
Keesokkan harinya, tampak Dinda yang masih terduduk lemah di ruang tunggu.
Dinda menunggu ibunya yang masih berada diruang ICU, penampilannya terlihat sangat kusut.
Dengan langkah gontai Dinda beranjak pergi ke ruangan administrasi, dia ingin menemui salah satu suster di sana.
"Sus! bagaimana dengan kondisi ibu saya?! apakah sudah ada perkembangan?!" tanya Dinda.
"Ibu Nona masih dalam pantauan team ahli Nona! sabar ya.. kita percayakan saja sama Dokter yang menangani ibu anda!" ucap suster.
Dinda tersenyum kecil, "Iya sus" jawab Dinda.
"emm bagaimana Nona?! apa sudah bisa menyelesaikan administrasinya?!" tanya suster lagi sembari menyerahkan beberapa kertas yang harus di tandatangani oleh Dinda.
Dinda pun segera menanggapi, dan tanpa menunda lagi segera ia mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya.
Dinda langsung menyerahkan uang itu, dan menandatangani kertas-kertas yang diserahkan oleh suster.
Setelah selesai, Dinda meminta izin kepada suster untuk kembali kerumahnya, mengingat dirinya yang harus mandi dan berganti pakaian.
"Sus! saya titip ibu saya dulu sus, saya mau pulang sebentar." ucap Dinda.
"Oh iya Nona.. silahkan." jawab suster itu.
Kemudian Dinda pun segera berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit.
Dinda berdiri dipinggir jalan tepatnya didepan rumah sakit, pandangannya mengarah kepada sekelompok tukang ojek di sana.
Lalu ia menghampiri tukang ojek tersebut.
"Bang! ojek bang." ucap Dinda kepada salah satu tukang ojek.
"Iya neng." jawab tukang ojek singkat sembari mendorong motornya ke arah sisi jalan.
"Ayo neng." lanjutnya sembari memberikan helm kepada Dinda.
Dinda pun segera memakaikan helm di kepalanya.
Ya iyalah di kepala, masa helm di kaki.😁
"Sudah siap neng?!" tanya si tukang ojek.
"Iya sudah bang." jawab Dinda singkat, sembari naik ke atas motor.
Akhirnya tukang ojek itupun melajukan motornya dengan santai, mengingat suasana jalanan di pagi hari sangat ramai.
******
Di tempat lain ada Mario dan Aldo yang sedang menunggu Yudha yang memanggil Sella untuk segera ke ruangan Mario.
Tok tok tok
"Permisi pak!" ucap Ane yang tiba-tiba saja masuk keruangan Mario.
"Ya silahkan." jawab Mario singkat.
"Pak, saya mau nyerahin ini pak." ucap Ane lagi seraya memberikan setumpuk dokumen.
"Oh iya, makasih ya..!!" jawab Mario sembari tersenyum kecil sambil meraih dokumen yang diserahkan Ane.
"Sama-sama pak!" jawab Ane.
Belum beranjak Ane dari tempatnya berdiri, tiba-tiba Yudha masuk diikuti dengan Sella yang menjurus dibelakang.
"Wah, mau ada apa nih?! gua nyimak ah, biar gak ketinggalan berita." guman Ane dalam hati, jiwa kepo nya meronta.
Mario beranjak dari duduknya, sembari mengalihkan posisinya berdiri membelakangi meja kerjanya.
Sedangkan Yudha dan Aldo memposisikan tubuh mereka berdiri di belakang Sella.
Sementara Ane menggeser tubuhnya ke bagian samping mendekati meja kerja Yudha.
Sella menatap Mario seperti biasa, dengan senyum menggoda.
Namun Mario menatap Sella dengan tatapan yang penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan kepada Adinda, hah?!" tanya Mario sedikit tinggi.
Sella berpura-pura tidak mengerti apa yang diucapkan Mario.
"A_ a_ apa maksud bapak?!" tanya Sella dengan terbata-bata.
Mario menatap, jengah.
"Kenapa kau menjebaknya hem?! kenapa kau menjebak nya..?!!" bentak Mario dengan sangat keras, sehingga membuat Sella terperanjat kaget, begitu pula dengan Ane.
Seketika raut wajah Sella memucat, keringat dingin keluar menghiasi wajah dan telapak tangannya.
