SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 36


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya menyudahi pelukan dan tangisan mereka.


"Ne'! maaf ya.. gua harus balik ke rumah sakit, gua mau nungguin kabar dari Dokter." ucap Dinda.


Ane tersenyum, "gua ikut ya.. gua mau lihat ibu lo juga." pinta Ane.


Dinda membalas senyum Ane.


"Iya boleh.." sahut Dinda.


Mereka pun beranjak dari kasur, dan Dinda segera meraih tas kecil miliknya.


"Yuk, kita berangkat sekarang." ajak Dinda, sembari keluar kamar mendahului Ane.


Ane pun segera menjurus di belakang, tapi sebelumnya Ane menghentikan rekamannya terlebih.


******


Sementara di kantor, ada Mario yang sedang menangis di dalam ruangannya.


Mario terduduk lemah di sofa, ditemani oleh Aldo dan asisten setianya.


"Udahlah Yo.. gak ada gunanya lo nangis." ucap Aldo.


"Makanya.. jangan suka ngambil keputusan dengan emosi, akhirnya jadi gini kan?! yang rugi lo sendiri.." lanjut Aldo menasehati.


"Sebaiknya biarkan Nona Adinda tenang dulu Tuan..! jangan terlalu dipaksa." ucap Yudha yang juga ikut bersuara.


"Yup, gua setuju." sela Aldo.


Mario menghela nafas panjang, sembari beranjak dari duduknya.


"Aku gak sanggup kalo harus kehilangan dia selamanya." ucap Mario dengan nada melemah.


Aldo beranjak dari duduknya. "SudahlahYo.. mending lo pulang sekarang, lo istirahat aja dulu.. tenangin diri lo." ucap Aldo sembari menepuk-nepuk pelan pundak Mario.


"Yud, antar dia pulang, aku mau keruangan ku." ucap Aldo kepada Yudha.


"Baik Tuan." jawab Yudha singkat.


"Kalau ada apa-apa kabarin gue.." ucap Aldo kepada Mario sembari melangkah meninggalkan ruang Mario.


"Hemm" sahut Mario singkat.


"Ayo Tuan.. kita pulang." ajak Yudha dan hanya ditanggapi Mario dengan anggukan kepala.


Akhirnya Yudha pun mengantar Mario kembali ke kediamannya.


*****


Di rumah ada Mama sama kakaknya Mario, mereka sedang asik membuat makanan di dapur.


"Rin, jangan kebanyakan garemnya.. nanti ke asinan." ucap Mama.


"Iya Ma.." sahut Karin singkat.


Sedang sibuk-sibuknya Mama dan Karin di dapur, tiba-tiba Mario dan Yudha datang.


"Assalamu'alaikum.." ucap Mario dan Yudha berbarengan seraya masuk ke dalam rumah.


Mama menyambut mereka, "wa'alaikumsalam... lho, kok cepet pulangnya?!" jawab Mama sembari bertanya.


Namun Mario tak menjawab, dengan raut wajah lesu dia langsung menaiki anak tangga menuju lantai 2.

__ADS_1


Mama mengerutkan kedua alisnya melihat reaksi Mario, Mama bingung apa yang terjadi dengan putranya.


"Yud.. Mario kenapa?! ada masalah lagi dikantornya?!" tanya Mama kepada Yudha.


"Bukan tante, bukan masalah kantor." jawab Yudha seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


Mama mendekati Yudha, dan duduk disampingnya.


"Memangnya ada masalah apa lagi?" tanya Mama lagi kepada Yudha.


Yudha menelan saliva nya, "masalah sama pacarnya tan." jawab Yudha.


"Pa..car?! sejak kapan Mario punya pacar?! kok tante baru tau kalo Mario punya pacar?!" tanya Mama lagi, sedikit heran.


"Huufff" Yudha menghela nafas kasar, "sebaiknya tante tanyakan sendiri padanya, Yudha gak punya hak untuk menjelaskan tan." jawab Yudha.


"Haaahh" Mama menghela nafas panjang, "ya udah deh, nanti tante tanya Mario langsung." ucap Mama.


"Ya udah deh tan, Yudha mau balik lagi ke kantor." ucap Yudha sembari beranjak dari duduknya.


"Iya deh, makasih ya Yud!" sahut Mama seraya beranjak mengikuti Yudha ke arah pintu luar.


"Iya tan sama-sama, Assalamu'alaikum.." ucap Yudha pamit sembari melangkah menuju arah mobil.


"Wa'alaikumsalam.. sahut Mama seraya tersenyum lebar.


Yudha pun akhirnya meninggalkan pekarangan rumah mewah Mario, sedangkan Mama kembali masuk kedalam rumah.


Mama menghampiri Karin di dapur, " Rin.. kamu lanjutin dulu ya, Mama mau nemuin Mario di kamarnya dulu." ucap Mama.


"Oh.. Mario udah pulang Ma?!" tanya Karin seraya melanjutkan pekerjaannya.


"Baru aja pulang." ucap Mama singkat sembari berjalan meninggalkan Karin.


Mama melangkah menapaki anak tangga, menuju lantai 2.


