
"Jhon! kenapa kau bengong? apa yang kau pikirkan?" tanya Dinda saat melihat reaksi Jhon.
"Tidak ada sayang, lanjutkan makan mu, kau harus segera minum obat." jawab Jhon, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Dinda pun segera melahap kembali makanannya dan segera menghabiskannya.
Sementara Jhon, hatinya jadi tidak menentu, ada perasaan takut dalam hatinya, takut akan terjadi sesuatu dengan Dinda.
Jhon terus menatap Dinda, dengan pertanyaan dalam benak nya.
"Apa maksud mimpi itu? apa yang akan terjadi pada nya?" gumam Jhon dalam hati.
"Jhon.. habis kan makan mu, jangan termenung terus.." ucap Dinda membuyarkan pikiran Jhon.
Jhon pun melanjutkan kembali, menghabiskan makanannya dengan perlahan.
****
Setelah selesai makan, Dinda lanjut meminum obatnya dan langsung memilih untuk beristirahat di sofa, lebih tepatnya di ruang tv dengan di temani oleh Jhon.
Dinda duduk sambil memeluk tubuh Jhon dari samping, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Jhon.
Begitu pula dengan Jhon yang memeluk tubuh Dinda.
"Sebentar lagi aku ke markas, kau istirahat di kamar saja ya sayang." ucap Jhon lembut. "Kita fitting bajunya nanti sore saja, setelah aku pulang." lanjut Jhon.
Dinda mengangkat sedikit wajahnya, mengarahkan pandangannya menatap Jhon.
"Kenapa kau mau meninggalkan ku Jhon.. aku tidak ingin sendiri. Aku boleh ikut dengan mu?!"
"Jangan sayang, di sana banyak laki-laki. Aku tidak akan lama, cuma sebentar saja. Ada yang harus aku kerjakan." jawab Jhon.
Dinda memasang raut wajah cemberut, sehingga membuat Jhon semakin gemas pada nya.
Jhon mencium lembut bibir Dinda, namun seketika Dinda membalasnya dengan ciuman panas.
Dinda semakin agresif, tidak seperti biasanya.
Ia mengubah posisinya menjadi duduk di pangkuan Jhon, dengan menghadapkan tubuhnya berhadapan dengan Jhon.
Dia juga memposisikan kedua tangannya merangkul pundak Jhon.
Dinda ******* bibir Jhon, dan memainkan lidahnya dengan lincah, menyapu setiap rongga mulut Jhon.
Sementara Jhon, dia merasa tertantang dengan ciuman Dinda, dia mendekap tubuh ramping Dinda, sangat erat hingga tak ada celah diantara mereka.
Setelah berapa lama Dinda dan Jhon menikmati ciuman panas mereka, Dinda menyudahinya dengan nafas yang tak beraturan, debaran jantung yang sangat kuat, desiran darah yang memuncak hingga membuat wajah memerah, begitu juga dengan Jhon.
Dinda dan Jhon saling menatap lekat, kedua bola mata mereka saling beradu.
Jhon tersenyum kecil, "kenapa berhenti?" tanyanya pelan, sangat pelan.
Dinda menelan saliva nya, lalu mengecup lembut kening Jhon sehingga membuat Jhon memejamkan mata sejenak.
Setelah sudah, mereka kembali saling menatap lekat. Dinda mengatur nafasnya dan menelan saliva nya.
"Aku_ aku jatuh cinta pada mu Jhon." ucap Dinda pelan.
Mendengar pengakuan dari Dinda, senyum Jhon mengembang, merasa senang bahkan sangat bahagia.
"Apa? coba ulangi sekali lagi." ucap Jhon menggoda, ingin Dinda mengulanginya lagi.
Dinda menghembuskan nafas panjang, kemudian menelan saliva nya, "aku cinta kamu Jhon." ucap nya seraya tersenyum lebar.
"Aku juga mencintai mu sayang, sangat mencintai mu." balas Jhon.
Dan akhirnya, Jhon kembali mencium lembut bibir Dinda, begitu lama sehingga mereka tidak mengetahui kehadiran Zack.
