SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 57


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Zack dan Dinda pun tiba di halaman hotel, Zack langsung memarkirkan mobilnya di area parkiran.


Zack dan Dinda turun dari mobil secara bersamaan, dan melangkah menuju hotel.


Mereka masuk ke sana dan langsung menuju lantai 3 menggunakan lift.


Setelah berada di lantai 3, terlihat orang-orang yang sedang sibuk memasang dekorasi pengantin di sana.


Dinda mengarahkan pandangannya ke sana ke mari, mencari sosok Jhon.


Namun ia tidak mendapatinya, dan langsung mengarahkan pandangannya kearah Zack.


"Zack! dimana Jhon?" tanya Dinda.


Zack pun mengarahkan pandangannya ke sekeliling, namun tidak ada Jhon di sana.


"Mmm kau pergilah ke kamar nomer 106, itu kamar nya." Zack mengarahkan pandangannya kearah Dinda.


"Kamar 106 itu dimana?" Dinda sedikit bingung, karna baru pertama kali ia masuk ke hotel itu.


"Baiklah, ayo aku antar." Zack pun mengantar Dinda menuju kamar nomer 106.


"Zack! terima kasih ya.. kau sudah baik pada ku." Dinda tersenyum lebar, sambil terus melangkah mengikuti langkah Zack.


"Jangan sungkan! jika kau perlu sesuatu, bilang saja pada ku." sahut Zack, mengarahkan pandangannya sesaat kearah Dinda sambil tersenyum.


Mereka berdua terus melangkah, sampai akhirnya langkah mereka terhenti tepat di kamar nomer 106.


Tok tok tok (pintu kamar di ketuk)


"Bos, ini aku Zack." teriak Zack, namun tidak terlalu kencang.


Jhon yang berada di dalam pun segera membuka pintu.


Ceklek (pintu terbuka)


"Hay sayang!" Jhon tersenyum kearah Dinda , ia langsung meraih tangan Dinda mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar.


"Jhon! kenapa kau meninggalkan ku pagi-pagi sekali?!" Dinda memasang raut wajah cemberut, sambil melangkah masuk.


"Aku sengaja tidak membangunkan mu, karna aku tidak mau kau ikut sibuk mengurus persiapan pernikahan kita." Ucap Jhon sambil merangkul pundak Dinda berjalan menghampiri sofa.


"Bos, aku keluar dulu." Sela Zack di tengah-tengah obrolan mereka.


"Tunggu Zack." Dinda melarang.


Zack dan Jhon mengarahkan pandangan mereka kepada Dinda.


Dinda melepaskan lengan Jhon dari pundaknya, ia meletakkan kantong yang di tenteng nya sejak tadi ke atas meja.

__ADS_1


Kemudian ia membuka kantong tersebut dan mengeluarkan isinya di sana.


Ia mengeluarkan 3 bungkus rujak, sisanya tetap berada di dalam kantong.


"Ini untuk mu dan teman-teman mu Zack." Dinda menyodorkan kantong tersebut kepada Zack.


Jhon mengerutkan keningnya menatap kearah Dinda dan Zack secara bergantian.


"Tidak usah, untuk mu saja! apa kau yakin tidak akan kekurangan kalau kau memberikan sisanya pada ku?" Zack menolak, merasa tidak enak hati dengan Jhon. Pada hal di dalam hatinya ia sangat ingin mencicipi rujak itu.


"Yang benar saja Zack! ini banyak sekali.. aku tidak mungkin bisa menghabiskannya. Ayolah.. jangan menolak." Dinda memaksa dengan tetap menyodorkan kantong itu kepada Zack.


"Baiklah! terima kasih ya.. kau baik sekali." Dengan sedikit terpaksa Zack meraih kantong tersebut di hadapan Jhon, sambil tersenyum.


"Sama-sama!" Dinda pun membalas senyuman Zack.


Zack langsung mengambil langkah seribu menuju keluar dari kamar 106, dan pergi kembali menemui teman-temannya.


Sementara di kamar, Dinda langsung mendudukkan bokongnya di sana. Ia membuka satu bungkus rujak dan mulai menikmati rujak itu dengan perlahan.


Jhon menghampiri Dinda, ia duduk di sofa tepat di samping Dinda.


Ia menatap lembut raut wajah Dinda yang sedang asik menikmati rujaknya sambil tersenyum manis.


Dinda yang menyadari jika Jhon sedang menatapnya, dengan segera ia mengalihkan pandangannya kearah Jhon.


Jhon pun langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Dinda.


