SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 35


__ADS_3

Terlihat dari tatapan Dinda mengandung arti kerinduan yang sangat dalam, namun di samping itu ada rasa benci yang terselip dalam hatinya.


"Mau ngapain kesini?!" tanya Dinda pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mario melangkahkan kakinya mendekat sedikit ke arah Dinda.


"Aku mau minta maaf, tolong maafkan aku Dinda!" ucap Mario.


Dinda tersenyum kecut.


"Sepertinya kau sudah melupakan sesuatu." ucap Dinda masih mencoba menahan emosinya.


"Apa kau lupa.. bagaimana caramu mengusirku hem?!" ucap Dinda lagi, mulai emosi.


Dinda kembali tersenyum kecut.


"Aku heran, bagaimana bisa kau melupakannya?!! apa yang terjadi padamu hem?!"


"Apa kau sakit?! apa kau terjatuh sehingga kepalamu terbentur dan kau melupakannya?!


ucap Dinda dengan begitu banyak pertanyaan.


Mario menatap Dinda dengan perasaan bersalah.


" Aku tidak melupakannya, aku minta maaf."


"Tolong maafkan kesalahan ku Adinda!" ucap Mario memohon.


Dinda tertawa kecil.


"Kau dengar Ane?! begitu mudahnya dia meminta maaf pada ku..!" ucap Dinda yang mengarah kepada Ane sambil menunjuk ke arah Mario.


Ane terdiam, masih mengamati tanpa bersuara.


"Apa kau kira dengan meminta maaf, lalu aku memaafkan mu hem?! ucap Dinda kembali mengarah ke arah Mario menyunggingkan senyum kecut.


" Kau pikir bisa semudah itu Mario?! apa kau pikir aku lupa bagaimana perlakuan mu terhadap ku hah?!!


"Kau pikir aku lupa seperti apa cacian dan makian mu kepada ku?!! teriak Dinda.


Mario terdiam, tak ada kata yang mampu terucap dari bibirnya.


Dinda mendekat ke arah Mario, sangat dekat.


Hingga bola mata mereka saling beradu.


" Apa kau tau, bagaimana perasaan ku?! bagaimana kehidupanku setelah kau mengusir ku?!" ucap Dinda lemah, masih menatap.


"Kau bahkan tidak perduli pada ku Mario..!! ucap Dinda lagi, air matanya mulai mengalir.


Batin Mario terenyuh, kala mendengar ucapan yang begitu menyentuh hatinya.


Mario menggenggam erat kedua telapak tangan Dinda.


"Maafkan aku sayang.. aku tau aku salah." ucapnya lembut sembari menatap Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sementara Dinda masih menatap dengan tatapan yang sama, penuh dengan rasa kecewa.


"Apa kau tau?! maaf mu itu tidak bisa mengembalikan keadaanku seperti semula...!!"


"Kau menyakitiku Mario..! kau menyakiti ku..!!" lirihnya.


Tangis Dinda pun pecah, terasa sakit dalam hatinya.


Dengan seketika Mario memeluk erat tubuh Dinda, mendekap kan wajah Dinda pada dada bidangnya.


"Maafkan aku sayang..!! maafkan aku! kita akan memulainya kembali, dan aku janji tidak akan menyakitimu lagi Percaya lah.." ucap Mario membujuk, air matanya pun mengalir deras dipipinya.


Dinda mengangkat sedikit wajahnya seraya tersenyum kecil, sekecil mungkin.


"Semua sudah terlambat, aku sudah tidak pantas untuk mu." ucap Dinda, lalu menjauhkan tubuhnya dari dekapan Mario.


Mario masih menatap.


"Apa maksudmu sayang?! tidak ada kata terlambat untuk kita..!" tanya Mario, sedikit tak mengerti maksud ucapan Dinda.


Dinda mengarahkan pandangannya ke arah lain, tak mau menatap Mario.


"Pergilah, jangan pernah kembali lagi." jawab Dinda sembari melangkah pergi meninggalkan Mario yang penuh dengan rasa bersalah.


Dinda masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya di sana.


Mario menyusul, dia menggedor-gedor pintu kamar Dinda.

