SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 40


__ADS_3

Diperjalanan, Dinda masih saja menangis pelan.


Sementara Jhon, ia berkali-kali mengusap wajahnya sembari menghela nafas kasar.


"Berhentilah menangis, tidak ada gunanya." ucap Jhon sedikit kesal.


"Kau tidak perlu bertanggung jawab Jhon.. bukankah aku menjualnya padamu dan kau membeli nya?!" ucap Dinda sambil menatap raut wajah Jhon.


Mendengar perkataan Dinda, Jhon mengerutkan kedua alisnya. "Apa yang kau katakan? apa kau ingin pacarmu yang bertanggung jawab pada mu, hem?!" tanya Jhon sedikit kesal.


Lalu Jhon tersenyum menyungging, "dengar, dia anakku darah daging ku, jadi tidak ada alasan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah ku ambil dari mu." ucap Jhon dengan tegas.


Dinda terdiam tak mampu berkata-kata lagi sembari menundukkan wajahnya.


Jhon menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya kembali sambil menggenggam erat tangan Dinda.


Jhon mengangkat sedikit wajah Dinda dengan tangannya, dan menatap dalam raut wajah Dinda.


"Aku memang membeli tubuhmu, tapi anak yang ada di rahimmu itu anakku, karna aku lah orang pertama yang menanam benih di perutmu." lanjut Jhon.


Air mata Dinda meleleh saat mendengar ucapan Jhon, sembari menatap dalam bola mata Jhon.


Jhon mengusap lembut air mata Dinda, "berhentilah menangis, calon istriku.." ucap Jhon menggoda diakhiri dengan tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Sementara Dinda, ia langsung memeluk erat tubuh Jhon sembari menangis kuat hingga sesenggukan.


"Sayang..!! aku menyuruhmu untuk berhenti menangis, tapi kenapa tangisan mu malah semakin menjadi?!" tanya Jhon lembut namun masih sedikit kesal.


Mendengar ucapan Jhon, Dinda segera melepaskan pelukannya seraya tertawa kecil. Lalu Dinda mengecup lembut pipi Jhon, "Cup" "Makasih Jhon.. kamu baik banget sama aku.." ucap Dinda.


Jhon tersenyum kecil sambil menatap Dinda, "hey! dengarkan aku, kamu tidak perlu berkata seperti itu.. yang ada diperut kamu itu anak kita, okeey?! ucap Jhon lembut sambil memegang lembut pipi Dinda, dan ditanggapi Dinda dengan anggukan kepala.'


Setelah itu, Jhon kembali menjatuhkan kepala Dinda di dada bidang miliknya.


Mereka kembali fokus menikmati suasana jalanan dari dalam mobil yang dikendarai mereka.


******


Ditempat lain ada Mario yang masih saja mencari Dinda ke sana kemari, dia sangat kecewa karna tidak berhasil menemukan Adinda.


"Kita mau mencarinya kemana lagi Tuan?" tanya Yudha.


"Cari saja sampai ketemu." ketus Mario.


"Tapi kita mau mencarinya kemana lagi Tuan?! kita sudah ke rumah sakit, tapi Nona Adinda juga tidak ada di sana.. bahkan kita sudah berkeliling mencari kemana pun tetap tidak ketemu..!" ucap Yudha karna merasa sudah sangat lelah.


"Bagaimana kalau kita melanjutkan pencarian nanti malam saja Tuan! mungkin Nona Adinda sudah berada di rumah sakit." lanjut Yudha.


Mario terdiam sejenak mempertimbangkan ucapan Yudha.


"Baiklah, tapi antar kan aku ke hotel saja, aku gak mau pulang ke rumah." jawab Mario.

__ADS_1


Yudha pun akhirnya mengarahkan kendaraannya untuk mengantarkan Mario ke sebuah hotel.


*****


Sementara di rumah Mario, ada Karin yang sedang fokus sama cerita mama tentang hubungan Mario dan Dinda.


"Ooh.. jadi karna itu mama biarin Dinda pergi..?!" tanya Karin setelah mama mengakhiri ceritanya.


"Iya.. menurut mama wajar kalau dia menolak untuk menikah, perempuan mana Rin.. yang sudi menikah sama laki-laki yang sudah bersikap kasar padanya?!" ucap Mama.


"Iya juga sih Ma.. tapi aku kasian juga sama Mario." jawab Karin.


Mama menghela nafas kasar, "itu dijadiin pelajaran aja buat adikmu Rin.. biar dia bisa belajar menghargai perempuan yang mencintainya." jelas Mama yang mengakhiri obrolannya bersama Karin, sembari berlalu pergi meninggalkan Karin di ruang tengah.


