
Keesokkan harinya, Jhon bangun lebih awal.
Jhon pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, membeli beberapa pakaian untuk Dinda di sana.
Jhon tampak memilah milih sendiri pakaian yang menurutnya cocok untuk Dinda.
Setelah didapati nya, Jhon pun segera membayar semua belanjaan nya.
Setelah sudah, ia segera kembali ke rumah untuk menemui Dinda.
Beberapa saat kemudian, Jhon pun sampai di kediamannya.
Ia langsung masuk dan menghampiri meja makan.
Terlihat seorang Art yang sedang menyiapkan sarapan pagi di sana.
"Calon istri ku sudah bangun?" tanya Jhon kepada Art.
"Sepertinya belum Tuan, dari tadi bibi belum melihatnya." jawab Art.
Mendengar jawaban dari Art nya, Jhon pun segera menyusul Dinda dikamar nya.
"Dinda.. sayang!" panggil Jhon dengan lembut.
Namun tidak ada jawaban dari Dinda, dan Jhon pun segera masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat Dinda yang masih saja tertidur pulas di sana, Jhon meletakkan tas belanjaannya di atas meja.
Kemudian ia mendekat ke arah Dinda, dan mendudukkan bokongnya di kasur.
Jhon mengamati raut wajah Dinda, sembari tersenyum manis.
"Benar-benar sangat cantik." gumamnya dalam hati.
"Sayang, bangun yuk! kita kan harus ke rumah sakit." ucap Jhon sambil mengelus lembut pipi Dinda.
"Mmmhh aku masih ngantuk...!!" jawab Dinda, malas.
"Tapi kita harus ketemu ibu sayang..!" ucap Jhon lagi, masih dengan nada yang sama.
Dinda membuka matanya secara perlahan, dan mengarahkan pandangan nya ke arah Jhon sambil mengucek pelan pelupuk matanya.
Dia melihat raut wajah Jhon yang sudah tampak segar, cerah dan tentunya sangat tampan.
Dinda tersenyum tipis, "kamu sejak kapan ada di sini?" tanya Dinda pelan.
"Sejak tadi, aku lihat kamu tidur cantik banget tau gak?" ucap Jhon menggoda.
"Apa sih ah, gombal tau gak. Mana ada orang tidur cantik." ucap Dinda, sedikit kesal.
"Ada, buktinya kamu.." sahut Jhon seraya tersenyum menatap Dinda, masih menggoda.
"Bisa aja pagi-pagi udah gombal, mimpi apa tadi malem?" tanya Dinda lagi.
"Mimpi in kamu lah.. masa mimpi in yang lain." sahut Jhon.
"Aaiihh gombalnya selangit." ucap Dinda seraya tersenyum malu, wajahnya seketika merona mendengar setiap gombalan Jhon.
Jhon tersenyum lebar, sehingga menampakkan giginya yang putih dan rapi.
"Udah ah, aku mau mandi dulu." ucap Dinda mengakhiri obrolan Jhon, sambil mengubah posisinya menjadi duduk di kasur.
Jhon mendekat kan wajah nya ke wajah Dinda, lebih dekat sehingga membuat Dinda memundurkan wajah dan tubuhnya hingga dia kembali ke posisi semula.
Jhon mencium lembut bibir Dinda namun Dinda tak mau membalas ciuman nya, sehingga membuat ciuman Jhon turun ke leher Dinda.
Dinda mendesah pelan, seraya meremas kedua pundak Jhon.
Jhon mulai beringas, membuat tanda-tanda merah di leher Dinda, membuat nafas Dinda semakin tak beraturan.
Detak jantung Dinda dan Jhon semakin berdegup kencang, desiran darah yang semakin kuat membuat Jhon kembali merasakan hasrat yang kian memanas.
Jhon membuka selimut Dinda dan mulai menggerayangi tubuh Dinda, tangannya masuk ke dalam kemeja yang di kenakan oleh Dinda membuat tubuh Dinda menggeliat.
Kemudian Jhon mengeluarkan kembali tangannya, dan mulai melepas satu persatu kancing kemeja Dinda, mulai dari bagian atas.
__ADS_1
Kancing pertama dan ke dua berhasil di buka, Jhon melebarkan kemeja Dinda sehingga menampakkan gundukan gunung kembar yang bulat dan besar.
Jhon mulai mencium bagian itu, memainkan lidahnya dengan lincah di sana.
Tubuh Dinda semakin menggeliat hebat, sembari memejamkan mata dan menggigit kuat bibir bawanya.
Kemudian desahan kecil milik Dinda semakin kuat, saat Jhon mulai menghisap bagian puncak gunung miliknya.
"Mmmhhh"
"sssstttt"
"aaahhh"
Desah Dinda sambil meremas rambut Jhon di bagian belakang kepalanya.
"Aku udah gak kuat sayang." ucap Jhon pelan, merasakan setumpuk daging miliknya mulai mengeras.
Jhon melepas semua kancing kemeja Dinda, sehingga menampakkan tubuh polos yang putih dan mulus milik Dinda.
Jhon kembali menghisap puncak gunung kembar milik Dinda dan memposisikan sebelah tangannya menggerayangi bagian intim Dinda.
Desah Dinda pun semakin menjadi.
"Ooouuuhhh"
"ssssttttt"
"aaaaahhh"
Dinda menggigit bibirnya merasakan sensasi hisapan Jhon dan tekanan jari Jhon di area sensitif miliknya.
Kemudian Jhon menghentikan aksinya, dan mulai membuka pakaian nya satu persatu, sehingga menampakkan tubuhnya yang polos.
Setelah itu Jhon langsung menindih tubuh Dinda, "maaf kan aku sayang, aku benar-benar gak kuat." ucap Jhon pelan.
