
Disaat dalam perjalanan, Dinda hanya diam membisu sembari mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela.
Sementara Mario terus memandang ke arah Dinda seraya tersenyum lebar.
Kemudian Mario mengarahkan pandangan Adinda ke arahnya dengan memposisikan sebelah tangannya menempel ke dagu Dinda.
Bola mata mereka saling menatap lekat.
"Aku sudah tau semuanya tentangmu, semua yang terjadi denganmu sayang.." ucap Mario lembut.
Dinda mengerutkan ke dua alisnya, "memangnya apa yang kau tau?" tanya Dinda tak mengerti.
Mario tersenyum, "semua nya, dan akulah orang yang paling bertanggung jawab untuk hal itu, cup" ucap Mario seraya mengecup lembut bibir mungil Dinda.
Yudha yang sesekali mengarahkan pandangannya ke kaca spion yang ada didepannya, secara tak sengaja melihat adegan kemesraan mereka.
"Tuan! jangan seperti itu, anda hanya membuat saya iri pada anda." ucap Yudha yang membuat Mario menghentikan ciumannya.
"Suruh siapa kau melihatku?! fokus saja pada jalan mu." jawab Mario, sedikit kesal.
Sementara Dinda, ia mengarahkan kembali pandangannya ke arah luar jendela, wajahnya merona menahan malu.
Dinda menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya kembali.
"Kenapa jadi seperti ini?!" gumamnya dalam hati.
Mario kembali mengarahkan pandangannya kearah Adinda, sembari meraih tangan Dinda dan menggenggamnya erat.
"Aku tau saat ini kau membenciku, tapi aku tidak perduli." gumam Mario dalam hati.
*****
Setelah mereka sampai, Mario turun terlebih dahulu dan langsung membukakan pintu untuk Dinda.
"Jangan sok perhatian, aku bisa sendiri." ketus Dinda.
Mario tersenyum menanggapi, "memangnya salah kalau aku perhatian sama kamu hem?!" tanyanya dan langsung beranjak masuk dengan merangkul pundak Dinda.
Setelah masuk, Mama menyambut mereka dengan senyum mengembang.
"Wah.. jadi ini yang namanya Adinda?" tanya Mama, kagum. "cantik ya Yo?!" lanjut Mama.
Sementara Dinda, hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Yuk kita ngobrol didalam aja." ajak Mama kepada Adinda, seraya menghampiri sofa diruang tengah.
__ADS_1
Dinda pun mengikuti, menjurus di belakang.
"Ma! aku keatas dulu sebentar." ucap Mario.
"Sayang kamu sama mama dulu ya!" lanjutnya kepada Adinda.
"Ya udah sana, Mama mau ngomong berdua dulu sama Dinda." jawab Mama.
Mario tersenyum ke arah Mama dan Dinda, sembari meninggalkan mereka berdua.
"Din, duduk sini sama tante." ucap Mama mengajak Dinda untuk duduk di sampingnya.
Dan Dinda pun menuruti seraya tersenyum kecil.
"Din! kamu beneran udah maafin Mario dan mau menikah dengannya?" tanya Mama lembut.
Dinda tersenyum tipis, "aku udah maafin dia kok tan, tapi maaf" ucap Dinda terhenti.
Mama mengerutkan kedua alisnya, "maaf kenapa Din? ngomong aja gapapa." ucap Mama.
Dinda menelan saliva nya, "maaf aku gak bisa menikah sama anak tante." jawab Dinda.
Mama menghela nafas panjang, "iya, tante tau apa yang sudah dilakukan Mario sama kamu." ucap Mama. "Tante minta maaf ya Din!" lanjutnya.
"Tante! ada banyak hal yang sudah terjadi diantara kami, maaf kalau aku sudah sangat kecewa padanya." ucap Dinda parau menahan tangis.
Tak berapa lama pun, Mario turun dari lantai dua sembari menghampiri Mama dan Dinda.
"Ma! aku mau nikahin Dinda secepatnya." ucap Mario.
Mendengar itu, Mama dan Dinda saling melempar pandang.
"Maaf, aku gak bisa menikah sama kamu." tolak Dinda seraya mengalihkan pandangannya kearah Mario.
Tentu saja hal itu membuat Mario terkejut, seakan tak percaya dengan penolakan Dinda.
"Apaa..?!tapi aku udah izin sama ibu kamu sayang.. dan aku cinta sama kamu.." ucap Mario kesal.
"Yo! pernikahan itu sakral, bukan untuk main-main!" timpal Mama.
"Ma, aku cinta sama dia Ma.. aku udah janji sama ibunya dan ibunya merestui ku." jawab Mario masih dengan nada kesal.
"Tapi kamu gak bisa maksain dia Yo.. pernikahan itu sekali seumur hidup." lanjut Mama.
"Din, tolong jangan tolak aku.. aku cinta sama kamu Adinda!" ucap Mario seraya mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.
__ADS_1
Dinda tersenyum kecut, "jangan sesali apa yang sudah terjadi bapak Mario hadinata.. kamu sudah mengubah cinta itu jadi benci." ucap Dinda dengan lantang.
"Tante aku pamit." ucap Dinda tiba-tiba mengakhiri perkataannya, sembari berlalu pergi.
"Din, tunggu Din. Kamu gak bisa tinggalin aku" ucap Mario seraya mengejar Dinda, dan menghentikan langkah Dinda dengan menghadang jalan Dinda.
Mama yang menyaksikan pun juga ikut menghampiri.
"Yo, biarkan dia mengambil keputusannya sendiri, kamu tidak bisa memaksakan nya Yo..!" ucap Mama membela Dinda.
"Maksud mama apa sih?" tanya Mario kesal.
Sementara Karin yang mendengar keributan, akhirnya keluar menghampiri.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Karin.
"Rin, tahan adik mu." ucap Mama sembari menarik tangan Mario.
"Mario, biarkan dia mengambil keputusannya sendiri.." ucap Mama mencoba menghalangi Mario dan membiarkan Adinda pergi.
Adinda pun tak menunggu lama lagi, Dia segera berlari meninggalkan pekarangan rumah Mario.
Dia berlari sangat kencang, hingga nafasnya tersengal.
Sedangkan Mario, dia begitu marah dengan Mama dan Karin yang telah membiarkan Adinda pergi begitu saja.
"Ma, Kak, kenapa kalian tega sama aku? aku cinta sama Adinda." ucapnya kesal sembari berlalu meninggalkan Mama dan Karin.
"Yud, ayo kejar dia." ucap Mario yang ingin mengejar Dinda yang sudah pergi menjauh.
Sementara Dinda, dia sengaja memasuki gang-gang sempit agar Mario tidak bisa menemukannya.
Setelah dia memasuki gang cukup jauh, tiba-tiba langkanya terhenti "huek.. huueek.. huueeekk.." Dinda merasa mual yang sangat hebat, hingga kepalanya terasa pusing dan tubuh melemah.
"Aduuh, kenapa aku jadi mual sih!" batinnya seraya mengelus-elus lembut perutnya.
Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya dengan lemah.
Dinda berjalan dengan bersusah payang untuk keluar dari gang sempit itu.
Setelah berhasi keluar, tiba-tiba tubuhnya semakin melemah dan akhirnya..
Bruukk!!!
Tubuh Dinda terjatuh kejalan dan dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung epd 39
Apa ya yang terjadi sama Adinda?