SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 30


__ADS_3

Dinda keluar dari ruangan Mario dengan hati yang sangat terluka.


Rasa cinta nya begitu tulus, kini berubah menjadi kebencian yang sangat dalam.


Di ruangnya sudah tampak sosok bu Sandra yang menunggu.


"Din!" sapa bu Sandra lembut, sembari menatap sedih raut wajah Dinda.


Dinda berdiri mematung dihadapan bu Sandra dengan raut wajah pilu.


Kemudian Dinda menatap ke sekeliling ruangan kantor, terlihat semua karyawan sedang menatap ke arah Dinda.


Ternyata semua karyawan telah mengetahui bahwa Dinda telah dipecat dari pekerjaan nya.


Bu Sandra menangis, dia memeluk erat tubuh Dinda dengan sangat erat.


Bu Sandra salah satu karyawan senior yang menyayangi Dinda, dia merasa sangat kehilangan.


"Maafkan ibu tidak bisa mempertahankan mu..!! lirihnya sembari terisak.


Dinda pun membalas pelukan bu Sandra seraya memejamkan mata, menahan tangis.


Bu Sandra melepas pelukan nya, lalu menatap dalam raut wajah Dinda dengan penuh kelembutan.


" Ibu percaya kamu tidak melakukan kesalahan Dinda!!" lirihnya lagi.


Dinda tersenyum tipis, "biarlah bu..!! saya yakin, waktu akan secepatnya menjawab." jawab Dinda dengan nada lemah.


"Titip salam untuk Ane ya bu! saya akan merindukan kalian." ucap Dinda seraya tersenyum.


Bu Sandra tak mampu berkata-kata, hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Dinda segera mengemasi barang-barangnya, dan bu Sandra tetap menemani nya.


Setelah selesai, Dinda berpamitan kepada bu Sandra.


"Bu..!! saya pamit." ucap Dinda seraya tersenyum kecil. "Terima kasih juga untuk semua nya." Dinda dan bu Sandra berpelukan.


Bu Sandra mencium lembut pipi Dinda kiri dan kanan. " Kamu hati-hati Din..! jaga dirimu baik-baik." ucap bu Sandra, sedih.


"Iya bu! saya pasti akan baik-baik saja." jawab Dinda


Dan akhirnya dia meninggalkan bu Sandra dan semua karyawan di sana.


Sementara Sella, dia tersenyum bahagia penuh kemenangan.


*****


Dinda akhirnya pulang ke rumah dengan begitu banyak beban pikiran.


Dinda akan berusaha untuk menutupi semua permasalahan nya di depan sang ibu.


Entah apa yang akan dijawab nya jika suatu saat nanti ibu bertanya tentang pekerjaannya.


Sesampainya Dinda di rumah.


"Assalamu'alaikum, buk! Dinda pulang..!!"


"Wa'alaikumsalam.."


"Kamu pulang cepet Din..!!" tanya ibu yang terkejut akan kepulangan Dinda lebih awal.


"Iya buk! Dinda lagi gak enak badan, jadi Dinda izin pulang cepet." ucap Dinda, berbohong.


"Kamu sakit Din..?!" tanya ibu lagi.

__ADS_1


"Dinda kecapean aja kok buk..!! Dinda mau istirahat aja." jawab Dinda.


"Ya udah, kamu istrirahat aja sekarang, nanti tambah parah lho..!" ucap ibu.


"iya buk..!! Dinda istirahat dulu ya buk!"


" Iyaa..!!"


Dinda pun akhirnya masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


Kemudian dia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas kasur sembari bertekuk lutut.


Dinda menangis pelan, masih terngiang jelas di telinga nya tentang ucapan Mario yang penuh dengan cacian dan makian.


Lalu ia mengingat masa indahnya saat bersama Mario, Mario manis yang penuh dengan godaan.


Dia mengingat akan semua hal, termasuk keraguan akan cinta Mario.


"Apa cintamu tulus?"


"Tentu saja.. cinta ku ini sangat tulus."


"Apa kau yakin tidak akan berubah?"


"Mengapa kau bertanya seperti itu pada ku?"


"Tidak.. bukan apa-apa, aku hanya takut cinta mu itu seperti jailangkung."


Dinda menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya.


"Apa kau tau.. aku sangat mencintai mu! tapi sekarang aku yakin, cintamu itu memang seperti jailangkung." ucapnya pelan sembari meneteskan air mata.


Kemudian dia menghapus air matanya, lalu membuka ponsel dan mengeluarkan sim card miliknya.


Hal pertama yang akan dilakukan nya, ia akan mengganti sim card miliknya dan mengganti dengan yang baru. Lalu ia akan mencoba mengirim surat lamaran ke berbagai perusahaan lainnya.


