SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 43


__ADS_3

Dalam perjalanan kembali ke kediaman Jhon, Dinda tak henti-henti nya meneteskan air mata.


Dia mengarahkan pandangan nya kearah luar jendela, berusaha menyembunyikan kesedihan nya dari Jhon.


Akan tetapi, Jhon sangat tau bahwa Dinda saat ini sedang bersedih.


Jhon fokus pada arah jalan, dia melajukan mobilnya dengan santai, namun sesekali mengarahkan pandangan nya ke arah Dinda.


"Kenapa kau masih saja menangisi nya? aku tidak akan membiarkan mu kembali pada nya, kau mengerti?" ucap Jhon. "Aku juga tidak ingin jika anak ku akan bersama laki-laki pengecut seperti dia." lanjutnya.


Mendengar hal itu, Dinda hanya mampu terdiam tanpa terucap sepatah kata pun.


"Kita akan secepatnya menikah, besok kita akan menemui ibumu." sambung Jhon yang langsung melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.


*****


Tak butuh waktu terlalu lama, mereka akhirnya sampai di kediaman Jhon.


Jhon dan Dinda pun segera turun dari mobil, Jhon keluar terlebih dahulu, lalu ia membukakan pintu mobil untuk Dinda.


"Ayo sayang kita masuk." ajak Jhon sembari merangkul pundak Dinda.


Dinda menanggapi ajakan Jhon dengan menganggukkan kepala, dia masih saja mengunci mulutnya, tak ingin bicara.


Lalu, bagaimana dengan Mario?


Mario dan Yudha baru saja tiba dikamar hotel, Yudha menemani Mario, ia tak ingin meninggalkan Mario dalam keadaan yang sangat terpuruk.


Mario terduduk di sofa, pikirannya terus tertuju kepada Adinda.


Sedangkan Yudha, ia berusaha menelpon Aldo bermaksud untuk menyuruh Aldo menemani mereka di kamar hotel.


Tut.. tut.. tut.. (terhubung)


"Halloo.. ada apa Yud?"


"Tuan Aldo, cepatlah kemari."


"Kemana? ada apa?"


"Saya sedang bersama Tuan Mario, pergilah ke hotel XXX kamar nomor 102."


"Oke-oke aku akan segera ke sana."


Tut tut tut.. (sambungan terputus)


Aldo mengakhiri panggilan telpon dari Yudha dan langsung menuju ke alamat yang di instruksikan oleh Yudha.


Sementara Yudha, ia duduk di sofa bersama Mario menunggu ke datangan Aldo.


*****

__ADS_1


Di tempat lain, ada Jhon dan Dinda yang sudah berada di dalam kamar utama milik Jhon.


"Aku tidur di kamar lain saja." ucap Dinda tiba-tiba mengakhiri kebisuannya.


"Tidak, kau tidur disini saja biar aku yang tidur di kamar tamu." jawab Jhon, menolak.


"Kau pergilah mandi, bersihkan tubuh mu." lanjut Jhon sembari meletakkan handuk di kasur, kemudian ia segera keluar dari kamar nya.


Setelah Jhon keluar, Dinda pun merebahkan tubuhnya sejenak di kasur empuk milik Jhon.


Dinda berusaha menenangkan pikirannya sambil memejamkan mata, pikirannya tertuju kepada Mario.


Dinda menghela nafas panjang, "kita harus bisa saling melupakan, harus bisa..!!" lirihnya sembari menangis pelan.


"Aku mencintai mu Mario..!! aku masih mencintai mu..!" lirihnya lagi.


Dinda menangis pelan, sangat pelan. Batinnya terluka merasakan cinta yang teramat dalam namun tak bisa bersama.


Setelah merasa puas ia menangis, ia pun segera beranjak dari kasur dan tak lupa membawa handuk yang sudah disiapkan oleh Jhon, langsung menuju ke kamar mandi.


Dinda membuka semua pakaiannya dan langsung menyiram tubuhnya, merasakan kesegaran air yang membasahi tubuhnya yang keluar dari shower.


Setelah sudah bersih dan wangi, Dinda pun mengakhiri mandinya dan keluar dengan memakai handuk yang melingkar sebatas dada dan pahanya.


"Lho, aku kan gak bawa pakaian, trus aku pakai apa dong? masa cuma pakai handuk doang?" ucapnya yang baru sadar jika dia tidak memiliki pakaian ganti.


