SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 37


__ADS_3

Keesokan harinya


Mario berangkat kekantor lebih awal, ia sudah tidak sabar ingin menemui Ane.


Mario ingin tahu apakah Ane berhasil membujuk Dinda atau tidak.


"Yud, suruh Ane menghadap ku." pinta Mario kepada Yudha.


"Baik Tuan!"


Yudha pun segera melaksanakan perintah, dia langsung menuju ruang divisi 3 untuk menemui Ane.


Ketika Yudha hendak menuju ke sana, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Dari arah lain tampak Ane yang baru saja tiba di kantor, dan Yudha pun segera menghampiri.


"Nona Ane!" sapa Yudha.


Ane tersenyum mengembang, "hai pak Yudha.. cakep banget hari ini, hehe.." canda Ane tiba-tiba, seraya tertawa kecil.


Tentu saja hal itu membuat raut wajah Yudha merona.


"Hemm.. jangan menggoda Nona! saya tidak tertarik." ketus Yudha, berusaha menyembunyikan perasaannya yang merasa senang saat dipuji.


"huuh benar-benar menyebalkan." gumam Ane dalam hati.


"Tuan Mario memanggil anda." ucap Yudha singkat, sembari berjalan mendahului Ane.


Dengan raut wajah kesal Ane menjurus dibelakang Yudha.


Beberapa menit kemudian, Yudha dan Ane pun tiba diruang Mario.


Mario pun segera menyambut Ane dengan pertanyaan, "gimana? berhasil?" tanya Mario dengan dua kata.


"emmm.. sebaiknya kita bicara berdua saja pak.. soalnya ini sangat private." jawab Ane yang tidak mau jika Yudha mengetahuinya.


Yudha mengarahkan pandangannya ke arah Ane, lalu segera ia melangkah keluar dari ruangan Mario.


"wuuu.. sok keren." gumam Ane dalam hati seraya membalas tatapan Yudha.


"Jadi gimana?" tanya Mario yang sudah tak sabar ingin mengetahuinya, sembari mengarahkan Ane untuk duduk di sofa.


Ane pun segera mendudukkan bokongnya di sana, lebih tepatnya duduk di samping Mario.


"Jadi bagaimana? apa dia memaafkan ku?!" tanya Mario lagi.


"Sepertinya belum pak, dia sangat kecewa sama bapak." jawab Ane.


Raut wajah Mario seketika berubah, seperti kehilangan semangat hidup.


"Pak, ada hal yang lebih penting lagi yang harus bapak ketahui tentang Dinda." ucap Ane.


Mario menatap lekat raut wajah Ane, "apa?" tanya Mario sangat singkat.


Ane menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya. "bapak harus dengar ini." jawab Ane sembari mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.


Mario mengamati dengan raut wajah serius.


Ane pun mulai menggeser layar ponselnya untuk mencari rekaman suara milik Dinda dan dirinya.


Setelah didapatinya, rekaman pun mulai didengar.


🔊 "Keadaan ekonomi gue memburuk ne"! uang simpanan gue menipis buat biaya sehari-hari.


Gue udah gak punya pemasukan, gue udah coba kirim surat lamaran ke perusahaan lain, tapi satu pun belum ada panggilan buat gue.


Gue sedih udah gak bisa biayain pengobatan ibu gue ne'... sampai akhirnya ibu drop.


Haaahhh, pikiran gue semakin kacau ne'! gue butuh biaya buat ibu, dan itu gak sedikit.


Gue jual handphone gue, motor, tapi itu belum cukup. Sampai akhirnya..."


"Sampai akhirnya kenapa Din?! apa yang terjadi sama lo?!"


"Sampai akhirnya.. gua terpaksa jual diri.. gua jual kesucian gua ne'..!! hiks.. hiks.. hiks.."


"Hiks.. hiks.. hiks.. maafin gue Din..!! maafin gue..!! gue bukan temen yang baik..!! gue gak ada disaat lo butuh."


"Hiks.. hiks.. hiks.. hiks.."


"Sekarang lo tau kan?! kenapa gue gak bisa terima dia lagi..?! gue udah gak suci ne'..!! gue kotor..!!"


Suara rekaman itupun dihentikan oleh Ane.


Saat Mario mendengar suara rekaman itu, air matanya terus mengalir.


Terasa sesak didalam dadanya, matanya terpejam sejenak dan tubuhnya melemah saat mendengar sang kekasih menjual kesuciannya demi membiayai pengobatan ibunya.


Sungguh Mario tak mampu berkata-kata, sangat sakit bahkan teramat sakit didalam hatinya.


"Ya Tuhan... apa yang aku lakukan padanya?!" lirihnya menyesali kesalahannya terhadap wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Mario terus saja menangis hingga tubuhnya bergetar, berkali-kali ia memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangan, ia menjambak rambutnya, sungguh ia sangat menyesali apa yang sudah terjadi.