"A_ a_ aku_ aku tidak_" ucap Sella terhenti, dia sangat gugup.
Mario memanas, dia menggenggam erat kepalan tangannya.
Lalu ia segera berbalik arah menghadap meja kerjanya.
__ADS_1
Mario membuka laptopnya, lalu mengarahkan layar laptop ke arah Sella.
"Lihat, apa ini?!" tanya Mario sembari memperlihatkan rekaman sisi tv dari layar laptopnya kepada Sella.
Sontak hal itu membuat mata Sella terbelalak, dan Ane yang melihatnya pun ikut terkejut.
"Whaaattt..!!"
"Ooooh, jadi eloe yang udah fitnah temen gue...?! iya...?!
"Brengsek banget sih loe jadi perempuan..?!!"
Ucap Ane sembari mendorong-dorong sedikit tubuh Sella.
Sedangkan Sella menatap geram kepada Ane.
Mario terdiam, masih diselimuti rasa amarah.
Aldo dan Yudha tersenyum menyungging, sembari menggeleng-geleng kan kepala secara bersamaan kearah Ane.
"Nona Ane! bisa diam sebentar ngga?! biarkan Tuan Mario bicara." ucap Yudha yang meminta Ane untuk diam, dan Ane pun segera menghentikan perkataannya sembari memasang raut wajah cemberut.
Mario kembali melanjutkan perkataannya.
"Cepat katakan, apa maksudmu menjebak kekasihku hah..?!! bentak Mario lagi.
Sella benar-benar terkejut ketika Mario menyebut bahwa Dinda adalah kekasihnya.
Seketika air matanya menggenang.
" Aku lakuin itu karna aku mencintai mu Marioo..!!" ucap Sella dan tangisannya pun pecah.
Mario, Yudha, Aldo dan Ane terkejut mendengar pengakuan Sella.
"Hahahahahaaaa..." Ane tertawa lebar.
"Woi.. asal loe tau ya..! pak Mario itu cintanya sama Adin_" ucap Ane terputus, ketika secara tak sengaja pandangannya tertuju kepada Mario yang sedang menatapnya.
Sedangkan Aldo dan Yudha saling melempar pandang, sembari menahan tawa.
Lagi-lagi Sella menatap geram ke arah Ane.
Mario menghela nafas kasar, sembari tersenyum kecut.
"Apa cuma itu alasannya?! kau menipu Adinda dengan merugikan perusahaan ku, hem?! ucap Mario.
" Aku minta maaf, aku mencintaimu Mario..! aku mencintaimu...!!" jawab Sella, memelas.
"Tapi aku mencintai Adindaa.. aku mencintai nyaa...!!" bentak Mario lagi.
Seketika Yudha pun bertindak, "Tuan Aldo, cepat beri tau komandan." bisik Yudha ke sisi telinga Aldo.
Aldo pun segera mengirimkan pesan SMS kepada salah satu anggota kepolisian yang menangani kasus yang dialami perusahaan Mario.
Tak berapa lama beberapa anggota pun datang dan menangkap Sella, semua bukti kejahatan Sella pun telah diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Sella menangis sejadi-jadinya.
"Lepaskan aku, lepaskan...!!" teriak Sella.
Sella terus meronta ketika hendak dibawa oleh anggota kepolisian.
"Mario, aku akan buat perhitungan sama kamu..!" teriak Sella lagi, namun tak dihiraukan oleh anggota polisi yang menangkapnya.
Para anggota polisi itu membawa Sella keluar dari ruangan Mario.
Dan kini Sella telah berhasil diamankan oleh pihak yang berwajib.
Sedangkan Mario, Aldo, Yudha dan Ane merasa lega.
"Aaahh leganya..!" ucap Ane "berarti kerjaan saya menguping sudah selesai ya pak.. hehe.." lanjut Ane seraya tertawa kecil memandang kearah Mario.
"Kenapa anda tidak menjadi wartawati saja Nona..?! sepertinya anda cocok di bidang itu." ucap Yudha membuat Ane jengkel lalu meninggalkan ke tiganya.
Sedangkan Mario dan Aldo tertawa kecil secara bersamaan.
*****
Mario menghela nafas panjang, merasa lega.
"Sekarang urusanku tinggal mencari Adinda, dan meminta maaf padanya." ucap Mario.