Tanpa seizin Jhon, Dinda membuka lemari pakaian milik Jhon, berusaha mencari pakaian yang bisa dipakainya.


"Ah ya udah deh, yang ini aja." lanjutnya setelah meraih satu kemeja putih milik Jhon.


Namun ketika hendak memakainya, tiba-tiba Dinda tersadar lagi jika dia juga tidak memiliki pakaian dalam ganti.


"Aaah miris sekali hidupku.." ucapnya, kesal.


"Terpaksa aku harus memakai ini, untung aja Jhon gak tidur disini." lanjutnya lagi dan langsung mengenakan kemeja putih itu.


Setelah itu, tiba-tiba saja Jhon masuk kembali ke kamarnya.


Dinda dan Jhon terkejut, secara bersamaan.


"Jhon...!! kenapa kau masuk kesini..?! teriak Dinda.


Jhon tersenyum lebar melihat Dinda yang memakai pakaiannya.


"Waaww ****." gumam Jhon dalam hati.


Dinda membulatkan bola matanya saat Jhon mendekati dirinya.


"Jhon.. mau ngapain..?!" tanyanya sambil berjalan mundur, berusaha menjauh.


Namun Jhon tidak memperdulikan ucapan Dinda, dia semakin mendekat.

__ADS_1


Jantung Dinda berdetak kencang, karna sadar kalau dia tidak memakai pakaian dalamnya.


Jhon semakin mendekat, bahkan sangat dekat.


"Kau menggairahkan sayang, aku sangat menyukainya." bisik Jhon ke sisi telinga Dinda.


"Jhon.. kau jangan mm_" ucap Dinda terhenti.


Jhon mencium lembut bibir Dinda sembari merangkul pinggang ramping milik Dinda.


Kemudian Jhon melepaskan ciumannya dan mendorong sedikit tubuh Dinda hingga terhempas ke atas kasur empuk milik Jhon.


"aaahh" Dinda terhempas hingga baju bagian bawahnya tersingkap sedikit, namun dengan cepat ia menutupnya kembali.


Jhon menelan saliva nya "Oouuhh sit" ucapnya pelan sembari menyunggingkan senyum menyeringai.


"Nooowwww.." teriak Dinda sambil menahan tubuh Jhon dengan kedua tangannya.


Jhon memposisikan tubuhnya di atas Dinda, hampir menindih tubuh mungil milik Dinda.


Jhon mulai memainkan tangannya menyentuh sela-sela paha Dinda, sehingga tubuh Dinda menggeliat seperti ulat saat merasakan sentuhan jari jemari Jhon.


"Jhon.. please.. jangan lakukan.." lirihnya pelan.


Mendengar suara Dinda, Jhon semakin bergairah, seketika setumpuk daging milik Jhon mengeras.


"Jangan..." teriak Dinda lagi.


Jhon menghentikan kenakalannya, menatap dalam bola mata Dinda yang sudah berkaca-kaca, dengan nafas yang mulai tak beraturan di antara ke duanya.


Dengan berat hati Jhon menahan gejolaknya, sungguh terasa menyakitkan baginya karna harus menahan hasratnya untuk sementara waktu.


"Maafkan aku, aku akan melakukannya lagi setelah kita menikah. Cup" ucapnya lembut sembari mengecup lembut pucuk kepala Dinda.


kemudian Jhon mengalihkan pandangannya ke arah perut Dinda sambil mengelus-elus lembut perut Dinda.


"Hello dad's son, fine there, don't be naughty. Take care of your mother. Cup"


"Hallo anak daddy, baik-baik di sana, jangan nakal. Jaga momi mu."


Ucap Jhon menyapa sang buah hati yang berada didalam perut Dinda dan di akhiri dengan kecupan lembutnya.


Kemudian Jhon pun beranjak pergi keluar dari kamarnya, meninggalkan Dinda sendirian di sana.


Dinda pun akhirnya bisa bernafas dengan lega.


"Haaahh hampir aja." ucapnya.


"Maafkan momi sayang, daddy mu itu sangat baik, semoga momi bisa mencintainya suatu saat nanti." lanjut Dinda seraya mengelus lembut perutnya sambil tersenyum, hingga tak terasa matanya sudah mulai mengantuk, dan tak lama kemudian Dinda pun akhirnya tertidur dengan sendirinya.


Bersambung epd 44

__ADS_1


__ADS_2