SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 23


__ADS_3

Aldo dan Yudha langsung menghampiri mereka sembari tersenyum licik.


"Wah-wah.. ternyata ada sepasang sejoli yang lagi asik di kantor kita Yud.." sindir Aldo.


Yudha hanya tersenyum menyeringai mendengar sindiran Aldo.


"iisshh mengganggu saja." gerutuk Mario.


"Pak, sebaiknya saya permisi keruangan saya dulu." ucap Dinda masih menahan malu.


"Iya, kamu memang harus menjauh dari kucing-kucing ini." sindir Mario balik.


"Aiish..kucing? kalo kami ini kucing.. lalu kau itu apa? kau tak lebih dari seekor kucing garong." ucap Aldo meledek.


"aaaahahahaha..." Yudha tertawa ngakak.


Dinda tersenyum menahan tawa sembari melangkah menuju keluar ruangan.


Sedangkan Mario, semakin jengkel dengan ucapan Aldo yang membuatnya memanas.


"Aaahh sudahlah, hentikan lelucon mu itu." ucap Mario.


Mario akhirnya memilih untuk duduk di kursi kebesarannya, dan tak menghiraukan Aldo.


Aldo mendekat dan langsung duduk bersantai, berhadapan dengan Mario.


"Apa dia sudah menjadi kekasihmu?" tanya Aldo nyeleneh, sembari menatap Mario.


Mario menoleh sambil mengerutkan kedua alis tebalnya, "apa masalahmu? kalaupun itu benar." jawab Mario, tak mengerti pertanyaan Aldo.


"huuufff" Aldo menghela nafas kasar.


Mario menatap tajam, sedikit curiga.


"Apa kau menyukainya?" tebak Mario namun kena di hati Aldo.


"Ti-tidak, mana mungkin aku menyukainya, dia bukan tipeku." jawab Aldo terbata, mencoba mengelak.


"O ya? apa benar begitu? hem?" tanya Mario lagi, semakin curiga.


"Ya.. begitulah. hemm" jawab aldo singkat sembari tersenyum paksa.


Yudha yang mengerti akan kecurigaan Mario, langsung menengahi.


"Tuan, satu jam lagi kita ada meeting." sela Yudha.


Pandangan Mario langsung beralih ke arah Yudha, tampak berpikir sejenak lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Aldo.


"Kau juga ikut Do, kita akan bertemu klien dari singapore." ucap Mario tak melanjutkan pertanyaan tentang kecurigaannya.


Aldo beranjak dari duduknya, "baiklah, beri tau aku jika sudah siap, aku keruangan ku dulu." ucapnya sembari beranjak meninggalkan Mario.

__ADS_1


Mario terus mengamati Aldo "apa sebenarnya maksud ucapannya tadi? apa dia menyukai Dinda?" gumamnya dalam hati. " aah, mungkin hanya perasaanku saja." lanjutnya masih membatin.


Sementara Aldo, "Huufff" menghela nafas kasar. "bisa-bisanya aku bertanya seperti itu dengannya. Dasar, mulut kurang ajar. Plaak" gumamnya pelan seraya menampar sedikit mulutnya, sambil berlalu menuju ruangannya.


******


Sementara diruang lain, ada Dinda yang sedang duduk dengan memandang cincin yang melingkar dijari nya seraya tersenyum.


"Waaahh.. cincin baru Din?" tanya Ane mengejutkan Dinda.


Dinda menoleh seraya tersenyum tipis, "he'em" ucap Dinda singkat.


"Mario yang memberikannya." lanjutnya, senang.


Membuat kedua mata Ane membulat, "apaa..? loe serius?" tanya Ane tak percaya.


Dinda tersenyum seraya menganggukkan kepala.


"Aaaaaa.. romantis bangeeett.." ucap Ane, sumringah.


"Lo jahat banget sih Din.. sama gue!" ucap Ane sedikit kesal.


"Maksud lo..?" tanya Dinda tak mengerti.


"Kenapa lo gak cerita ke gue..? kalo lo jadian sama pak Mario." jawab Ane, sebal.


