SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 25


__ADS_3

Diruang Direktur Utama


Mario menatap tajam ke arah Dinda dan Ane sembari berdiri santai di depan meja kerjanya dengan memposisikan kedua tangannya menyilang di bagian perut.


Sedangkan Dinda dan Ane berdiri berhadapan dengan Mario sembari menundukkan kepala.


Aldo dan Yudha bersantai duduk di sofa sembari memandang ke arah Dinda dan Ane.


"Kalian tau, kesalahan kalian apa?" tanya Mario.


Dinda dan Ane terdiam tak berani menjawab, hanya menggigit sedikit bibir bawah mereka masing-masing.


"Kenapa diam? ayo jawab." ucap Mario lagi.


Dinda menoleh sedikit, menatap Ane. Begitu juga sebaliknya.


Dinda tau saat ini Ane merasa ketakutan, terlihat jelas keringat dingin bercucuran diwajahnya.


"Saya yang salah pak." ucap Dinda dengan lantang, memberanikan diri.


Mario tersenyum menyungging, "kesalahan kamu apa? coba jelaskan." tanya Mario.


Dinda menatap Mario sembari menarik nafas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan.


Dinda bingung harus menjawab apa, karna yang sebenarnya terjadi adalah kesalahan saat mereka duduk bersantai disaat jam kerja.


Merasa Dinda tidak menjelaskan kesalahannya, Mario angkat bicara.


Lain kali saya tidak mau ada karyawan yang mangkir disaat jam kerja, paham?


"Paham pak!" jawab Dinda dan Ane bersamaan.


"Maaf pak, tadi kami gak sengaja duduk di sana, saya meminta Ane untuk temenin saya ke supermarket buat beli cemilan." ucap Dinda menjelaskan. "Perut saya laper banget pak, tadi pagi gak sarapan." lanjutnya berbohong.


Ane menatap Dinda yang menutupi kebohongannya, "maafin gue ya Din.." ucap Ane pelan.


Dinda yang mendengar ucapan Ane hanya membalas dengan senyuman kecil.


Sementara Mario merasa tak tega mendengarnya, dia tidak mengetahui jika Dinda menutupi kesalahan Ane.


"Oke, kali ini saya maafkan. Tapi jangan sekali-kali kalian mengulanginya lagi. Kalian mengerti?" ucap Mario.


"Mengerti pak.." jawab Ane dan Dinda bersamaan.


"Kalau gitu kita boleh keluar sekarang pak?" tanya Dinda.


"Kamu boleh keluar sekarang." jawab Mario sembari menunjuk ke arah Ane.


"Dan kamu, tetap disini." lanjut Mario kepada Dinda.


Mendengar itu, Ane tersenyum menyungging ke arah Dinda, seakan mengerti maksud Mario.


Sementara Dinda terlihat kesal, " aah menyebalkan." gumam Dinda dalam hati.

__ADS_1


"Gua duluan ya.." ucap Ane pelan ke sisi telinga Dinda, dan berlalu pergi meninggalkan Dinda.


Dinda mengalihkan pandangannya ke arah Yudha dan Aldo yang juga beranjak dari duduk mereka, hendak meninggalkan Dinda dan Mario berdua saja.


"Yo, gua balik keruangan gua." ucap Aldo.


"Saya ikut Tuan." ucap Yudha.


"Okee, siip." ucap Mario dengan mengacungkan jempolnya.


Kini hanya ada Dinda dan Mario dalam satu ruangan.


Dinda menatap jengah ke arah Mario, sedangkan Mario tersenyum licik ke arah Dinda.


"Kenapa sih, aku tu kalo kesini selalu aja kamu tahan. Kerjaan aku tuh numpuk, kapan selesainya kalo disini terus." ucap Dinda jengkel sembari memasang raut wajah cemberut.


Mario mendekat ke arah Dinda semakin dekat.


Lalu Mario menarik tubuh Dinda dan merangkul pinggang ramping Dinda.


Dinda terdiam menatap raut wajah Mario, desiran darahnya semakin kuat. "Kamu mau apa.." tanya Dinda dengan suara pelan, seperti berbisik.


"Aku mau kamu..." ucap Mario pelan, terdengar seperti desahan.


"Mau apa..? tanya Dinda dengan nada masih sama.


