SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 27


__ADS_3

Aldo memandang Yudha dengan tatapan yang penuh tanda tanya dalam benaknya.


"Masuklah, apa yang ingin kau bicarakan?"


Yudha pun segera masuk, lalu duduk di samping Aldo.


"Maaf Tuan, kalau pertanyaan saya melenceng dari urusan pekerjaan."


"Sudahlah, jangan bertele-tele."


"Langsung saja pada inti permasalahan nya."


Ucap Aldo yang sudah tidak sabar menunggu perkataan Yudha.


Yudha menghela nafas panjang.


"Apa Tuan ada hubungannya dengan Nona Adinda?"


"Apa maksudmu?" Yudha balik bertanya seraya mengerutkan kedua alisnya.


"Dua hari ini.. Nona Adinda terlihat menjauhi Tuan Mario Tuan.." jawab Yudha.


"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Aldo lagi.


"Tuan Mario kelihatan sangat terpukul Tuan.. apa lagi saat tadi dia melihat anda bersama Nona Adinda di restoran." ucap Yudha membuat Aldo berpikir sejenak.


"Sekarang dimana Mario?" tanya Aldo


"Ada di ruangannya Tuan."


Tanpa menunggu lagi, Aldo segera beranjak dari ruangannya untuk menghampiri Mario.


Disusul oleh Yudha yang menjurus dibelakang.


*****


Aldo masuk keruangan Mario tanpa mengetuk pintu.


Di sana terlihat Mario yang sedang duduk di sofa sembari menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam.


"Yo, lo udah salah faham." ucap Aldo, pelan.


Mendengar suara Aldo, Mario perlahan membuka matanya.


Mario beranjak dari duduknya, tanpa menghiraukan ucapan Aldo.


Dia menghampiri jendela kaca, menatap semu ke arah luar jendela.


Aldo menghela nafas panjang.


"Yo! aku memang menyukainya, tapi dia mencintaimu.. dia sangat mencintaimu Yo.. aku tau itu."


Mario tersenyum kecut tanpa menoleh, lalu menghela nafas panjang.


"Kau tidak perlu repot-repot untuk menjelaskan, dan kau tidak perlu membelanya di depanku."


"Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan menjauhiku dan mendekatimu." jawab Mario dengan rasa kecewanya.


"Apa maksudmu Yo? Adinda tidak seburuk itu.."


"Berhentilah menyebut namanya didepan kuuu, aku muak mendengarnya." bentak Mario.


Aldo tersentak, lalu menjadi geram karna mendengar ucapan Mario.


"Terserah, kalau kau sudah tidak percaya dengan ucapan ku. Teruskan saja keegoisan mu itu, Mario Hadinata." ucap Aldo seraya meninggalkan ruangan Mario dengan raut wajah kesal.


*****


Hari-hari berlalu dengan kaku, Mario kembali bersikap dingin, tak ada senyuman dari bibirnya.


Bahkan saat berpapasan dengan Dinda pun, dia sengaja mengacuhkannya.


Walau masih ada sisa cinta sedikit, namun Mario berusaha untuk melupakan rasa cintanya terhadap Adinda.


Berbeda dengan Aldo, dia selalu bersikap baik kepada Adinda.


Aldo memang menyukai Dinda, tetapi dia tidak pernah memaksa Adinda untuk mencintainya.

__ADS_1


******


Sampailah saatnya tiba, seorang karyawan baru yang mencoba masuk ke dalam kehidupan Mario.


"Selamat Pagi pak!" sapa Sella lembut sembari tersenyum mengembang.


Sella adalah karyawati baru, yang baru sepekan diterima bekerja di perusahaan Mario.


Sella sangat mengagumi ketampanan Mario, sehingga dia begitu berani mendekati bahkan menggoda Mario.


"Ya, masuklah." jawab Mario datar.


Sella masuk dan langsung menghampiri Mario tanpa rasa sungkan terhadap Yudha yang juga berada di ruangan yang sama dengan Mario.


Mario melirik ke arah Sella, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop.


Sedangkan Yudha, menatap jengah ke arah Sella.


Sella menghampiri Mario dengan membawa beberapa tumpuk kertas ditangannya.


Lalu ia mendekatkan tubuhnya di samping Mario.


"Pak, ada beberapa yang saya tidak mengerti. Apaa.. bapak bisa membantu saya..? tanya Sella berusaha untuk menggoda Mario.


Mario mengalihkan pandangannya ke arah Sella lalu beralih ke Yudha.


Yudha yang memang tidak menyukai Sella pun akhirnya memilih untuk keluar ruangan.


Mario mengerutkan kedua alisnya, menatap Yudha.


" Kau mau kemana?"


"Maaf Tuan, saya keluar sebentar." jawab Yudha sembari melangkah keluar ruangan.


Mario mengerti jika Yudha sangat tidak menyukai Sella, maka dia tidak menghalangi langkah Yudha untuk meninggalkannya.


Mario mengalihkan kembali pandangannya ke arah Sella.


"Mana yang tidak kau mengerti." tanya Mario datar.


Mario mulai menjelaskan bagian-bagian yang tidak dimengerti oleh Sella, namun Sella dengan liciknya mengambil kesempatan itu.


