
Setelah selesai berganti pakaian dan merias wajahnya, Dinda pun akhirnya menyusul Jhon yang sudah menunggunya di ruang makan.
Jhon tersenyum lebar saat melihat Dinda yang datang menghampiri nya.
"Astagaaa cantik banget kamu sayang." ucap Jhon, kagum akan kecantikan calon istrinya.
Dinda mencibir mendengar ucapan Jhon.
"Huu-uh, bukannya masih banyak gadis-gadis di luar sana yang lebih cantik dari ku..?!" ucap Dinda, sedikit kesal.
"Tidak, bagi ku kau lah yang terbaik, kau juaranya hehe.." jawab Jhon menggoda dan di akhiri dengan tawa kecil.
"Sudah lah Jhon.. jangan menggoda ku terus, kita harus cepat temui ibu." ucap Dinda menghentikan ke gombalan Jhon, sembari mengambilkan makanan untuk Jhon.
Jhon tersenyum lebar, "makasih sayang," ucap Jhon singkat dan langsung meraih piring yang diberikan oleh Dinda.
"Oh ya, nanti setelah menemui ibu mu kita langsung fitting baju pengantin." lanjut Jhon.
"Haah secepat itu kah?" tanya Dinda, terkejut.
"Memang harus begitu, aku sudah tidak sabar ingin menerkam mu di kasur." jawab Jhon, nyeleneh.
Tentu saja hal itu membuat Dinda semakin jengkel.
"Apa sih Jhon.. kau selalu saja begitu." sahut Dinda dengan raut wajah cemberut.
"Hihi.." Jhon tertawa kecil.
"Maafkan aku sayang.. aku terlalu bersemangat." sahut Jhon, senang.
"Sudahlah.. habiskan makanannya, bukannya kita harus cepat temui ibuk?" ucap Dinda yang masih saja terlihat jengkel.
"Iya iyaa." sahut Jhon singkat.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua pun segera menyantap makanan mereka.
****
Sementara di hotel, ada mario yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Sambil menunggu ke datangan Asisten pribadi nya, Mario duduk di sofa sembari memikirkan bagaimana caranya untuk menemui Dinda.
"Sepertinya aku harus ke rumah sakit, aku harus mencari tau dulu dimana Adinda tinggal sekarang." gumam Mario pelan.
Tak lama kemudian, Yudha sang asisten pun datang.
Ting tung (bell berbunyi)
Mario segera beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri pintu.
Ceklek (pintu di buka)
"Kita langsung berangkat." sambut Mario singkat, tidak ingin berlama-lama.
"Baik Tuan!" sahut Yudha.
Mario dan Yudha pun segera pergi meninggalkan hotel.
"Hari ini ada jadwal apa?" tanya Mario kepada Yudha saat di perjalanan.
__ADS_1
"Hari ini kita ada meeting jam 10 Tuan!" jawab Yudha.
"Oke baiklah, tapi setelah itu kita ke rumah sakit." sambung Mario.
"Kita ikuti Adinda, pastikan kemana dia akan pulang. Aku ingin tau dimana dia tinggal sekarang." lanjut Mario.
"Tapi Tuan! sebaiknya kita memakai mobil yang lain saja, agar tidak mudah di kenali." saran Yudha.
"Ide bagus, setelah kau mengantar ku ke kantor, kau pergilah ke rumah ku, tukarkan mobil ini dengan yang lain." ucap Mario.
"Baik Tuan!" sahut Yudha.
Yudha pun akhirnya melajukan kendaraan nya dengan cepat, sehingga tak butuh waktu terlalu lama akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai di halaman kantor Hadinata Group.
Setelah Mario turun dari Mobilnya, Yudha pun kembali menjalankan mobil menuju ke kediaman orang tua Mario.
Beberapa menit kemudian, Yudha tiba di rumah Mario. Ia turun dari mobil dan langsung menghampiri rumah untuk meminta izin ibunda Mario terlebih dahulu.
Ting tung (bell berbunyi)
Tampak Mama Mario keluar menghampiri Yudha yang berada di teras rumah.
"Ada apa Yud? Mario gimana? kenapa dia gak pulang?" sambut Mama dengan pertanyaan, merasa cemas.
"Maaf tante, Tuan muda baik-baik saja, anda tidak usah khawatir." jawab Yudha.
"Terus Mario nya mana? kenapa dia gak pulang?" tanya Mama lagi.
"Tuan sudah berada di kantor tante, untuk beberapa hari ini dia menginap di hotel dulu, untuk menenangkan pikirannya." jawab Yudha, menenangkan.
Mama Mario yang semula terlihat cemas, bisa sedikit lega mendengar ucapan Yudha.