Sementara Ane, dia terdiam sembari meneteskan air matanya.Setelah itu pun, Ane meninggalkan Mario sendiri didalam ruangannya.


Lalu, apa yang terjadi dengan Mario?


Dia masih saja menangis hingga sesenggukan, "aaaaaaaaaaakh" dia meraung hingga suaranya menggema.


Dia terus memukul-mukul dadanya, berkali-kali dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Pikirannya tak tentu arah, dia sangat frustasi.


Kemudian Mario menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa, dia memejamkan matanya kembali.


Dia menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya kembali. "Aku akan menikahi mu, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi padamu." lirihnya dalam benak.


Lalu ia membuka matanya kembali dan dengan perlahan ia beranjak dari duduknya melangkah menghampiri meja kerjanya.


Ia meraih ponsel miliknya yang berada di atas meja, lalu ia menggeser layar ponsel untuk mencari nomor ponsel Mamanya yang tertera dilayar ponsel.


Setelah di dapati nomor ponsel Mama, ia segera menggeser tombol hijau.


Tut.. tut.. tut.. (Terhubung)


"Hallo! Assalamu'alaikum.." sambut Mama lembut.


"Hallo Ma..!! Wa'alaikumsalam." jawab Mario,lirih.


"Kamu kenapa Yo?! kamu nangis..?!"


"Aku_ aku mau minta izin sama Mama dan Papa." jawab Mario dalam tangis.


"Memangnya kamu mau kemana?!"


"Aku gak kemana-mana Ma..! aku mau izin buat nikahin Dinda."


"Dinda?! Dinda siapa..?"


"Dinda pacar aku Ma.."


"Iya! Mama izinin, tapi kapan kamu mau nikahin dia? kenapa tiba-tiba?"


"Aku mau nikahin dia secepatnya. Nanti kita lanjutin lagi di rumah Ma.. aku mau ketemu dia dulu."


"Iya Yo..! Mama tunggu di rumah."


"Aku tutup dulu telponnya Ma, Assalamu'alaikum"


Tut tut tut ( sambungan terputus)


Setelah selesai, Mario pun segera menutup telponnya dan memasukkan ponselnya ke saku celananya, lalu kemudian ia keluar dari ruangannya sembari mengusap air matanya.


Mario kembali bertemu Yudha diluar ruangan, dan langsung mengajak Yudha untuk pergi.


Sebelum itu dia memutuskan untuk menemui Ane terlebih dahulu, untuk menanyakan keberadaan Dinda.


Tak berapa lama pun Mario dan Yudha sampai diruang divisi 3, Mario menghampiri Ane.


"Pak Mario.. ada apa pak?! tanya Ane yang mengetahui kedatangan Mario ke ruangannya.


" Dimana Adinda? apa dia masih dirumahnya?" tanya Mario.


"Ngga pak, Dinda ada di rumah sakit. Ibunya masih diruang ICU." jawab Ane.


"Oke makasih." ucap Mario.


"Sama-sama pak." sahut Ane.


Mario dan Yudha pun segera melanjutkan langkahnya. Mereka mengendarai mobil menuju rumah sakit tempat ibu Dinda dirawat.


*****


Sementara di rumah sakit, ada Dinda yang sedang meminta izin kepada Dokter untuk menemui ibunya walau hanya beberapa menit.


"Dok, apa saya boleh menemui ibu?! tolong izinkan saya Dok! sebentar saja Dokter.. saya ingin ketemu ibuk." ucap Dinda, memohon.


Dokter itupun tersenyum kepada Dinda.


"Iya silahkan Nona, tapi jangan terlalu lama." jawab Dokter.


Tentu saja hal itu membuat hati Dinda senang.


"Terima kasih Dok." jawab Dinda seraya tersenyum sumringah.


"Sama-sama Nona!" sahut Dokter seraya tersenyum ke arah Dinda.


Tak menunda lagi, Dinda pun segera melangkah masuk ke ruang ICU, dia menghampiri ibunya yang sedang terbaring dengan memakai alat bantu pernafasan dan beberapa alat kesehatan lainnya.


Hatinya sedikit lega setelah berhari-hari hanya bisa melihat dari kaca, sekarang sudah bisa melihat ibu dengan jelas bahkan bisa menyentuhnya.

__ADS_1


Air mata Dinda menggenang, namun dia harus mampu menahan agar jangan sampai menetes.


"Ibuk! Dinda disini, Dinda kangen sama ibuk." ucapnya seraya memposisikan tubuhnya membungkuk, agar wajahnya bisa lebih dekat dengan wajah ibu.


