SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
Eps 60


__ADS_3

Di dalam kamar, ada Dinda yang sedang duduk di depan meja rias nya.


Ia masih menunggu kedatangan Jhon dan anggota keluarga yang lain, sebelum acara di mulai.


Saat terdengar suara ketukan, Dinda langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar.


"Masuk saja... pintunya tidak di kunci." Teriak Dinda, namun tidak terlalu keras.


Namun apa yang terjadi?


Seketika bola mata Adinda membulat, ketika pandangannya tertuju kepada sosok yang bertubuh tinggi besar dan berparas tampan.


Ia langsung berdiri dan memposisikan tubuhnya menghadap Mario.


"Mario...!!" Teriak Dinda dengan nada yang sama, tidak terlalu keras.


"Ssssttt..." Mario memberi aba-aba, menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk.


Ia tak ingin kehadiran nya di ketahui oleh siapa pun.


"Jangan keras-keras." Ucap Mario sambil melangkah mendekat ke arah Dinda.


"Mau apa kau kemari?!" tanya Dinda, sedikit merasa ketakutan.


Mario tidak menghiraukan pertanyaan Dinda, ia menatap lekat raut wajah Dinda.


"Kau terlihat sangat cantik."


Ucapnya, kagum.


"Jadi kau ke sini hanya untuk mengatakan itu?!" tanya Dinda lagi, masih mengarahkan pandangannya kepada Mario.


"Cepat pergi dari sini, sebelum anak buah Jhon melihat mu." Usir Dinda.


"Tidak Adinda! kau harus ikut dengan ku, ikutlah bersama ku Dinda...!! aku akan membahagiakan mu." Pinta Mario, memelas.


"Jangan gila..!! aku tidak akan ikut dengan mu." Tolak Adinda.


Mario semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dinda, lalu merangkul tubuh Dinda dengan erat, sehingga Dinda merasa kesulitan untuk bergerak.


"Maafkan aku sayang...!! aku tidak bisa hidup tanpa mu." lirih Mario, berharap.


"Lepas aku...!! aku tidak akan ikut dengan mu!"


Tolak Dinda sekali lagi, sambil terus mencoba untuk melepaskan rangkulan Mario.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Kau harus ikut dengan ku Adinda!!" jawab Mario, masih memeluk erat tubuh Dinda.


"Jangan bodoh Mario..! lepaskan aku... kalau tidak aku akan berteriak." Ucap Dinda, masih mencoba berontak.


"Kenapa..?! apa sudah tidak ada cinta untuk ku?!" tanya Mario memelas, dengan merenggangkan sedikit pelukannya.


"Lupakan aku Mario..!! jika kau mencintaiku.. biarkan aku pergi, biarkan aku bahagia bersama keluarga baru ku." Lirih Dinda, memohon.


"Aku mengandung anak Jhon..!! apa kau lupa?!" Lanjut Dinda dengan menatap lekat bola mata Mario.


Mario pun membalas tatapan Dinda, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda, semakin dekat sampai akhirnya bibir Mario menyentuh bibir mungil Dinda.


Mario mengecup lembut bibir Dinda, merasakan bibir mungil Dinda sampai akhirnya Dinda mendorong sedikit tubuh Mario, dan menjauhkan tubuhnya dari Mario.


Mario pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia pasrah dengan keputusan Dinda yang tak ingin kembali padanya.


Mario dan Dinda saling menatap, ada rasa kehancuran dalam benak Mario.


"Baiklah, kalau keputusan mu sudah bulat." Ucap Mario, lemah.


"Aku akan pergi, tapi sebelum itu.. jika suatu saat kau tidak bahagia..!! beritahu aku, aku akan menjemputmu." Lanjutnya, masih berharap.


Tanpa sadar, air mata Dinda pun menetes saat mendengar ucapan Mario.


"Jaga dirimu baik-baik." Lanjut Mario lagi.


Dinda hanya bisa terdiam menatap Mario, rasa sedih seketika menyelimuti hatinya.


Mario pun pergi meninggalkan Adinda yang masih terdiam sambil meneteskan air mata.


Mario melangkah ke luar meninggalkan kamar pengantin milik Jhon dan Dinda, semakin jauh sampai akhirnya menghilang.


Sementara Dinda, ia menangis sejadi-jadinya.


Hingga ia tidak menyadari, jika ada seseorang yang masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Emmhh" suara Dinda tertahan, saat orang itu membungkam mulut Dinda dengan sapu tangan.