Dia mengecup lembut daun telinga Mario, lalu memainkan lidahnya kesisi telinga milik Mario.


Seketika desiran darah Mario terasa begitu kuat hingga akhirnya dia menarik tubuh Sella dan menjatuhkannya kedalam pangkuanya.


Mario melampiaskan nafsunya kepada Sella, karna dia sudah lama tidak merasakan ciuman hangat dari Adinda.


*****


Sementara ditempat lain, ada Adinda yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Dinda, tolong ibu Din."


Bu Sandra tiba-tiba datang menghampirinya.


Dinda menghentikan aktifitasnya sembari menoleh.


"Ya buk.. ada apa?" tanya Dinda.


Bu Sandra tersenyum tipis.


"Din, tolong kamu antar berkas ini keruangan pak Mario, ibu mau ada rapat sama pak Aldo."


"Bisa ya Din!" ucap bu Sandra.


Dinda tampak berfikir, terasa berat untuknya jika harus bertemu dengan Mario, mengingat sikap Mario yang begitu dingin terhadapnya.


Namun Dinda tak kuasa menolak permintaan bu Sandra selaku atasannya.


"Baik buk!"


"Terima kasih ya Din.." ucap bu Sandra sembari menyerahkan setumpuk kertas kepada Dinda.


"Sama-sama buk..." jawab Dinda seraya meraih setumpuk kertas dari tangan bu Sandra.


Bu Sandra pun meninggalkan Dinda yang penuh dengan keraguan.

__ADS_1


*****


Dinda berjalan menuju ruangan Mario dengan langkah berat.


Setelah ia sampai didepan pintu ruang Mario, dilihatnya pintu tidak sedang tertutup rapat.


Lalu Dinda segera masuk keruangan Mario.


Pruuukkkk


Seketika tubuhnya melemah, dia menjatuhkan setumpuk kertas dilantai.


Debaran jantung yang sangat kuat dan desiran darah yang mengalir terasa begitu cepat, ditambah dengan linangan air mata yang seketika menghiasi indah bola matanya.


Dinda berusaha menahan air matanya agar tak sampai menetes, namun terasa sangat sulit.


Batinnya lirih saat melihat pemandangan didepannya.


Dimana saat ini Mario dan Sella sedang bermesraan di kursi, hingga terdengar suara desahan kecil milik Sella.


Mario tersentak kaget sembari melepaskan ciuman panasnya bersama Sella.


Mario menjauhkan tubuh Sella dari pangkuannya.


Dengan gemetar dia menatap Dinda yang sedang menangis di hadapannya.


Ada rasa takut, menyesal, bersalah dan ada rasa puas dalam hati Mario, rasa yang bercampur aduk bak permen Nona-Nona.😂


"A_ A_ Adinda." ucap Mario terbata.


Adinda tak kuasa menahan tangis, hatinya terasa tercabik-cabik oleh benda tajam.


Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, dia menangis hingga tubuhnya bergetar.


Tubuhnya menjadi sangat lemah, dan akhirnya dia terduduk dilantai.


Sella yang melihatnya seketika menjadi bingung.


"Keluar kau sekarang juga." ucap Mario kepada Sella.


Sella pun akhirnya keluar dengan raut wajah kesal sembari mengarahkan pandangan kearah Dinda.


****


Mario menghampiri Dinda, lalu meraih tubuh Dinda untuk membantunya berdiri.


Dinda melepaskan tangan Mario dari pundaknya dengan kasar.


Hatinya sakit, bahkan teramat sakit.


Dia berusaha menjaga dirinya dengan lelaki lain hanya demi rasa cintanya dengan Mario yang begitu dalam.


Mario menatap lekat raut wajah Dinda yang menatapnya dengan penuh amarah.


"Kenapa kau menangis, hem? bukannya ini yang kau inginkan? menjauh dariku, itu kan yang kau inginkan?" tanya Mario dengan nada tinggi.


"Lalu kenapa kau menangis? bukanya kau sudah berhasil menjauhkan ku darimu, hem?"


"Katakan, kenapa kau menangis..?" bentak Mario.


Mario tertawa lebar, sembari melanjutkan ucapannya.


"Apa kau tauu.. bagaimana perasaanku saat kau mengacuhkan ku, bahkan kau lebih memilih mendekati Aldo dan menjauh dari kuu.." ucapnya dengan sangat kasar.


"Apa kau tau, bagaimana rasanya disaat aku mencintaimu tapi kau malah meninggalkanku.. apa kau tauu.. hah..." bentak Mario lagi.


"Aku tidak pernah meninggalkan mu.. dan aku tidak ada hubungan dengan Aldo seperti yang kau tuduhkan padaku." jawab Dinda dengan lantang sembari menangis sesenggukan.


Mario kembali tertawa keras.


"Omong kosong." ucap Mario masih dengan nada tinggi.


Dinda memilih untuk pergi meninggalkan Mario yang masih digeluti rasa amarahnya yang memuncak, dia tak ingin melanjutkan pertengkarannya dengan Mario.


Sedangkan Mario, dia merasa sangat puas sudah berhasil mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam.


Bersambung epd 28

__ADS_1


__ADS_2