Setelah Mama berada di lantai 2, Mama langsung menghampiri kamar Mario.


Tok tok tok (Mama mengetuk pintu kamar)


"Mario.. ini Mama, buka pintunya Yo.. Mama mau bicara." ucap Mama dengan sedikit nyaring.


Tak lama, Mario pun membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Mario mengarahkan pandangannya dengan mata yang sembab.


Sedangkan Mama, ia mengerutkan kedua alisnya saat melihat mata Mario.


"Yo! kamu habis nangis?!" tanya Mama, heran.


Mario tak menjawab, ia langsung kembali masuk ke kamarnya sembari mendudukkan bokongnya di sofa.


Mama mengikuti Mario menjurus di belakang.


Mario duduk menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata.


Mama tersenyum seraya memposisikan tangan sebelahnya di atas paha Mario.


"Yo.. kamu ada masalah sama pacar kamu?!" tanya Mama lembut.


Mario membuka matanya perlahan, "Mama tau dari mana?!" Mario balik bertanya.

__ADS_1


"Tadi Mama liat muka kamu tuh murung, trus Mama tanya sama Yudha.. ya Yudha bilang gitu ke Mama." ucap Mama.


Mario tersenyum kecil, "iya Ma." jawabnya singkat.


"Kamu kok gak ngenalin pacar kamu ke Mama sih Yo?! jahat banget." tanya Mama sedikit kesal.


Mario menyunggingkan senyum, "Nanti aja deh Ma.. aku lagi berusaha buat dia maafin aku." ucap Mario lemah.


"Memangnya salahmu apa sama dia?!" tanya Mama lagi.


"Huuufff" Mario menghela nafas kasar.


"Dulu dia itu karyawan di kantorku Ma.. sebelum aku memecatnya." ucap Mario.


"Memecat?!" tanya Mama singkat, sembari mengerutkan kedua alisnya.


Mario pun mulai menceritakan semuanya kepada Mama nya, tak ada sedikitpun yang terlewatkan dari ceritanya tentang kejadian yang membuat Adinda sangat membencinya.


Dan Mama pun menyimak secara detail setiap perkataan Mario.


"Jadi gitu Ma.. makanya aku sekarang lagi berusaha, agar dia mau kembali lagi sama aku." ucap Mario mengakhiri ceritanya.


Mama menghela nafas dalam, lalu menghembuskan nya kembali. "Kalau seperti itu.. rasanya sulit Yo..! yang namanya perempuan.. sekali saja dikecewakan, akan sangat sulit mengembalikan kepercayaannya seperti semula." ucap Mama.


"Trus.. aku harus gimana Ma?! aku gak mau nyerah gitu aja Ma.. aku cinta sama dia..!" jawab Mario.


"Ya kamu harus lebih berusaha lagi dong, tunjukkan kalo kamu memang cinta dan serius sama dia.." ucap Mama. "Laki-laki itu.. yang dipegang omongannya Yo.. bukan cuma manis dibibir aja." lanjut Mama.


"Kalo Mama jadi dia nih ya.. Mama sih gak bakalan mau balik lagi sama kamu.."


"Hati perempuan mana Yo.. yang gak sakit dibilang seperti itu?!"lanjut Mama lagi.


" Ya udah, semoga aja dia mau memaafkan kamu dan kembali lagi sama kamu.. itu aja Yo, Mama gak bisa bantu, masalahnya ada di kamu." timpal Mama, sembari beranjak meninggalkan Mario.


Mario terdiam memandangi Mama nya, lalu kembali menyandarkan kepalanya di kursi sembari memejamkan mata.


Pikiran Mario selalu tertuju kepada Dinda, wanita yang sangat dicintainya.


*****


Di rumah sakit ada Ane dan Dinda yang sudah berada di depan ruang ICU.


"Lo yang sabar ya Din.. gua yakin, lo kuat menghadapi ujian seberat ini." ucap Ane.


"Orang tua lo pasti bangga punya anak seperti lo Din!" lanjutnya.


"Jujur, gua salut banget sama perjuangan lo." timpalnya lagi.


Dinda tersenyum tipis, "bagi gue.. ibu dan ayah adalah harta yang tak ternilai, apapun yang gue lakuin sekarang.. belum ada apa-apanya dibanding kasih sayang mereka." ucap Dinda.


"Gua sedih ne'! gua belum bisa bahagiain ibu." lanjutnya lagi.


Ane tersenyum menanggapi ucapan Dinda.


"Sabar ya Din.. Tuhan pasti udah nyiapin rencana indah buat lo." ucap Ane.


Dinda tersenyum menanggapi, "Amiin.." sahut Dinda.


"Din, gimana kalo lo temenin gua makan siang?! kita kan udah lama gak makan bareng?! lo tenang aja.. gue yang traktir." ajak Ane seraya tersenyum.


Dinda juga ikut tersenyum dan menerima ajakan Ane dengan senang hati.


"Okeey.. kebetulan nih, hehe.." jawab Dinda.

__ADS_1


Akhirnya kedua sahabat itu pun pergi meninggalkan area rumah sakit, untuk mencari makan siang bersama.


Bersambung epd 37


__ADS_2