
Mario, Aldo dan Yudha tiba di restoran XXX.
Mario bersikap profesional sebagai pimpinan HADINATA GROUP, dia tak ingin mencampuri urusan pribadinya dengan pekerjaan.
Setelah lama berbincang-bincang, mereka mengakhiri obrolan.
"Alright, then let's end our first meeting."Mr Carlos.
terjemah:" baiklah, kalau begitu kita akhiri dulu pertemuan pertama kita ini."
"Thank you sir, nice to work with your company. Hopefully with this cooperation, both of our companies will grow rapidly." Mr Carlos.
terjemah:"terima kasih pak, senang bekerja sama dengan perusahaan Anda. Semoga dengan kerjasama ini, kedua perusahaan kita akan berkembang pesat."
"You're welcome sir, I hope so too." ucap Mario.
terjemah:"sama-sama Tuan, saya juga berharap demikian."
Mario dan Tuan Carlos mengakhiri obrolan mereka dengan berjabat tangan, demikian juga dengan Aldo dan Yudha.
Setelah mereka selesai meeting, mereka akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke kantor.
*****
Sementara di kantor ada Dinda dan Ane yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ane beranjak dari duduknya, "aduuuhh, capek banget hari ini." ucapnya seraya beranjak pergi.
"Lho ne', lo mau kemana?" tanya Dinda.
"Gua mau cari cemilan bentar, eneg gue liatin komputer terus." jawab Ane. "Loe mau ikut gue?" tanya Ane kepada Dinda.
Dinda nampak berfikir.
"Woi, jangan kelamaan mikir.. mau ikut nggaa..?" tanya Ane lagi sedikit kasar.
Dinda tersenyum, "iya iyaa.. ya elah buk.. sensitif banget hari ini, lagi dapet ya..? ucap Dinda menggoda.
Akhirnya Dinda dan Ane pergi keluar menuju supermarket untuk membeli cemilan.
Di supermarket, tampak Ane yang sangat antusias memilah milih cemilan yang akan dibelinya. Sedangkan Dinda hanya membeli satu botol minuman segar.
" Udah belum sih belanjanya?" tanya Dinda.
"Iya udah nih.. udah banyak." saut Ane sembari sumringah menunjukkan belanjaannya.
"Ya ampun ne'.... banyak banget belanjaan loe.. gak salah nih?" tanya Dinda yang terkejut melihat belanjaan Ane.
"Ini sih bisa buat seminggu.." lanjut Dinda.
Ane terkekeh, "gapapa.. gua pengen makan semuanya." saut Ane.
"Yakin loe bisa makan semuanya?" tanya Dinda lagi.
"Kan ada eloe... bantuin gue ngabisin ya." jawab Ane lagi sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ya udah yuk, kita ke kasir." ajak Ane sembari berjalan menuju kasir, diikuti Dinda yang menjurus dibelakang.
"Mba, ini punya saya." ucap Ane kepada pelayan kasir.
"Punya lo mana Din, biar sekalian gue yang bayar." ucapnya kepada Dinda.
Dinda tersenyum, senang.
"Makasih ya buk... tumben baik." ucap Dinda seraya tertawa kecil.
"Udah... gak usah muji, mana belanjaan loe? ucap Ane seraya meminta belanjaan Dinda.
" Ini.." Dinda menunjukkan satu botol minuman segar.
Ane terperangah, "haahh.. cuma ini doang?" tanya Ane.
"Iya.. gue cuma pengen minum." jawab Dinda singkat.
Ane menghela, "ngirit sih ngiriiit.. tapi gak gini juga kali.." ucapnya yang mengerti dengan kebiasaan Dinda, irit super ketat.
Dinda tertawa kecil, dan segera Ane membayar semua belanjaan mereka.
Setelah selesai berbelanja, Dinda dan Ane kembali lagi menuju kantor mereka.
Tapi sebelum mereka masuk, tiba-tiba Ane memilih untuk beristirahat sebentar di halaman kantor.
"Din... duduk sini dulu yuk... cari angin segar." ucap Ane sembari mendudukkan bokongnya di bangku dekat parkiran.
"Emang gapapa kalo kita disini? nanti kalau kelihatan yang lain gimana?" tanya Dinda merasa ragu.
"Cuma bentar kok... gua capek banget nih." jawab Ane.
Akhirnya mereka sama-sama menyantap cemilan dengan bersantai.