*****


Surat lamaran juga sudah disebar diberbagai perusahaan, namun belum ada satu pun panggilan untuk diri nya.


Lama-lama ibu curiga kepada nya, "Din! kamu gak kerja?! kenapa izin mu lama sekali..?!! tanya ibu merasa aneh.


Dinda menghela, "Dinda izin untuk waktu yang tidak ditentukan buk..! sampai ibu benar-benar sembuh." ucap Dinda, mengelak.


"Tapi ibu sudah baik kan kok Din! jadi ibu rasa.. tidak apa-apa kalau harus ditinggal bekerja." jawab ibu.


Dinda hanya menanggapi dengan senyuman, lalu ia kembali lagi melanjutkan pekerjaannya, memasak.


******


Lalu bagaimana dengan Mario?


Mario beserta Aldo dan Yudha disibukkan dengan pekerjaan mereka, berusaha untuk memperbaiki keadaan.


Mario melupakan sejenak rasa kecewanya terhadap Dinda, karna kesibukannya yang begitu padat.


Sedangkan Sella..


Setelah kepergian Dinda dari kantor, dia malah tidak mendapatkan kesempatan untuk mendekati Mario sedikit pun.


Selain jadwal Mario yang begitu padat, Yudha dan Aldo berusaha keras menghalangi Sella untuk menemui Mario.


Mereka tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk Sella.


*****

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat.


Seminggu, dua minggu bahkan sudah memasuki bulan ke dua Dinda tidak bekerja.


Keadaan Dinda dan ibu semakin rumit, keuangan mulai menipis bahkan uang simpanan Dinda pun sudah hampir habis terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.


Dinda sangat kesulitan untuk membiayai kemoterapi yang diterapkan Dokter kepada ibu.


Bahkan persediaan obat ibu pun sudah tidak ada lagi, dan itu sangat berpengaruh terhadap kesehatan ibu.


Ibu mulai menunjukkan reaksi yang tidak baik, tentu saja hal itu membuat Dinda semakin khawatir dengan kondisi ibunya.


"Uhuk uhuk uhuk"


Dinda mendengar suara ibu yang sedang batuk.


Dia berlari ke kamar ibunya.


Terlihat jelas ibu mengeluarkan batuk darah segar.


Dinda menatap ibu dengan perasaan bersalah, air matanya seketika menggenang di bola mata indah miliknya.


"Maafkan Dinda buk..!!" lirihnya dalam benaknya.


Lalu ia menghampiri ibu, "ibu.. Dinda keluar sebentar." ucapnya.


"Kamu mau kemana..?!" tanya ibu, menahan sakit.


"Dinda mau beli obat buat ibuk." jawab Dinda sambil mengelap darah yang ada ditangan ibu, dan segera membaringkan nya di kasur.


Dinda keluar dari kamar ibu, dan masuk ke kamar miliknya.


Dinda membuka lemari pakaiannya, lalu mengambil uang sisa simpanan nya.


Dia menatap uang itu yang hanya tinggal sedikit, lalu ia menghela nafas panjang.


"Aku rasa uang ini tidak akan cukup." ucapnya pelan.


Tanpa menghiraukan uang yang dibawanya akan cukup atau tidak, dia langsung keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar ibu untuk mengambil contoh obat-obat ibu yang hanya tinggal bungkusnya saja.


Dinda pergi meninggalkan pekarangan rumah, lalu ia mengendarai motor maticnya.


Dinda melajukan motornya dengan begitu cepat, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di toko obat.


Setelah sampai, Dinda memarkirkan motornya tepat di depan toko.


Lalu segera ia melangkah masuk, "ada yang bisa saya bantu mba?!" tanya pelayan toko kepada Dinda.


"Iya mba, saya mau obat ini." jawab Dinda sembari memberikan bungkus obat.


Lalu pelayan itu pun melihat-lihat bungkus obat tersebut.


"Maaf mba, kami tidak berani menjual obat ini tanpa resep dari Dokter." ucap pelayan toko.


"Karena obat ini termasuk obat keras mba..!! dan khusus diberikan kepada penderita yang yang akut." lanjutnya lagi.


"Oh.. begitu ya mba?! ya udah deh, kalo gitu saya permisi, terima kasih mba..!" ucap Dinda, kecewa.


"Sama-sama mba..!" ucap pelayan itu seraya melempar senyum.


Kemudian Dinda berlalu pergi dengan rasa kecewa dan sedih.


******


Dinda pulang ke rumah tanpa membawa obat untuk ibu.

__ADS_1


Sementara keadaan ibu sudah sangat sulit di ungkapkan.


Bersambung epd 31


__ADS_2