
Keesokan harinya, tampak para anak buah Jhon yang sedang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan Jhon dan Dinda yang hanya tinggal dua hari lagi.
Acara akad nikah dan resepsi nya akan diadakan di sebuah hotel berbintang.
Sejak pagi Dinda sudah tidak melihat keberadaan Jhon di rumah, karna hari ini Jhon bangun lebih awal.
Pagi-pagi sekali Jhon langsung menuju hotel tempat acara akan di langsungkan, ia memilih untuk menginap di sana, hingga tiba waktunya nanti.
Di rumah, juga tampak beberapa art yang sedang sibuk membersihkan rumah.
Mereka membersihkan dan menata ulang setiap sudut ruangan untuk menyambut keluarga besar Jhon yang datang besok pagi.
Sementara Dinda, ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke makan ayah dan ibunya.
Karna Jhon sedang tidak ada di rumah, dia memutuskan untuk pergi sendirian ke sana.
Dinda melangkah menuju keluar rumah, ia berjalan mendekat ke sisi jalan untuk menunggu taksi di sana.
Setelah beberapa menit dia menunggu, akhirnya sebuah taksi berhenti tepat di depannya.
Ia langsung masuk ke dalam taksi, "pak, tolong ke pemakaman umum XXX."
"Baik Nyonya!" supir taksi itu pun menjalankan kendaraannya dan melaju dengan cepat.
Dinda asik menikmati suasana jalan yang tampak ramai, pandangan matanya mengarah ke depan, kanan dan kiri jalan secara bergantian. Hingga tak terasa, taksi yang ia tumpangi berhenti di depan pemakaman umum.
Setelah membayar ongkos taksi, Dinda pun turun dan melangkah menuju makam ibu dan ayah nya.
Jarak makam ibu dan ayahnya tidak terlalu jauh, cuma berjarak beberapa meter saja.
Dinda terlebih dahulu berziarah ke makam ayahnya, ia mengirimkan doa dan menaburkan bunga di sana.
Setelah itu lanjut ke makam ibunya, ia juga mengirim doa dan menabur bunga di sana.
"Ibu! sebentar lagi Dinda akan menikah dengan Jhon, walau pun ibu tidak sempat mengenalnya, tapi dia itu pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Maaf Dinda buk! Dinda tidak bisa menikah dengan Mario." Dinda berkata pelan sambil meraba-raba tanah di atas makam ibunya.
__ADS_1
Air matanya seketika menggenang, "kalau saja mereka masih ada dan menemaniku saat aku menikah, pasti aku akan sangat bahagia." gumamnya dalam hati.
Setelah merasa cukup lama berada di makam, Dinda pun beranjak dari sana.
Baru saja ia melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauh keluar dari pemakaman umum, tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di depannya.
Ciittt..
"Din, ayo naik." zack memanggil dari dalam mobil, ia menurunkan sedikit kaca mobil.
Dinda terkejut, "Zack, tau dari mana kamu kalau aku ada di sini?" Dinda langsung membuka pintu mobil dan masuk ke sana.
"Aku di mintai Jhon untuk menjemput mu. Aku langsung ke rumah Jhon, tapi kamu tidak ada. Aku langsung inisiatif pergi ke sini, ternyata benar kamu di sini." Zack pun langsung menjalankan mobilnya.
"Zack! sebelum kita kembali ke hotel, mau kan kau menemani aku?!" Dinda menatap Zack dengan raut wajah memelas.
"Memangnya kau ingin kemana?" Zack langsung bertanya, namun pandangannya tetap fokus ke setir.
"Temani aku mencari rujak, aku ingin sekali makan rujak."
"Yeey makasih ya Zack!" Dinda merasa senang.
Zack melirik kan matanya sebentar sambil tersenyum, "sama-sama!"
Sambil menyetir, sesekali Zack mengarahkan pandangannya ke sisi jalan, mencari gerobak rujak yang mangkal di pinggir jalan.
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya mereka menemukan gerobak penjual rujak.
Zack pun menghentikan kendaraannya di tepi jalan.
Dinda dan Zack keluar dari mobil dan berjalan mendekati penjual rujak.
"Bang! rujak bang." Dinda menyapa penjual rujak.
"Iya neng, mau berapa porsi?" penjual rujak itu mengarahkan pandangannya kearah Dinda, sesekali mengarah ke Zack.
__ADS_1
"Saya mau 10 porsi bang, pedas, manis. Bumbu kacangnya dibanyakin dikit ya bang!"
"Siap neng, mau dibungkus apa makan di sini?" tanya penjual rujak lagi.
"Di bungkus aja bang." sahut Dinda, dan langsung duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Iya neng, tunggu sebentar ya!" penjual rujak pun segera membuatkan pesanan Dinda.
"Banyak amat pesan rujaknya?" Zack tersenyum mendengar Dinda yang memesan cukup banyak, sambil mendudukkan bokongnya di samping Dinda.
"Emang kamu gak mau?! yakin! cuma mau liatin aku makan doang!" Dinda melirik kan matanya sebentar kearah zack, lalu kembali mengarah kembali kepada penjual rujak.
"Ya maulah.. siapa sih yang ga mau kalo dikasi gratis. He he.." sahut Zack, diakhiri dengan tertawa kecil.
Mendengar ucapan Zack, Dinda menyunggingkan senyum tipis, seraya menggeleng-geleng kan kepala.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya rujak yang di pesan Dinda pun selesai di buat.
"Ini neng, rujaknya." penjual rujak memberikan kantong yang berisi 10 bungkus rujak kepada Dinda.
"Oh iya, berapa bang?" Dinda mengambil kantong itu dari tangan penjualnya, kemudian ia membuka tas kecilnya.
"150 ribu neng." sahut penjual itu sambil menunggu Dinda memberikan uang.
Dinda mengambil 2 lembar uang kertas merah dan langsung memberikannya kepada penjual.
"Ini bang, kembaliannya ambil aja." Dinda tersenyum kecil kepada penjual rujak itu.
"Wah.. terima kasih banyak ya neng!" penjual itu pun senang.
"Sama-sama bang." Dinda pun segera pergi menuju mobil di ikuti oleh Zack yang menjurus di belakang.
Zack dan Dinda masuk ke dalam mobil secara bersamaan, setelah itu Zack menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraannya.
Zack melajukan kendaraannya dengan cepat, menuju hotel.
__ADS_1
Bersambung epd 57