Dinda terkulai lemah, hingga tak sadarkan diri.


****


Tak berapa lama, mobil iring-iringan pengantin pria pun datang.


Terlihat Jhon tersenyum lebar saat turun dari sebuah mobil mewah yang di hiasi dengan bunga-bunga, ia begitu bahagia.


Jhon masuk ke hotel bersama para rombongan, ia menuju ruangan tempat resepsi pernikahan yang akan segera di laksanakan.


Saat sampai di pelaminan, Jhon pun segera duduk di sana.


Kemudian, dua orang anggota keluarga Jhon pergi menghampiri Dinda.


Setelah mereka sampai di kamar nomor 106, betapa terkejutnya mereka saat mendapati bahwa sang calon pengantin wanita tidak berada di tempat.


"Kemana dia?!" tanya salah satunya, merasa bingung.


"Kenapa kau bertanya kepada ku?!" jawab yang satunya lagi.


"Kita tanya yang lain, mungkin saja mereka tau dimana pengantin wanitanya." ucap salah satu dari keluarga Jhon.


Mereka berdua pun segera keluar dari kamar itu.


"Hei!! apa kalian tahu di mana pengantin wanita nya?!" tanya salah satu dari mereka saat bertemu dengan beberapa rekan Jhon.


"Apa yang kau maksud Nyonya?! bukankah pengantin wanita sedang menunggu di dalam kamar?!" rekan Jhon balik bertanya.


"Dia tidak ada di kamarnya..!! cepat bantu kami mencarinya, sebentar lagi acara akan di mulai." Ucap salah satu dari keluarga Jhon.


"Iya, ayo cepat kita cari." Ucap rekan Jhon yang langsung mengajak rekannya yang lain untuk mencari Adinda.


Mereka pun akhirnya sama-sama mencari di sekitar kamar, lanjut ke seluruh ruangan hotel.


Namun nihil, mereka tidak menemukan sosok sang pengantin wanita di sana.


Salah satu rekan Jhon keluar dari hotel, ia memberitahu rekan-rekan nya yang berjaga di luar.


Tanpa sengaja, Zack melihat sosok yang tak asing di matanya dari kejauhan.


Sosok yang terlihat itu tak lain adalah Mario yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Tuan Mario!" Sebut Zack sambil terus mengarahkan pandangannya ke arah Mario.


"Kurang ajar!! cari mati dia." Lanjut Zack, mulai emosi.


"Hei, ikuti mobil hitam itu." perintah Zack kepada rekan-rekannya yang lain, sambil menunjuk ke arah mobil yang baru saja meluncur.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, beberapa diantara mereka pun langsung mengambil langkah.


Dengan segera mereka masuk ke dalam mobil, mereka mengikuti mobil yang di kendarai oleh Mario.


Sementara Zack, ia bergegas masuk menghampiri Jhon.


Sesampainya Zack di keramaian, ia mengarahkan pandangannya ke sana ke mari.


Tentu saja hal itu membuat Jhon curiga.


Jhon menatap raut wajah Zack dari kejauhan,


Zack terlihat panik. Ia pun curiga telah terjadi sesuatu, yang tidak di inginkan tentunya.


Jhon dan orang-orang di sana sudah terlalu lama menunggu kehadiran calon mempelai wanita, namun yang di tunggu tidak kunjung tiba.


Jhon beranjak dari duduknya, ia menghampiri Zack yang berdiri di pintu ruangan.


Setelah jaraknya sudah sangat dekat, ia pun bertanya kepada Zack.


"Apa yang terjadi?!" ucapnya seraya menatap raut wajah Zack.


"Bos, calon istrimu menghilang." Jawab Zack.


"Apa yang kau bicarakan?!" tanya Jhon masih belum mengerti apa yang di katakan Zack.


Zack pun menceritakan apa yang telah terjadi, ia juga memberi tahu kepada Jhon bahwa ia telah melihat Mario yang baru saja pergi dari area hotel.


Jhon sungguh terkejut, seketika desiran darah amarahnya memuncak.


"Kurang ajar..! cepat cari tahu di mana keberadaan calon istri ku." Perintah Jhon dengan nada tinggi.


"Jika kau tidak menemukan nya, maka kau yang akan ku habisi." Lanjut Jhon sambil menarik kerah kemeja Zack lalu mendorongnya keras.


Tubuh Zack pun terdorong, hingga ia hampir saja terjatuh.


Zack pun segera pergi menyusul rekan-rekannya.