" Aku mau kamu makan... nanti kamu sakit." ucap Mario sembari tertawa kecil.


"Hahahahahaaa.." Mario tertawa lebar. "Pasti pikiran kamu tuh udah kemana-mana, iya kan?" ucap Mario sembari menertawakan Dinda.


Dinda semakin kesal, "iiihh enak aja, kamu tuh yang pikirannya udah kemana-mana." ucap Dinda jengkel.


Mario kembali menatap Dinda dengan tatapan yang sangat dalam, sehingga membuat Dinda salah tingkah.


"Kamu ngapain lihat aku kaya gitu?" tanya Dinda merasa tak nyaman dengan tatapan Mario.


Mario diam tak menjawab, sembari menuntun tubuh Dinda ke arah sofa.


Jantung Dinda semakin berdetak kencang, "kamu mau ngapain?" tanya Dinda yang membuat pikiran nya semakin kacau.


Mario mendorong sedikit tubuh Dinda hingga terbaring di sofa, lalu Mario menin*ih tubuh Dinda.


Mario mencium bibir Dinda dengan beringas, hingga Dinda kesulitan untuk bernafas.


Ciuman Mario berlanjut ke leher jenjang Dinda sehingga membuat suara desahan pertama keluar dari mulut Dinda, "aachhhh"


Mario mulai membuka satu persatu kancing kemeja Dinda, satu kancing pertama berhasil terbuka.


Detak jantung ke duanya semakin kuat dan nafas yang tak beraturan diantara keduanya.


Mario semakin beringas memainkan lidahnya dileher Dinda, membuat tubuh Dinda semakin menggeliat.


Kancing kedua berhasil dibuka, Dinda meremas pundak Mario saat Mario mulai memainkan lidahnya di area dada milik Dinda.

__ADS_1


"Mario.. jangan.. ssssttt aaahhhh" ucap Dinda seraya mendesah.


Namun Mario semakin beringas mendengar suara desahan Dinda.


Saat kancing ketiga hendak dibuka, tiba-tiba


Tok tok tok


"Tuan, ada telpon untuk Tuan."


Yudha menggagalkan aksi Mario, tentu saja membuat Mario sangat kesal.


"Ssit"


Mario beranjak dari posisinya, lalu menyuruh Dinda untuk segera menyatukan kembali kancing kemejanya.


"Kancing kan bajumu." ucap Mario kepada Dinda.


Dinda pun segera menyatukan kembali kancing kemejanya yang terbuka.


Setelah Dinda selesai menyatukan kancing bajunya, Mario pun segera membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Mario kepada Yudha yang sudah berdiri didepan pintu.


Yudha tersenyum menyungging saat matanya tertuju kepada Dinda yang terlihat acak-acakan.


Mario mengerutkan kedua alisnya, sembari menoleh ke arah Dinda sesuai dengan arahan bola mata Yudha.


Lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Yudha, "kau ini, mengganggu saja." ucap Mario jengkel.


Yudha tersenyum ke arah Mario, "ada telpon dari Mr Carlos Tuan.." ucap Yudha sembari memberikan ponselnya kepada Mario.


Sementara Dinda, dia segera beranjak dari duduknya.


Rona merah terpancar dari wajahnya, menahan malu.


"Saya permisi." ucap Dinda seraya tertunduk.


Dinda keluar dari ruangan Mario tanpa memandang ke arah Yudha ataupun Mario.


"Nikahi saja secepatnya Tuan, agar tidak menjadi dosa." ucap Yudha sembari tersenyum lebar kepada Mario.


"Dia belum siap Yud." ucap Mario datar.


Yudha mengerutkan kedua alis tebalnya, "kenapa belum siap? bukankah itu akan lebih baik?" tanya Yudha tak mengerti.


"Ibunya sedang sakit, dia tidak mau membagi waktunya denganku." ucap Mario, menjelaskan.


"Separah itukah penyakit ibunya.. sehingga dia tidak mau membagi waktunya dengan anda Tuan?" tanya Yudha lagi.


Mario menghela nafas panjang, "entahlah" jawab Mario singkat. "Sudahlah Yud, jangan banyak bertanya, kepalaku pusing." ucap Mario sembari menatap layar ponsel Yudha, bermaksud menghubungi Mr Carlos kembali.


Bersambung epd 26

__ADS_1


__ADS_2