Dinda tersenyum menyungging, "nanti aja deh ceritanya, ini masih jam kerja. Gak enak sama yang lain." ucap Dinda tak mau berpanjang lebar.


Dinda tersenyum lebar, "iya.. janji." sahutnya sembari menautkan jari kelingkingnya ke jari Ane.


Lalu mereka menyudahi obrolan, dan berlanjut fokus kepada kerjaan masing-masing.


*****


Setengah jam kemudian


Bu Sandra menghampiri Dinda dan Ane, ingin meminta sesuatu.


"Hey kalian berdua, bisa tolong saya ngga?" tanya bu Sandra sembari menyeringai.


Dinda dan Ane menoleh, "Dinda aja deh buk, saya lagi tanggung nih." ucap Ane menolak.


Dinda melirik ke arah Ane sembari beralih kepada bu Sandra.


"Ibu mau apa?" tanya Dinda lembu, tanpa basa-basi.


Bu Sandra tersenyum, "buatin saya teh dong Din.., saya lagi pengen ngeteh." ucap bu Sandra, memohon.


Dinda membalas senyum bu Sandra, "cuma itu buk?" tanyanya.


"Iya!" saut bu Sandra singkat.

__ADS_1


"Baik buk, tunggu sebentar ya.. nanti akan saya antar keruangan ibuk." ucapnya sembari beranjak dari duduknya.


"Makasih ya Din.."


"Sama-sama buk.." saut Dinda, dan langsung pergi menuju ruang official.


Dinda berjalan menyusuri lorong dengan tergesa-gesa.


Sementara dari arah berlawanan ada Mario, Aldo dan Yudha yang hendak pergi menemui klien.


Tiba-tiba saja.. saat di persimpangan lorong, "bruuukkk" tubuh Dinda membentur dada bidang Aldo.


"Aaaaawww" pekik Dinda yang hampir saja terjatuh, namun Aldo begitu cepat menangkap tubuh mungil Dinda, sehingga tak sampai terjatuh.


Aldo dan Dinda saling menatap, pandangan Aldo mengarah ke bola mata Dinda, sangat lekat.


Deg deg deg


Detak jantung Aldo semakin kencang, "ya Tuhan.. mata yang indah." batin Aldo.


Mario memanas melihat aksi ke duanya yang saling beradu pandang.


"Singkirkan tanganmu dari tubuhnya." bentak Mario kepada Aldo, sembari menarik tubuh Dinda dan memposisikan tubuh Dinda disampingnya.


"Heh, apa kau tidak liat? dia yang menabrak ku, beruntung ada aku yang langsung menangkapnya, coba kalau tidak?" saut Aldo dengan nada tinggi, merasa kesal.


"Ma-maaf pak Aldo, saya tidak sengaja." ucap Dinda terbata dan langsung menundukkan wajahnya.


"Kau dengar sendiri kan? apa kata kekasihmu ini?" tanya Aldo kepada Mario sembari berlalu pergi mendahului Mario.


"Sudahlah Tuan, kita bisa terlambat." ucap Yudha menenangkan Mario.


Mario mengarahkan pandangannya ke arah Dinda, "kau tidak apa-apa?" tanya Mario melemah.


Dinda masih tertunduk, sembari menggelengkan kepala.


Mario tersenyum, lalu mengangkat sedikit wajah Dinda. "aku tidak ingin ada orang lain yang menatapmu seperti tadi. cup" ucap Mario lembut, seraya men***up lembut b***r Dinda.


Sepertinya b***r Dinda sudah menjadi candu bagi Mario, sehingga dia tidak memperdulikan bahwa Yudha sedang berada diantara mereka.


"haahhh" Yudha menghela, "atasan yang penuh dengan drama." batin Yudha.


Seketika raut wajah Dinda merona, menahan malu karna menyadari ada Yudha yang sedang menatap mereka.


"Sayang! aku pergi dulu, ada janji sama klien." ucap Mario menyudahi.


Dinda hanya membalas dengan senyuman sembari menganggukkan kepala.


Akhirnya Mario dan Yudha pun beranjak menyusul Aldo yang sudah pergi mendahuluinya, sedangkan Dinda kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang official.


Bersambung epd 24

__ADS_1


__ADS_2