu sudah pulang..? syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya." ucap Mario.


"Baiklah kalau begitu, selamat bekerja kembali Adinda!" lanjut Mario seraya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Dinda tertunduk sembari mengulum senyum, lalu mengangkat wajahnya kembali dan menjabat tangan Mario.


Namun tanpa disadari.. Mario langsung menarik tangan Dinda dan membawanya pergi menjauh dari Ane.


Tentu saja hal itu membuat Adinda tersentak kaget.


Sedangkan Ane yang melihat aksi Mario, langsung terperangah, "aaaaaaa... Adindaaaa.. bisa-bisanya loe jadian gak ngabarin gue..." teriak Ane heboh.


Semua mata tertuju kepada Mario dan Dinda yang sedang berjalan sambil berpegangan tangan.


Ada yang senang, dan ada juga yang terlihat mencibir, seolah-olah mereka iri dan sangat tidak menyukai kedekatan Adinda dengan pemilik perusahaan.


"Pak, kita mau kemana..?" tanya Dinda heran.


"Ikuti saja aku." jawab Mario singkat, tanpa menoleh dan terus saja melangkah.


Rona merah terpancar dari raut wajah Dinda, menahan malu karna semua mata tertuju kepada mereka.


Setelah sampai di ruangannya, Mario melepas tangan Dinda, "silahkan duduk, aku punya sesuatu untukmu." ucapnya sembari berjalan mendekati meja kerjanya.


Dinda pun langsung menuruti sembari memandang ke arah Mario, dengan tatapan aneh.


Mario mengambil sesuatu dari laci mejanya. Setelah mendapatinya, dia langsung menghampiri Dinda dan duduk di sofa di samping Adinda.


"Ini untukmu!"


Mario memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Dinda.


Dinda menatap Mario, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kotak kecil sembari meraihnya dari tangan Mario.


"Ini apa pak? tanya Dinda pelan.


" Bukalah, kau akan tau sendiri apa isinya." jawab Mario sambil menatap lembut raut wajah Dinda.


Dengan perlahan, Dinda membuka kotak kecil itu. Betapa terkejutnya dia saat mendapati isinya, sebuah cincin emas permata putih yang tampak sangat indah.


Bukannya senang, tetapi Dinda malah tertegun melihat cincin permata itu.


Seketika debaran jantungnya semakin kuat, namun hatinya terasa sedih bahkan sangat teramat sedih.


Sejak kecil hingga dewasa, dia belum pernah sekalipun memakai perhiasan.


Almarhum ayahnya yang hanya seorang buruh bangunan tidak mampu membelikan Dinda perhiasan, apa lagi semewah yang diberikan oleh Mario.


Untuk bisa makan dan bersekolah saja Dinda sudah sangat bersyukur, dia tidak pernah menuntut yang lebih kepada ke dua orang tuanya.

__ADS_1


Setelah dewasa dan bekerja, dia pun tidak pernah berpikir untuk membeli perhiasan dengan gajinya, yang ia pikirkan hanyalah membahagiakan sang ibu.


Sementara Mario, dia bingung dengan sikap Dinda yang tampak tak bahagia dengan hadiahnya.


Mario mengangkat sedikit dagu Dinda, dan mengarahkan wajah Dinda ke arahnya.


Dia menatap lekat bola mata Dinda yang sudah tampak berkaca-kaca, "kenapa? apa kau tidak menyukainya?" tanya Mario lembut.


Dinda tersenyum paksa, sembari melepas tangan Mario dari dagunya, lalu balik menggenggam erat tangan Mario.


Dinda menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


"Jika aku menyerahkan cintaku kepada seseorang, maka aku akan menyerahkannya dengan ikhlas, tanpa beban. Aku tidak memandang cinta hanya dengan harta, ataupun tahta. Cintaku akan tumbuh dengan sendirinya, tanpa diminta." Ucap Dinda dengan penuh perasaan.


ciieeee😁😁


Lalu Dinda mengarahkan telapak tangannya menempel lembut di pipi Mario.


"Cinta itu seperti virus, dia hadir melalui mata, lalu turun ke hati dan menyebar luas ke jaringan syaraf." lanjutnya sembari tersenyum tipis.


