
Beberapa saat kemudian, Dinda tersadar dan membuka matanya perlahan.
"auuhh dimana aku?" ucapnya pelan seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Apa kau tidak mengenali tempat ini?!" tanya seseorang.
Dinda yang mendengar ada suara orang lain, segera ia mengalihkan pandangannya.
Taraaaa 😂😂😂
Dinda mengerutkan kedua alisnya, sembari mengedip-kedip kan kedua bola matanya untuk memastikan lebih jelas pandangannya.
Setelah dia dapat memastikan bahwa dia tak salah melihat, dia sungguh terkejut sembari mengubah posisinya menjadi duduk di kasur.
"Jhon...!!" ucap Dinda yang melihat Jhon sedang berdiri menatapnya dengan tersenyum manis.
"Iya, ini aku." sahut Jhon.
"Ke_ kenapa aku bisa ada disini? dan siapa yang membawaku kemari John?!" tanya Dinda yang tak mengerti jika dia sudah berada dikamar Jhon.
Jhon mendekat seraya mendudukkan bokongnya di kasur, lebih tepatnya di depan Dinda namun jarak keduanya tak terlalu jauh, sehingga mereka bisa bersentuhan.
Jhon menatap lembut bola mata Dinda.
"Kenapa kau bisa seperti ini hem?! apa yang sudah terjadi dengan mu?" tanya Jhon lembut sembari memegangi dagu milik Dinda.
"A_ aku_ aku menghindari seseorang." jawab Dinda dengan terbata-bata.
"Siapa?" tanya Jhon seraya mengerutkan kedua alis tebalnya.
"Mario." jawab Dinda lemah.
"Siapa Mario?" tanya Jhon lagi.
"Di_ dia mantan atasanku waktu aku masih bekerja dikantornya." jawab Dinda.
"Lalu?! kenapa kau harus menghindarinya?" tanya Jhon lagi, masih belum mengerti.
"Dulu kami saling mencintai, dan dia menginginkan aku kembali padanya." jawab Dinda lemah dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Jhon yang mendengar ucapan Dinda pun tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Hihihihi.. kau terlalu polos gadis manis! kalau dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkan mu dan tidak akan membiarkan mu menjual dirimu padaku." ucap Jhon.
"Sudahlah, lupakan dia." ucap Jhon lagi sembari meraih tubuh Dinda dan menggendongnya.
Sontak saja, hal itu membuat Dinda terkejut.
"Jhon.. turunkan aku, aku bisa jalan sendiri Jhon..!!" ucap Dinda sedikit berontak.
"Sudah diam lah, tubuhmu sangat lemah. Aku tidak akan membiarkanmu jalan sendiri." jawab Jhon yang tak memperdulikan penolakan Dinda.
Jhon terus saja melangkah keluar dari kamar dengan menggendong tubuh Dinda.
"Jhon, jangan seperti ini.. bagaimana jika anak buah mu melihat kita?" ucap Dinda masih mencoba berontak.
Jhon menghentikan langkahnya sembari menatap Dinda.
"Kenapa kau harus takut pada mereka? justru merekalah yang harus takut padaku." ucap Jhon sembari melangkahkan kakinya kembali.
****
__ADS_1
Setelah mereka berada diluar kamar, tampak ada beberapa orang anak buah Jhon yang bertubuh kekar sedang menatap mereka.
"Bos, mau dibawa kemana?" tanya salah satu anak buah Jhon.
"Antar aku ke rumah sakit, aku ingin membawanya ke sana." jawab Jhon seraya terus melangkah.
"Baik bos."
*****
Sementara Dinda, dia merangkul kan kedua tangannya dileher Jhon seraya menatap Jhon dengan begitu banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Kenapa dia melakukan ini padaku?" tanya Dinda dalam hati.
Setelah sampai di mobil milik Jhon, anak buahnya segera membukakan pintu untuk Jhon.
Jhon pun segera masuk kedalam mobil sembari memasukkan terlebih dahulu tubuh Dinda di kursi bagian tengah, dan disusul dengan Jhon yang duduk di samping Dinda.
Setelah mereka sudah berada didalam mobil, anak buah Jhon pun segera menjalankan kendaraannya.
Dinda menatap Jhon seraya berkata, "Jhon! kenapa kita harus ke rumah sakit?" tanya Dinda.
Jhon mengalihkan pandangannya menatap Dinda seraya meraih kepala Dinda dan menyandarkannya di pundak miliknya.
"Kita harus memeriksakan kondisi mu, kau sangat lemah. Tadi anak buah ku yang menemukan mu pingsan dipinggir jalan." ucap Jhon.
Dinda mengarahkan pandangannya menatap raut wajah Jhon dengan mengangkat sedikit kepalanya, begitu pula dengan Jhon yang menundukkan sedikit kepalanya.
Kini bola mata mereka saling beradu begitu dekat, sehingga tak ada ruang kosong diantara mereka.
Tatapan Jhon semakin dekat, lebih dekat, dan akhirnya Jhon mendaratkan sebuah ciuman lembut dibibir mungil Dinda.
Setelah mereka merasakan kesulitan bernafas, akhirnya Jhon menyudahi ciumannya dengan nafas yang tak beraturan.
Dinda tertunduk menahan malu, raut wajahnya memerah kemudian mengalihkan pandangannya kearah luar jendela.
Sementara Jhon menyandarkan kepalanya di kursi, sembari memejamkan matanya sejenak.