"Astagaaa.. apa mereka tidak punya tempat lain untuk bercumbu?" gumam Zack dalam hati.
__ADS_1
"Ekhem" suara Zack menghentikan ciuman mereka.
Seketika pandangan mereka mengarah kepada Zack yang sudah berdiri menatap mereka dengan tersenyum lebar diiringi dengan tawa kecil milik Zack.
Dengan cepat Dinda mengubah posisinya turun dari pangkuan Jhon menjadi berdiri menatap Zack.
"Zack... sejak kapan kau ada disini?" tanya Dinda terkejut, seraya mendekat kearah Zack.
"Mana aku tau kalau kalian disini sedang berciuman." ucap Zack, masih diiringi dengan tawa kecilnya.
"Iiih, mengganggu saja. Awas kamu Zack, kalau nanti kau punya kekasih, aku tidak segan-segan memukul mu jika kau berani menciumnya di depan ku." ucap Dinda kesal, sembari menunjukkan raut wajah cemberut.
Jhon pun tersenyum lebar, melihat Dinda yang kesal dengan kehadiran Zack.
Jhon beranjak dari duduknya, menghampiri Dinda dan memeluk tubuh Dinda dari belakang.
Jhon semakin menunjukkan kemesraannya di depan Zack.
"Ada apa kau kemari?" tanya Jhon kepada Zack seraya meletakkan dagunya di pundak Dinda.
"Leo sudah menunggu mu di markas bos." jawab Zack.
"Baiklah, sebentar lagi aku ke sana." sahut Jhon.
Zack pun pergi dari hadapan Jhon dan Dinda.
"Sayang! aku pergi dulu ya.." ucap Jhon lembut, sembari merenggangkan sedikit pelukannya.
Dinda membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Jhon.
"Kau tidak lama kan? aku bosan di rumah.." ucap Dinda, manja.
"Iyaa.. aku tidak akan lama." sahut Jhon dan langsung melepaskan pelukannya.
Jhon mengeluarkan dompet yang ada di dalam saku celananya.
"Ini untuk mu." ucap Jhon sembari memberikan credit card kepada Dinda.
Jhon tersenyum menanggapi.
"Ambil saja sayang.. ini untuk mu, jika kau bosan di rumah, pergilah berbelanja. Belilah apa pun yang kau butuhkan, tapi jangan pergi sendirian, aku akan menyuruh Erik untuk menemani mu." ucap Jhon.
Dinda terdiam, sedikit berat untuk menerima pemberian Jhon, karna baginya dia sudah cukup mewah dengan fasilitas yang diberikan oleh Jhon.
"Sudah.. jangan menolak, ini hak mu." ucap Jhon seraya memberikan credit card tersebut ke tangan Dinda.
"Tapi Jhon..!!"
"Sudahlah sayang.. aku pergi dulu, ingat ya.. nanti sore kita fitting baju." sela Jhon sembari berjalan meninggalkan Dinda.
"Haaahh" Dinda menghela nafas panjang.
"Terbuat dari apa hati mu Jhon..?! kenapa kau baik sekali pada ku." gumam Dinda pelan.
Dinda pun masuk ke dalam kamar nya, sementara Jhon pergi menuju markasnya bersama Zack.
Zack melajukan kendaraannya dengan cepat, sehingga tak butuh waktu lama untuk sampai di markas Jhon.
Zack masuk ke area markas yang dikelilingi dengan pagar tembok yang tinggi.
Setelah berada di halaman, Zack menghentikan kendaraannya, Jhon pun segera turun dari mobilnya.
Suasana markas yang sudah tampak ramai.
Jhon masuk, disusul oleh Zack yang menjurus di belakang.
"Hallo Jhon, sudah berapa kali aku ke sini tapi kau selalu tidak ada." sambut teman Jhon bernama Leo.
Jhon menyunggingkan senyum tipis nya.
__ADS_1
"Beberapa hari ini aku sangat sibuk." jawab Jhon seraya berjalan menghampiri sofa dan mendudukkan bokongnya di sana.