Jhon pun mulai menekan daging keras miliknya ke bagian intim Dinda.
Namun, baru saja Jhon memasukkannya, tiba-tiba saja Dinda merasakan mual.
Jhon menghentikan aksinya, dan mencabut kembali daging keras miliknya.
"Kamu kenapa sayang?" ucap Jhon cemas.
Dinda menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Dinda segera beranjak turun dari kasur dan berlari ke arah kamar mandi.
Aah lagi-lagi Jhon harus menahan hasratnya kembali.
Dengan raut wajah kecewa, Jhon kembali mengenakan pakaian miliknya.
Setelah sudah, Jhon pun menghampiri Dinda di kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang? mual banget ya?" tanya nya lagi, semakin cemas sambil memijit pelan tengkuk Dinda.
"Iya.. aku mual banget.. perut aku sakit." ucap Dinda yang lemah setelah mengeluarkan isi dalam perutnya.
"Sebentar, aku ambil minyak angin dulu." ucap Jhon seraya meninggalkan Dinda sebentar, mengambil minyak angin yang ada di laci mejanya.
Setelah didapati, Jhon pun kembali masuk ke kamar mandi dan menghampiri Dinda di sana.
"Ini sayang, dicium aromanya biar mual kamu tuh hilang." ucap Jhon sembari memberikan minyak angin kepada Dinda.
Dinda pun meraihnya dan langsung mencium aroma minyak angin tersebut, hingga rasa mual nya hilang.
"Gimana? udah enak kan?" tanya Jhon.
Dinda menganggukkan kepala, "iya, udah mendingan nih." jawab Dinda yang sudah merasa sedikit lega.
Jhon tersenyum menanggapi, "jadi gimana? bisa mandi sendiri gak..? atau mau aku yang mandi in? tanya nya.
" Aku bisa mandi sendiri kok." jawab Dinda.
"Ya udah kalo gitu aku tunggu di luar pintu aja ya..?! tapi pintunya jangan di kunci, entar kalau ada apa-apa aku bisa langsung masuk." ucap Jhon.
__ADS_1
"Iya.." sahut Dinda singkat.
Jhon pun segera keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya. Jhon menunggu Dinda, berdiri diluar pintu kamar mandi.
Uuuh perhatian banget sih Jhon..😄
Dinda pun segera melepas kemejanya yang sudah sejak tadi terbuka.
Kemudian Dinda menyalakan shower dan menyiram tubuhnya di sana.
Beberapa saat kemudian, Dinda pun akhirnya selesai mandi.
Namun saat ia ingin mengeringkan tubuhnya, ia lupa kalau ia tidak membawa handuk.
"Sayang, ambilkan handuk.." teriak Dinda tanpa sadar memanggil Jhon dengan panggilan sayang.
Oo my goooddd 😄 gemes deh 😁
Jhon yang mendengar teriakan Dinda dengan memanggilnya sayang pun, sontak saja membuat Jhon tersenyum sumringah, merasa sangat senang.
Jhon mengambilkan handuk dan segera memberikannya kepada Dinda.
"Sayang, ini handuknya." ucap Jhon membuka sedikit pintu kamar mandi dan memasukkan tangannya yang memegang handuk tersebut.
Dinda pun segera meraihnya.
"Makasih ya.." ucap Dinda.
"Sama-sama.." sahut Jhon sembari menutup kembali pintu kamar mandi.
Setelah itu, Dinda pun keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhnya.
Dinda mengarahkan pandangannya ke arah Jhon, seraya mengerutkan kedua alisnya.
"Ngapain kamu masih disini? kan aku udah keluar?! tanya Dinda.
Jhon tersenyum lebar, " tadi kamu panggil aku apa?" tanya Jhon balik.
"Memangnya aku panggil kamu apa?" Dinda malah balik bertanya, merasa bingung.
"Haaahhh" Jhon menghela nafas panjang.
"Memangnya kamu gak sadar kalau tadi kamu panggil aku sayang?!" tanya Jhon sedikit kesal.
"Hah, emangnya aku tadi panggil gitu ya?" Dinda balik bertanya.
"iya.." jawab Jhon singkat, semakin kesal.
Dinda tertawa kecil, "Hihi.. maaf ya.. keceplosan." ucap Dinda.
Jhon menatap jengah, dan langsung mengambil tas belanjaannya yang tadi.
"Ini, pakai baju mu." ucap Jhon memberikan pakaian-pakaian itu kepada Dinda.
"Kamu beliin aku baju..?!" tanya Dinda sambil melihat-lihat pakaian barunya, "baju nya bagus, makasih ya.. cup" ucap Dinda senang, diakhiri kecupan singkat di pipi Jhon.
Tentu saja hal itu membuat Jhon semakin tersenyum lebar, merasa sangat senang.
"Sama-sama sayang.. cup" jawab Jhon lembut dan diakhiri juga dengan kecupan singkat di pipi Dinda.
Dinda dan Jhon pun tersenyum lebar secara bersamaan.
"Kalau gitu aku tunggu dibawah ya..!! kita sarapan sama-sama." ucap Jhon beranjak meninggalkan Dinda.
"Iya.." sahut Dinda singkat.
"Dandan nya jangan terlalu lama, kita harus ke rumah sakit lagi." lanjut Jhon.
"Iiihh iya iya bawel..!" sahut Dinda
Jhon tertawa kecil menanggapi sahutan Dinda sembari beranjak keluar dari kamar nya.
Dinda pun segera memakai pakaian yang sudah dipilihnya, dan berdandan secantik mungkin.
Bersambung epd 36
__ADS_1