
Beberapa saat kemudian, jenazah ibu Dinda dibawa pulang menuju rumah lama Dinda.
Diperjalanan, Dinda tak hentinya menangis pelan. Air matanya terus saja mengalir, seakan tak percaya pada apa yang telah terjadi.
"Ibuuukk.. Dinda sayang sama ibuk.. maafkan Dinda buuukk.. Dinda belum sempat mengabulkan keinginan ibu yang terakhir..." lirihnya dalam tangis.
Sementara Jhon, ia terus saja berusaha menenangkan Dinda.
"Sayang.. sudahlah, jangan menangis lagi. Dengarkan aku, setiap yang bernyawa itu pasti mati, tidak ada pengecualian. Kita tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, tugas mu sebagai anak hanya terus mendoakan orang tua mu, tidak perlu menangisinya." ucap Jhon, sangat bijak sembari tersenyum kecil.
Dinda yang mendengar ucapan dari Jhon pun menghentikan tangisannya, seraya memeluk tubuh Jhon.
"Terima kasih Jhon, kau sangat baik pada ku." ucap Dinda pelan.
"Sama-sama sayang.. cup" sahut Jhon seraya mengecup lembut pucuk kepala Dinda.
Dinda menyandarkan kepalanya dipundak Jhon, dan suasana pun menjadi hening, hingga akhirnya mobil iring-iringan jenazah pun tiba di rumah lama Dinda.
Terlihat para tetangga yang juga ikut berkumpul di sana.
Proses pengurusan jenazah pun dilakukan dengan lancar, memandikan, mengkhafankan dan menyolatkan jenazah.
Hingga akhirnya proses terakhir dilaksanakan, memakamkan jenazah sang ibu.
Dinda terlihat sangat sedih saat mengantar sang ibu ke tempat peristirahatan terakhir nya,
Dia menangis hingga sesenggukan di sana.
****
Sedangkan ditempat lain, ada Mario yang sudah menunggu kemunculan Dinda di rumah sakit.
Merasa sudah terlalu lama ia menunggu, namun tidak juga melihat sosok Dinda di sana. Dan akhirnya Mario memutuskan untuk masuk, berharap menemukan Dinda di dalam.
Setelah dia berada tepat di depan ruang ICU, terlihat bahwa sudah tidak ada ibu Dinda di sana.
Mario pun menghampiri seorang suster jaga, bermaksud untuk menanyakan keberadaan ibu Dinda.
"Sus, permisi sus." sapa Mario.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya suster.
"Pasien yang dirawat di ruang ICU dipindahkan kemana ya mba?" tanya Mario.
"Mmm maaf pak, ibu yang bapak maksud sudah meninggal pagi ini pak, jenazahnya juga sudah dibawa pulang oleh pihak keluarga." jawab suster.
"A_ apa? i_ ibu meninggal?" ucap Mario terbata.
Seketika tubuh Mario menjadi lemas, jantungnya berdetak kencang dan raut wajah yang memucat.
__ADS_1
"Permisi sus" ucapnya pelan sembari menahan tangis.
"Iya pak, silahkan." sahut suster sambil menatap kepergian Mario.
Mario melangkah dengan hati yang gelisah dan raut wajah sedih memikirkan bagaimana perasaan Dinda saat ini, disamping itu terlintas juga dalam pikirannya tentang ucapan ibu yang menitipkan Dinda padanya waktu itu.
"Maafkan aku bu.. maafkan aku.." lirihnya. Sekerika air matanya menetes, Mario menangis pelan saat sudah berada di dalam mobilnya hingga tubuhnya bergetar menahan sesak di bagian dada nya.
"Apa yang terjadi Tuan?!" tanya Yudha saat melihat Mario menangis.
"Kita ke rumah lama Dinda Yud, ibunya meninggal pagi tadi." ucap Mario pelan, seraya mengusap pelan air matanya.
"A_ apaa? ibu Nona Adinda meninggal?" ucap Yudha, terkejut.
Mario hanya menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Yudha, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Yudha pun akhirnya menjalankan mobil dan melajukan kendaraannya dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Yudha dan Mario berhenti tepat di depan rumah Dinda.
Terlihat suasana rumah yang sudah tampak tak terlalu ramai lagi, karna beberapa di antara pelayat sudah kembali ke rumah masing-masing.
Mario turun dari mobil dan menghampiri beberapa orang pelayat yang masih berada di sana.
"Permisi pak, bu! maaf kalau boleh tau jenazah di makamkan dimana ya?" tanya Mario kepada mereka.