Sementara Karin, dia masih saja duduk bersantai di sofa sembari mengingat apa yang akan terjadi pada adiknya nanti.


*****


Di rumah sakit, ada Dinda dan Jhon yang baru saja tiba, karna Jhon ingin menemui ibu Dinda terlebih dahulu sebelum dia kembali ke rumah.


"Sus, apa kita boleh menemui ibuk?" tanya Dinda dengan salah satu suster di sana.


"Tidak Nona! sebaiknya besok saja anda menemuinya, ibu anda harus istirahat tidak boleh diganggu." jawab suster melarang.


Terlihat raut wajah kecewa dari Dinda, namun Jhon cukup mengerti dengan kondisi ibu Dinda yang sedang sakit.


"Sudahlah.. kau jangan khawatir, besok pagi kita kembali lagi okey?!" ucap Jhon sembari merangkul pundak Dinda.


Jhon menatap Dinda, "tapi kau harus istirahat, harus makan dan minum obat." ucap Jhon.


Dinda menghela nafas, "aku bisa sendiri Jhon.. kau jangan khawatir, aku akan makan dan minum obat." jawab Dinda.


Jhon menghela nafas kasar, sembari mengusap-usap wajahnya.


"Baiklah, tapi kau tidak boleh tidur disini. Kau harus pulang harus istirahat, nanti aku akan menjemputmu." ucap Jhon.


Dinda tersenyum kecil, "iyaa.. aku akan pulang, tapi ke rumahku bukan rumah mu." ucap Dinda sedikit menggoda, dan membuat bola mata Jhon membulat.


"No.. aku gak akan mengizinkan mu pulang ke rumahmu, kau harus ikut pulang ke rumahku." jawab Jhon sedikit memaksa.


Sementara Dinda, ia tertawa kecil menanggapi ucapan Jhon.


Kemudian Jhon meraih dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang kertas merah kepada Dinda.


"Ini untukmu, belilah apa yang ingin kau makan." ucap Jhon sambil menyodorkan uang itu kepada Dinda.


"Jangan.. aku masih punya uang kok." jawab Dinda menolak.


"Jangan menolak, ini untuk anakku yang ada di perutmu." ucap Jhon yang tidak mau mendengar penolakan Dinda.


Dinda menghela nafas kasar, "baiklah kalau kau memaksa." jawab Dinda sembari meraih uang itu dari tangan Jhon.

__ADS_1


Jhon tersenyum lebar, "aku pulang dulu ya.. cup" ucap Jhon lagi seraya mengecup lembut pucuk kepala Dinda, dan dibalas Dinda dengan anggukan kepala.


Jhon pun akhirnya berlalu pergi meninggalkan Dinda di rumah sakit.


Tapi sebelum Jhon masuk ke dalam mobilnya, Jhon terlebih dahulu menghubungi salah satu anak buahnya bernama zack.


Tut.. tut.. tut.. (terhubung)


"Hallo bos."


"Zack, cepat kemari dan bawa dua orang bersamamu."


"Lokasi bos."


"Di rumah sakit XXX"


"Oke siap bos."


Tut tut tut.. (sambungan terputus)


"Bagaimana bos? apa kita lanjut sekarang?" tanya salah satu anak buah Jhon bernama Erik.


"Kita tunggu Zack." jawab Jhon.


****


Tak lama kemudian, Zack pun akhirnya datang.


Tampak Zack bersama ke tiga rekannya turun dari mobil dan menghampiri Jhon.


"Bos, apa kerjakan ku?" tanya Zack.


"Awasi calon istriku, pastikan dia baik-baik saja. Kalau ada yang mencurigakan, segera hubungi aku." ucap Jhon memberi perintah.


Mendengar ucapan Jhon, Zack mengerutkan kedua alisnya sembari berkata, "sejak kapan bos ingin menikahi gadis?bukannya selama ini bos hanya bermain-main dengan mereka?" tanya Zack.


Sontak saja hal itu membuat Jhon kesal.


"Dengar, aku tidak membayar mu untuk bertanya. Kerjakan perintahku atau pergi dari hadapanku." ucap Jhon dengan nada sedikit tinggi sembari menggenggam kerah baju Zack lalu melepaskannya kembali.


Zack pun terdiam tak berani melawan.


"Baik bos." ucap ketiga anak buahnya secara bersamaan.


"Satu lagi, jika ada laki-laki yang bernama Mario menemuinya, beri dia pelajaran. Aku ingin dia tau siapa Jhon." ucap Jhon lagi diakhiri dengan senyum yang menyungging.


"Siap bos."


Jhon pun akhirnya berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit, sementara Zack dan dua orang rekannya mulai berjaga di sekitar rumah sakit.


Bersambung epd 41

__ADS_1


__ADS_2