SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 44


__ADS_3

Di tempat lain, ada Aldo yang baru saja tiba di hotel.


Ia segera mencari nomer kamar hotel yang di beritahu oleh Yudha tadi.


Setelah didapati nya, Aldo pun segera menekan bell kamar hotel.


Ting tung (bell berbunyi)


Mendengar suara bunyi bell, Yudha pun segera membuka pintu.


Ceklek (pintu dibuka)


"Masuk Tuan." sambut Yudha.


Aldo pun segera masuk dan mendapati Mario sedang duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Aldo seraya mendudukkan bokongnya di samping Mario.


Mario mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya menatap Aldo.


Aldo mengerutkan kedua alisnya saat saat melihat mama Mario yang sembab.


"Lu kenapa Yo? ada apa sama Adinda?" tanya Aldo yang tau kalau Mario bisa seperti ini hanya karna Adinda.


Mario menghela nafas panjang, "huuuuhhh"


"Dinda mau gue melupakan nya Do, dia akan menikah dengan orang lain." jawab Mario lemah.


Aldo pun menghela nafas panjang, "huuuuhhh"


"Sudahlah Yo.. jangan pikirin dia lagi, lagi pula percuma lo kuras air mata lo.. gak akan buat Dinda balik lagi sama lo Yo." ucap Aldo, sedikit kesal.


"Gua ngga bisa Do, gua cinta sama dia.." jawab Mario memelas.


"Huufff" Aldo menghela nafas kasar.


"Emang kapan rencana pernikahan Dinda?" tanya Aldo lagi.


"Gua gak tau." sahut Mario singkat.


"Kalau begitu kita cari tau, kapan Adinda akan menikah." ucap Aldo.


Mario dan Yudha menatap Aldo secara bersamaan sembari mengerutkan kedua alis mereka, tanda tak mengerti.


"Temui Adinda sebelum acara pernikahannya dimulai, yakin kan dia sama perasaan lo yang sesungguhnya Yo.. buat cintanya kembali sama lo." saran Aldo.


Mendengar itu, Mario kembali semangat.

__ADS_1


"Lo bener Do, gua gak boleh lemah dan gua gak boleh terima kekalahan gua gitu aja. Gua harus merebut Adinda kembali." ucap Mario, penuh semangat.


"Nah gitu dong.. itu baru Mario yang gua kenal, masa gara-gara perempuan satu aja lo langsung lemah?!" ledek Aldo diakhiri dengan tawa kecilnya bersamaan dengan Yudha yang juga duduk diantara mereka.


Mario tersenyum kembali, ada sedikit harapan untuknya agar bisa bersama dengan sang penakluk hatinya.


Setelah lama berbincang, Aldo pun meminta Yudha untuk memesan minuman.


Mereka akan minum bersama untuk sekedar menyemangati Mario.


****


Ditempat lain, ada Jhon yang sedang berada diruang tengah bersama beberapa anak buahnya.


"Mulai besok, kalian aku tugaskan untuk mempersiapkan acara pernikahan ku. Buat pesta yang sangat meriah, dan pastikan acara pernikahan berjalan lancar, jangan sampai ada masalah sedikit pun. Paham?" ucap Jhon memberi perintah.


"Baik bos, bos tenang saja aku dan rekan-rekan ku akan bekerja sama untuk itu." jawab Zack.


"Bagus." sahut Jhon singkat sembari tersenyum sumringah, merasa puas.


Setelah menyudahi obrolan singkatnya dengan para anak buahnya, Jhon memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu.


Namun tiba-tiba saja, salah satu anak buah Jhon menghampirinya.


"Bos, ada Anita diluar. Dia ingin bertemu dengan mu." bisik nya ke sisi telinga Jhon.


"Jhon..! aku kangen sama kamu..!!" rengek Anita manja yang menghampiri Jhon dengan senyum mengenbang.


Jhon menyunggingkan senyum kecutnya, "kau mau apa?" tanya Jhon singkat.


"Aku butuh uang Jhon.. aku janji akan melayani mu sepuasnya malam ini." ucapnya menggoda Jhon sambil bergelayut manja memeluk tubuh Jhon.


Jhon melepaskan pelukan Anita dan menjauhkan tubuhnya dari Anita.


"Alex.. Alex.." teriak Jhon memanggil salah satu anak buahnya yang berada di dalam.


Alex pun segera menghampiri, "bos memanggil ku?" tanya Alex.


"Ambilkan uang 2 juta, beritakan padanya dan suruh dia cepat pergi dari sini." ucap Jhon seraya pergi berlalu meninggalkan Anita yang terperangah, tak mengira Jhon bersikap berbeda dengan nya.


Alex pun segera melaksanakan perintah Jhon.


Lalu bagaimana dengan Anita?


"Jhon, apa yang terjadi dengan mu? kenapa kau menolak ku dan malah mengusirku dari sini? cetus Anita, tak terima dengan perlakuan Jhon.


Jhon terus saja melangkah masuk tanpa menghiraukan ucapan Anita.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Anita semakin kesal pada Jhon.


Beberapa menit kemudian, Alex pun kembali keluar menghampiri Anita.


" Ambil uang ini, dan cepatlah pergi dari sini. Jangan pernah menemui bos Jhon lagi, karna dia akan segera menikah." ucap Alex, mengusir Anita.


Sontak saja hal itu membuat Anita semakin kecewa.


"Apa maksudmu? siapa wanita yang sangat beruntung itu?" tanya Anita menyelidik.


"Dia Nona Adinda, wanita spesial yang dipilih bos Jhon." ucap Alex dengan senyum menyeringai.


"O ya?" sahut Anita. "Beruntung sekali wanita itu, begitu mudahnya dia mendapatkan Jhon." gumamnya dalam hati sembari melangkah pergi meninggalkan area kediaman Jhon dengan penuh rasa kecewa.


****


Sementara Jhon, ia sudah berada didalam kamar tamu.


Jhon merebahkan tubuhnya sejenak, dan mengarahkan pandangan matanya kearah langit-langit kamar.


"Haaahhh" Jhon menghela nafas panjang.


"Kenapa hatiku seperti ini setelah mengenalnya, apa aku sudah jatuh cinta pada nya? Adinda.. aku sudah tidak sabar ingin menikahi mu." ucap Jhon pelan sembari membayangkan wajah dan senyum manis Adinda.


Jhon tersenyum lebar, sambil menggigit sedikit bibir bawahnya.


Hati Jhon saat ini sedang berbunga-bunga, merasa sangat bahagia akan kehadiran Dinda dalam hidupnya.


Jhon membayangkan akan pertemuan pertamanya dengan Adinda.


Dia tak menyangkan akan bertemu kembali dengan sosok wanita yang telah ia renggut kesuciannya, dan bahkan akan segera menikah dengannya.


Oh.. seakan dewi fortuna berpihak pada Jhon.


Beberapa menit kemudian pun Jhon terlelap dengan sendirinya.


****


Lalu bagaimana dengan Mario?


Mario, Aldo dan Yudha juga mengakhiri acara kebersamaan mereka.


Aldo dan Yudha kembali pulang ke rumah masing-masing, berhubung malam semakin larut.


Mereka memutuskan untuk menyudahi minum bersama, mengingat besok akan kembali melakukan aktifitas seperti biasa.


Sementara Mario, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk karena merasa sudah sangat lelah dan mengantuk.

__ADS_1


Bersambung epd 45


__ADS_2