"Din," panggil Ane.
"Hemm." saut Dinda sembari menoleh.
"Lo beneran udah jadian sama pak Mario?" tanya Ane dengan penuh rasa ke ingin tahuannya.
"Menurut lo?" jawab Dinda singkat sembari menikmati cemilan.
Ane menatap raut wajah Dinda dengan serius.
"Gua gak minta jawaban itu Dinda.. gua serius nanya lo udah jadian apa belum.." ucap Ane sedikit kesal.
Dinda menatap Ane sembari tersenyum menahan tawa.
"Gua sendiri bingung mau jawab apa..?" jawab Dinda. " Jujur ne'.. gua juga cinta sama dia, tapi.. gua belum bisa ngasi yang lebih dari ini." lanjutnya. "kemaren dia bilang mau nikahin gue." lanjut Dinda lagi.
Ane terkejut mendengar pengakuan dari Dinda, "Apaa... jadi pak Mario mau nikahin lo..?" tanya Ane. "Trus lo jawab apa?" tanya Ane lagi.
Dinda menelan saliva nya, "gua belum bisa terima itu ne'... ibu gua lagi sakit, ibu lebih butuh gua ne'...!" jawab Dinda dengan suara parau, air matanya mulai menggenang.
"Maaf ya Din.. kalau pertanyaan gua bikin lo sedih." ucap Ane, menyesal.
__ADS_1
Dinda tersenyum paksa, "gapapa ne'.. lo gak salah kok." jawab Dinda.
"Trus gimana selanjutnya sama hubungan kalian?" lanjut Ane lagi.
"Gua sih terserah dia aja.. mau nungguin sampai gua siap atau gak, ya terserah." ucap Dinda.
"Tapi sepertinya pak Mario cinta banget sama lo Din.. buktinya dia sampai ngasi cincin segala." ucap Ane membuat Dinda tersenyum tipis.
Setelah mereka asik berbincang, tiba-tiba mobil Mario masuk di area kantor dan berhenti tepat di depan garasi.
Tentu saja membuat Ane dan Dinda gelagapan.
"Ayo Din kabuuurr..." ucap Ane bergegas mengemasi cemilan-cemila nya, dan langsung berlari menjauh.
Sementara Mario, Aldo dan Yudha heran melihat gelagat Ane dan Dinda.
"Ngapain tuh cewek-cewek pada ketakutan gitu." ucap Aldo.
Yudha yang menyaksikan hanya menggeleng-geleng kan kepala seraya tersenyum menyeringai.
Sementara Mario tersenyum lebar melihat tingkah Dinda yang gelagapan.
Belum sempat Ane dan Dinda berlari terlalu jauh, Mario terlebih dahulu keluar dari dalam mobilnya.
"Hey... berhenti." teriak Mario dengan sangat kencang.
Tentu saja membuat Ane dan Dinda menghentikan langkahnya.
Ane terlihat sangat ketakutan seraya menggenggam erat tangan Dinda.
"Aduuh.. mampus kita Din." ucap Ane.
Mereka saling memandang, tak berani berbalik arah menatap Mario.
"Hey.. saya bicara sama kalian.." ucap Mario menggertak.
Aldo dan Yudha pun keluar dari mobil, sembari berdiri di sisi mobil bersama Mario.
Mereka bertiga tersenyum melihat Dinda dan Ane.
"Din gimana dong..?" tanya Ane semakin takut.
"Dalam hitungan ke tiga kita berbalik, okee.." jawab Dinda. "Satu.. dua.. tiga"
Mereka berbalik arah menghadap Mario secara bersamaan sembari tersenyum paksa.
"Hemmm, pak.. tolong dong pak.. jangan marah sama kita.. kita emang salah, tapi jangan kasi hukuman yang berat ya pak.." rayu Dinda, memelas.
Mario, Aldo dan Yudha saling melempar pandang. Lalu berjalan menghampiri sembari tersenyum kecil menahan tawa.
"Kalian berdua, ikut saya ke ruangan." ucap Mario memasang wajah serius.
Sementara Ane tertunduk, merasa takut.
Dinda dan Ane terpaksa mengikuti Mario, Aldo dan Yudha menjurus dibelakang.
__ADS_1
Saat dilantai utama, semua pasang mata menatap mereka, bak mafia yang sedang terciduk.
Bersambung epd 25