"Kau tidak perlu memberiku hadiah semewah ini.. aku sudah terbiasa hidup sederhana, apa adanya.


Satu hal yang harus kau tau Mario, jika kau benar-benar mencintaiku, berpikirlah terlebih dahulu, sebelum kau memutuskan untuk menikahi ku." lanjutnya lagi seraya melepaskan tangannya dari pipi Mario dan beranjak dari duduknya.


Mario terdiam, debaran jantungnya sangat kuat sembari menyimak setiap perkataan Dinda.


Dinda menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kembali perkataannya.


Air mata Dinda pun seketika tumpah, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


Mendengar itu Mario beranjak dari duduknya, dan langsung me**luk erat tubuh Dinda.


Mario mengangkat sedikit wajah Dinda, sembari menundukkan sedikit wajahnya, lalu mengusap lembut air mata Dinda.


"Heeyy.. jangan berkata seperti itu.. aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu Adinda.." ucap Mario lembut namun penuh dengan ketegasan.


Kemudian Mario melepaskan pelukannya, dan langsung meraih kotak cincin yang ada ditangan Dinda, lalu mengambil cincin tersebut untuk dipasangkan ke jari manis Dinda.


"Ku mohon, jangan menolak. Aku tidak bermaksud untuk mengikatmu, aku tau kau belum siap." ucap Mario sembari memasangkan cincin itu ke jari manis Dinda.


Dinda terdiam, tak ada penolakan darinya.


Kini cincin itu telah melingkar dijari manisnya.


Mario men***up lembut jari jemari Dinda, seraya tersenyum menggoda.


"Apa kau suka? jawab saja iya.." " hhhh"


Ucap Mario sembari tertawa kecil.

__ADS_1


Dinda tersenyum lebar sambil menggigit sedikit bibir bawahnya.


"Makasih" ucapnya singkat.


"Makasih untuk apa?" tanya Mario lembut.


"Untuk semuanya, untuk cinta.. dan perhatiannya.." jawab Dinda, manja dan langsung memeluk Mario seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Mario.


Begitu pula dengan Mario yang tersenyum bahagia seraya membalas pelukan Adinda.


"Sama-sama sayang! cup" jawabnya sembari mengecup lembut pucuk kepala Dinda.


"Apa cintamu tulus?" tanya Dinda tiba-tiba, sambil mengangkat sedikit wajahnya, menatap Mario.


Mario membalas tatapan Dinda, "tentu saja.. cintaku ini sangat tulus." jawab Mario, yakin.


"Apa kau yakin tidak akan berubah?" tanya Dinda lagi, merasa ragu.


Mario mengerutkan kedua alisnya, "mengapa kau bertanya seperti itu padaku?" dia balik bertanya, merasa heran.


"Tidak.. bukan apa-apa, aku hanya takut cintamu itu seperti jailangkung." jawab Dinda polos yang membuat Mario tertawa lebar.


"Hahahaha.."


"Apa maksudmu? memangnya kau pikir aku ini setan.. hem?" tanyanya.


Dinda tertawa kecil, "sedikit.." ucapnya sembari tersenyum lebar, sehingga menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Kapan kau membeli cincin ini?" tanya Dinda lagi.


"Aku membelinya waktu aku ke bandung, abisnya.. aku ingat terus sama kamu, jadi aku membelinya." jawab Mario, senang.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Mario kembali.


Dinda menggelengkan kepala, tanda tak ada masalah seraya tersenyum manis.


Mario dan Dinda saling menatap, semakin lama semakin dekat. Dan akhirnya... Mario mencium bibir Dinda dengan penuh kelembutan.


Dinda terdiam sembari memejamkan matanya, merasakan sensasi kelembutan dari bibir Mario.


Ketika sedang asik-asiknya berciuman, tiba-tiba saja...


Aldo dan Yudha masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karna kebetulan pintu ruangan Mario tidak terkunci.


"Astagaaa.. woii, jam kerjaa.. " teriak Aldo yang melihat pemandangan didepannya.


Tentu saja membuat Mario dan Dinda tersentak kaget sembari melepas ciuman mereka.


Dinda tertunduk, seketika wajahnya merona menahan malu.

__ADS_1


Sementara Mario menatap jengah ke arah Aldo dan Yudha.


Bersambung epd 23


__ADS_2