SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 50


__ADS_3

Jhon tidur sangat pulas, hingga tak terasa ia masuk kedalam mimpi yang hampir mirip dengan mimpi Adinda.


Didalam mimpinya, Jhon melihat Dinda yang memakai gaun pengantin.


Dinda terlihat sangat cantik dengan senyum manisnya.


Jhon menggenggam erat tangan Dinda, namun tak lama kemudian dengan perlahan sosok Dinda memudar, semakin pudar dan akhirnya menghilang dari pandangan Jhon.


Jhon berusaha mencarinya berlari ke sana kemari, namun sosok Dinda lenyap bak di telan bumi.


"Adinda.. kamu di mana..?! jangan pergi.. jangan tinggalkan aku.. Adinda...."


Disisi lain Jhon yang sedang tertidur terus saja mengigau dengan menyebut nama Adinda.


"Adinda.. Adinda.. Adindaaaa.."


Tok tok tok (pintu di ketuk)


"Jhon.. Jhon.. bangun.." teriak Dinda menyadarkan Jhon dari alam mimpinya.


Jhon pun tersadar dari mimpinya saat terdengar suara ketukan pintu dan teriakan dari Dinda yang sangat keras.


Detak jantung Jhon berdegup kencang dan cucuran keringat dingin menghiasi tubuh dan wajah nya.


"Aaahh syukurlah, ternyata cuma mimpi." ucap Jhon merasa lega.


Jhon pun akhirnya bangun dan beranjak dari kasurnya menghampiri pintu.


Ceklek (pintu kamar di buka)


Jhon mengucek pelan pelupuk matanya seraya mengamati wajah Dinda yang berada di depannya.


"Sayang, sekarang jam berapa? kenapa kau membangunkan ku sepagi ini?" tanya Jhon.


"Pagi? ini sudah jam 8 Jhon.. bukannya kita ada janji ingin fitting baju pengantin? kau sendiri yang bilang." ucap Dinda, sedikit kesal.


"Aahh iya iya, maaf sayang aku lupa." jawab Jhon seraya tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudah sana mandi." ucap Dinda.


"Iya sayang, aku mandi dulu cup" jawab Jhon yang langsung mengecup lembut pipi Dinda. Setelah itu dia langsung beranjak masuk kembali ke kamarnya meninggalkan Dinda yang memasang raut wajah cemberut.


"Huh, kau selalu saja begitu." gumam Dinda pelan.


Dinda menunggu Jhon diruang tengah, namun tiba-tiba saja dia merasa mual yang sangat hebat.


"Huueekk.. huueekk.. huueekk"


Dinda berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


Dinda mengeluarkan isi di dalam perutnya hingga tubuhnya lemah.


Setelah rasa mualnya sedikit berkurang, Dinda memilih untuk beristirahat sejenak, merebahkan tubuhnya di kasur.


Tak lama kemudian, Jhon pun selesai mandi dan berganti pakaian.


Jhon keluar dari kamar nya, mencari sosok Dinda namun dia tak menemukannya.


Akhirnya Jhon mencari Dinda di kamar utama yang di tempati Dinda.


Jhon masuk tanpa mengetuk pintu, berhubung pintu kamar pun tidak terkunci.


Terlihat Dinda yang sedang terbaring lemas di sana.


Jhon menghampiri Dinda.


"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Jhon lembut seraya mendudukkan bokongnya di kasur, tepatnya di samping Dinda.

__ADS_1


"Aku mual Jhon.. kepala ku sedikit pusing." jawab Dinda.


"Kita ke dokter ya! kita periksakan kondisimu dan bayi kita sekarang." ucap Jhon seraya mengelus lembut pucuk kepala Dinda.


"Tapi Jhon.. bukannya kau sudah ada janji dengan desainer itu?" tanya Dinda.


"Janji bisa ditunda, kau tenang saja sayang, kesehatan mu lebih penting." sahut Jhon.


Jhon pun segera membantu Dinda untuk bangun dari kasur.


Jhon merangkul pinggang ramping Dinda dan berjalan dengan perlahan menuju keluar dari kamar.


Setelah berada diluar, Jhon memanggil Zack.


"Zack.. Zack.." teriak Jhon.


Zack yang mendengar suara Jhon memanggilnya, segera ia menghampiri.


"Iya bos, ada apa?" tanya Zack.


"Bawa mobil, kita harus bawa Dinda ke rumah sakit." ucap Jhon.


"Baik bos." sahut Zack singkat dan langsung berlari ke arah luar rumah menghampiri mobil.


Jhon dan Dinda menyusul dari belakang.


Setelah mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, Zack pun menjalankan mobilnya dan melaju dengan cepat.


Tak berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit.


Zack menghentikan kendaraannya tepat di halaman rumah sakit, Jhon segera membawa Dinda keluar dari mobil dan langsung membawa Dinda masuk menuju ruang Dokter kandungan.


Sementara Zack, ia memarkirkan mobil di area parkiran dan menunggu di sana.


"Sus, Dokternya ada?" tanya Jhon kepada seorang suster yang baru saja keluar dari ruang Dokter kandungan.