__ADS_1


"Sayang buka pintunya.. kita harus bicara."


"Kembalilah pada ku Adinda.. aku sangat mencintai mu..! aku mencintai mu..!!"


Ucap Mario memohon diiringi dengan tangisannya.


Namun Dinda tak bergeming, dia terus saja menangis didalam kamar miliknya.


Sementara Ane yang sejak tadi tertegun menyaksikan ke duanya, akhirnya melangkah mendekati Mario.


"Pak! sebaiknya bapak pulang saja.. tenangkan dulu pikiran bapak." ucap Ane menenangkan.


"Bagaimana bisa aku tenang?! sementara dia begitu terpukul karna ulah ku." jawab Mario, kesal.


Ane menghela nafas, " saya akan coba membujuknya pak, bapak pulang saja. Mengertilah dengan perasaannya pak!" ucap Ane lagi.


Mario menghela nafas seraya memejamkan mata sejenak sambil mengusap air matanya.


"Baiklah, terima kasih kau sudah mau membantuku." jawab Mario, mencoba untuk bersikap tenang.


Mario pun akhirnya terpaksa melangkah pergi, dengan langkah yang berat.


Mario pergi meninggalkan pekarangan rumah Dinda, dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


Diperjalanan, dia tak henti-hentinya menangis.


Merasa menyesal atas semua yang telah terjadi.


Hatinya terasa begitu sakit, mengingat setiap kata-kata yang terucap dari bibir Dinda.


Bahkan seribu kata maafnya pun, tak mampu meluluhkan rasa kecewa Dinda terhadap dirinya.


Sedangkan Ane, dia berusaha untuk membujuk Dinda.


Tok tok tok


"Din! buka pintunya Din..! ada yang harus gue omongin." ucap Ane.


Namun tak ada suara jawaban dari Dinda, Dinda terdiam dan tak membukakan pintu kamar untuk Ane.


"Din..! ayo dong.. buka pintunya..! pak Mario udah pulang, dia gak ada disini lagi." ucap Ane lagi, masih membujuk.


Mendengar ucapan dari Ane bahwa Mario sudah pergi, Dinda pun akhirnya membuka pintu.


Dinda kembali melangkah masuk mendekati kasurnya, lalu ia merebahkan tubuhnya di sana.


Diikuti oleh Ane yang menjurus dibelakang.


Ane mendudukkan bokongnya di atas kasur, tepat di samping Dinda.


Ane menghela nafas, sembari menatap lekat raut wajan Dinda.


"Bukannya gue mau ikut campur urusan kalian, gue tau saat ini lo kecewa." ucap Ane memulai.


"Tapi gue juga tau kalau lo masih cinta sama dia.. dan dia juga sama." lanjut Ane.


Dinda memandang ke arah Ane sembari tersenyum kecut, menanggapi ucapan Ane.


"Cinta?! lo bilang dia cinta sama gue?!" ucap Dinda seraya mengubah posisinya menjadi duduk berhadanpan dengan Ane.


"Lo ngomong gitu karna lo gak ngerasain jadi gue ne'..!"


"Kalo dia cinta sama gue.. kenapa baru sekarang dia cari gue?! kenapa..?!" tanya Dinda, merasa kesal.


"Itu karna dia baru tau hal yang sebenarnya Din..!!" jawab Ane.


"Dia baru tau kalo lo dijebak sama Sella." ucap Ane.


Dinda mengerutkan kedua alisnya tanda tak mengerti.


"Maksud lo?!" tanya Dinda.


Ane menghela nafas.


"Iya, pak Mario baru tau kalo Sella lah yang ngejebak lo dengan mengirimkan data perusahaannya ke pesaing bisnis." jawab Ane, menjelaskan.


"Sekarang Sella udah diserahkan kepada pihak yang berwajib Din! makanya pak Mario langsung cari lo dan minta maaf sama lo..!" ucap Ane mengakhiri ceritanya.


Dinda terdiam merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan Ane.


"Jadi perempuan itu yang udah bikin Mario ngusir gue?" tanyanya.