Dinda mengecup lembut pipi ibunya sehingga dengan perlahan ibu membuka matanya.


Dinda tersenyum bahagia melihat bola mata ibu mengarah kepadanya.


"Dinda!" ucap ibu pelan.


"Iya buk.. ibu jangan banyak bicara dulu ya.. Dinda ada disini kok, Dinda tetap ada jagain ibuk.." ucap Dinda lembut.


"Dinda..! ibu sudah tidak sanggup lagi.. ibu mau lihat kamu menikah sebelum ibu pergi.." lirih ibu.


"Ibu kenapa ngomongnya gitu..?! ibu gak akan pergi.. ibu harus kuat, Dinda yakin ibu pasti sembuh." ucap Dinda menyemangati.


Air mata ibu pun mengalir mendengar ucapan Dinda.


"Ibu mau lihat kamu menikah." lirih ibu lagi.


"Iya.. nanti kalau ibu sudah sembuh." jawab Dinda.


Sementara dari arah lain, ada Mario dan Yudha yang baru saja tiba di rumah sakit.


Mario langsung menghampiri ruang ICU, sementara Yudha menunggu diluar.


Sebelum masuk Mario melihat dari kaca ruang ICU, terlihat Dinda yang sedang berbicara dengan ibunya di sana.


Kemudian dengan seketika Mario pun langsung masuk menghampiri Dinda dan ibunya.


Betapa terkejutnya Dinda saat melihat sosok Mario yang baru saja masuk, namun ia berusaha menahan emosinya, tak mau membuat keributan saat didepan ibu.


Mario mendekat ke arah Dinda dan ibu dengan santai, sembari tersenyum kearah Dinda.


Setelah posisinya begitu dekat, Mario langsung meraih tangan Dinda dan menautkan jari jemari Dinda dengan jarinya.


Dinda terperangah melihat tingkah Mario terhadapnya.


Sedangkan ibu menatap mengarahkan pandangannya kearah Mario.


"Bu! saya minta izin sama ibu untuk menikahi Adinda, putri ibu." ucap Mario pelan namun cukup terdengar di telinga ibu dan Dinda.


Sontak hal itu membuat bola mata Dinda membulat, tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.


Sedangkan ibu tersenyum bahagia seraya menganggukkan kepala.


"Saya janji sama ibu, saya akan selalu menjaga dan menyayangi Adinda sampai nafas terakhir saya." ucap Mario lagi, membuat ibu meneteskan air matanya kembali.


Sementara Dinda, air mata yang sempat ia tahan, akhirnya menetes.


Debaran jantungnya sangat kuat, namun ia tak mampu berkata apa-apa.


"Terimakasih nak.. ibu merestui kalian." ucap ibu pelan, namun terdengar di telinga Mario dan Dinda.


Senyum Mario mengembang, ada rasa bahagia yang tak mampu diucapkan nya.


"Sama-sama bu.. terima kasih juga ibu sudah memberikan restu ibu untuk kami." ucap Mario, dan ditanggapi oleh ibu dengan anggukan kepala.


Sungguh ibu merasa sangat bahagia mendengar setiap perkataan Mario.


"Nak! sebelum ibu pergi.. ibu ingin sekali melihat kalian menikah." ucap ibu.


"Iya bu! saya akan menikahi Adinda secepatnya." jawab Mario penuh kepastian.


Dinda hanya bisa terdiam mematung sembari menatap raut wajah Mario.


"Kalau begitu saya minta izin sekali lagi sama ibu, saya ingin bawa Dinda kepada orang tua saya." ucap Mario lagi.


"Iya nak.. silahkan." ucap ibu pelan.


"Terima kasih bu.. cup" ucap Mario sembari mengecup lembut pucuk kepala ibu, dan disambut ibu dengan anggukan kepala.


Setelah itu, Mario pun pergi keluar dari ruang ICU sambil menggenggam tangan Dinda.


Setelah mereka berada diluar, Dinda pun segera mengeluarkan emosinya yang tadi telah tertahan.


Namun ketika ia ingin bicara, Mario terlebih dahulu menghentikannya dengan sebuah kecupan pendek.


Cup, Mario mengecup lembut bibir Dinda.


Tentu saja hal itu membuat tubuh Dinda membeku, seolah mati rasa.


"Tahan dulu emosimu, nanti saja kita bertengkar, setelah di rumah." ucap Mario sembari menarik pelan tangan Dinda dan membawanya pergi meninggalkan area rumah sakit.


Lalu bagaimana dengan Yudha?


Yudha yang menyaksikan pun tersenyum lebar seraya menahan tawanya.


Akhirnya Mario, Dinda dan Yudha berada dalam satu mobil, hendak menuju kediaman Mario.

__ADS_1


Bersambung epd 38


__ADS_2