"Tentu saja kau sibuk Jhon, aku dengar kau akan segera menikah." sahut Leo. "Apa benar begitu?" lanjutnya bertanya.
"Ya." sahut Jhon singkat, seraya tersenyum lebar.
"Aaah kau payah, kenapa kau tidak mengenalkannya pada ku? aku juga ingin tau seperti apa wanita yang sudah memikat hati seorang Jhon." ucap Leo.
"Kau juga akan tau saat pesta perkenalannya nanti." sahut Jhon. "Aku akan buat pesta untuk memperkenalkannya sebagai calon istriku." lanjutnya.
"Benarkah begitu?! kapan rencananya?" tanya Leo.
"Secepatnya, sebelum pesta pernikahan ku." sahut Jhon.
"Baiklah.. aku harap kau tidak melupakan ku Jhon, aku akan datang jika kau sudah menentukan tanggalnya." jawab Leo.
"Bagaimana bisa aku melupakan mu, aku akan memberitahu semua rekan-rekan ku, tanpa terkecuali." sahut Jhon diakhiri dengan senyum mengembang.
Leo sebagai teman pun ikut senang, karna Jhon sudah menemukan belahan jiwanya.
Setelah lama berbincang, Leo menyudahi obrolannya.
"Tadinya aku ke sini ingin mengajak mu main bilyar, tapi sepertinya kau tidak fokus untuk hal itu. Lain kali saja lah, jika kau sudah tidak sibuk lagi." ucap Leo menyudahi.
"Ya.. kau benar, aku masih sibuk dengan wanita ku." sahut Jhon di akhiri dengan tawa kecilnya bersamaan dengan Leo.
"Kalau begitu sampai ketemu lagi Jhon, jangan lupa beritahu aku." ucap Leo sembari berjalan meninggalkan Jhon.
"Oke.. pasti." sahut Jhon seraya mengantar Leo menuju ke luar.
*****
Sementara di rumah, ada Dinda yang masih setia menunggu Jhon.
Dinda memilih untuk mengobrol dengan seorang art di dapur, dari pada dia harus pergi keluar tanpa Jhon.
"Bi! saya boleh tanya sesuatu ngga?" izin Dinda.
"Iya Nyonya! silahkan." sahut bibi.
"Bi! jangan panggil saya Nyonya, panggil saja saya Dinda." ucap Dinda sembari tersenyum.
"Tidak Nyonya.. Nyonya kan sebentar lagi akan menikah dengan Tuan, masa bibi harus panggil nama sih? gak sopan nantinya Nyonya.." jawab bibi.
Dinda tertawa kecil mendengar ucapan bibi.
"Ya sudah, terserah bibi saja."
"Bi! sebelum saya tinggal di sini, apa pernah Jhon membawa gadis lain ke rumah ini?" tanya Dinda pelan.
"uuu sering Nyonya.. ada beberapa orang yang pernah kemari, bibi sampai tidak hafal." cetus bibi. "ups maaf Nyonya.. keceplosan." lanjut bibi dengan cepat menutup mulutnya.
Dinda tersenyum paksa mendengar pengakuan dari bibi, "tidak apa-apa bi.. saya tidak akan mengadukannya pada Jhon." ucap Dinda.
"Kalau boleh tau, apa yang dilakukan Jhon pada mereka?" tanya Dinda lagi, sedikit kecewa.
"Waaah.. kalau itu bibi tidak tau pastinya Nyonya.. sebaiknya anda tanya kan pada yang lain saja, mungkin mereka lebih tau dari bibi."
"Ya sudah kalau begitu.. terima kasih ya bi! sudah mau menemani saya mengobrol." ucap Dinda.
"Sama-sama Nyonya!"
Dinda pun meninggalkan bibi yang tampak ketakutan.
Dia melangkah menjauh dari dapur dengan raut wajah kecewa, hatinya terasa sakit saat membayangkan Jhon bersama wanita lain.
Dinda masuk ke dalam kamarnya dan menangis di sana.
Bersambung epd 53
__ADS_1
Terima kasih semuanya! sudah mau membaca dan memberi dukungan untuk karya receh ku ini, semoga kalian suka.