Sementara Jhon, ia kembali ke ruangan.


Jhon memberi tahu salah satu anggota keluarganya, meminta agar acara di tunda sampai urusannya selesai.


Setelah itu ia pun keluar dari hotel.

__ADS_1


"Siapkan mobil, ayo ikut dengan ku." Ucap Jhon kepada rekannya yang lain.


****


Sementara itu...


Mario yang sedang melajukan kendaraannya.


Ciiiittttt


Mario menekan rem mobilnya secara tiba-tiba, hingga mobilnya terpaksa berhenti saat jalan yang di lalui nya di hadang oleh dua buah mobil berwarna hitam.


Mereka tak lain adalah orang-orang kepercayaan Jhon.


Terlihat Zack dan rekan-rekannya yang lain turun dari mobil mereka.


"Apa maksud kalian menghalangi jalan ku?!" tanya Mario yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Serahkan Adinda kepada kami, kalau kau ingin selamat." Ucap salah satu rekan Zack dengan nada tinggi.


"Hah..!! apa maksud kalian?!" tanya Mario, ia terkejut mendengar apa yang di ucapkan orang-orang Jhon.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, serahkan dia.. atau kau akan mati." Bentak Zack.


"Bukankah Adinda ada di hotel?! apa sebenarnya yang terjadi?!" tanya Mario, bingung.


"Masih berpura-pura bodoh!! beri dia pelajaran." Ucap Zack memberi perintah kepada rekan-rekannya.


Mereka pun tidak mau membuang-buang waktu.


Bukk buukk buukkk...


Satu demi satu pukulan melayang ke tubuh Mario, hingga babak belur.


"Akh..aakh..aaakh.."


Mario menjerit kesakitan, ia tak berdaya.


Mario tak mampu melawan rekan-rekan Jhon dengan jumlah yang tidak sedikit.


Ia hanya pasrah menerima pukulan demi pukulan yang bertubi-tubi.


Setelah Mario terlihat sangat lemah, mereka pun menghentikan aksi brutal mereka, sampai akhirnya mobil yang di kendarai Jhon pun berhenti di sana.


Jhon keluar dari mobil menghampiri Mario.


Jhon memposisikan tubuhnya berjongkok, agar lebih dekat dengan posisi Mario yang terbaring di jalan.


"Kurang ajar ...!! katakan, di mana calon istriku?!" Bentak Jhon dengan nada tinggi, sambil menggenggam kerah kemeja Mario.


"Hahahaha..." dalam keadaaan lemah, Mario tertawa lepas saat mendengar pertanyaan Jhon.


"Apa maksudmu?! kenapa kau menanyakannya kepada ku?! bukankan kah kau tau di mana calon istri mu berada?!" jawab Mario, ia masih belum mengerti apa maksud Jhon dan rekan-rekannya.


Jhon melepaskan genggamannya, lalu memposisikan tubuhnya menjadi berdiri.


Buukkk


Jhon menendang bagian perut Mario dengan satu kakinya.


"Aakkhh"


Lagi-lagi Mario menjerit, sakit.


"Apa kau benar-benar tidak tahu atau kau berpura-pura tidak tahu?!" tanya Jhon dengan sedikit menurunkan emosinya.


"Memangnya apa yang terjadi dengan Adinda?!" Mario balik bertanya sambil berusaha dengan bersusah payah untuk bangkit dari posisinya yang terbaring.


"Apa yang kau lakukan di hotel?! mengapa kau pergi di saat acara belum di mulai?!" tanya Jhon sambil menatap tajam raut wajah Mario.


"Aku memang menemuinya untuk yang terakhir kali, tapi aku tidak melakukan apa-apa..!! bahkan aku sendiri tidak tahu apa maksud kalian." Jawab Mario sambil menahan perutnya yang terasa sakit.


"Lalu siapa yang membawa Adinda?!" Ucap Jhon mulai memelankan volume suaranya, sambil mengamati satu persatu raut wajah rekan-rekannya beserta Mario.


"Kenapa kau tidak memeriksa rekaman sisi tv saja di sana?!" jawab Mario memberi ide.


"Si_al, kita kembali ke hotel." ucap Jhon pelan, sambil mengarahkan rekan-rekannya untuk segera masuk ke mobil.


Mario menyunggingkan senyum tipisnya.


"Tak ku sangka kau begitu bodoh." Gumam Mario dalam hati.


Setelah itu, Mario pun mengambil langkah untuk mengikuti Jhon dan rekan-rekannya.


Ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Adinda setelah kepergiannya.


Mobil iring-iringan Jhon dan rekannya melaju dengan sangat cepat, diikuti oleh Mario yang menjurus paling belakang.


Hingga akhirnya mobil yang di kendarai mereka telah sampai di tempat tujuan.


Jhon meminta salah satu petugas hotel untuk memeriksa rekaman sisi tv yang berada di sekitar kamar nomor 106.


Pemeriksaan itu pun di lakukan dengan cepat.


Jhon, Mario dan yang lainnya menyimak setiap rekaman itu.


Terlihat juga Mario yang sedang masuk dan keluar dari kamar nomor 106.


Jhon menatap tajam kearah Mario sesaat, setelah itu ia mengarahkan pandangannya kembali menyimak rekaman sisi tv.


Seketika bola mata mereka membulat, saat di dapati bahwa ada orang lain yang masuk ke sana tak lama setelah Mario keluar dari kamar.


"Siapa mereka?!" tanya Jhon sambil mengamati tiga orang yang memakai pakaian serba hitam dan memakai penutup wajah.


Terlihat pula Adinda yang sedang tidak sadarkan diri di gotong oleh sekelompok orang tersebut.


Jhon semakin tidak percaya jika ada orang yang berani menyakiti calon istrinya.


"Siapa mereka?!" tanya Jhon sekali lagi dengan nada pelan.


"Bos, apa ini ada hubungannya dengan Anita?!" tanya Zack, mencoba menebak.


Jhon menoleh, ia mengarahkan pandangannya ke arah Zack.


"Apa kau ingat, Anita sempat bertengkar dengan Adinda?!" lanjut Zack.


Jhon tampak berfikir sejenak.


"Anita!! kau benar, mungkin saja dia pelakunya." Jawab Jhon setelah mengingat bahwa Anita lah yang terakhir menemuinya di hotel.


"Kurang ajar, benar-benar cari mati. aku tidak akan mengampuni nya jika terjadi sesuatu pada calon istri ku." Ucap Jhon.


Amarahnya kembali memuncak.


"Kita harus mencari Anita." Ucap Jhon yang langsung beranjak pergi, diikuti oleh Mario dan yang lainnya.


Mereka pun kembali keluar dari hotel, dan langsung masuk ke dalam mobil mereka untuk segera dapat menemukan Anita.


Jhon dan rekan-rekannya tidak perlu bersusah payah untuk dapat menemukan Anita, karna mereka memang sudah mengetahui dimana lokasi tempat kediaman Anita.


Sementara Mario, ia terus saja mengikuti iring-iringan mobil Jhon. Ia tak ingin melewatkan kejadian ini sedetikpun.


Setelah lama berkendara, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan.


Jhon dan rekan-rekannya bergegas turun dari mobil, sebelum itu ... Jhon terlebih dahulu mengambil senjata api milik nya yang memang tersimpan di dalam mobil.


Jhon menyelipkan senjata itu di belakang Jaz nya.


"Dobrak pintunya!!" perintah Jhon yang langsung di laksanakan oleh rekan-rekannya.


Braaakkk


Pintu rumah Anita pun berhasil di dobrak dan terbuka lebar.


"Anita ...." teriak Jhon dengan lantang, sambil masuk ke dalam rumah di ikuti oleh yang lainnya.


Rumah mewah milik Anita adalah hasil dari hubungan nya dengan Jhon, Anita selalu meminta uang kepada Jhon untuk kepentingan pribadi nya.


Maka dari itu Anita menentang keras pernikahan Jhon dan Dinda.


"Periksa seluruh ruangan yang ada." Perintah Jhon saat melihat rumah Anita tampak begitu sepi, tak ada suara yang terdengar di sana.


Rekan-rekan Jhon pun segera memeriksa seluruh ruangan yang ada, begitu juga dengan Mario.


Saat Mario memasuki sebuah ruangan, terlihat ada pintu lain di sana.


Mario pun memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut.


Betapa terkejutnya Mario saat pintu sudah terbuka, tampak sebuah lorong yang cukup panjang dan gelap di sana.


Namun Mario tidak langsung memasuki nya, ia kembali menutup pintu tersebut dengan perlahan.


Mario kembali untuk memberitahu Jhon.


"Jhon!!" panggil nya saat sudah berada di dekat Jhon.


Jhon pun mengarahkan pandangannya ke arah Mario.


"Aku menemukan sesuatu!" ucap Mario.