"Haahh.. sstt.. kenapa makanan mu pedas sekali..?! ini terlalu pedas, tidak baik untuk bayi yang ada di dalam perut mu.." Jhon tersentak, merasa teramat pedas saat satu sendok rujak masuk ke dalam mulutnya.


Dia langsung meraih gelas yang berisi air yang ada di meja dan meneguknya.


Dinda tertawa kecil menanggapi reaksi Jhon.


"Sayang..! lidah ku tidak akan terasa apa-apa jika tidak memakan makanan yang pedas, rasanya hambar." Ucap Dinda lembut sambil tersenyum masih diiringi dengan tawa kecilnya.


Jhon menghela nafas, "huuuhhh baiklah, tapi jangan terlalu banyak, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anak ku yang ada di dalam perutmu itu." Ucap Jhon dan langsung memeluk tubuh Dinda.


"Tadi kau memanggil ku apa?" tanya Jhon sambil mengusap lembut perut Dinda.


"Sayang." sahut Dinda dengan santai sambil terus menyuap sedikit demi sedikit rujaknya.


Jhon menghentikan gerakan tangan Dinda, dan mengarahkan pandangan Dinda kearahnya dengan memegangi dagu milik Dinda.


Tentu saja hal itu membuat Dinda menghentikan suapannya dan mengarahkan pandangannya, membalas tatapan Jhon.


Kini bola mata mereka saling beradu, dan semakin lama wajah mereka pun semakin dekat.


Jhon mulai mendaratkan ciuman lembut di bibir mungil Dinda, begitu lama hingga mereka sulit bernafas.

__ADS_1


Setelah itu Jhon menghentikan ciumannya, dan langsung mengangkat tubuh Dinda.


"Jhon! kamu mau ngapain?" Dinda terkejut saat Jhon menggendong tubuhnya mendekat kearah kasur.


Jhon tidak menjawab, dia hanya tersenyum licik sambil terus menggendong tubuh Dinda.


Jhon menghempaskan tubuh Dinda di kasur empuk, hingga tubuh Dinda terbaring di atasnya.


"Jhon.. kamu mau ngapain?!" sekali lagi Dinda bertanya sembari mengerutkan keningnya menatap Jhon.


Jhon masih saja terdiam tak menjawab, ia membuka kemejanya, sehingga menampakkan tubuhnya yang perfek, dadanya yang bidang dan perutnya yang terlihat berbentuk kotak-kotak.


Dinda membulatkan kedua bola matanya, menatap tubuh Jhon, sambil menelan saliva nya.


Jhon menyunggingkan senyum liciknya, dan langsung menindih tubuh Dinda.


Dinda memejamkan kedua matanya, debaran jantungnya berdetak sangat kuat saat Jhon kembali mencium bibirnya.


Namun ciuman Jhon kali ini sangat beringas, bahkan Jhon mencium hingga kebagian leher milik Dinda.


Jhon mulai membuka satu persatu kancing baju Dinda sambil terus memainkan lidahnya dengan lincah di leher Dinda, sehingga membuat Dinda menggeliatkan tubuhnya.


"Jhon..!! jangan sekarang..!! ucap Dinda pelan, sangat pelan sehingga terdengar seperti berbisik.


Namun Jhon tidak memperdulikannya, ia terus saja membuka kancing baju Dinda hingga semuanya terbuka.


Dinda mulai mendesah pelan, ******* pertama keluar saat bibir Jhon mulai menyentuh bagian dada milik Dinda. Jhon membuat beberapa tanda merah di sana, sehingga membuat Dinda mencengkram punggung Jhon, merasakan sensasi yang semakin memanas.


Jhon menurunkan sedikit tali penyangga bukit kembar milik Dinda hingga terlihat jelas dua buah bukit kembar yang besar dan bulat.


Jhon semakin bergairah hingga nafasnya tersengal tak beraturan.


Jhon mulai menghisap puncak bukit itu, sehingga membuat Dinda semakin kuat memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya.


" Mmmhhh, sssstttt" ******* Dinda semakin terdengar jelas.


Tentu saja hal itu membuat setumpuk daging milik Jhon mengeras.


Jhon semakin agresif, ia terus saja menghisap puncak bukit milik Dinda seperti bayi yang sedang kehausan.


Namun disaat mereka sedang sama-sama terbuai, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu kamar.


Tok tok tok (pintu diketuk)


"Oouuhh sial.." Jhon merasa sangat kesal, terpaksa ia harus menghentikan aksinya.


Bersambung epd 58


Break dulu guys😁😁

__ADS_1


__ADS_2