
Dinda keluar dengan wajah yang memerah, mata yang dipenuhi dengan luapan air yang mengalir deras diiringi dengan cairan bening yang keluar dari lubang hidungnya.
Sedangkan Mario, tubuhnya gemetar menahan amarah. Kepalan tangan yang begitu kuat dan nafas yang sangat tidak beraturan, membuatnya ingin sekali mengeluarkan rasa sakit di dadanya.
"aaaaaaaaaakh"
Mario menjerit sekuatnya hingga terdengar menggema didalam ruangan.
Dia terduduk di sofa, dan menangis lirih.
****
Ditempat lain, ada Sella yang sedang menatap licik ke arah Dinda.
Dia bertekad akan memisahkan Dinda dari Mario, dan akan merebut Mario dengan segala cara.
Dinda terlihat sangat sedih, dia masih menangisi hal yang tadi dialaminya.
"Kenapa harus seperti inii..." lirihnya sembari menutupkan kedua telapak tangannya di wajah.
Lalu dia merasa ada sesuatu yang mengganjal, dia melepaskan tangannya dari wajahnya.
Dia memandangi cicin yang masih melingkar dijari manisnya.
Cincin pemberian Mario yang masih melingkar indah di jarinya.
Dia memutuskan untuk kembali ke ruangan Mario, berniat ingin mengembalikan cincin itu.
Dinda segera beranjak dari tempatnya menuju ruang Mario.
Namun sepertinya Dinda melupakan sesuatu.
Ya.. dia melupakan dan meninggalkan Flashdisk milik Aldo.
Di dalamnya berisi sebagian data cadangan milik Hadinata Group.
Aldo meminta Dinda untuk memindahkan salah satu data ke komputer Dinda sebagai bahan pelajaran untuk ikut andil dalam proyek yang akan di tangani Aldo.
Sella yang sudah sejak tadi mengamati gerak gerik Dinda Akhirnya diam-diam mengambil Flashdisk tersebut tanpa diketahui oleh siapa pun.
******
Dinda kembali keruangan Mario, terlihat di sana Mario yang sedang duduk di sofa sembari tertunduk, lesu.
"Aku ingin mengembalikan ini padamu." ucap Dinda sambil melepas cincin yang melingkar dijari manisnya.
Mario yang secara tiba-tiba mendengar ucapan Dinda pun akhirnya mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya kearah Dinda.
Mata mereka terlihat masih sama-sama sembab.
__ADS_1
Mario menatap lekat raut wajah Dinda.
"Ini ambillah, aku tidak pantas untuk terus memakainya." ucap Dinda sembari meletakkan cincin itu di atas sofa tepat disisi Mario.
Mario terdiam, masih menatap lekat raut wajah Dinda tanpa suara, dia mencoba untuk meredam emosinya agar jangan sampai meledak seperti tadi.
Setelah Dinda meletakkan cincin itu, dia segera kembali keruangan nya.
Namun langkah Dinda terhenti saat sudah berada di depan pintu.
"Satu hal yang harus kau ketahui, aku tidak pernah memberikan hatiku untuk orang lain."
Dinda menarik nafas dalam sembari melanjutkan kata-katanya, "tidak juga dengan bibirku." lanjutnya, namun kena di hati Mario.
Dengan cepat Mario beranjak dari duduknya dan langsung menarik tangan Dinda hingga Dinda tertumpuk pada dada bidang milik Mario.
Mario menatap lekat bola mata Dinda yang masih saja mengeluarkan air, walau hanya tinggal sedikit.
Sedangkan Dinda, dia juga menatap lekat bola mata Mario.
Tatapan yang seakan menandakan jika ini untuk yang terakhir kalinya.
Mario dan Dinda sama-sama meneteskan air mata.
Dinda berusaha untuk tersenyum kecil, sekecil mungkin.
"Pergilah, kau lebih pantas untuknya."
Lalu dia pun pergi meninggalkan Mario yang memaku menatapnya tanpa bersuara.
******
Sesampainya Dinda di ruangannya, dia mencoba untuk lebih tenang dan kembali kepada pekerjaannya.
Dinda tak menyadari jika Sella sudah berbuat curang terhadap dirinya.
Setelah beberapa lama, Aldo dan bu Sandra menghampiri Dinda.
Mereka baru saja selesai melakukan meeting bersama.
Bu Sandra tersenyum ke arah Dinda sembari berjalan masuk ke ruangannya meninggalkan Dinda dan Aldo.
"Din, gimana.. udah selesai?" tanya Aldo.
"Eh iya.. ini pak, sudah selesai kok pak." jawab Dinda sembari memberikan flashdisk milik Aldo.
"Okee.. makasih ya Din.."
"iiiihh bapak, harusnya saya yang terima kasih.." jawab Dinda seraya tersenyum.
__ADS_1
Aldo yang melihat mata Dinda yang tampak terlihat sembab, seketika mengerutkan kedua alis tebalnya.
"Mata kamu kenapa? habis nangis..?"
Dinda tersenyum kecil, "gak tau nih pak, dari tadi terasa gatel banget.. trus perih juga. Mungkin iritasi pak.. kena debu." jawab Dinda, berbohong.
"Hmmm.. nanti keruangan ku aja, aku punya tetes mata." ucap Aldo.
Dinda tersenyum, "iya pak, nanti saya keruangan bapak." jawab Dinda.
"Ya udah deh, kalo gitu aku duluan ya Din.." ucap Aldo seraya membalas senyum Dinda.
"Iya pak.." sahut Dinda singkat.
Aldo pun meninggalkan Dinda dan kembali keruangan nya.
Tanpa sepengetahuan Dinda.. Sella berhasil mengirimkan beberapa data perusahaan Hadinata Group ke berbagai pesaing bisnis Mario.
Dan dengan cepat, Sella mengembalikan flashdisk itu ditempat semula.
*****
Setelah kepergian Dinda, Mario terlihat murung.
Dia memegang dan menatap cincin yang telah dikembalikan Dinda kepadanya.
Lalu dia menyimpan kembali cincin itu di laci mejanya.
Begitu banyak masalah yang dialami Mario hari ini, sehingga membuatnya tidak konsen dalam pekerjaannya.
Setelah beberapa jam kemudian...
Tampak Yudha yang sedang sibuk memeriksa data-data perusahaan.
Tiba-tiba Yudha tersentak kaget, wajahnya memucat, seketika keringat dingin bercucuran diwajahnya.
Yudha beranjak dari duduknya, dengan segera ia keluar dari ruangan Mario menuju ruang Aldo dengan tergesa-gesa.
Sementara Mario, dia menatap aneh kearah Yudha tanpa bertanya.
*****
Sesampainya Yudha diruang Aldo, "Tuan, Tuan Aldo.. bagaimana bisa ini terjadi? kenapa bisa kecolongan?" tanya Yudha kepada Aldo yang juga terlihat sangat cemas.
"Apa Mario sudah mengetahuinya?" Aldo balik bertanya.
"Sepertinya belum Tuan." jawab Yudha singkat.
"Ayo kita ke sana."
__ADS_1
Aldo dan Yudha berlari keruangan Mario dengan raut wajah cemas.
Bersambung epd 29