"Apa yang kau temukan?!" tanya Jhon sambil menatap tajam kepada Mario.


"Ada lorong di sana, di salah satu ruangan." Jawab Mario seraya menunjuk ke arah ruangan yang di maksud sambil melangkahkan kakinya.


Tanpa basa-basi, Jhon pun mengikuti langkah Mario diikuti oleh rekan-rekan yang lain.

__ADS_1


Sesampainya mereka di ruangan tersebut, mereka pun segera membuka pintu itu dan masuk menapaki lorong secara menjurus.


Setelah berada di pertengahan jalan, barulah terdengar suara jeritan beserta rintihan seorang wanita.


Suara tersebut tak lain adalah suara milik Adinda yang sedang menerima siksaan dari seseorang.


"Aakkhh...aaakkkhhh.."


Suara Dinda semakin terdengar jelas.


Jhon dan yang lainnya pun semakin mempercepat langkah kaki mereka.


Braaakkk


Seketika pintu di tendang keras oleh Jhon, hingga mengejutkan semua yang ada di dalam ruangan tersebut.


Tampak Adinda yang sedang duduk di kursi dengan posisi tangan dan kaki terikat.


Keadaan Dinda tampak begitu buruk, rambut yang semula tertata rapi, kini terlihat sangat acak-acakan.


Kebaya pengantin yang indah itu juga, terlihat compang-camping.


Raut wajah dan tubuh nya di penuhi dengan luka lebam, kondisinya sangat lemah.


"Adinda!!" ucap Mario pelan, dengan bola mata yang membulat.


Ia benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Adinda.


"Biadab..." teriak Jhon saat melihat Anita yang sedang berdiri di hadapan Dinda.


Desiran darah bergemuruh, ingin rasanya ia mencekik Anita saat ini juga.


Jhon melangkah maju, namun dengan cepat Anita mengacungkan senjata tajam ke arah leher milik Dinda.


"Jangan coba-coba mendekat Jhon!! jika kau tidak mau kekasihmu celaka." Ancam Anita, menghentikan langkah Jhon.


"Apa yang kau inginkan?!" tanya Jhon sambil menatap tajam kepada Anita.


"Hahahaha ...." Anita tertawa lebar.


"Tentu saja aku menginginkan mu Jhon..!! Jawab Anita dengan nada menggoda.


Jhon menyunggingkan senyum sinis nya.


"Jangan bermimpi Anita!! aku tidak akan sudi menikahi perempuan seperti dirimu." Jawab Jhon, merasa geram mendengar permintaan Anita.


Anita pun menjadi semakin emosi.


"Kalau begitu katakan pesan terakhir mu untuk nya." Ucap Anita semakin menekan kan senjata tajamnya ke leher Dinda.


Dinda menarik nafas dalam.


"Jhon...!! panggil Dinda pelan.


Mendengar suara Dinda yang memanggil namanya, Jhon semakin merasa tidak tega.


"Sayang bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu." Ucap Jhon menenangkan Dinda.


"Hahahaha ...." Anita tertawa menggelegar hingga tubuhnya bergetar.


Ia pun memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk menghalangi rekan-rekan Jhon.


Pertempuran pun terjadi, aksi pukul memukul satu sama lainnya.


"Anita.. lepaskan dia, atau aku akan menembak kepala mu." Ucap Jhon yang langsung mengeluarkan senjata api milik nya.


Tapi hal itu tidak membuat Anita menyerah.


"Tidak akan, aku tidak akan melepaskan nya." Jawab Anita menolak dengan tegas.


"Tembak aku..! ayo tembak..!!" ucap Anita semakin menekan pisaunya ke leher Dinda, hingga leher Dinda mengeluarkan darah.


Sementara Jhon, ia merasa serba salah.


Ia bingung, apa yang harus di lakukan nya untuk menjauhkan pisau itu dari leher Dinda.


"Anita..!! jauhkan pisau itu, aku akan menuruti keinginan mu jika itu yang kau mau." Ucap Jhon, membujuk.


Mendengar ucapan Jhon, Anita pun tersenyum lebar.


"Baiklah..!! kalau begitu letakkan senjata mu, maka aku juga akan membuang pisau ini." Jawab Anita sambil tersenyum puas.


Jhon pun terpaksa meletakkan senjata api nya ke lantai.


Hal yang sama di lakukan oleh Anita, ia juga membuang pisaunya ke lantai.


Namun tanpa di duga, gerak Jhon kalah cepat dari Anita.