"Oh, iya terima kasih, kalau begitu saya ke sana dulu pak, bu! permisi.
" Iya silahkan" jawab Mereka bersamaan.
Tak menunggu lama lagi, Mario pun akhirnya mengajak Yudha untuk segera pergi ke area pemakaman.
"Ayo kita lanjut ke pemakaman umum XXX." ajaknya.
Mario pun menganggukkan kepala dan menjalankan kembali mobilnya lalu melajukan kendaraannya dengan cepar.
****
Beberapa saat kemudian, Yudha dan Mario sampai di pemakaman umum XXX.
Terlihat pemakaman yang sudah tampak sepi, dan hanya tinggal Dinda dan Jhon yang masih berada di sisi makam sang ibu di temani beberapa orang anak buah Jhon yang berdiri di sekitar makam.
Mario pun keluar dari mobil dan langsung menghampiri makam ibu, disusul oleh Yudha yang menjurus di belakang.
"Dinda..!" sapa Mario lembut, pandangan matanya tertuju kepada Dinda yang sedang menangis di sisi makam.
Dinda mengangkat wajahnya mengarahkan pandangannya kearah Mario yang berada di depannya.
Sedangkan Jhon menatap sinis kepada Mario, namun ia mencoba menahan sedikit emosinya.
__ADS_1
"Din.. aku turut berduka cita atas meninggalnya ibu mu." ucap Mario lagi.
"Te_ terima kasih." jawab Dinda pelan sembari menundukkan kepalanya kembali.
Dalam suasana seperti ini, Mario tidak mau membuat Dinda marah kalau dia terlalu banyak bicara.
Mario terdiam dan hanya mengirimkan doa untuk ibu Dinda setelah itu dia beranjak berdiri.
"Dinda.. aku permisi dulu, kamu yang sabar ya Din.." ucap Mario lembut, dan hanya di balas Dinda dengan anggukkan kepala tanpa mau mengarahkan kembali pandangannya ke arah Mario.
Mario pun melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.
Sementara Jhon, ia mengajak Dinda pulang kerumah untuk beristrirahat.
"Sayang.. ayo kita pulang, hari sudah siang. Kau harus makan dan beristirahat, kasian bayi yang ada di dalam perut mu." ajak Jhon lembut.
Dinda mengarahkan pandangannya ke arah Jhon, "aku ingin pulang ke rumah ibu saja." pinta Dinda lemah.
"Iya sayang, untuk sementara kita kembali kerumah ibu mu." jawab Jhon.
Jhon dan Dinda pun beranjak dari sisi makam ibu dan melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.
Dinda berjalan dengan langkah kaki yang lemah, sehingga Jhon membantu menahan tubuhnya dengan merangkul erat pinggang ramping milik Dinda.
Sesampainya mereka di dalam mobil, Dinda kembali menatap makam sang ibu dari kejauhan.
Sungguh berat hatinya berpisah dengan sang ibu yang sangat dia cintai.
Erik salah satu anak buah Jhon kembali menjalankan mobil dan melajukan kendaraannya dengan cepat, hingga pergi menjauh dan semakin menjauh dari area pemakama umum tempat peristirahatan terakhir ibu Dinda.
Diperjalanan, Jhon mengusap lembut kepala Dinda dan menyandarkan kembali kepala Dinda di dada bidang miliknya.
Jhon berusaha menenangkan Dinda sang calon istri, karna dia tau bahwa calon istrinya sedang dalam suasana berduka.
"Aku akan menjaga mu sampai nafas terakhir ku." gumam Jhon dalam hati sembari memejamkan matanya.
"Kau tenang saja sayang, aku akan menjadi suami dan sekaligus pengganti ke dua orang tua mu untuk menemani mu sampai kita tua nanti." ucap Jhon pelan kepada Dinda.
Dinda yang mendengarnya pun, mengangkat sedikit wajahnya mengarahkan pandangannya menatap lembut bola mata Jhon.
Dinda tersenyum kecil, "sekali lagi terima kasih Jhon.." ucap Dinda lembut.
Jhon tersenyum mengembang, "tidak perlu berterima kasih pada ku, itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang suami nanti nya." jawab Jhon.
Dinda merasa sedikit lega, entah mengapa hatinya begitu tenang saat berada di sisi Jhon.
Suasana di dalam mobil pun kembali hening, sambil menunggu mereka tiba di rumah lama Adinda.
Bersambung epd 48
__ADS_1