Ane menghela nafas, "iya, dia berusaha buat jauhin lo sama pak Mario, karna dia cinta sama pak Mario." jawab Ane.

__ADS_1


Dinda tersenyum menyungging, menanggapi ucapan Ane.


Dinda menghela nafas, "sebelum gue dipecat, gue mergoki Mario ciuman sama perempuan itu." ucap Dinda yang membuat Ane terkejut.


"Apaa?! lo serius..?!" tanya Ane.


"Ngapain gua bohong sama lo?!" jawab Dinda kesal.


"Tapi pak Mario cintanya sama lo Din..! dia bilang itu sama Sella, pak Aldo dan pak Yudha saksinya. Termasuk gua juga sih...!" ucap Ane.


"Udahlah ne'.. itu semua masa lalu gue."


"Sekarang gua cuma mau ibu gua cepat sembuh." ucap Dinda.


"Emang ibu lo sakit lagi Din?!" tanya Ane sembari menatap lekat bola mata Dinda.


"Iya ne', ibu gua drop. Sekarang ada dirumah sakit." jawab Dinda melemah.


Ane terkejut mendengarnya, "Ya ampun Din.. trus sekarang gimana kondisi ibu lo?!" tanya Ane lagi.


Dinda menggeleng seraya menghela nafas kasar.


"Belum ada perkembangan ne', masih diruang ICU." jawab Dinda, sedih.


"Maafin gue ya Din.. gua benar-benar gak tau." ucap Ane, merasa bersalah.


Dinda tersenyum paksa.


"Gapapa ne'.. gua ngerti ko kalo lo sibuk." ucap Dinda.


Ane merasa tak enak hati.


Dinda tersenyum tipis menatap Ane.


"Lo gak tau gimana keadaan gue sama ibu gue, setelah gue dipecat." ucap Dinda.


Ane menyimak, sembari membuka sedikit tasnya. Tanpa disadari oleh Dinda, Ane merekam percakapan menggunakan ponselnya.


Dinda menghela nafas dalam, sembari melanjutkan kata-katanya.


"Keadaan ekonomi gue memburuk ne'! uang simpanan gue menipis buat biaya sehari-hari."


"Gua udah gak punya pemasukan, gue udah coba kirim surat lamaran ke perusahaan lain, tapi satupun belum ada panggilan buat gue."


"Gua sedih udah gak bisa biayain pengobatan ibu gue ne'.. sampai akhirnya ibu drop."


Dinda berhenti sejenak, menghela nafas panjang.


Lalu ia kembali melanjutkan kata-katanya.


"Pikiran gue semakin kacau ne', gue butuh biaya buat ibu, dan itu gak sedikit."


"Gue jual hand phone gue, motor, tapi itu sama sekali belum cukup."


"Sampai akhirnya..." Ucap Dinda terhenti.


Dinda menundukkan wajahnya, dia menahan tangis.


Ane menjadi bingung, "sampai akhirnya kenapa Din?! apa yang terjadi sama lo?!" tanya Ane, mulai cemas.


Dinda menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya.


"Sampai akhirnya... gua terpaksa jual diri.. gua jual kesucian gua ne'....!!" tangis Dinda pecah, dia berkata dengan sangat lirih.


Dan itu membuat Ane syok.


Ane menangis, ia memeluk erat tubuh Dinda.


"Maafin gue Din...!! maafin gue...!! gue bukan temen yang baik...!! gue gak ada disaat loe butuh." Ane berkata dengan sangat lirih.


Ane dan Dinda menangis sejadi-jadinya, hingga tubuh mereka bergetar.


"Sekarang lo tau kan?! kenapa gue gak bisa terima dia lagi..?! gue udah gak suci ne'...!! gue kotor....!! Dinda berkata sangat lirih dalam tangisnya.


Sedangkan Ane, dia hanya bisa menangis mendengar pengakuan dari sahabatnya.


Ane menangis dalam pelukan Dinda.


Dia tak menyangka, hidup Dinda akan seburuk itu.


Bersambung epd 36.


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia karya receh ku, jangan lupa dukungannya shayyy... biar tambah semangat😁

__ADS_1


__ADS_2