"Apa yang terjadi padaku? kenapa perasaanku sangat berbeda?" tanya Jhon dalam benaknya.
Jhon kembali membuka matanya dan mengarahkan pandangannya ke arah Dinda seraya tersenyum kecil.
Setelah mereka sampai disebuah rumah sakit yang berbeda dari rumah sakit tempat Ibu Dinda dirawat.
Anak buah Jhon segera membukakan pintu, dan Jhon pun segera keluar dengan menggendong kembali tubuh Dinda.
Dinda pun akhirnya dibawa keruang Dokter untuk diperiksa, kemudian seorang Dokter wanita menghampiri Jhon dan Dinda.
Dokter itu tersenyum ke arah Dinda yang sudah terbaring, ditemani oleh Jhon yang berdiri di samping Adinda.
"Keluhannya apa bu?! apa yang anda rasakan saat ini?" tanya Dokter lembut kepada Dinda.
"Saya merasakan sangat mual sekali Dokter, kepala saya pusing." jawab Dinda.
"Baiklah, kita periksa dulu ya.." ucap Dokter lembut sembari memeriksa detak jantung Dinda.
Setelah memeriksakan detak jantung Dinda, Dokter itu pun tersenyum lebar.
Dinda dan Jhon yang melihat reaksi sang Dokter, mereka mengerutkan kedua alisnya seraya saling melempar pandang.
Kemudian Dokter melanjutkan kembali pemeriksaannya dengan membuka sedikit baju Dinda di bagian perut.
__ADS_1
Jhon yang melihat, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Permisi ya bu.. saya akan mengoleskan jell ini, rasanya akan sedikit dingin." ucap Dokter seraya mengoleskannya kebagian perut Dinda.
Setelah itu Dokter mengarahkan sebuah alat ke perut Dinda sembari menggerak-gerakkan pelan, mencari sesuatu yang terlihat di layar monitor.
Setelah di dapati, Dokter tersenyum mengembang kearah Jhon dan Dinda.
Sementara Dinda, dia mengerutkan kedua alisnya tanda tak mengerti.
"Selamat ya pak, istri anda hamil."
"Apaaa?hamil..?!" Dinda benar-benar terkejut mendengar pernyataan Dokter.
Dinda menangis, sehingga membuat Jhon memeluk tubuhnya seraya mendekap kan wajah Dinda ke dada bidang miliknya.
"ssstt.. tidak perlu menangis, aku akan bertanggung jawab, cup" ucap Jhon pelan seraya mengecup lembut pucuk kepala Dinda.
"Mari ikut saya pak!" ucap Dokter mengakhiri pemerikasaan nya sembari melangkah menuju mejanya.
Jhon pun menghentikan pelukannya, "sebentar sayang, aku bicara dengan Dokter dulu." ucap Jhon.
Jhon menghampiri Dokter dan duduk berhadapan dengan Dokter.
"Dok! bagaimana bisa istri saya hamil? kami belum satu bulan melakukannya, dan itu cuma dua kali Dok." ucap Jhon.
Dokter tersenyum menanggapi, "apa kalian pengantin baru?" tanya Dokter.
"I_ iya Dok, kami pengantin baru." jawab Jhon berbohong.
Dokter kembali tersenyum, "itu bisa saja terjadi pak, saat bapak melakukannya ibu dalam masa kesuburan setelah empat belas hari menstruasi." jawab Dokter menjelaskan. "Dan usia kandungan ibu saat ini masih sangat muda." lanjut Dokter.
Jhon tersenyum menanggapi penjelasan Dokter, "baik Dok, saya mengerti." ucap Jhon, senang.
"Baik pak, usahakan untuk menjaga pola makan ibu, dan jangan sampai terlambat makan. Usahakan juga jangan terlalu aktif dulu, harus banyak istirahat. Karena kondisi kehamilan yang masih sangat itu akan lebih rentan mengalami kontraksi bahkan jika salah sedikit saja akan membahayakan janin yang ada." ucap Dokter.
"Baik Dok, terima kasih." ucap Jhon.
Setelah berbincang, Dokter itu pun memberi resep obat dan vitamin untuk Dinda.
"Ini pak resep obatnya, silahkan ditebus di apotik. Pastikan istri anda meminum obatnya, jangan sampai dibuang." ucap Dokter sedikit bercanda.
"Baik Dok, Dokter tenang saja.. dia tidak akan berani membuangnya." jawab Jhon diakhiri dengan tawa kecil.
"Baik Dokter, kalau begitu kami permisi dulu. Sekali lagi terima kasih." ucap Jhon seraya mengulurkan tangan kearah Dokter.
"Sama-sama pak." jawab Dokter sembari menyalami tangan Jhon.
Setelah itu Jhon pun menghampiri Dinda.
"Ayo sayang, kita pulang." Ajak Jhon seraya mengusap lembut air mata Dinda. "Sudahlah, jangan menangis, ayo kita pulang." lanjutnya.
Dinda pun menurut dan langsung beranjak dari pembaringannya.
Akhirnya Jhon dan Dinda pergi keluar dari ruangan Dokter.
Jhon merangkul pundak Dinda menuju mobilnya.
Setelah sampai, Jhon segera membukakan pintu mobil untuk Dinda membiarkan Dinda masuk terlebih dahulu disusul oleh Jhon yang masuk setelah Dinda.
Bersambung epd 40
__ADS_1