"Syukurlah kalau begitu, jadi ada apa kamu kemari?" tanya Mama lgi.
"Oh iya silahkan" sahut Mama mengizinkan.
"Sebentar ya Yud, tante ambilkan kuncinya dulu." lanjutnya yang segera beranjak masuk untuk mengambil kunci mobil.
Yudha menganggukkan kepala, sambil tetap berdiri menunggu di luar rumah.
Beberapa detik kemudian pun, Mama kembali keluar menghampiri Yudha.
"Ini Yud kunci mobilnya." ucap Mama seraya mengulurkan kunci kepada Yudha.
Yudha pun meraih kunci itu dari tangan Mama Mario.
"Terima kasih tante, kalau begitu saya pamit dulu. ucap Yudha.
" Iya sama-sama Yud, kamu hati-hati di jalan." jawab Mama.
"Iya tan." sahut Yudha singkat dan langsung menghampiri mobil lain.
Yudha segera membawa mobil meninggalkan halaman rumah Mario, dan melajukan kendaraan nya dengan sangat cepat.
*****
Sementara di tempat lain, ada Jhon dan Dinda yang baru saja tiba di rumah sakit.
Jhon dan Dinda segera masuk dan menghampiri ruang ICU.
__ADS_1
Namun, saat mereka tiba di depan ruangan itu, langkah mereka terhenti.
Dinda heran melihat ruang ICU yang tampak ramai, ada beberapa suster dan Dokter di sana.
"Jhon, apa yang terjadi?" tanya Dinda dengan raut wajah memucat.
Jhon yang melihat raut wajah Dinda yang berubah, segera ia merangkul pundak Dinda.
"Tenang sayang, tidak akan terjadi apa-apa dengan ibu mu." ucap Jhon menenangkan.
Beberapa detik kemudian, tampak seorang Dokter yang keluar dari ruang ICU.
Terlihat raut wajah Dokter yang tidak tersenyum, membuat perasaan Dinda semakin cemas.
"Dokter, apa yang terjadi dengan ibu saya? ibu saya baik-baik saja kan Dok?" tanya Dinda, cemas.
Dokter itu terdiam sejenak, terlihat sangat sulit baginya untuk memberi tau Dinda.
"Dokter, jawab saya Dokter. Kenapa anda diam saja?" tanya Dinda lagi, sedikit tinggi.
Dokter menghela nafas panjang sembari menatap raut wajah Dinda dan Jhon secara bergantian.
"Maaf Nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain." ucap Dokter, lemah.
"A_ apa?" jawab Dinda terbata.
Seketika air matanya menggenang, debaran jantungnya semakin kuat dan tubuhnya melemah.
"Gak, gak mungkin.. ibu gak mungkin pergiii.."
Tangis Dinda pecah saat mendengar ucapan dari sang Dokter.
Ia tak kuasa menahan air matanya, batinnya lirih saat tau jika ibunda tercintanya sudah tiada.
Jhon yang ikut mendengar nya pun menjadi lemah tak berdaya, sungguh dia tidak menyangka jika dia tidak sempat untuk bertemu dengan calon ibu mertuanya.
Dinda berlari meninggalkan Dokter dan Jhon, ia menghampiri ibu di ruang ICU dan kemudian Jhon pun menyusulnya menjurus dibelakang.
Tangis Dinda semakin menjadi saat melihat tubuh sang ibu sudah tertutup dengan kain putih.
"Ibuukk.. ibu bangun buuukk.. ini Dindaa.." lirihnya sambil memeluk tubuh sang ibu.
Jhon mendekat seraya mengelus lembut pundak Dinda.
"Sudahlah sayang.. ikhlaskan ibu mu, dia sudah tenang di sana." ucap Jhon lembut, menenangkan Dinda.
Dinda mengalihkan posisinya memeluk tubuh Jhon.
Dinda menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya bergetar.
"Ibuk Jhon.. ibu sudah pergi.. ibu tinggalkan aku sendiri.." lirihnya dalam tangis.
Jhon memeluk erat tubuh Dinda, dan membenamkan kepala Dinda di dada bidang miliknya.
"Kau tidak sendirian, ada aku. Kau tenanglah, ikhlaskan ibu ya.. ibu sudah tenang di sana." ucap Jhon.
"Jangan menangis lagi, kita harus cepat mengurus pemakamannya." lanjut Jhon.
Dinda melepas pelukannya seraya menganggukkan kepala dan mengusap lembut air matanya.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama, Jhon pun segera mengurus kepulangan jenazah ibu Dinda ke rumah dan mengurus pemakamannya.
Bersambung epd 47