"Sebaiknya kita sama-sama mencarinya Yo..!biar lebih cepet." ide Aldo.
"Lebih baik berpencar saja Tuan..! bukannya itu lebih baik?!" ide Yudha.
"Tumben kita gak sehati?!" tanya Aldo kepada Yudha, membuat Mario tersenyum kecil mendengarnya.
"Bukannya kita sudah gak sehati Tuan.. tapi saat ini hati kita sedang retak, seperti hubungan Tuan Mario dan Nona Adinda." ledek Yudha sembari berlari keluar meninggalkan Mario.
Karna sudah bisa dipastikan, Mario akan memarahinya.
Sementara Aldo yang mendengar, sontak membuatnya tertawa lepas, sembari meninggalkan ruangan Mario.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, ada Dinda yang sedang menangis didalam kamar mandi.
Dia merasakan perih diarea sensitifnya, "aahh sakiiiitt...!!" lirihnya sembari mengelus-elus pelan miliknya.
Batinnya lirih, dia menangis dan ingatannya tertuju kepada Mario.
"Mariooo..." lirihnya.
"Aku sakiiitt...!! lirihnya lagi, mengingat sang pujaan hati yang telah membuatnya terluka.
Lalu bagaimana dengan Mario??
Mario sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menatap cincin Adinda ditangannya, seketika perasaannya tak nyaman.
Debaran jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, ada rasa yang berbeda.
Mario beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobil miliknya.
Mario pergi meninggalkan area kantor, dia menyetir sendiri mobilnya tanpa ditemani Yudha.
Mario melajukan mobil miliknya dengan cepat, namun dia sendiri tidak tahu akan mulai mencari dimana.
Perasaannya tiba-tiba sangat kacau.
Kemudian, pikirannya tertuju kepada Ane sahabat Dinda.
Lalu dia memutar balikkan kembali mobilnya menuju ke area kantor.
*****
Tak berapa lama, Mario pun akhirnya kembali ke kantornya untuk menemui Ane.
Setelah Mario berada di ruangan divisi 3, dia langsung menghampiri Ane.
"Ane, kamu ikut saya." ucap Mario singkat sembari menarik tangan Ane.
"Kita mau kemana pak?!" tanya Ane yang bingung dengan sikap Mario.
"Sudah ikut saja, jangan banyak tanya." jawab Mario yang tak mau membuang-buang waktunya.
Ane pun menurut, dan akhirnya ikut masuk kedalam mobil bersama Mario.
Diperjalanan, "sebenarnya kita mau kemana sih pak..?!" tanya Ane, bingung.
"Kamu tau rumah Adinda kan?!" tanya Mario.
"Oooh.. jadi kita mau ke rumah Dinda nih sekarang..?!" kenapa bapak gak bilang dari tadi?! ucap Ane membuat Mario mendengus.
"Iya, saya mau bertemu Adinda." jawab Mario singkat.
"Sekarang cepat beritahu alamatnya." ucap Mario.
"Dijalan xxxx pak, nomer 7." sahut Ane singkat.
Mario pun langsung mengarahkan mobilnya ketempat tujuan.
Mario melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.
******
Sementara Dinda, dia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.
Dinda menatap dirinya di cermin, dia merasa tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
"Sepertinya.. aku sekarang kurusan." ucapnya pelan seraya melihat-lihat bentuk tubuhnya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Mario pun sampai tepat didepan rumah Dinda.
Mario dan Ane turun dari mobil secara bersamaan, mereka pun segera melangkah mendekati rumah Dinda.
Tok tok tok
Ane mengetuk pintu rumah Dinda.
"Assalamu'alaikum.. Din...! Dinda.. ini gue.. Ane.."
Dinda yang sejak tadi sedang bercermin, tiba-tiba mendengar suara Ane.
"Ane?!" ucapnya dan langsung keluar dari kamarnya.
"Iya sebentar..." teriak Dinda.
Dinda pun segera menghampiri pintu rumah, dan langsung membukanya.
Betapa terkejutnya Dinda, setelah ia melihat sosok Mario.
"Ka_ kamu?!"
Mario tersenyum kepada Dinda.
"Hai."
__ADS_1
Dinda dan Mario saling menatap, tak dapat dipungkiri bahwa mereka sama-sama saling merindukan.
Bersambung epd 35