Anita langsung meraih senjata api milik Jhon dan menembakkannya ke arah Dinda.


Dorr


Terdengar satu tembakan, yang membuat pertikaian terhenti.


"Aakkhhh" suara jeritan Dinda ketika peluru mengenai bagian tubuhnya.


Tapi sayang tembakan Anita meleset, peluru itu hanya mengenai bagian lengan Dinda.


Dorr.. dorr..dorr...


Anita mengulanginya lagi, terdengar tiga kali suara tembakan.


Namun sungguh malang, tembakan Anita mengenai tubuh Jhon.


Ketika Anita hendak mengulanginya lagi, tiba-tiba saja Jhon menghadang tubuh Dinda dengan memeluknya.


Alhasil, tiga peluru bersarang di bagian punggung milik Jhon.


Semua mata membulat, tertuju pada Jhon.


Begitu juga dengan Dinda.


Tubuh Jhon semakin lemah, lemah tak berdaya.


Pandangan mata Jhon dan Dinda saling beradu, menatap lekat satu sama lain.


"Jhon...!!" lirih Dinda dengan linangan air mata.


"Jhoooonnnn......!!! jerit Dinda, tangisnya pun pecah.


"Bos Jhon..!! bos ...!!" panggil rekan-rekannya, seraya berlari menghampiri Jhon yang semakin lemah, hingga akhirnya kepala Jhon jatuh di pangkuan Dinda.


Sementara Anita, ia langsung di bawa kabur oleh teman-temannya.


Mario pun dengan segera melepas semua ikatan Dinda, sedangkan Zack dan yang lainnya membaringkan tubuh Jhon ke lantai.


"Sayang... bangun..!! bangun Jhon ..!! jangan tinggalkan aku ...!!" teriak Dinda dengan lirih, sambil mengangkat kepala Jhon dan meletakkan nya di pangkuannya serta mengguncang-guncang kan tubuh Jhon.


"Sayang bangun ....!!! ini hari pernikahan kita ...!!! teriak Dinda, menangis pilu.


"Aku cinta kamu....!!! jangan tinggalkan aku Jhon ....!!! lanjutnya masih dengan derai an air mata.


Begitu juga dengan Zack dan rekan-rekannya, mereka terus saja memanggil Jhon, berharap Jhon masih bisa bertahan.


Namun sayang, Tuhan berkata lain.


Raut wajah Jhon semakin pucat, suhu tubuh yang semakin dingin. Denyut jantung yang kian melemah, matanya pun susah tertutup rapat.


Hingga akhirnya, Jhon menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Adinda calon istri yang hendak dinikahinya.


"Jhoonaaataaaannn....!!! teriak Dinda menggema di seluruh ruangan, Dinda menangis semakin menjadi hingga sesenggukan.


Begitu juga dengan rekan-rekan Jhon, mereka merasa sangat kehilangan.


Raut wajah kesedihan tampak jelas memenuhi ruangan itu, mereka semua tidak menyangka Jhon rela mati demi Adinda.


Hari ini, semua rekan-rekannya telah menyaksikan cinta tulus dari seorang Jhonatan terhadap seorang Adinda Larasati, tidak terkecuali Mario.


Mario hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya, ia juga menyesali karna tak bisa melepaskan Adinda kepada seorang Jhonatan.


Kini hanya tinggal kenangan.


Jenazah Jhon di bawa pulang ke kediaman nya, acara resepsi pernikahan pun telah di batalkan.


Hari bahagia seketika berubah menjadi duka.


****


Satu tahun kemudian


Adinda larasati memilih untuk tidak menikah, ia menikmati kesendiriannya bersama putra tunggalnya(buah cinta dari Jhonatan).


Jauh sebelum tragedi kematian Jhon, Jhon sudah mewariskan seluruh hartanya kepada Adinda serta keturunannya.


Adinda hidup bahagia bersama putranya yang bernama Jhon junior.


Lalu ... bagaimana dengan Mario?!


Sejak kematian Jhon, ia masih mencoba untuk membujuk Dinda agar mau menikah dengannya.


Tapi Adinda tetap menolak dan tidak lagi menginginkan Mario masuk kedalam kehidupannya.


Mario pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya ia memutuskan untuk pindah dan menetap di luar negeri.


\_ **TAMAT** \_

__ADS_1


Saya selaku author mengucapkan terimakasih kepada para reader setia novel "Sang penakluk hati" jika ada kekurangan dan ketidak sempurna an dalam isi cerita, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.


__ADS_2