
Tak terasa hari pun sudah semakin gelap, raut kekecewaan tampak jelas dari wajah Mario.
Tubuhnya terbaring lemah di kasur empuk dan pandangannya mengarah kepada langit-langit kamar hotel.
Bola matanya pun sudah dihiasi oleh butiran-butiran embun yang membentuk kristal, saat mengingat akan masa indahnya bersama Adinda.
Kata-kata manis yang selalu terucap dari bibir Dinda, bak anak panah cinta yang menancap tepat di hati Mario.
Kata-kata yang mampu meluluh lantahkan hati dari seorang Mario Hadinata, kini hanya tinggal sebuah kenangan indah dalam pikiran dan benaknya.
"Cinta itu.. memang datang dari mata turun kehati, tapi.. jika kita sudah dipertemukan dan dihadapkan dengan cinta, jangan gegabah dalam menghadapinya. Karna bukan tak mungkin, cinta yang baru saja berbaik hati itu.. berbalik arah dan menyerang, dengan menjadikan cinta sebagai derita."
Air mata Mario pun mengalir deras, sehingga membasahi bantal yang menjadi alas di kepalanya saat mengingat sepenggal dari kata-kata yang terucap dari bibir mungil Dinda.
Tubuhnya bergetar, kepalan tangan yang mencengkram rambut di kepalanya seakan menandakan bahwa hatinya sangat terluka.
"Dindaaaaaaaaaa...." pekiknya, hingga suaranya menggema di setiap sudut ruang kamar hotel.
Mario merasa kesakitan di bagian dadanya, hingga dia menepuk-nepuk sedikit kuat dengan kepalan tangannya.
Kemudian dia mengingat kembali akan ucapan nya yang dulu, sehingga membuat Dinda pergi menjauh dan benar-benar tak ingin kembali kepada nya.
"Pergi kau dari sini.. tinggalkan tempat ini secepatnya, dan jangan pernah kembali lagi."
"Tanpa diminta pun aku akan pergi. Tapi ingat, sekali saja aku pergi.. aku tidak akan pernah kembali lagi."
Hal itulah yang menjadi sebuah penyesalan untuknya, dia sangat menyesali karna telah mengusir sang pujaan hati yang akhirnya membuat Mario harus merasakan kepahitan dalam cinta pertamanya.
Setelah begitu lama menangisi akan penyesalannya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan suara ketukan pintu, dan terdengar pula suara Yudha yang memanggilnya.
Tok tok tok
"Tuan! ini saya, Yudha."
Mario menghentikan tangisnya, seraya mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya.
Kemudian dia beranjak dari kasur dan menghampiri pintu.
Ceklek (pintu dibuka)
Yudha menatap bola mata Mario yang terlihat sudah sangat sembab, namun Yudha tahu bahwa Mario saat ini sedang terluka.
Yudha hanya terdiam mengamati, tanpa mau mempertanyakan dan membahas panjang lebar.
"Ayo kita cari Adinda." ajak Mario pelan dengan raut wajah lesu, sembari berjalan mengambil ponsel dan dompetnya yang berada di atas meja.
Yudha pun menuruti, dan segera melangkah pergi meninggalkan kamar hotel diikuti oleh Mario yang menjurus di belakang.
*****
Sementara dirumah sakit, ada Dinda dan Zack yang baru saja menyelesaikan aksi makan malam mereka diruang tunggu.
Saat sedang asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kehadiran Jhon yang sedang mengamati kedekatan mereka, dengan memegangi pundak Zack.
__ADS_1
Jhon berdiri di samping Zack, namun dengan jarak yang sangat dekat.
"Bo_ bos." ucap Zack terbata, merasa takut kalau Jhon akan marah padanya.
"Sedang apa kalian?" tanya Jhon singkat.
Dinda pun segera mendekat kearah Jhon, lalu merangkul pinggang milik Jhon.
"Kau tenang saja Jhon.. dia tidak menyakitiku, Zack sangat baik pada ku." ucap Dinda seraya tersenyum manja.
Mendengar ucapan Dinda dan perlakuannya yang terlihat manja, Jhon meredam sedikit emosinya kepada Zack.
"Kau sudah makan sayang?" tanya Jhon lembut.
"Sudah.. aku sudah makan, bahkan aku sudah minum obatnya." jawab Dinda masih dlm posisi yang sama seraya mengangkat sedikit wajahnya menatap Jhon.
Jhon tersenyum, "baguslah, kalau begitu ayo kita pulang sayang cup" ucap Jhon yang diakhiri kecupan lembut di pucuk kepala Dinda.
Dinda pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lebar.
Akhirnya Jhon dan Dinda pun segera beranjak dari ruang tunggu menuju area parkir rumah sakit diikuti oleh Zack dan ke dua rekannya.
Sesampainya diarea parkiran, tak disangka mereka bertemu dengan Mario yang baru saja tiba diarea parkir rumah sakit dan keluar dari dalam mobilnya.