"Belum sus." sahut Jhon singkat.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya pak, saya beritahu Dokter dulu." ucap suster.


"Maaf pak, kalau boleh tau atas nama siapa ya pak?" lanjut suster.


"Saya Jhonatan, dan ini istri saya Adinda."


"Baik pak, tunggu sebentar ya pak!" ucap suster lembut.


"Iya sus." sahut Jhon seraya membawa Dinda duduk di ruang tunggu.


Beberapa menit kemudian, suster itupun keluar dari ruang Dokter, dan langsung menghampiri Jhon dan Dinda.


"Silahkan masuk pak, bu, Dokter sudah menunggu anda." ucap suster.


"Baik, terima kasih ya sus!" ucap Jhon.


"Sama-sama pak!" sahut suster dan langsung pergi meninggalkan Jhon dan Dinda.


Jhon pun membawa Dinda masuk ke dalam ruangan Dokter.


"Permisi Dokter!" sapa Jhon.


Dokter tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Silahkan masuk pak, bu! silahkan duduk." sambut Dokter lembut.


"Oh iya Dok, terima kasih." sahut Jhon sambil membawa Dinda masuk dan duduk berhadapan dengan Dokter.


"Apa kabar pak, bu! ada keluhan?!" tanya Dokter.

__ADS_1


"Baik Dok, tapi pagi ini istri saya merasakan mual dan kepalanya pusing Dokter." jawab Jhon.


"Emm obat yang kemaren sudah di habiskan?" tanya Dokter.


"Sudah Dok." jawab Dinda pelan.


"okee.. sekarang ibu berbaring dulu ya.. kita periksa kondisi janinnya dulu." ucap Dokter.


Dinda pun menuruti, segera ia merebahkan tubuhnya di kasur.


"Maaf ya bu.. kita angkat sedikit bajunya." lanjut Dokter yang ingin mengolesi cream jelly di perut Dinda.


Jhon mendekati Dinda sembari berdiri di sisi Dinda.


Dokter pun melakukan tindakan USG kepada Dinda.


"Kondisi janinnya baik.. perkembangannya juga baik ini..." ucap Dokter lembut sambil mengamati layar monitor.


"Alhamdulillah.." ucap Dinda dan Jhon bersamaan, seraya tersenyum mengamati layar monitor.


"Dok, bayi saya laki-laki atau perempuan Dok?" tanya Jhon.


Dokter tertawa kecil mendengar pertanyaan Jhon, "belum bisa kelihatan jenis kelaminnya pak.. di karenakan usia janin nya masih terlalu kecil, dan baru memasuki minggu ke lima." jawab Dokter.


Dinda tersenyum ke arah Jhon, sementara Jhon terus saja menatap layar monitor.


"Ooh begitu ya Dok?" sahut Jhon.


"Iya pak.. nanti setelah usia kandungan sudah mencapai 18 minggu, baru jenis kelaminnya bisa terlihat, itupun jika posisi janinnya tidak menutupi kelaminnya pak..." ucap Dokter menjelaskan.


"Ooh.. iya iya Dok." sahut Jhon sembari menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Nah.. sudah jelas ya pak, bu! kondisi janinnya baik, hanya ibunya saja yang mungkin terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Sebaiknya jaga kondisi ibu, karna itu sangat berpengaruh terhadap janin yang ada di dalam." lanjut Dokter, dan langsung menghentikan USG nya.


"Iya Dok, terima kasih." sahut Dinda sembari menutup kembali bajunya.


Dokter pun menuju mejanya, untuk menuliskan resep obat.


Disusul oleh Jhon dan Dinda.


"Setiap bulan periksa rutin kondisi ibu dan bayinya ya pak! agar kita bisa memastikan perkembangannya." ucap Dokter lagi.


"Baik Dok, itu pasti. Karna saya juga sudah tidak sabar ingin tau jenis kelamin bayi saya." jawab Jhon, senang.


Dokter tersenyum menanggapi ucapan Jhon.


"Ini pak resep obat dan vitaminnya, kalau rasa mual nya sudah berkurang, sebaiknya hentikan dulu obatnya ya.." ucap Dokter.


"Iya Dok! terima kasih Dok, kalau begitu kami pamit dulu." ucap Jhon.


"Sama-sama pak, silahkan." sahut Dokter.


Jhon dan Dokter pun bersalaman, begitu juga dengan Dinda.


Lalu setelah itu mereka keluar dari ruang Dokter.


Saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit, "Sayang, kau tunggu di sini dulu ya.. aku mau ambil obat." ucap Jhon yang menyuruh Dinda untuk menunggu di ruang tunggu.


"Iya." sahut Dinda singkat.


Jhon pun melangkah menuju apoteker.


****


Dari arah lain, tiba-tiba saja Mama Mario melihat Dinda dari kejauhan, dia melihat Dinda yang sedang duduk di ruang tunggu.


Mario dan Mamanya juga pergi ke rumah sakit yang sama untuk menjenguk saudara Papa Mario yang sedang di rawat.

__ADS_1


Bersambung epd 51


__ADS_2