Betapa terkejutnya Mario, saat mendapati Dinda yang sedang berjalan bersama seorang laki-laki dengan posisi yang sedang merangkul pinggang dan laki-laki tersebut dalam posisi merangkul pundak Dinda.
Langkah Dinda dan Jhon beserta anak buahnya terhenti saat Mario sudah berdiri berhadapan dengan mereka.
"Dinda"
Ucap mereka secara bersamaan.
Jhon yang mendengar nama Mario yang keluar dari bibir Dinda, seketika raut wajahnya berubah.
Jhon mengerutkan kedua alisnya, menatap sinis kepada Mario.
"Jadi kau yang bernama Mario?" tanya Jhon.
"Iya, aku Mario. Lalu siapa kau? berani-beraninya kau merangkul kekasihku." jawab Mario, menantang.
"Hahahahaaa" Jhon tertawa lebar.
"Apa kata mu? kekasih? sepertinya aku harus memperkenalkan diriku kepadamu. Aku Jhon, Jhonatan calon suami dari kekasihmu." ucap Jhon dengan lantang sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
Tentu saja hal itu membuat Mario dan Yudha sangat terkejut.
Mario langsung menatap lekat ke arah Dinda, seakan tak percaya dengan ucapan Jhon.
Sementara Dinda, dia terdiam menundukkan kepalanya.
"Dinda! apa itu benar?" tanya Mario lemah.
Dinda tak menjawab, dia masih saja terdiam menunduk.
__ADS_1
"Jawab aku Adinda, apa yang dikatakannya itu benar?" tanya Mario lagi namun dengan nada tinggi.
"Jangan membentak nyaa.." buukk!!!
Bentak Jhon kepada Mario dan diakhiri dengan pukulan yang sangat keras di bagian perut Mario.
"Aaaakkhh" Mario sangat kesakitan sembari menahan bagian perutnya yang terasa sakit.
Yudha segera beraksi ingin membela Mario, namun ketika kepalan tangannya sudah mengayun ke arah Jhon, dengan cepat ke tiga anak buah Jhon menangkap dan memposisikan kedua tangan Yudha kebagian belakang tubuhnya.
Dinda pun menangis, tubuhnya gemetar melihat aksi kemarahan Jhon kepada Mario.
Jhon meraih dan menggenggam kerah kemeja Mario, "jangan coba-coba membentaknya, apa lagi menyentuhnya, jika kau masih ingin selamat." gertak Jhon dengan kasar.
"Jhon.. ku mohon hentikan..." ucap Dinda seraya menjauhkan tubuh Jhon dari Mario.
Jhon menatap lekat bola mata Dinda, terlihat ada cinta di sana.
Namun Jhon tau, jika cinta itu bukan untuk nya.
"Jhon..!! izinkan aku untuk bicara dengannya, ini untuk yang terakhir kalinya." pinta Dinda memelas.
Jhon menghela nafas kasar, "baiklah, ini yang terakhir." ucap Jhon terpaksa.
Dinda pun mendekat ke arah Mario, sangat dekat hingga bola mata mereka saling beradu.
"Apa ini jawaban nya? apa dengan cara ini kau membalas ku?" tanya Mario pelan.
Dinda menelan saliva nya, "aku masih mencintai mu. Tapi maaf, aku tidak mau tersakiti untuk yang kesekian kalinya." ucap Dinda.
"Terima kasih sudah mengajari aku arti sebuah kebersamaan, terima kasih telah membuatku jatuh cinta, walau akhirnya.. aku terluka karna cinta itu." lanjutnya sembari berbalik arah dan melangkah meninggalkan Mario.
"Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa mu." ucap Mario yang dengan cepat meraih tangan Dinda sehingga langkah Dinda terhenti.
Dinda berbalik arah, mengarahkan kembali pandangannya kepada Mario.
Dinda tersenyum kecil, "belajarlah untuk saling melupakan, aku yakin kita pasti bisa, pasti bisa." ucap Dinda melemah seraya meneteskan air matanya dan melepaskan tangan Mario dari tangannya.
Mario memandang Dinda, hatinya begitu hancur mendengar ucapan yang keluar dari bibir Dinda.
Jhon segera membawa Dinda masuk kedalam mobilnya, diikuti oleh ke tiga anak buahnya yang masuk ke mobil yang berbeda.
Mario terdiam, hanya memandangi mobil yang membawa Dinda pergi menjauh darinya.
Perasaannya hancur berkeping, bak kaca yang jatuh di bebatuan.
Tubuh Mario melemah, hingga dia terduduk di tanah.
Yudha yang melihatnya pun, merasa sedih namun tak bisa berbuat apa-apa.
Yudha membantu Mario masuk kedalam mobilnya, dengan membopong tubuh Mario yang lemah tak berdaya.
Sampai akhirnya, Yudha membawa Mario kembali ke hotel.
__ADS_1
Bersambung epd 43
Terima kasih para reader setia, karna sudah menyempatkan diri tuk mampir di karya receh ku. Jangan lupa like dan komennya ya.. sebagai penyemangat ku😉